
Gaga merasa bingung. Selama ini ia hanya fokus dengan pekerjaannya karena ingin membahagiakan sang ibu. Sehingga hal-hal seperti ini Gaga kurang mengerti bagaimana tata cara pelaksanaannya. Dan Gaga tidak mungkin menanyakannya kepada Namia.
"Em, memangnya kau ingin pria yang seperti apa?" tanya Gaga.
Gaga berusaha bersikap biasa-biasa saja agar tidak menunjukkan rasa groginya akibat pertanyaan Namia. Ia pun mengambil ayam goreng untuk segera disantapnya.
Namia memutar bola matanya ke atas, berpikir agar dapat menjawab pertanyaan Gaga dengan baik. "Aku ... tidak punya kriteria tertentu. Asal dia bertanggung jawab saja, aku sudah mau," kata Namia lagi.
Hah??? Hanya itu kriterianya?
Gaga pun tak percaya.
Ini gawat! Bisa-bisa aku disalip orang jika kriterianya hanya seperti itu. Pasti banyak pria yang mau dengannya. Apalagi dia masih gadis seperti ini. Dia juga mempunyai keahlian di bidang tarik suara. Pastinya banyak yang menginginkannya.
Gaga mulai merasa takut saat mengetahui kriteria Namia hanya seperti itu. Ia pun berpikir cepat agar bisa mendaftar duluan. Tapi ia masih bingung merangkai kata agar Namia dapat paham dengan maksud isi hatinya. Sedang Gaga tidak mungkin jor-joran mengatakannya.
"Ada telepon? Sebentar ya, Kak."
__ADS_1
Tak lama seseorang pun menelepon Namia. Saat itu Gaga mulai curiga. Ia khawatir pria lain yang menelepon Namia.
"Aku di warung pecel lele dekat perumahan, Bu." Tapi akhirnya Gaga bisa tenang karena yang menelepon Namia adalah ibunya. "Sebentar lagi akan pulang. Nanti Namia bawakan untuk Ibu," kata Namia lagi. "Baik, sampai nanti." Namia pun menutup teleponnya dengan ceria sekali.
Gaga meneguk air minumnya. "Ibu khawatir kau pulang malam?" tanya Gaga ke Namia.
Namia menggelengkan kepalanya. "Tidak. Ibu hanya bertanya apakah acaranya sudah selesai atau belum. Ibu sudah mengantuk. Khawatir saat pulang tidak ada yang membukakan pintu." Namia menjelaskan.
Gaga mengangguk-angguk.
"Kak."
"Nikahi aku," pinta Namia.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Saat itu juga Gaga terbatuk-batuk. "Namia?!!" Ia tak menyangka Namia akan mengatakannya.
"Hehehe." Namia pun tersenyum kepada Gaga. "Ini minum dulu."
__ADS_1
Namia seperti sengaja melakukannya. Sontak jantung Gaga berdetak tak karuan. Perkataan itu membuat pikirannya kosong dalam sekejap saja. Namia mampu mengejutkan Gaga.
Beberapa jam kemudian...
"Aku pulang!"
Gaga akhirnya tiba di rumah setelah mengantarkan Namia pulang. Seperti biasa tidak ada yang menyambutnya datang. Rumah mewah dengan fasilitas lengkap itu seperti tidak berpenghuni. Gaga pun lagi-lagi duduk di sofa sambil mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Ia pun memandang langit-langit ruangan malam ini.
Apakah dia sungguhan?
Gaga teringat dengan perkataan Namia tadi yang memintanya untuk segera menikahi. Namun, Gaga masih ragu untuk memastikan hal itu sungguhan. Terlebih mereka belum lama mengenal. Gaga masih harus tahu kesungguhan Namia padanya. Benarkah demikian atau hanya bercanda semata?
Apakah dia serius dengan ucapannya? Tapi usia kami sangat berbeda jauh. Apa dia tidak malu punya suami om-om sepertiku?
Gaga merasa minder sendiri.
Selisih usia sepuluh tahun itu membuat Gaga menimbang ulang terhadap perkataan Namia tadi. Ia masih merasa bingung untuk memastikan benar atau tidaknya ajakan pernikahan itu. Gaga takut berbesar rasa padahal sebenarnya hanya bercanda. Ia takut terluka karena cinta. Gaga belum siap untuk menanggung rasa sakit di hatinya. Sehingga karena hal itulah ia terus berjaga-jaga.
__ADS_1
Mungkin aku tidur saja.