
"Siapa yang kau sebut maling?"
Mi Anra membelakkan matanya lebar-lebar tatkala mendengar suara yang tidak asing tersebut. Segera, dia menengadahkan kepalanya dan kembali terkejut.
"P-pangeran kedua?"
Lin Jian menarik kayu tersebut dari tangannya kemudian melemparnya ke sembarang arah. Dia menepuk-nepukan kedua tangannya yang kotor. Sementara Mi Anra langsung berlutut dan meminta maaf.
"H-hamba tidak sengaja, hamba mohon ampunan dari pangeran kedua!" ucapnya dengan keringat menetes di pelipis.
Terdengar suara decakan. Lin Jian kemudian berkata, "berdiri dan pergilah!" Namun, tak lama sepasang matanya melihat boneka yang dipegang Mi Anra.
Mi Anra berdiri dan hendak masuk ke kamar Yunza, tapi Lin Jian menghentikannya. "Apa yang kau pegang itu?" tanyanya sambil menunjuk.
"Ini? Ini boneka beruang," jawab Mi Anra sambil menunduk melihat ke boneka tersebut.
"Aku tahu. Maksudku, siapa pemiliknya?" tanya Lin Jian memperjelas.
"Oh, ini boneka milik nona. Pemberian dari---" Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya.
"Pemberian dari siapa?" tanya Lin Jian.
"I-ini ... ini boneka pemberian ... Ah, ya! Pemberian dari penggemar rahasianya nona," celetuk Mi Anra.
Lin Jian mengernyitkan dahinya. "Penggemar rahasia?"
Mi Anra merasa ngeri melihat ekspresi Lin Jian saat itu. "B-benar. K-kalau begitu aku pergi dulu, permisi." Ia meninggalkan Lin Jian di depan pintu dan masuk ke dalam kamar.
Setelah memastikan Lin Jian pergi dari sana, barulah Mi Anra tertawa cukup keras. "Lihat, pangeran kedua pasti cemburu. Nona, aku sudah membantumu. Jangan lupa beri aku hadiah," ucapnya dengan senyum jahat.
Sementara itu, di aula terbuka.
Yunza masih setia berdiri di samping panggung sambil melihat para peserta menunjukkan bakat terbaik mereka. Melihat hal itu, membuat suatu keinginan tumbuh untuknya mempelajari tentang bersenjata dan bertarung.
"Dalam cerita, Shen Yun Ja tidak diijinkan menonton pertandingan para kontestan. Hanya mengijinkannya menghadiri dua tahap awal saja," gumamnya dalam hati.
Kini, dihadapannya berdiri seorang gadis dengan busur dan panah di tangannya. Sekitar 500 meter dari posisinya berdiri, terdapat sebuah lingkaran sebagai target yang akan dicapainya.
__ADS_1
Wanita pemanah itu mulai menarik panah pertamanya. Setelah mendengar aba-aba, dia pun melepaskan anak panah dan melesat jauh sampai akhirnya mendarat tepat pada permukaan target.
Tepuk tangan pun menggema di sana.
Tiba-tiba, Yunza merasakan suatu tatapan aneh entah dari mana datangnya. Dia menoleh ke sana kemari namun tak mendapati sesuatu yang mencurigakan di sana.
"Yunza!" terdengar seseorang menyeru namanya. Ternyata itu suara Mei An yang duduk di bangku penonton.
Mei An melambaikan tangan ke arah Yunza. Memintanya menghampirinya untuk duduk bersama dengan anggota keluarga yang lainnya.
Melihat hal itu Yunza membalas dengan lambaian tangan dan anggukan kepala. Sebenarnya ia merasa tidak enak pada mereka karena datang terlambat. Namun, karena Mei An sudah memanggil, berarti dia harus pergi untuk memberi muka.
Yunza memalingkan pandangannya lalu melangkahkan kaki menuju kursi penonton untuk bergabung dengan Mei An dan yang lainnya.
Saat dia lengah. Si gadis pemanah meliriknya dengan tatapan sengit. Dia mengangkat busur dan menarik anak panah. Beberapa saat kemudian malah mengubah arah dan mengarahkannya pada Yunza.
"Kau harus mati! Shen Yun Ja!" Teriaknya sambil melepas anak panah.
Semua orang terkejut bukan main karenanya. Apalagi saat melihat sebuah panah meluncur ke arah Yunzq dengan sangat cepat secepat kilat.
"Aku tidak bisa menghindar!" ucap Yunza menyadari kecepatan langkahnya tak secepat anak panah tersebut.
Jantung semua orang berdegup kencang. Panik dan tegang mereka rasakan. Mungkinkah mereka akan menyaksikan sebuah kematian di sana? Pikir mereka.
Namun, sebelum itu terjadi, sebelum panah menyentuh kulit Yunza, seseorang tiba-tiba muncul menghalau panah tersebut dengan tangannya sampai panah itu merobek masuk ke dalam daging lengan orang tersebut.
"Sial! Siapa dia!" geram si gadis pemanah.
Belum sempat ia melarikan diri, Kaisar segera memerintahkan para prajurit untuk menangkapnya hidup-hidup. "Jebloskan ke dalam penjara! Dia akan dihukum mati karena mencoba melakukan pembunuhan terhadap anggota keluarga kerajaan!" titahnya.
Akan tetapi, semua tak berjalan dengan baik saat mengetahui ternyata si gadis pemanah juga memiliki kemampuan bela diri yang cukup baik. Tak ada satu prajurit pun yang bisa menyentuhnya.
Tak berapa lama, pangeran ketujuh, Lin Xianyi yang terkenal berwatak dingin pun turun tangan. Tiba-tiba dia muncul di belakang gadis tersebut dengan posisi belati di tangannya yang sudah berada di leher gadis itu.
Gadis itu pun diam ketakutan. Kemudian sepasang matanya tak sengaja melihat Yunza yang sangat disayangkan dalam keadaan baik-baik saja.
Yunza amat terkejut dengan kemunculan penyelamat tersebut. "Tuan, apa Anda baik-baik saja?" tanyanya padahal ia tahu orang itu sedang terluka.
__ADS_1
Raut wajah panik ditunjukannya. "Aku akan membawa Anda menemui tabib. Ayo," ajaknya sambil menengadah melihat wajahnya.
Sekali lagi Yunza dibuat terkejut. Pria berjubah hitam dengan ukiran naga yang terbuat dari emas. Wajahnya sangat tidak asing dengan senyum di bibirnya yang khas.
"Kau?"
"Shen Yun Ja!" teriak gadis pemanah. Yunza dan yang lainnya sontak menoleh secara bersamaan.
"Dia mengenalku?" batin Yunza.
"Shen Yun Ja! Aku mengutukmu dengan darah Hou yang mengalir di tubuhku! Demi nyawa ayah dan kakakku yang gugur di medan perang saat itu, aku ingin kau mati mengenaskan!" teriaknya.
"Aku tidak sudi kau tinggal disini! Bagaimana bisa kau hidup bahagia di atas kematian ribuan orang karena perang dengan negara Long terkutuk itu!" Ia mencurahkan semua amarahnya.
"Apa kau tidak tahu! Banyak anak yang kehilangan ayahnya, banyak istri yang kehilangan suaminya karena negara terkutuk kalian! Apa kau dengar!"
Yunza gemetar ketakutan mendengarnya. Ia yang tak tahu menahu tentang apapun malah diminta pertanggung jawaban dan disalahkan.
Di sisi lain, dia mengerti perasaan gadis tersebut. Apa yang dikatakannya juga menaruh luka di hatinya. Anak mana yang tidak mencintai ayahnya? Anak mana yang baik-baik saja setelah kepergian ayahnya.
Mengingat hal itu, jika Yunza berada di posisinya mungkin dia juga akan melakukan hal yang sama yaitu balas dendam.
Yunza menundukkan kepalanya. Dia bersungguh-sungguh dalam ucapannya. "Aku minta maaf."
Akan tetapi gadis itu malah tertawa terbahak-bahak. "Apa dengan meminta maaf, ayah dan kakakku akan hidup kembali? Jangan bodoh!" teriaknya.
Gadis itu melirik Yunza penuh kebencian. "Bunuh diri! Dengan kematianku barulah aku bisa merasa tenang. Bukankah kau jantungnya negara Long? Aku ingin mereka merasakan hal yang sama sepertiku. Jadi, ambil pedang pria itu dan bunuh---"
Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, suara sayatan belati terdengar nyaring di tempat itu. Semua orang terperajat kaget melihat tindakan yang diambil oleh pangeran ketujuh yang memutuskan untuk membunuh gadis itu saat itu juga.
Yunza menengadah lalu membelakkan matanya. "Apa yang ... kau lakukan?" tanyanya dengan suara gemetaran.
Pangeran ketujuh melempar belati berlumuran darah ke tanah. "Wanita tahu apa tentang perang? Nyawa tidak ada artinya di sana!" ucapnya dengan dingin.
"Yunza!" Mei An dan yang lainnya datang.
"Apa kau baik-baik saja? Ada yang terluka?" tanyanya mengkhawatirkan Yunza. Yunza hanya membalas dengan gelengan kepala.
__ADS_1
"Menantu, ajak adik iparmu kembali ke kamarnya," kata Kaisar. Mei An menganggukkan kepala kemudian memapah Yunza pergi dari sana.
Tak lama Kaisar menoleh ke arah pria itu. Lalu ia menundukkan kepalanya. "Sungguh aku merasa malu atas apa yang terjadi. Aku harap, pangeran dari negeri seberang, Yu Qin, bersedia memaafkanku."