
"Em ...," Namia terlihat berpikir keras sekali. Debaran jantung di dadanya seolah tidak bisa dikendalikan lagi. "Apakah Kakak yakin?" tanya Namia dengan ragu.
Gaga tersenyum lalu mengangguk. Ia rela untuk mencium Namia. Tapi sayangnya, bukan hal itu yang Namia inginkan darinya. Tanda jadi yang Namia maksud adalah sesuatu yang bisa mengikat keduanya. Namun, Namia malu untuk mengatakannya.
"Kakak ... aku belum pernah berciuman. Aku takut jika bibir ketemu bibir." Namia pun mengatakannya dengan polos sekali.
Saat mendengarnya, saat itu juga Gaga merasa bahagia. Ternyata Namia belum pernah terjamah oleh pria sebelumnya.
"Aku yang pertama?" tanya Gaga lembut.
Atmosfer di mobil berubah menjadi dalam sekali. Namia dan Gaga duduk berdekatan bak sudah tidak ada jarak lagi. Kedua bola mata Gaga pun menatap dalam gadisnya. Membuat Namia grogi sampai tidak tahu harus berpikir apa lagi. Ini pertama kalinya bagi Namia berbicara sedekat ini dengan seorang pria.
"Aku ... masih takut. Bisakah kita cari cara yang lain?" Pada akhirnya Namia pun berkata seperti itu kepada Gaga.
Dia tidak memperbolehkan aku menciumnya?
Gaga pun terkejut dengan jawaban Namia. Ternyata gadis yang beranjak dewasa itu tidak mengizinkannya. Gaga sedikit kecewa, namun ia mencoba menerima.
__ADS_1
"Baiklah. Apa yang kau inginkan?" tanya Gaga seraya memundurkan wajahnya. Ia menyilangkan kedua tangan di dada.
Namia merasa malu untuk mengatakannya. Tapi hatinya tetap bersikukuh untuk mendapatkannya. Dan pada akhirnya ia pun mengumpulkan keberanian untuk berbicara langsung kepada Gaga.
"Aku ... ingin cincin."
Gaga pun akhirnya mendengar langsung keinginan Namia. "Hanya itu?" tanya Gaga lagi.
"He-em." Namia membenarkan posisi duduknya. "Tapi jangan salah sangka, Kakak. Aku tidak ada maksud apa-apa." Namia takut Gaga salah prasangka terhadapnya.
Gaga mengangguk-angguk. "Kita ke toko perhiasan sekarang." Gaga pun memegang kemudi mobilnya kembali.
Gaga menoleh. Ia kemudian tersenyum kepada Namia. "Aku tidak berkata seperti itu, bukan? Apa aku mengatakannya?" tanya Gaga.
Namia malu menjawabnya. Ia hanya mengangguk. Gaga pun tertawa melihat wanita di sampingnya. Tidak seharusnya berdrama jika memang sejak awal keinginan Namia adalah cincin. Karena Gaga pun ingin memberikannya.
"Baiklah. Kita berangkat sekarang."
__ADS_1
Lantas Gaga pun melajukan mobilnya. Ia bersama Namia ke toko perhiasan ibu kota. Gaga ingin Namia memilihnya sendiri. Namia pun bersenang hati karena Gaga memenuhi permintaannya. Rasa di hatinya semakin tumbuh dan merekah indah. Ia menyayangi Gaga.
Senin, pukul sembilan pagi di kantor DDE...
Keadaan kantor mulai ramai manakala sudah memasuki pukul sembilan pagi. Seperti biasa ada rapat mingguan yang diadakan pemimpin DDE bersama komposer, staf operasional dan administrasinya. Mereka akan melaporkan kinerja terkini. Tampak Gaga yang memasuki ruangan rapat sambil membawa laptopnya. Ia pun duduk di sebelah Doni.
"Gue kira lo belum datang, Ga," sapa Doni.
"Oh, tadi gue ke studio dulu, ngecek alat rekaman," jawab Gaga.
Doni pun mengangguk-angguk.
Gaga melihat sekeliling ruangan rapat. "Mana Tomi? Dia belum datang?" tanya Gaga.
Doni menghidupkan laptop kerjanya. "Tomi ke luar kota, ngecek lokasi syuting," jawab Doni.
"Lokasi syuting?" Gaga terheran.
__ADS_1
"Iya. Rumah produksi mau buat film layar lebar dan memakai lakon dari artis DDE. Tapi karena film horor, pak Feng meminta Tomi mengecek lokasi syutingnya dulu. Dia khawatir artisnya kenapa-napa kalau lokasinya jelek." Doni menerangkan.