
"Kakak, jangan tertawa. Tersedak, kan!" Namia tampak prihatin kepada Lee.
Lee segera meneguk air minumnya. Ia pun mengambil napas panjang-panjang. Karena ternyata tersedak tidaklah membuatnya nyaman. Namia pun tampak mencemaskan keadaan Lee.
"Kak?" Namia mencoba menanyakan kondisi Lee.
Lee mengembuskan napasnya dengan perlahan. "Aku baik-baik saja, Namia. Terima kasih." Lee pun berterima kasih atas sikap cekatan Namia.
"Kita habiskan makanannya lalu itu pulang ya."
Namia pun meminta segera pulang kepada Lee. Saat itu juga Lee mengiyakannya. Ia tidak mempunyai alasan untuk menahan Namia lebih lama lagi.
Sepulang makan malam...
Lee mengantarkan Namia sampai ke depan pintu kamar hotelnya. Saat ini Kota Paris telah menunjukkan pukul sembilan malam. Saat ini juga Namia harus segera menutup perjumpaan.
"Terima kasih atas makan malamnya, Kak." Namia berdiri di depan pintu masuk kamar hotelnya.
__ADS_1
Lee mengangguk. "Jangan lupa kita syuting pagi besok. Apa kau ingin kujemput?" tanya Lee.
"Eh? Tidak-tidak! Tidak perlu, Kak. Aku pergi bersama manajer Lina saja." Namia pun segera menolaknya.
Lee tersenyum. "Baiklah. Kalau begitu sampai nanti." Lee berpamitan pada Namia.
Memasuki minggu ke tiga ini pemeran utama pria mencoba mengenal lebih dekat pemeran protagonis wanita. Walaupun Namia menjadi second lead di filmnya, ia tampak lebih mudah berbaur dengan yang lainnya. Tidak seperti pemeran utama wanita sungguhan yang lebih menjaga jarak dari kru film maupun sesama pemain.
Namia lebih humble dan low profile yang menyebabkan Lee tertarik untuk mendekatinya. Aktor terkenal itu pun tanpa segan mengajak Namia makan malam. Tentunya tanpa sepengetahuan pemain lainnya. Hanya Manajer Lina saja yang mengetahuinya. Ia mengizinkannya.
Namia pun berharap tidak ada yang mengambil fotonya bersama Lee di restoran. Namia khawatir Gaga akan salah paham. Ia pun lekas masuk ke kamar hotelnya. Beristirahat sebelum memulai aktivitas syuting hari selanjutnya.
Esok harinya...
Jam demi jam terlewati. Beberapa adegan pun berhasil dilalui. Kini tak terasa sudah sore saja. Tampak Namia yang baru menyelesaikan syutingnya. Di mana ia berlari untuk mengejar pemeran utama pria.
Astaga lelahnya.
__ADS_1
Namia kedapatan adegan mengejar protagonis pria yang akan menyeberangi jalan. Ia pun berhasil melakukannya. Tampak sekitar jalanan dipadati pejalan yang melihat proses syuting.
"Oke. Syuting dilanjutkan nanti malam. Pukul delapan kita sudah berkumpul lagi di sini."
Dan begitulah yang sang sutradara katakan. Namia pun menganggukinya. Ia harus syuting kembali setelah ini. Profesional kerja harus dijunjung tinggi.
"Namia, kau bisa segera kembali ke hotel. Aku ada urusan dengan produser film." Manajer Namia datang memberitahukan sambil memberi Namia sebotol air mineral.
"Empat jam lagi harus kembali ke sini. Apa aku tidak menunggu di sini saja, Manajer Lina?" tanya Namia ke manajernya.
"Em, menurutku kau bisa memanfaatkan waktu untuk beristirahat sebelum memulai syuting nanti malam. Hari ini kita akan syuting sampai jam dua belas, Namia. Kau akan sangat kelelahan jika menunggu di sini. Baiknya kembali ke hotel, mandi lalu beristirahat sebentar. Nanti aku akan menjemputmu untuk ke lokasi." Sang manajer memberi saran.
Namia mengangguk. Ia menyetujui saran manajernya.
"Baiklah. Kalau begitu kau akan diantar pulang oleh Kak Lee. Dia searah denganmu," kata Lina lagi.
"Kak Lee?!" Sontak Namia pun kaget mendengarnya.
__ADS_1