
"Lo kelihatan capek banget, Ga." Tomi melihat wajah temannya.
"Banyak pesanan. Bulan depan juga sudah harus disetorkan," sahut Gaga.
Tomi tersenyum-senyum sendiri sambil duduk di sofa. "Lo capek abis unboxing, ya?" Tomi menduganya.
Saat itu juga Gaga menoleh cepat ke arah temannya. "Gila lo!" Ia berkata seperti itu.
Tomi terkekeh sendiri. Ia pun memerhatikan cara Gaga yang kembali jalan ke monitor studio. "Enggak apa-apa, sih. Tapi jangan di sini. Lo kan bisa nyewa hotel bintang lima, Ga," kata Tomi lagi.
Gaga menghela napasnya. Ia menyadari jika temannya sudah salah prasangka. Gaga pun mengalihkan perhatian temannya.
"Lo ada apa ke sini?" tanya Gaga segera.
Tomi berjalan mendekati Gaga lalu menarik kursi. Ia duduk berhadapan dengan si empu ruangan. "Gue kangen sama lo. Udah lama kita nggak ketemu karena cek lokasi." Tomi pun mulai menyandarkan punggungnya di kursi putar. Ia duduk dengan santai.
__ADS_1
Gaga mengambil karet gelang untuk menguncir rambutnya. "Gue nggak kangen sama lo." Ia pun berkata ketus kepada temannya.
"Hahahaha." Saat itu juga Tomi tertawa. "Gimana mau kangen. Kan sudah ada yang anget-anget," kata Tomi lagi.
Gaga terlihat menahan kesalnya. "Mending lo pergi dari sini," kata Gaga.
Tomi terdiam. Ia tampak terkejut. Tapi kemudian ia mendekatkan wajahnya ke Gaga. "Masih keinget yang tadi, ya?" sindir Tomi.
Arrgh.
Saat itu juga wajah Gaga semakin kesal saja. "Apa yang lo pikirin itu salah! Pergi lo sana!" Gaga pun kesal bukan kepalang. Tapi ia masih menahan.
Gaga mendengus kesal. "Kalau nggak ada kepentingan lain, mending lo pergi. Gue masih banyak urusan! Pak Feng nunggu hari ini!" Gaga menegaskan.
Tomi mengangguk sambil menghela napasnya, seperti tidak ada dosa. "Baiklah. Gue pergi. Tapi jangan lupa pikirkan lagi yang tadi, ya. Sayang lho kalau sampai kecewa." Tomi berkata lagi.
__ADS_1
"Sialan!"
Gaga pun menendang Tomi agar pergi. Tomi juga segera berjalan cepat menghindari Gaga. Ia lekas-lekas keluar studio rekaman milik Gaga. Gaga pun mencoba bersabar atas ulah temannya. Ia sudah sangat lelah, tapi sore ini harus ditimpa yang tidak-tidak. Gaga pun merasa harus beristirahat segera.
Esok harinya...
Cuaca pagi ini terasa lebih dingin dari biasanya. Maklum, sang mentari belum menampakkan diri karena tertutupi awan mendung. Langit tampak gelap seperti akan mencurahkan hujan yang lebat. Membuat seorang gadis yang beranjak dewasa malas-malasan terbangun dari tidurnya. Ialah Namia yang masih bergumul dengan selimutnya.
"Namia. Namia!" Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Sang ibu ternyata membangunkannya.
Namia mendengar panggilan ibunya. Tapi ia malas menjawabnya.
"Namia, nak Gaga datang!" Dan begitulah yang dikatakan ibunya.
Kak Gaga?
__ADS_1
Namia seperti bermimpi mendengar Gaga datang. Ia pun masih malas menggubrisnya. Sedang sang ibu tampak menunggunya sedari tadi. Ia tampak kewalahan membangunkan anaknya sendiri. Pada akhirnya ia kembali ke depan pintu rumah di mana ada seorang pria berjaket hitam sedang menunggu di sana.
"Nak Gaga, Namia belum bangun. Masuk saja dulu ya."