NIKAHI AKU, MAS

NIKAHI AKU, MAS
Masih Segan


__ADS_3

Dia datang untuk menjemputku?


Namia pun terheran-heran dengan kedatangan Gaga. Sementara pembawa acara radio itu segera mendekati Gaga lalu membangunkannya. Tak lama Gaga pun tersadar dari tidurnya. Ia tampak mengucek matanya.


"Bang, kok tidur di sini?" tanya host radio itu.


"Hm, ya." Gaga pun memijat pilipis matanya. "Sepertinya aku kelelahan," kata Gaga lagi.


Namia mendekati Gaga. "Kak, di mana manajer Lina?" Namia pun bertanya kepada Gaga.


Gaga menoleh ke Namia. "Dia sudah pulang. Aku yang memintanya. Kau sudah selesai?" tanya Gaga.


Namia mengangguk. Bersamaan dengan tanda tanya yang muncul di pikiran si host radio.


Mereka seperti dekat sekali. Apakah rumor kencan itu benar?


Sang host pun bertanya-tanya di dalam hatinya.

__ADS_1


Gaga dan Namia belum memublikasikan hubungan mereka. Sehingga tidak ada yang tahu bagaimana hubungan mereka yang sebenarnya. Baik Gaga maupun Namia sama-sama tidak memamerkan status mereka. Sehingga membuat orang lain bertanya-tanya. Termasuk si host sendiri. Tapi sepertinya Gaga tidak ingin mengambil pusing itu semua. Ia biarkan hubungannya berjalan mengalir begitu saja.


Namia sendiri mulai tersentuh dengan tindakan-tindakan kecil yang Gaga lakukan untuknya. Malam ini pun membuat hati Namia terenyuh dengan sikap Gaga kepadanya. Gaga sampai rela menjemput Namia walau nyatanya ia sudah lelah. Yang mana membuat Namia semakin sayang padanya. Rasa di hatinya semakin membesar saja. Apalagi Gaga telah memberikan cincin di jari manisnya.


Lantas keduanya memutuskan untuk pulang. Mereka pun berpamitan kepada host radio ini. Gaga dan Namia keluar gedung radio bersama. Gaga pun membukakan pintu mobilnya untuk Namia.


Di perjalanan...


Hari semakin larut. Tak lama lagi Gaga pun akan sampai di perempatan menuju perumahan Namia. Ia tampak fokus menyetir mobilnya. Sedang Namia tampak memerhatikannya. Ia merasa senang sekaligus mengagumi sosok Gaga yang kini telah resmi menjadi pasangannya. Namia pun memegang cincin emas putih yang berada di jari manisnya. Bermata satu yang begitu indah.


"Kak."


"Terima kasih." Namia berucap terima kasih.


Gaga menoleh ke Namia. Tak lama lampu merah pun memberhentikan keduanya. "Untuk apa?" tanya Gaga dengan lembutnya.


Namia tersipu malu. "Untuk malam ini," kata Namia lagi.

__ADS_1


Gaga menahan kantuknya. Ia menguap kecil di samping Namia. "Aku butuh doping agar tidak mengantuk," kata Gaga ke Namia.


"Doping? Obat?" tanya Namia memastikan.


"Bukan." Gaga menggelengkan kepalanya. "Mungkin seperti ciuman mesra," kata Gaga lagi.


Saat mendengarnya, saat itu juga Namia memalingkan wajahnya. Ia tersipu malu mendengar perkataan Gaga. Hatinya cenat-cenut tak karuan, bingung harus bagaimana menanggapinya. Namia sampai sekarang belum pernah berciuman.


Gaga terlihat memerhatikan Namia. Ia pun ingin meraih tangan wanitanya. Ia ingin memegangnya. Tapi saat itu juga lampu hijau memintanya untuk segera melaju. Gaga tidak jadi memegang tangan Namia.


Beginikah rasanya kembali menjadi remaja?


Gaga merasa bingung harus berbuat apa. Sedang Namia tampak diam saja. Ia tidak menanggapi ucapan Gaga. Hanya rona merah di pipi Namia lah yang mewakilinya.


Sesampainya di rumah...


Gaga akhirnya sampai juga mengantarkan Namia pulang ke rumahnya. Terlihat ia yang turun dari mobil diikuti Namia. Namia pun segera menuju pintu rumahnya. Ia mengetuk agar dibukakan pintunya. Tapi ternyata tidak ada orang di dalam sana.

__ADS_1


Ibu ke mana ya?


Namia pun mengambil ponsel dari tas kecilnya. Ia berniat untuk menelepon ibunya.


__ADS_2