
Dua hari kemudian...
Hari terus berganti. Kesibukan demi kesibukan harus dijalani. Begitulah yang dilakukan oleh Gaga. Ia bersama timnya sedang sibuk di studio rekaman dengan penyanyi kenamaan. Mereka akan membuat sountrack film minggu ini. Tampak Gaga yang sesekali meneguk minuman kopinya. Ia bekerja lebih keras hari ini.
"Sepertinya auto tune tidak perlu dipakai, Ga." Doni menemani Gaga di studio.
"Kau benar. Dia sudah menguasai nada tinggi." Gaga pun mengakui suara sang penyanyi yang sedang melakukan rekaman.
"Tapi lebih baik mana dengan Namia?" Doni pun berceloteh tentang Namia.
Gaga tersenyum kecil. "Jangan bilang kau ingin seperti Tomi." Gaga menoleh ke Doni yang berdiri di sampingnya.
Doni tertawa. "Berita kalian sudah menyebar. Gue hanya bisa mendoakan. Mudah-mudahan menjadi kenyataan." Doni mendoakan.
Gaga mengangguk. Tak lama sang penyanyi pun keluar dari ruang rekaman.
"Luar biasa, Nina." Doni memuji Nina, penyanyi yang akan mengisi sountrack film layar besar.
__ADS_1
"Terima kasih." Nina, wanita cantik berusia dua puluh delapan tahun itu pun tersenyum senang.
"Sepertinya bisa kita lanjutkan besok. Waktu sudah sore. Kau bisa datang pukul sepuluh ke sini." Gaga pun mengakhiri sesi rekamannya.
Nina mengangguk.
Nina merupakan penyanyi yang masih muda. Ia terjun di dunia tarik suara dan industri musik beberapa tahun yang lalu. Ia juga bisa menari layaknya idol kenamaan. Dan kini ia akan ikut berakting di film layar lebar. Sama seperti Namia yang sedang mencoba melebarkan sayapnya. Tapi Namia dan Nina berbeda agensi. Dan ini adalah kali pertamanya Nina datang ke studio Gaga.
"Baik, Kak. Kalau begitu aku pulang. Manajer juga sudah menunggu di depan." Nina berpamitan.
Saat itu juga Gaga melirik tajam ke Doni. "Ingat anak, Don." Ia pun menyeletuk seperti itu kepada Doni. Sontak Doni dan Nina tertawa.
"Maaf ya, Nin. Produser kita memang tidak bisa diajak bercanda. Maklumi saja."
Pada akhirnya suasana mencair karena Doni memulainya. Yang mana sedari tadi tampak serius sekali. Doni pun mengantarkan Nina sampai ke depan ruangan. Ia kembali ke Gaga lalu berbincang-bincang sebentar.
Dua jam kemudian...
__ADS_1
Petang telah datang, Gaga pun baru sampai di rumahnya. Terlihat wajahnya yang lelah. Ia pun membaringkan tubuhnya di sofa, mengambil ponsel dari saku celana. Ia melihat-lihat isi pesan masuknya. Matanya pun tertuju ke pesan masuk Namia.
/Kak, kalau senggang balas pesanku, ya. Aku sudah sampai di Paris dan masih beradaptasi dengan cuaca di sini. Di sini dingin sekali./
Dan begitulah pesan yang dikirimkan Namia kepadanya. Namia juga menyertai foto terbarunya. Tampak Gaga yang tertawa kecil melihatnya.
Apa-apa dia laporan padaku. Baguslah kalau begitu.
Ia pun segera membalas pesan kekasihnya. Dengan foto wajahnya yang lelah. Gaga tidak malu-malu lagi kepada Namia.
"Namia ...."
Ia pun menyebut pelan nama gadisnya itu. Tiba-tiba hal yang terjadi di kursi tamu pun teringat kembali di benaknya. Gaga merasa bahagia.
Waktu itu...
Hangat napas bertukar dengan lembutnya kala Namia mendaratkan ciumannya ke Gaga. Gaga pun terdiam lalu merasakan setiap pergesekan yang terjadi di antara bibirnya dan bibir Namia. Gelora yang ada di dalam tubuhnya muncul dan ingin mendominasi suasana. Tapi Namia melarangnya. Saat Gaga ingin memegang Namia, saat itu juga Namia menahannya.
__ADS_1