Not Idiot Princess

Not Idiot Princess
Gadis Buta


__ADS_3

Untuk menyambut kedatangan tamu Kaisar tanpa adanya hambatan apapun, kontes tahap terakhir pun dilaksanakan esok harinya.


Tahap ini mengharuskan setiap kontestan menunjukkan bakat mereka masing-masing sebagai tolak ukur kepantasan mereka menjadi selir kerajaan.


Rencananya, pemilihan akan diselesaikan hari itu juga dengan hanya sebanyak 25% kontestan yang terpilih dan menjadi selir pangeran kedua.


Kontes pertama bertema alat musik, dimana para kontestan akan menunjukkan keahliannya dalam memainkan sebuah alat musik.


Sejak tadi pagi, beberapa kontestan yang mengambil tema tersebut sudah menunjukkan bakat mereka di hadapan Kaisar dan yang lainnya. Kini kontestan terakhir dari tema tersebut telah menduduki tempatnya.


Dia bernama Su Rongyi. Seorang wanita muda yang terkenal dengan kepiawaiannya dalam memainkan sebuah kecapi. Tak hanya itu, rumor mengatakan kalau dia juga memiliki suara yang sangat merdu.


Wanita berparas cantik itu mulai memetik-metik senar sebagai pemanasan. Tak lama, Yunza memergokinya tengah menengok ke sebuah bilik penghalang dengan sebuah gerakan bibir.


Yunza hanya tersenyum saat menyadari sesuatu.


Kemudian dia memulai permainannya. Irama demi irama merdu mulai dikeluarkannya, membuat orang terhipnotis saat menikmatinya.


Sampai tidak terasa, lagu pertama pun telah usai lalu tepuk tangan menggema di ruangan tersebut.


"Itu bagus sekali, Nona Su Rongyi. Apa kau bisa menyanyikan lagu 'Teratai Bulan Purnama'? Kebetulan aku sangat ingin mendengarnya," pinta selir Ning Ning yang hadir menggantikan permaisuri.


"'T-teratai Bulan Purnama'?" tanya Su Rongyi dengan wajah tegang.


"Kenapa? Apa kau berniat menolak permintaan selirku?" tanya Kaisar dengan wajah dingin.


"T-tidak. Hamba tidak berani, Yang Mulia. K-kalau begitu, hamba akan nyanyikan." Kemudian dia melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, menoleh ke arah bilik dan seperti mengatakan sesuatu.


Jemarinya kembali memetik senar. Su Rongyi begitu menikmati permainannya. Namun, belum lama irama berjalan tiba-tiba selir Ning Ning menghentikan permainannya.


"Itu bukan lagu 'Teratai Bulan Purnama'," ucapnya dengan nada kecewa.


Su Rongyi terkejut sampai membelakkan matanya. Wajahnya berubah menjadi pucat pasi, lalu berkata, "aku akan memainkannya. Tadi, aku hanya gugup saja. Hehe. Baiklah, 'Teratai Bulan Purnama', kan?" Ia meninggikan suaranya di kalimat terakhir.


Dia merenggangkan jari-jarinya terlebih dahulu lalu berdeham untuk mengetes suara. Beberapa saat kemudian, dia pun kembali memetik senar dan mulai bernyanyi.


Tak bisa dipungkiri, Su Rongyi memang memiliki suara yang sangat merdu dan lembut. Membuat siapapun yang mendengarnya kembali terhipnotis, larut dalam irama lagu tersebut.


Namun, hal itu tak bisa menipu mata Yunza. "Jika di duniaku, yang seperti ini namanya lipsync. Siapa sangka bahwa trik seperti ini sudah digunakan jauh sebelum masa modern," gumamnya sambil mengamati.


Ditengah menikmati pertunjukan tersebut. Yunza mengeluarkan seekor kecoa yang sudah mati dari balik pakaiannya. "Baiklah. Sekarang, kita lihat kebenarannya."

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan siapapun, dia melempar kecoa tersebut ke arah Su Rongyi dan mendarat tepat di atas punggung tangannya.


Su Rongyi yang merasakan geli di tangannya lantas membuka mata. Betapa terkejutnya dia saat melihat hewan menjijikan itu menyentuh kulitnya, lantas ia menjerit sejadi-jadinya.


"Aaarrghhhh!" Ia menjerit sambil melempar kecoa ke sembarang arah.


Kejanggalan dirasakan banyak orang tatkala melihat Si Rongyi yang sibuk mengusir kecoa sementara nyanyian masih berlanjut dengan sangat merdunya.


Beberapa waktu berlalu, Su Rongyi pun menyadari hal itu. Dia langsung melanjutkan lirik yang membuatnya sangat kacau dengan suara fals.


"Cukup!" bentak Kaisar.


Seketika Su Rongyi terhenti, namun tidak dengan sosok di balik bilik yang sangat menghayati nyanyiannya. Dia pun menjadi gemetar ketakutan dengan raut wajah tegang dan panik.


"Penjaga! Singkirkan bilik itu!" perintah Kaisar. Mendengar suara bariton tersebut, suara di balik bilik pun berhenti.


Su Rongyi berdiri di depan bilik dan menghalanginya dengan tubuhnya. "Tidak ada apa-apa dibalik bilik ini, Yang Mulia. Aku akan kembali bernyanyi---"


Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, beberapa penjaga datang dan segera menyingkirkannya dari sana, sementara penjaga lainnya menggotong bilik tersebut.


Semua orang terkejut saat melihat sesuatu dibalik bilik. Yakni seorang wanita yang amat mirip dengan Su Rongyi, bahkan sudah seperti pinang dibagi dua.


"Dia melakukan kecurangan. Gadis itulah yang sedari tadi bermain kecapi dan bernyanyi," ucap selir Ning Ning.


Kepergiannya diikuti oleh selir Ning Ning dan yang lainnya. Namun tidak dengan Yunza.


Mengetahui bahwa dirinya gagal, membuat Su Rongyi naik pitam. Dia berlari dan menerkam wanita tersebut sampai jatuh ke lantai.


"Ini gara-gara kau! Aku menyuruhmu diam tadi apa kau tidak dengar? Apa kau sengaja melakukan ini, hah? Jawab aku!" berangnya.


"Aah! Sakit, sakit Rongyi!" Dia hanya pasrah sambil menahan rasa sakit.


"Dasar tidak berguna! Aku tidak ingin mempunyai kakak sepertimu! Sudah buta! Tidak berguna! Mati saja kau!"


Su Rongyi mengangkat tinggi-tinggi tangannya untuk memukul saudarinya tersebut. Hal itu membuat Yunza tak tinggal diam dan akhirnya bergerak.


Sebelum tangan itu menyentuh wajah saudarinya, Yunza segera menahannya. "Hentikan! Apa urat malumu sudah putus?" tanyanya.


Su Rongyi awalnya terkejut melihat Yunza di sana. Tak lama dia menghempaskan tangan Yunza sambil berkata, "jangan ikut campur urusanku!"


"Aku harus memberinya pelajaran!" lanjutnya.

__ADS_1


Sebelum itu terjadi, Yunza segera memerintahkan beberapa penjaga untuk melerai mereka.


"Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan!" Su Rongyi meronta-ronta.


"Bawa dia pergi!" perintah Yunza. Dia pun dibawa pergi dari sana dan dengan sangat tidak hormat didiskualifikasi dari kontes karena melakukan suatu kecurangan.


Setelah itu, Yunza menghampiri saudari kembar Su Rongyi. Lalu bertanya, "apa Nona baik-baik saja?"


Dia terduduk sambil menahan rasa sakit. "Aku baik-baik saja. Terima kasih, Nona," jawabnya.


"Siapa namamu?" tanya Yunza.


Wanita buta itu menengadah ke asal suara. Lalu menjawab, "Su Fangyi. Apa aku boleh tahu nama Nona?" tanya baliknya.


"Tentu saja, kau bisa memanggilku ... Shen Yun Ja."


Alangkah terkejutnya Su Fangyi saat mengetahui nama seseorang yang menolongnya tadi. Setelah itu tiba-tiba dia bersujud di hadapan Yunza lalu berkata, "aku memberi hormat, semoga permaisuri pangeran kedua berumur panjang."


Yunza tertegun. "Miris sekali. Kakaknya, Su Fangyi, memiliki hati yang baik dan lemah lembut meski dengan kekurangan. Sementara adiknya memiliki paras yang cantik tapi tak ada sedikit pun sopan santun dalam dirinya," batin Yunza.


"Nona Su Fangyi, apa ada sakit di badanmu? Aku akan meminta tabib untuk memeriksa," tawar Yunza.


"T-tidak perlu, Nona. Terima kasih." Ia menolak.


Su Fangyi menegakkan tubuhnya lalu menengadahkan kepalanya. "Apa ... apa aku sudah boleh pergi? Aku tidak bisa meninggalkan Su Rongyi," ucapnya.


Yunza mengulurkan tangannya lalu menyentuh bahunya. "Pergilah. Seorang penjaga akan mengantarmu sampai ke gerbang."


Setelah itu, Su Fangyi diantar oleh seorang penjaga ke gerbang.


Tak berapa lama, Mi Anra datang.


"Ada apa, Nona?" tanyanya pada Yunza yang terus meratapi kepergian Su Fangyi.


"Mi Anra, padahal mereka tinggal di rahim yang sama dan bersama-sama selama sembilan bulan sepuluh hari lamanya. Mengapa tak ada sedikit pun rasa kasih sayang dari Su Rongyi pada Su Fangyi?" tanya Yunza.


"Aku ... tidak tahu."


Kemudian, Yunza melangkahkan kakinya pergi tanpa mengatakan sepatah katapun lagi.


"Kemana Nona akan pergi?" tanya Mi Anra.

__ADS_1


"Aula terbuka. Kontes tema senjata akan segera dilaksanakan. Ayo, Mi Anra."


__ADS_2