Not Idiot Princess

Not Idiot Princess
Hilangnya Mi Anra


__ADS_3

Menjelang siang.


Gu Rong terbangun dari tempat tidurnya. Rasa nyeri di kepala juga dia rasakan. Ia memijat-mijat ringan kepalanya sambil mengingat apa yang sudah terjadi tadi malam.


"Tuan Gu Rong, Anda baik-baik saja?" Suara Mi Anra yang didengarnya malam itu akhirnya mengingatkannya.


Gu Rong menyapu pandangannya ke semua sudut kamar. "Dia mengantarku ke kamar?" gumamnya. "Aku ... tidak melakukan hal buruk padanya, kan?" lanjutnya sambil menunduk.


Melihat dirinya bertelanjang dada membuat Gu Rong terkejut setengah mati. Kemudian dia menyibakkan selimut dan mendapati suatu bercak darah di atas kasur.


"Tidak mungkin! Aku tidak mungkin melakukannya padanya!" Ia berusaha meyakinkan dirinya di atas sebuah fakta yang sudah terpampang jelas artinya.


Gu Rong turun dari ranjang tidurnya dan segera menyabet pakaiannya. Setelah itu dia pergi meninggalkan kamarnya.


Di kamar pelayan, Yunza yang sedang mencari Mi Anra dikejutkan oleh sepucuk surat yang ditulis Mi Anra untuknya. Dari tulisan tersebut, sedikitnya Yunza pahami secara garis besar bahwa Mi Anra pergi meninggalkan Istana.


Dalam keadaan sedih, dia tak mengatakan apapun dan langsung pergi dari tempat itu. Dia berjalan dengan perasaan hampanya kesendirian. Mengingat, mulai saat ini sosok Mi Anra mungkin tidak akan menemani lagi.


Sampai tak terasa, langkahnya menuntunnya sampai ke pintu kamarnya. Namun saat hendak membuka pintu dan masuk, tiba-tiba Gu Rong muncul dengan napas terengah-engah.


Dia bertanya, "apa Mi Anra ada di sini? Aku ingin bertemu dengannya dan membicarakan sesuatu."


Yunza menoleh ke arah Gu Rong. Kemudian menjawab, "kau tidak perlu mencarinya lagi, karena Mi Anra sudah pergi."


Mendengar hal itu, betapa terkejutnya Gu Rong. Dengan penuh penyesalan kemudian dia berlutut di depan Yunza dan mengakui semuanya. "Aku ... aku bersalah," akunya.


"Lalu apa? Kau ingin menikahinya hanya karena kecelakaan itu?" tanya Yunza.


"Tidak! Nona ... tolong bantu aku. Aku ... aku sebenarnya mencintainya! Aku mencintainya!" aku Gu Rong membuat Yunza terkejut.


Yunza bertanya, "lalu kenapa kau enggan menikah dengannya saat itu? Gu Rong, jangan mempermainkan aku seperti ini!"


"Aku ... aku tidak tahu apakah aku mencintainya atau tidak. Aku selalu bertanya-tanya 'apa itu cinta' namun tak pernah mendapatkan jawabannya. Tapi semenjak mengenalnya, perlahan aku mulai memahami arti kata itu namun tidak berani untuk mengakuinya," ucap Gu Rong.


"Nona ... tolong aku. Sekarang aku yakin kalau aku sebenarnya mencintai Mi Anra. Aku tidak ingin kehilangannya," lanjutnya.


Yunza turut senang dan terharu mendengar penuturan Gu Rong. Akan tetapi, dia benar-benar tidak tahu kemana Mi Anra pergi.


"Aku ... ingin mengunjungi makam Su Li." Perkataan Mi Anra hari itu kembali teringat di kepala Yunza.


"Makam Su Li. Kemarin Mi Anra mengatakan kalau dia ingin mengunjungi makam adiknya. Gu Rong, mungkin Mi Anra ada di sana." Ucapan Yunza membangkitkan semangat Gu Rong.

__ADS_1


Setelah itu, mereka pun pergi bersama untuk mencarinya. Akan tetapi, saat tiba dimana Su Li dimakamkan, Mi Anra tidak ada di sana.


Yunza pun mengajak Gu Rong mengunjungi rumah lamanya. Di sana pun tetap sama, Mi Anra tidak bisa ditemukan.


"Kemana dia pergi?" Yunza berusaha mengingat barangkali ada ucapan Mi Anra yang terlewat. Namun tidak membuahkan hasil.


"Apa Mi Anra pergi meninggalkan negara Hou?" tanya Gu Rong.


"Itu tidak mungkin!"


"Tapi, dia pasti sangat kecewa dengan apa yang sudah aku lakukan padanya," ujar Gu Rong.


Yunza terdiam sejenak, kemudian berkata, "kita berpencar dan mencarinya di ibu kota dan sekitarnya. Aku pergi ke arah sini, kau pergilah ke arah sana." Yunza menunjuk dua dah berbeda.


Gu Rong menganggukkan kepalanya setelah itu pergi ke arah yang ditentukan Yunza. Yunza pun begitu dan berpencarlah mereka untuk mencari Mi Anra.


Yunza menjelajahi semua sudut ibu kota dan sekitarnya sambil bertanya pada orang-orang.


"Apa Anda melihat seorang wanita dengan tahi lalat di dagunya? Dia tingginya kira-kira segini." Yunza mengukur menggunakan bahunya. Dan orang itu menggelengkan kepala.


Ia melakukannya tanpa melewatkan satu orang pun, namun hampir semua orang memiliki jawaban yang sama yaitu tidak melihat orang dengan ciri-ciri seperti yang Yunza beritahukan.


"Hei, Nona! Hati-hati kalau jalan!" omelnya kepada Yunza.


Mendapati perlakuan menyebalkan seperti itu Yunza hanya menyerengit dan melanjutkan langkahnya kembali. Saat dia berada cukup jauh dengan pria itu, Yunza tak sengaja mendengar geraman seorang wanita.


Suaranya sangat familiar membuat Yunza menoleh seketika. Dilihatnya wanita yang digendong pria itu mencoba memberontak, namun pria itu malah memukulnya untuk membuatnya diam.


Yunza terdiam sejenak. "Itu ... tidak mungkin Mi Anra." Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa Mi Anra pasti dalam keadaan baik-baik saja.


Namun semakin berusaha, dia malah semakin menyakini bahwa wanita yang dibawa pria itu adalah Mi Anra. Dia kemudian mengejar pria itu ditengah kerumunan ramainya pasar kota.


Bertabrakan dengan orang lain dan terjatuh, sampai akhirnya kehilangan jejak. "Kemana pria itu pergi?" Yunza memutar kepalanya ke sana kemari.


"Aku harus menemukannya!"


Setelah menyelusuri lebih lanjut, dia pun menemukan pria bertubuh tinggi itu dengan jarak yang cukup jauh darinya. Dia pun hanya bisa mengikuti dan tidak bisa mengejarnya karena banyak orang yang berlalu lalang.


Sampai akhirnya, langkah pria itu berakhir di sebuah pintu rumah bordil terkenal di kota.


Yunza terkejut setengah mati dan langsung mengejarnya untuk menghentikannya. Namun, pria itu keburu masuk. Saat hendak masuk, Yunza malah dihalau dua orang pria di pintu masuk.

__ADS_1


"Menyingkir! Biarkan aku masuk!" berang Yunza.


"Tidak bisa! Tidak sembarang orang bisa memasuki tempat ini!" ucap salah satu pria.


Yunza mengintip ke dalam. Pria itu mendudukkan wanita itu diantara banyak pria hidung belang, tak lama ia membuka penutup kepalanya sambil berkata, "harga termurah adalah 30 tael perak!"


Ternyata tebakan Yunza benar, wanita itu adalah Mi Anra. Melihat hal itu dia kembali mencoba masuk, namun tetap dihalau oleh kedua pria itu.


"Mi Anra!" teriak Yunza.


Mi Anra menoleh ke arah pintu. Melihat Yunza berada di sana membuatnya kemudian menangis. Tapi dia tak bisa melakukan apapun dengan kedua kaki dan tangan yang diikat sebuah tali.


"Nona," ucap Mi Anra gemetaran.


Saat itu, Gu Rong datang. Dengan sikap tenang dia menepuk pundak Yunza dan masuk ke dalam tanpa halangan. "Biar aku yang lakukan, Nona," ucap Gu Rong. Barulah Yunza merasa tenang.


Melihat Gu Rong di sana dan sedang menghampirinya, Mi Anra malah memalingkan wajahnya karena rasa malu. Ia malu karena kejadian memalukan malam itu akibat ulahnya sendiri, dan dia benar-benar tidak mau menyalahkan Gu Rong.


"Siapa kau?" tanya pria yang membawa Mi Anra kepada Gu Rong.


"Tuan, apa kau tahu siapa wanita yang baru saja kau bawa dan tawarkan kepada banyak pria itu?" tanya balik Gu Rong.


"Oh, dia adalah wanita yang tidak membayar uang sewa rumahnya selama beberapa waktu terakhir ini. Aku pun menjualnya untuk mengganti kerugian," jawab pria itu.


Gu Rong menatap Mi Anra yang masih memalingkan wajahnya. Tak lama, dia merogoh saku pakaiannya dan mengeluarkan sekantong uang. "Aku beli 50 tael perak," ucap Gu Rong sambil melempar uang tersebut.


Seketika pria itu merasa gembira. Gu Rong pun menghampiri Mi Anra dan menggendongnya. Sesaat sebelum melangkah pergi, seorang pria malah menghentikannya.


"Tunggu dulu! Aku ingin wanita itu! Aku berani membayarnya 90 tael perak!" ujarnya membuat telinga si pria memanas.


"90 tael perak?"


Gu Rong tak menghiraukan ucapan pria tersebut dan langsung melangkah pergi. Akan tetapi, pria mata duitan menghentikannya.


"Apa kau tidak dengar? Jika ingin membawanya pergi maka kau harus memberi harga tinggi," ujarnya.


"Aku sudah membayarnya dan dia sudah menjadi milikku sekarang. Terserah kalian mau bilang apa, aku tidak peduli!"


"Hei! Tidak bisa seperti itu---" Tiba-tiba pria itu berhenti bicara saat sebuah pedang mengarah ke arahnya.


"Jangan serakah!" Gu Rong membawa Mi Anra pergi.

__ADS_1


__ADS_2