
"Em." Saat itu juga Gaga berpikir cepat mengenai tujuannya datang ke rumah Namia. "Aku ingin bicara masalah kemarin." Gaga mengatakannya.
"Aku sudah lupa." Namia pun berkata ketus kepada Gaga.
"Namia." Gaga duduk di dekat Namia. "Sungguh kemarin aku tidak sengaja. Tanganku refleks." Gaga menjelasakannya.
Namia menyilangkan kedua tangannya di dada. "Kakak jahat!" Ia pun mulai ngambek kepada Gaga.
Gaga salah tingkah. Ia khawatir Namia marah sungguhan kepadanya. Ia pun menguras otak agar Namia tidak marah. Pada akhirnya sebuah cara ia temukan di dalam otaknya.
"Bagaimana jika gantinya sekarang?" tanyanya.
"Hah???" Namia tak mengerti maksud Gaga.
Gaga bingung. Jantungnya berdebar tidak karuan. Ia ingin mengatakan hal yang sebenarnya. Tapi ia juga khawatir Namia akan marah.
"Menurut gue memang harus dipastiin dulu masih segel apa enggak. Kan sayang kalau ternyata udah pernah ada yang bobolin. Rugi waktu, rugi tenaga dan juga biaya. Dan yang paling besar itu rugi hati, rugi perasaan."
Kata-kata Tomi pun teringat kembali di benak Gaga. Ia gundah kala memikirkan hal itu. Ia merasa harus segera mencari cara untuk menyingkirkan pikirannya. Sementara Namia masih memerhatikan Gaga yang tampak berpikir keras di dekatnya.
__ADS_1
"Kak???" Namia pun menegur Gaga.
"Em, ya." Gaga pun tersadar.
Namia merasa heran. "Kakak mikirin apa? Apa memikirkan wanita lain?" tanya Namia begitu saja.
"Eh?!" Gaga terkejut seketika. "Mana mungkin. Aku memikirkanmu." Gaga pun jujur.
Namia menghela napasnya. "Di depan mata masih dipikirkan? Aneh sekali." Namia pun menyandarkan punggungnya ke kursi dengan perasaan kesal.
Namia, haruskah aku berkata jujur padamu?
Pakaian yang Namia kenakan menjelang siang ini tampak lebih terbuka, tidak seperti biasanya. Dan entah mengapa melihat bahu yang putih mulus dan bersih itu membuat Gaga gerah. Gaga pun melepas jaketnya.
"Be-benarkah?" Gaga pun meletakkan jaketnya di samping.
"He-em. Aku dapat peran tritagonis. Atau second lead," terang Namia lagi.
"Kau sudah membaca skenarionya?" tanya Gaga.
__ADS_1
"Sudah." Namia mengangguk.
"Ada adegan ciuamannya?" tanya Gaga lagi.
"Eh? Mengapa menanyakan hal itu?" tanya Namia dengan polosnya.
Mengapa menanyakan hal itu? Jelas saja aku tidak rela, Namia!
Gaga pun mendengus kesal di hatinya. Tapi ia tidak mau menunjukkan perasaannya. Sebisa mungkin ia bersikap biasa-biasa saja di hadapan Namia.
"Ini pertama kalinya aku dapat peran bagus, Kak. Tapi aku akan sibuk sampai dua bulan ke depan. Kakak tidak apa kan aku tinggal?" tanya Namia, ia meminta izin ke Gaga.
Gaga menarik napas dalam-dalam. Ada sesuatu kekhawatiran di hatinya jika melepas Namia sendirian di Paris. Tapi ia juga tahu jika tidak mungkin ikut ke sana. Gaga masih banyak pekerjaan di studionya.
"Menurut gue memang harus dipastiin dulu masih segel apa enggak. Kan sayang kalau ternyata udah pernah ada yang bobolin. Rugi waktu, rugi tenaga dan juga biaya. Dan yang paling besar itu rugi hati, rugi perasaan."
Dan entah mengapa kata-kata Tomi, teman kantornya itu teringat kembali di benaknya. Membuat Gaga bertambah khawatir saja jika melepas Namia pergi ke Eropa. Walaupun ia tahu akan ditemani oleh Lina, manajer DDE untuk Namia.
"Kak, Kakak!" Namia pun menarik ujung kaus Gaga.
__ADS_1
"Na-namia???"
"Ih! Kakak banyak melamun. Mikirin apa, sih?! Sebal!"