Not Idiot Princess

Not Idiot Princess
Apa Aku Akan Mati Di Sini?


__ADS_3

"Hm?" Chen Su mengerutkan dahinya. "Shen Yun Ja, apa sekarang kau yang lebih suka bersembunyi?" tanyanya.


Tiba-tiba, sekelebat bayangan muncul dari arah samping. "Benar, aku memang sangat suka bersembunyi ... kemudian muncul seperti ini!"


Segera, Yunza mengayunkan tangannya yang memegang tusuk rambut ke arah Chen Su. Chen Su yang terkejut tak sempat menghindar, kemudian tusuk rambut pun menancap di lengannya.


"Aarrghh!" teriaknya kemudian jatuh ke tanah.


Yunza yang tak ingin memberinya kesempatan membalas, langsung menendang busuk beserta beberapa anak panah dari Chen Su.


Tak lama, Yunza berjongkok di hadapan Chen Su. Matanya menatap tajam sosok di depannya namun tangannya terulur menggapai sesuatu. Yunza memegang tusuk rambutnya kemudian menariknya sangat keras sampai terdengar jeritan kesakitan Chen Su.


"Bagaimana? Sakit, bukan? Rasa sakit itu sama seperti yang aku rasakan tadi. Tidak hanya itu, mengeluarkan benda di kakiku ... itu juga rasanya sangat sakit. Sampai kini malah belum sembuh total," ucap Yunza sambil mengelap tusuk rambutnya dari darah Chen Su.


"Sejak awal, aku tidak mengerti kenapa kau bisa sangat membenciku dan bahkan berniat mencelakaiku beberapa kali. Apa sebegitu inginnya mendapatkan Pangeran kedua?" tanya Yunza.


Chen Su tertegun mendengar ucapan Yunza. Ia bertanya pada dirinya tentang semua hal yang pernah dilakukan kepada Yunza sebenarnya atas dasar apa? Begitu kiranya pikirnya.


"Kau hanya perlu masuk ke Istana dan menjadi selir kesayangan dari Pangeran kedua!" perkataan orang itu kembali teringat olehnya.


"Benar, semua ini karenanya!" gumam Chen Su dengan suara pelan.


Yunza samar-samar mendengar gumaman Chen Su tersebut. "Siapa orang yang dimaksud olehnya? Apakah itu Shenshen?" pikir Yunza.


Akan tetapi, ditengah kebisuan mereka tetiba terdengar suara derap langkah kaki kuda tak jauh dari posisi mereka berada. Keduanya menoleh ke asal suara dengan raut wajah cemas.


"Mereka sudah datang!" batin Yunza.


Saat kembali menoleh, dia sudah mendapati Chen Su sedang berlari ke arah kudanya. Dengan panik Chen Su naik ke punggung kuda dan bersiap melarikan diri.


Melihat hal itu, Yunza kemudian berlari ke arahnya sambil berteriak, "aku tidak akan membiarkanmu pergi!" Dia kembali mengangkat tinggi-tinggi tusuk rambut kemudian menusukkannya ke bokong kuda dan langsung menariknya lagi.


Akibatnya, kuda mengamuk dengan luka yang terus mengeluarkan darah. Dia berlari kesakitan sambil membawa Chen Su di punggungnya.


Setelah Chen Su pergi, Yunza membalikkan tubuhnya ke arah datangnya mereka. Dia pun akhirnya berlari ke arah pohon dan mulai memanjat dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


Tak berapa lama, orang-orang Chen Su tiba. Sambil menunggangi kuda dengan sangat gagah, mereka juga memancing sekelompok serigala di belakang mereka.


Di atas pohon, Yunza mengamati sambil berusaha menutup muka di lengannya. Saat mereka mulai mendekat, beberapa diantara mereka tidak sengaja menginjak jebakan pemburu yang terbuat dari besi berbentuk lingkaran.


Jebakan dengan gigi-gigi tajam itu menerkam kaki kuda yang membuatnya jatuh seketika, melempar orang di punggungnya sampai terpental beberapa meter.


"S-serigalanya semakin mendekat!" ujar si pria yang terjatuh dari kuda. Ia menjadi panik menyadari bahwa dirinya tidak bisa melarikan diri tanpa kuda. Beruntungnya masih ada seorang teman.


"T-tidak, jika mengangkut dua orang maka laju kuda akan berkurang. Itu akan membuat serigala mudah menangkap kita!" Temannya itu menolak membantu.


Tanpa memikirkan perasaan temannya, dua langsung pergi dengan kudanya. Dua pria yang ketakutan lantas mengejar. "Tunggu! Jangan tinggalkan aku! Aku tidak mau mati dimangsa serigala!" teriaknya.


Temannya tak menghiraukan sedikitpun. Mereka terus memacu kuda dan menghindari kejaran temannya. Sementara di belakang mereka, akibat luka yang ditimbulkan dari dua orang tersebut, membuat serigala akhirnya malah mengejar mereka.


Melihat hal itu, Yunza menghela napas lega. "Aku selamat, syukurlah," batinnya.


Namun, akibat darah yang sedari tadi tak henti-hentinya mengalir, tubuhnya menjadi lemah sampai dia tak sanggup bahkan untuk membuka mata saja. "Apa ... aku akan mati di sini?"


Di satu tempat di tepi sungai.


"Sial!" umpatnya.


"Kau memberi satu, aku akan membalasnya dua. Kau membalas dua kali, aku akan memberimu empat kali! Anggap saja saat ini kau sedang beruntung. Tapi tidak lama lagi, kau pasti akan mati!" ujarnya dalam hati.


Selesai membalut lukanya, Chen Su menyempatkan diri membasuh wajahnya dengan air sungai kemudian meneguk beberapa teguk air untuk menghilangkan dahaga.


Kemudian dia menunduk, menatap dirinya dalam pantulan air. "Memangnya apa kurangnya aku dibandingkan dia? Tanpa perintah darinya pun, aku pasti bisa menarik perhatian Pangeran kedua dan menjadi selir kesayangannya di Harem," tuturnya.


Bugh!


Tak jauh dari sana, tiba-tiba terdengar suara sesuatu terbentur dengan sangat keras. Chen Su langsung menoleh ke arah suara tersebut berasal lalu bertanya, "suara apa itu?"


Dari arahnya datang tadi, perlahan seseorang muncul dengan cara merangkak. Chen Su lantas mengerutkan dahi saat menyadari kalau dia merupakan orangnya.


Dia pun beranjak dan berjalan mendekat. Kepada orang itu dia bertanya, "apa yang terjadi? Kenapa kau ada di sini?"

__ADS_1


Namun, orang itu tak menjawab. Dengan tubuh lemah dia mengangkat tangannya yang dipenuhi darah. "Serigala ... serigalanya ...." ucapannya terbata dan terdengar tidak jelas.


Seketika Chen Su menghentikan langkah kakinya. Ia yang berniat membantunya tetiba mengurungkan niat.


Beberapa saat kemudian terdengar suara raungan serigala tak jauh dari sana. Suaranya membuat Chen Su bergidik takut kemudian dia membalikkan tubuhnya dan langsung lari.


Akan tetapi, dia sudah terlambat. Kawanan serigala itu telah menemukannya. Saat melihat Chen Su, serigala tersebut langsung berlari ke arahnya.


"Tidak! Jangan! Jangan mendekat!"


"Aaarrghhhh!" teriak Chen Su saat serigala berhasil menikamnya. Ia merasakannya dengan sangat jelas bagaimana tajamnya gigi serigala tersebut menembus dan merobek kulit dagingnya.


"Aku ... aku tidak mau mati," ucap Chen Su.


Di tenda.


Lin Jian memasuki tenda Yunza, namun saat itu di sana Mi Anra sedang membereskan kamarnya. Lin Jian menatap Mi Anra dan dalam hati bergumam, "menurut orang yang ayahanda perintahkan untuk menyelidiki pengawal itu, diketahui sebuah informasi bahwa dia telah menikah dengan pelayan Yunza."


"Namun, masalah ini mungkin tidak ada hubungannya sama sekali dengannya," lanjutnya.


Mi Anra yang menyadari keberadaan Lin Jian lantas membalikkan tubuh, kemudian langsung membungkukkan badannya memberi hormat. "Mi Anra memberi hormat kepada Pangeran kedua."


"Berdirilah," ucapnya lalu Mi Anra berdiri tegak. Kemudian Lin Jian mengajukan pertanyaan. "Apa Yunza belum kembali?"


Mi Anra menggelengkan kepalanya sambil menjawab, "belum."


Lin Jian menaruh tangannya di dagu dengan raut wajah cemas. Tak berapa lama, dari luar terdengar suatu kegaduhan yang cukup menggemparkan. Lin Jian dan Mi Anra pun pergi untuk memeriksa.


Kepada seorang pengawal, Lin Jian menanyakan apa yang sedang terjadi. Dia pun menjawab, "seekor kuda mengamuk di depan." Dia menunjuk ke suatu arah.


"Kuda mengamuk?" Lin Jian melangkahkan kaki dan pergi memeriksa. Diikuti oleh Mi Anra yang juga merasa penasaran.


Setibanya di sana, mereka melihat beberapa orang sedang menenangkan kuda tersebut dan beberapa lagi berusaha menarik panah di Bojong kuda tersebut.


Rasa penasaran semakin menguat. Mi Anra berjalan mendekat untuk melihatnya lebih jelas. Saat melihat kuda tersebut retina sepasang matanya membelalak sempurna.

__ADS_1


"I-itu ... itu kuda Nona!" teriaknya.


__ADS_2