Not Idiot Princess

Not Idiot Princess
Malam Berdarah


__ADS_3

Sinar bulan menerangi gelapnya malam, menjadi saksi saat beberapa orang diam-diam memasuki kediaman Yu Qin dengan masing-masing senjata di tangan mereka.


Pasukan berjumlah sekitar 30 orang tersebut mengepung kamar Yu Qin dari segala penjuru. Satu orang komando berdiri di depan pintu kamar dan memeriksa semuanya sampai akhirnya memerintahkan pada yang lainnya untuk masuk.


Masuklah mereka ke kamar Yu Qin, ada yang dari pintu bahkan dari jendela. Ketika di dalam, semua mata mereka langsung tertuju pada sosok yang sedang berbaring di tempat tidur yang terhalang tirai tipis.


Si komando mengambil sebuah benda panjang dan meniupkan jarum bius padanya. Targetnya tepat sasaran. Setelah menunggu beberapa saat, dia kembali memerintahkan bawahannya untuk memeriksa sebelum akhirnya diseret pergi.


Bawahan komandan berjalan mendekati sosok di tempat tidur dengan pedang untuk berjaga-jaga. Dia menggunakan pedang tersebut untuk memutus tirai yang menghalangi pandangan mereka. Kemudian, barulah memeriksa sosok itu.


Tak berapa lama, tiba-tiba saja dia langsung mundur. "Komandan, itu hanya bantal!" ujarnya membuat semua orang terkejut.


Bersamaan dengan itu, dari atap turunlah Yu Qin ke tengah-tengah mereka. Dia tak menyia-nyiakan waktu dan langsung memainkan pedangnya, membuat satu persatu dari mereka akhirnya tumbang.


Permainannya sangat lihai sampai tak menimbulkan suara apapun. Kemudian, satu tebasan terakhir ia berikan kepada komandan sambil berkata, "terima kasih atas kerja kerasnya, Komandan."


Akan tetapi, Komandan ternyata belum mati. Ke arah jendela yang terbuka, dia melemparkan sebuah asap sebagai sinyal. Buktinya, tak berselang lama orang-orang berikutnya masuk ke dalam kamar dengan masing-masing senjata mereka.


Mereka amat terkejut saat melihat pasukan awal yang telah dibantai habis-habisan oleh Yu Qin. Kemudian, pertarungan kedua pun terjadi.


Kemampuan mereka masih bukan apa-apa dibandingkan dengan Yu Qin. Pasukan kedua pun hampir habis di tangannya. Akan tetapi, dari atap seseorang muncul dan meniupkan jarum hingga mendarat tepat di suatu titik tubuh yang membuat pergerakan Yu Qin pun seketika terhenti.


"Aku tidak bisa bergerak." Yu Qin dilumpuhkan saat itu.


Tak berselang lama, seseorang masuk melalui pintu depan. Dia masuk sambil bertepuk tangan lalu berkata, "kau sudah sangat mengejutkanku, putraku Lin Yu. Bagaimana, apa di bawah jurang kau bertemu seorang Dewi dan memintanya menyembuhkan kakimu?" cemoohnya.


Mendengar hal itu, Yu Qin membalas dengan senyum merendahkan. "Benar, aku bertemu dengan seorang Dewi. Namun, dia bukan hanya menyembuhkan kakiku, tapi juga memberiku kekuatan untuk membunuhmu!"


Kaisar menganggukkan kepalanya. "Ya, kau punya cita-cita yang sangat tinggi. Namun, kau perlu banyak untuk mewujudkannya. Dan aku sendiri yang akan membangunkanmu." Dia menarik pedangnya.

__ADS_1


Namun, sebelum itu, Kaisar mengajukan satu pertanyaan kepadanya. "Lin Yu, apa kau yang membunuh pangeran Yu Qin?" tanyanya.


Lin Yu menjawab, "benar, aku orangnya."


Kaisar kemudian menyipitkan matanya. "Tidak benar! Aku tidak bisa membiarkan Kaisar Huan mengetahui kalau yang membunuh puteranya adalah Lin Yu. Itu akan membuatnya berbalik menyerang negara Hou," batin Kaisar.


"Yang mereka tahu, Lin Yu sudah meninggal di jurang. Jangan sampai mereka tahu kalau Lin Yu masih hidup. Oleh karena itu, aku harus membunuhnya dan menjadikan orang lain sebagai kambing hitam untuk dibawa ke hadapannya!" lanjutnya.


Kaisar menurunkan pedangnya. Lalu berjalan ke arah Lin Yu sambil bertanya, "Lin Yu, mengapa kau sampai berlaku demikian? Apa kau tidak memikirkan istri dan putramu saat tahu berita kematianmu?"


Lin Yu tertegun mendengar ucapan Kaisar. Dia bisa saja mengabaikan Mei An karena tak mencintainya, namun dia tak seharusnya mengabaikan putranya, Lin He.


"Sebagai seorang putera, bagaimana perasaanmu saat mengetahui kalau ayahandanya ternyata membohonginya dan ibunya." lanjut Kaisar sambil berjalan mendekati Lin Yu.


"Mengapa kau berjuang di atas sifat acuhnya wanita itu? Ia tidak akan menjadi milikmu, dan dia telah merenggut Lin Jian dariku." Tibalah Kaisar di hadapan Lin Yu dengan terus mencuci otaknya.


Kemudian, dia memeluk Lin Yu dan berkata, "kembalilah padaku, dan aku akan memberikan semuanya ... di ... akhirat." Kaisar menurunkan nada bicaranya sambil menusuk Lin Yu dengan pedangnya dari belakang.


"Putraku, aku sudah mewujudkan satu impianmu yaitu kematian. Kau sangat suka berpura-pura mati, namun aku memberimu kenyataan," ucapnya dengan dingin.


Kaisar melepaskan pelukannya, saat itu juga, Lin Yu jatuh tersungkur ke lantai. Sambil menahan rasa sakit, Lin Yu bergumam dengan suara lirih pelan menyebut namanya. "Yunza."


Yunza yang saat itu sedang memejamkan mata di kamarnya, tetiba membuka matanya saat mendengar samar-samar orang menyebut namanya. Dia bangun terduduk sambil menolehkan pandangannya ke segala arah.


"Nona, ada apa?" tanya Mi Anra yang terbaring di sampingnya.


Yunza pun menjawab, "aku mendengar seseorang memanggil namaku." Dia masih sibuk mencari-cari namun tak melihat siapapun di sana.


"Nona, tidak ada yang memanggil sedari tadi. Mungkin kau salah dengar," kata Mi Anra.

__ADS_1


"Mi Anra, aku merasakan firasat yang sangat buruk," ucap Yunza dengan wajah gelisah.


"Aku juga merasakannya. Lalu, apa yang akan kita lakukan?" Keduanya pun saling menukar tatapan. Mi Anra tak mengatakan apapun lagi begitu juga dengan Yunza.


Di kamar Lin Yu, Kaisar terlihat seperti tidak menyesali perbuatannya. Dia sampai merelakan puteranya demi negara. Namun mungkin, hal itu satu-satunya cara yang bisa dipilihnya untuk menyelamatkankan negaranya.


"Ayahanda, kau harus tahu bahwa Kaisar Huan Qing memiliki tujuan lain dari persekutuannya dengan negara Hou. Dia berniat menguasai negara Hou!" Lin Yu memperingati Kaisar diambang hidupnya.


Kaisar tak menanggapi peringatannya, kemudian membalikkan tubuhnya sambil memasukkan pedang yang berlumuran darah ke dalam sangkarnya.


"Panglima Ming! Seret jasadnya dan buang di hutan yang sangat jauh! Kemudian ... bunuh siapapun yang ada di sini yang telah mengetahui identitas Lin Yu!" perintahnya.


Semua prajurit yang tersisa pun ketakutan mendengar perintahnya. Beberapa mulai melarikan diri karena takut dibunuh, beberapa lainnya bersujud dan mengatakan tidak akan memberitahu siapapun asalkan tidak dibunuh.


Namun, Kaisar yang berhati iblis itu tak menghiraukan pemohonan mereka. Dan dalam waktu singkat, mereka pun dibunuh tak tersisa. Kini hanya tersisa Kaisar, Panglima, dan beberapa pengawal bayangan.


Panglima Ming kemudian mengajukan tanya. "Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Yang Mulia?"


Kaisar menjawab, "perintahkan beberapa pengawal bayangan untuk membawa putra mahkota ke tepi jurang dan buang mayatnya di sana. Kemudian, bawa pasukanmu dan bunuh Shen Yun Ja malam ini juga!"


Panglima Ming sempat bergidik takut, ada keraguan di hatinya untuk melakukan tugas berikutnya tersebut. Karena bagaimanapun, dia adalah seorang ayah yang juga memiliki seorang putri di rumahnya.


"Baik, Yang Mulia." Dia menuruti perintahnya dengan hati terpaksa.


Mereka pun pergi dari kamar Lin Yu. Setelah kepergian mereka, dari kejauhan Mei An yang tidak sengaja menyaksikan malam berdarah tersebut jatuh sambil menahan tangisnya.


Ia yang sempat mencurigai bahwa Yu Qin adalah Lin Yu, berniat menemuinya dan menanyakannya langsung. Namun apa yang disaksikannya malah suatu kejadian yang mengerikan.


"Putera mahkota." Mei An menangis dengan tangis yang tertahan. Dia takut kalau Kaisar sampai mengetahui keberadaannya, mungkin dia juga akan dibunuhnya.

__ADS_1


Tak lama, dia teringat ucapan terakhir Kaisar. "Kaisar akan membunuh Yunza? Bagaimana ini?" Ia menjadi gundah gulana.


"Tidak! Aku tidak bisa diam saja! Aku harus memberitahu Lin Jian mengenai hal ini!" Dia berusaha berdiri di atas kedua kaki yang gemetar hebat. Lalu pergi meninggalkan tempat tersebut.


__ADS_2