NIKAHI AKU, MAS

NIKAHI AKU, MAS
Menjemput


__ADS_3

"Em, nanti kutanyakan manajer Lina dulu, Kak. Aku tak enak jika tidak bilang padanya." Namia pun ingin meminta izin lebih dahulu.


Lee mengangguk. "Baiklah. Aku menunggu kabar darimu."


Dan akhirnya kesempatan untuk makan malam bersama itu semakin besar. Keduanya pun berpisah karena sesi syuting hari ini telah selesai. Hari ini sutradara memutuskan syuting hanya sampai petang. Malam minggu pun bisa dipakai untuk menikmati Kota Paris. Berjalan-jalan di kota modis.


Malam harinya...


Saat ini pukul setengah delapan malam. Tapi saat ini Namia masih bimbang di kamar hotelnya. Ia bingung haruskah menerima undangan makan malam dari Lee atau tidak. Sedang waktu semakin larut saja. Namun, tak lama kemudian ada yang mengetuk pintu kamar hotelnya.


"Siapa ya?" Namia pun berjalan untuk membukakan pintu kamarnya.


"Hai, Namia." Dan tak lama seseorang pun terlihat di depan matanya.


"Kakak?!" Namia terkejut saat melihat seseorang itu sudah berada di depan pintu kamar hotelnya.


"Maaf aku datang ke sini. Aku menunggu kabar, tapi tak kunjung kudapatkan. Dan sepertinya kau juga sudah siap." Seseorang itu melihat penampilan Namia.


Namia sudah berdandan rapi. Ia tampak cantik sekali. Seseorang itu pun tersenyum kepada Namia tanpa mengedipkan matanya. Ia berharap Namia menerima kedatangannya.


"Em ... aku ...." Namia memutar otak untuk mencari alasan.

__ADS_1


Seseorang itu menyilangkan kedua tangannya di dada. "Kita ke restoran bawah saja. Apa masih keberatan?" Ialah Lee yang menghampiri Namia malam ini.


Jantung Namia berdetak kencang. "Tapi aku--"


"Kau sudah bilang pada manajer Lina, bukan? Aku baru saja bertemu dengannya. Dan dia memperbolehkan," kata Lee lagi.


Astaga! Bagaimana ini?!


Namia pun pusing sendiri. Ia khawatir terjadi sesuatu jika menerima tawaran makan malam dengan Lee. Tapi kini Lee sudah berada di depannya. Lee menjemput dirinya untuk makan malam bersama. Namia pun tidak bisa berkelit lagi. Ia tidak mempunyai alasan untuk menolaknya. Pada akhirnya ia pun menerimanya.


"Baiklah. Tapi jangan lama-lama ya, Kak. Aku tidak kuat dingin." Dan akhirnya Nama berkata seperti itu kepada Lee.


Lee mengangguk seraya tersenyum. "Mari."


.........


...Lee...



...Namia...

__ADS_1



.........


Makan malam...


Restauran hotel menjadi tempat makan malam yang indah. Nuansa romantis memenuhi seluruh ruangan restauran ini. Lampu-lampu bohlam kuning tergantung di setiap sisi. Namia pun tampak menikmati makan malamnya di sini. Namun sayang, bukan bersama Gaga, melainkan bersama pria yang baru dua minggu ini dikenalnya.


"Bagaimana rasa masakannya? Kau menyukainya?" tanya Lee ke Namia.


"Em ...," Namia mencicipinya lebih banyak lagi. "Lumayan sih, Kak. Mungkin aku saja yang belum terbiasa makan dari olahan roti." Namia menjawabnya.


"Kau baru pertama kali ke sini?" tanya Lee lagi.


Namia mengangguk. "Film yang kita bintangi juga film pertamaku, Kak." Namia menceritakan.


"Sebelum-sebelumnya kau tidak pernah ikut casting?" tanya Lee sambil mengambil tortila miliknya.


"Sudah. Tapi kurang sesuai bayarannya, Kak." Namia mengatakannya dengan jujur.


"Hahahaha." Lee tertawa. Ia pun hampir tersedak makanannya. "Kau lucu, Namia. Uhuk! Uhuk!"

__ADS_1


Dan akhirnya Lee benar-benar tersedak makanannya karena makan sambil bicara. Namia pun segera mengambilkan air minum untuknya.


__ADS_2