
"Ayo." Gaga pun mengajak Namia masuk ke rumahnya.
Namia mengangguk. Ia bersikap seperti tidak ada apa-apa. Padahal di dalam hatinya sangat deg-degan sekali. Untuk yang pertama kalinya Gaga mengajak Namia ke rumah. Itu berarti tanda keseriusan Gaga sudah di depan mata. Namia pun mencoba menikmati perjalanan cintanya.
Beberapa menit kemudian...
Namia masuk ke rumah mewah Gaga. Rumah bergaya Amerika itu disinggahi Namia sore ini. Yang mana membuat Namia minder sendiri. Tak lama seorang wanita paruh baya pun datang menghampirinya. Wanita itu mengenakan blus hitam dengan celana kulot putih. Yang mana merupakan ibu dari Gaga sendiri. Namia pun segera berdiri untuk menyambutnya.
"Namia ya?"
"Benar, Tante," jawab Namia sedikit ragu.
"Sshh! Jangan panggil tante. Panggil saja ibu, sama seperti Gaga." Ibu Gaga pun tidak mau dipanggil dengan sebutan kekinian.
Namia mengangguk. Ia merasa senang.
"Silakan duduk." Ibu Gaga meminta.
Namia kembali duduk di sofa tamu rumah mewah milik Gaga. Gaga pun tak lama datang dengan membawakan hidangan untuk Namia. Tampak Gaga yang menyajikannya ke atas meja. Namia pun ikut membantunya.
__ADS_1
"Maklum, ya. Di sini tidak ada anak perempuan. Jadinya Gaga yang menyajikan." Sang ibu membuka pembicaraan.
Gaga duduk di samping Namia. "Namia, jangan sungkan. Rumah ini terlalu besar jika kau hanya berdiam." Gaga memberi kode kepada Namia.
Eh???
Namia pun bingung untuk mengartikan maksudnya.
"Oh, iya. Ibu belum masak untuk makan nanti malam. Namia mau membantu ibu membuatkannya?" Dan akhirnya Namia tahu apa yang dimaksud oleh Gaga.
Namia mengangguk. "Baik, Bu. Tapi Namia tidak terlalu bisa memasak. Ajari Namia, ya." Namia pun meminta diajari oleh ibu Gaga.
Namia menoleh ke Gaga. Gaga pun tersenyum kepadanya. Saat itu juga Namia tahu apa maksud Gaga mengajaknya ke rumah. Ternyata Gaga ingin Namia memasak di rumahnya. Dan akhirnya Namia pun menghabiskan waktu di rumah Gaga hari ini.
Makan malam...
Hidangan telah tersaji di atas meja. Lilin-lilin putih pun dihidupkan. Kini Gaga tampak lebih rileks sekarang. Dan ya makan malam akan segera dimulai. Tepat pukul tujuh sang ibu meminta keduanya untuk duduk berdekatan di depan meja makan. Ia ingin melihat kecocokan Namia dan Gaga.
Sepertinya mereka cocok. Namia juga cantik. Pasti cucuku tak kalah cantik.
__ADS_1
Ibu Gaga sudah berangan ke mana-mana.
"Mulai hari ini aku tidak lagi memanajeri Namia, Bu." Gaga mengambil kerupuk lalu mulai memakannya.
"Jadi kalian bisa lebih dekat?" tanya sang ibu lalu meneguk air minumnya.
"He-em. Sepertinya pak Feng memang sengaja melakukannya. Karena jika masih memanajeri Namia, itu tidak bisa." Gaga berkata lagi.
Namia pun mendengarkan saksama perkataan Gaga dan ibunya. Ia juga mulai menyantap hidangan yang tersaji. Namia merasa senang di hatinya.
"Namia tidak keberatan bukan jika diajak menikah muda?" Ibu Gaga tiba-tiba bertanya demikian. Sontak Namia pun hampir tersedak makanannya.
"Em, sepertinya tidak, Bu." Namia segera menjawabnya.
Ibu Gaga tersenyum. "Kami memang tidak ingin memperpanjang penundaan jika sudah bertemu jodohnya. Pendekatan bisa dilakukan setelah menikah. Ibu juga dulu seperti itu. Bahkan saat awal menikah dengan almarhum ayah Gaga, tidak ada cinta di hati ibu." Ibu Gaga menceritakan.
"Almarhum?" Namia ternyata belum tahu jika ayah Gaga sudah tiada.
Ibu Gaga mengangguk. "Sudah lama. Lebih dari lima tahun yang lalu. Keinginan terbesarnya adalah melihat Gaga menikah. Tapi ternyata hal itu belum sempat kesampaian." Ibu Gaga tanpa beban menceritakannya kepada Namia.
__ADS_1