
Insiden yang terjadi akibat ulah yang dilakukan Lan Mei membuat Kaisar marah dan akhirnya menunda kontes, yang tadinya akan dilakukan sehari setelah kontes tahap kedua, kini di undur menjadi beberapa hari.
Dan untuk menepati janjinya pada tuan Bei, Yunza harus merendahkan diri di hadapan Kaisar agar Lan Mei tidak mendapatkan hukuman mati.
Awalnya Kaisar menolak permintaannya karena masalah tersebut juga berhubungan dengan Han Xi. Namun akhirnya dia setuju setelah Han Xi membantu berbicara dengannya.
Akan tetapi Lan Mei tidak dibebaskan begitu saja. Kaisar memberinya dua pilihan, dipenjara seumur hidup atau diasingkan ke perbatasan. Mewakili kedua orang tua Lan Mei yang sudah meninggal, tuan Bei meminta Lan Mei memilih untuk diasingkan.
Ia pun langsung di kirim ke perbatasan tanpa perbekalan apapun, dan tanpa di temani siapapun.
Malam itu setelah mengobati Han Xi, Yunza duduk melamun di kamarnya. Hanya seorang diri.
"Apa yang sebenarnya sedang aku tunggu? Kematianku?" gumamnya sambil menatap ke langit.
Udara malam itu cukup dingin, angin pergantian musim pun tak jarang datang menyapa. Menyentuh bahkan menerbangkan helai demi helai rambut Yunza.
Tubuhnya condong ke luar jendela sambil menyandarkan kepala ke dinding, kemudian tangan kirinya ditekuk untuk menyanggah dagu runcingnya.
"Apa yang ingin aku lakukan?"
"Mengikuti alur sampai kematianku tiba? Atau membiarkan perang kedua terjadi dan menyebabkan mereka mati? Kak Han Xi ... Mi Anra ... mereka orang-orang yang baik."
Yunza menghela napas kasar ditengah pikiran kacaunya. Dia menurunkan tangannya. Namun, saat hendak meletakkan kepala di lengannya, sekelebat bayangan hitam yang melintas berhasil mengambil perhatiannya.
"Apa itu?" Ia bertanya-tanya sambil melihat ke arah tersebut.
Tak lama raut wajah panik ditunjukannya. Yunza segera bangkit dari tempat duduknya dan pergi dari kamar untuk mengejarnya.
Dia menyusuri koridor dengan langkah yang cepat, namun sosok itu tetap tak bisa dikejarnya. Sampai beberapa saat kemudian, sosok itu menghilang ditelan kegepalan.
Yunza menghentikan langkah kakinya, berdiri dengan napas memburu serta perasaan kecewa.
"Siapa dia? Kenapa cepat sekali jalannya," gumamnya.
"Apa kau sedang mencariku?"
Tiba-tiba suara itu muncul dari belakang Yunza. Dia terkejut sampai membelakkan matanya sempurna, namun masih belum berani untuk menoleh.
"Siapa dia sebenarnya? Aku bahkan tak mendengar langkah kakinya, dan tiba-tiba muncul di belakangku begitu saja," batin Yunza dengan keringat mengucur di pelipis.
Yunza berdiri tegak membelakangi pria tersebut. "Siapa kau?" Akhirnya pertanyaan itu dilontarkannya.
__ADS_1
"Kau lebih tahu siapa aku. Benar, bukan?"
Hatinya mengatakan untuk berbalik, namun tubuh memintanya untuk diam tak bergerak. Yunza menelan ludah, kemudian mengajukan pertanyaan kedua.
"Apa kau ... Yu Qin?"
Terdengar lembutnya tawa pria itu di telinga Yunza. "Kau akan mengetahuinya nanti karena aku akan menemuimu tidak lama lagi. Shen Yun Ja, tunggu sampai waktu itu ... tiba ...."
Kalimat terakhir terdengar sangat pelan. Yunza akhirnya membalikkan tubuhnya dengan cepat. Sayangnya, dia sudah tidak ada di sana.
Perasaannya menjadi kacau. Sosok misterius yang membingungkannya benar-benar sudah membuat kedua tangannya gemetaran.
Tap!
Tiba-tiba sebuah tangan mendarat di pundak Yunza. Ia terperajat kaget dan menoleh dengan cepat. Di sana, dia melihat adanya Gu Rong.
"Apa yang Anda lakukan di sini?" tanyanya.
Yunza tak menjawab dan hanya menggelengkan kepala saja. Kemudian Gu Rong kembali berkata, "Pangeran mengkhawatirkan Nona dan menyuruhku memberitahu Nona kalau dia akan menemui Nona di kamar. Ayo, biar aku antar kembali ke kamar," bisiknya dengan suara pelan.
"Kak Han Xi?" tanya Yunza.
Tak lama Yunza melangkahkan kakinya, lalu berkata, "tolong beritahu kakakku, aku sedang tidak enak badan dan ingin beristirahat." Setelah itu dia pergi tanpa menghiraukan keberadaan Gu Rong di sana.
Di tempat lain.
Han Xi berjalan di koridor sambil menatap tangannya yang terluka. "Karena luka ini, Yunza tak berhenti menangis karena merasa bersalah. Takutnya dia melakukan hal bodoh seperti saat kucingnya mati, dulu," gumamnya.
Dia menghela napas kasar dan seketika raut wajahnya berubah saat menyadari sesuatu.
Ia hampir tiba di kamar Yunza, akan tetapi tak sengaja melihat sebuah bayangan hitam yang baru saja meninggalkan kamar adiknya. Han Xi kemudian mengejar bayangan hitam itu.
Sosok itu menoleh dan menyadari bahwa seseorang sedang mengejarnya. "Pangeran kedua negara Long, Shen Han Xi," ucapnya.
"Tunggu!" teriak Han Xi.
Mereka pun berhenti di sebuah halaman istana. Han Xi menarik pedangnya, mengarahkannya ke arah pria itu sambil bertanya, "siapa kau? Apa yang kau lakukan di kamar Yunza?"
Dengan sikap yang tenang sosok itu menoleh. "Kau tidak perlu memaksakan diri untuk memegang pedangmu disaat tangan terluka seperti itu, Pangeran kedua dari negara Long, Shen Han Xi," imbuhnya.
Han Xi menyipitkan matanya dengan wajah dingin. "Siapa kau sebenarnya?" Ia mengulangi pertanyaannya.
__ADS_1
"Aku tidak tertarik untuk memberitahumu tentang siapa aku, karena aku tidak memiliki urusan apapun denganmu. Namun, jika kau takut aku menyakiti adikmu, maka kau salah. Bisa jadi ... aku ... adalah orang yang bisa menyelamatkan adikmu dari kematian," ucapnya.
"Berhenti bertele-tele dan jawab pertanyaanku. Meski kau berdalih demikian, namun jika kau berani menyentuh sehelai saja rambut Yunza ... aku akan membunuhmu," ancam Han Xi.
"Apa kau yakin?" tanyanya sambil membalikkan tubuhnya. "Dengan kondisimu itu, kau bahkan tidak akan bisa menyentuhku."
Han Xi terdiam. Meski mereka sudah saling berhadapan, dia tetap tak bisa melihat wajahnya yang tertutup sebuah topeng. Namun gestur tubuhnya sangatlah tidak asing di mata Han Xi.
"Shen Han Xi. Seberapa besar pun kasih sayangmu padanya, kau tidak bisa menyelamatkannya dari rasa kesepian. Bahkan kau tidak akan bisa melindunginya dari kematian. Kau tahu?"
Han Xi terperajat kaget dan mulai menurunkan pedangnya. "Apa yang kau katakan?" tanyanya.
"Aku ... akan membawanya pergi jauh dan hidup bahagia."
Jawaban sosok itu membuat Han Xi murka. Dia kembali mengangkat pedangnya dan mulai menyerangnya sambil berkata, "aku tidak akan membiarkanmu membawanya pergi!"
Akan tetapi, secepat kilat sosok itu mengayunkan pedangnya dan menjatuhkan pedang Han Xi.
Belum sempat Han Xi mengambil kembali pedangnya, pria itu segera menodongkan pedang miliknya ke hadapan Han Xi.
"Apa kau tahu? Aku bahkan tidak keberatan jika harus membunuhmu di sini," ucap pria itu sambil mengangkat pedangnya.
Namun sebelum menyentuh Han Xi, Gu Rong datang dan menghadang pedang itu dengan pedangnya.
"Pangeran, apa Anda baik-baik saja?" tanyanya.
Han Xi tak menjawab. Gu Rong menghempas pedang milik pria itu dan membawa Han Xi menjauh.
"Bawahan yang sangat setia," kata pria itu merujuk pada Gu Rong.
Gu Rong berdiri di hadapan Han Xi dan bersiap bertarung dengannya. "Yang Mulia, aku akan melawannya. Sementara itu, kembalilah ke kamar Anda," ucap Gu Rong.
Namun Han Xi malah mencekal tangan Gu Rong tanpa mengatakan sepatah kata pun. Tak lama pria itu memasukkan pedangnya ke dalam sangkar lalu membalikkan tubuhnya membelakangi mereka.
"Kau cukup pengertian juga, Shen Han Xi. Kalau begitu, aku pergi dulu!" Setelah itu dia pergi sangat cepat seperti seseorang yang melakukan teleportasi.
Han Xi menatap kepergiannya dengan berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya, dan juga kekhawatiran yang meliputi hatinya.
Gu Rong menghampiri dan memapahnya kembali ke kamar.
"Siapapun kau, seberapa kuat pun dirimu. Ketika kau berani menyakiti adikku, kau pantas mati di tanganku!"
__ADS_1