Not Idiot Princess

Not Idiot Princess
Memergoki


__ADS_3

Di ruangan Kaisar, Lin Jian membuka pintu. Sambil melangkah masuk bersama penasehat, ia bertanya, "aku dengar, ada yang ingin Ayah Kaisar bicarakan denganku. Apa itu?"


Kaisar memasang raut wajah cemas. Melihat hal itu, penasehat berkata, "ijin menjawab, Pangeran kedua. Yang ingin dibicarakan Kaisar adalah---" Akan tetapi, ucapannya disela Kaisar yang mengangkat tangan.


"Penasehat, kau sudah boleh pergi," ucap Kaisar. Penasehat membungkukkan badan, lalu ia pergi meninggalkan tempat tersebut.


Setelah penasehat pergi, Lin Jian kembali bertanya, "ada apa, Ayahanda? Apa ada sesuatu yang sangat mendesak sampai memintaku menemuimu?"


Kaisar menyipitkan matanya dan malah balik bertanya, "sepertinya aku sudah mengganggu waktumu dengan Permaisuri tercintamu itu. Benar begitu?"


"Itu tidak benar, Ayahanda. Aku hanya sedang tidak enak badan saja, tadi pagi," jawab Lin Jian sambil membungkukkan badannya.


Keadaan menjadi hening seketika. Tak berapa lama, Kaisar berkata, "Lin Jian, gulungan berisi informasi penting yang di simpan di ruanganku telah dicuri seseorang."


Mendengar hal itu Lin Jian terkejut bukan main. "Bagaimana bisa? Ayahanda, ruangan tersebut dijaga dengan sangat ketat oleh beberapa penjaga terpilih, bagaimana mungkin ada yang bisa menyelinap masuk dan mencuri gulungan tersebut?"


Kaisar mengubah posisi duduknya. Dari menyandar ke kursi kini duduk tegak dengan kedua siku tangan di atas meja.


"Ini mungkin saja terjadi, dan orang itu pasti bukan orang sembarangan. Dia orang yang cukup profesional yang bahkan tak meninggalkan jejak apapun. Namun, sepertinya aku mengetahui siapa orang itu," katanya.


Lin Jian bertanya, "siapa orang itu, Ayahanda?"


Keduanya saling menatap dengan tatapan penuh arti. Sampai akhirnya Kaisar menjawab, "pengawal dari Permaisurimu, orang yang dikirim Han Xi untuk menjaga adiknya. Aku yakin dialah orangnya."


"Apa?"


"Benar, Lin Jian. Untuk itu, aku perintahkan kau untuk menyelidikinya segera. Saat kecurigaan terbukti, bunuh saat itu juga!" perintah Kaisar.


Dengan ragu Lin Jian menganggukkan kepalanya. Kemudian Kaisar berkata, "kau sudah boleh pergi." Kaisar memegangi kepalanya yang terasa sakit karena masalah tersebut. Lin Jian pun meninggalkan tempat tersebut.


Di tempat lain.


Saat Yunza ditemani Mi Anra sedang berjalan di koridor, seorang pria asing muncul di hadapan mereka.


"Salam, Nona Shen Yun Ja, aku pengawal pribadi Pangeran Yu Qin. Tuan memberiku perintah untuk menemui Nona dan mengundang Anda meminum teh bersamanya," kata orang itu.


Yunza melirik Mi Anra lalu berkata, "Mi Anra, kembalilah ke kamarmu. Aku akan menemui Pangeran Yu Qin sebentar."


"T-tapi Nona ...."


"Tidak apa-apa." Setelah itu, Yunza dan orang bawahan Yu Qin pun pergi.


Beberapa saat berlalu, alih-alih mengajaknya meminum teh, pria itu malah memandu Yunza sampai ke sebuah taman luas. Di sana, Yu Qin sudah menunggunya sedang dua buah pedang di tangannya.


Setibanya, pria itu memberi salam kepadanya. "Aku sudah membawa Nona Shen ke sini," katanya. Kemudian Yu Qin mengisyaratkan dengan tangannya menyuruh orang itu pergi.


Setelah orangnya pergi, Yu Qin membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kaki. Yunza yang penasaran lalu bertanya, "kenapa kau memintaku ke sini?"


"Aku akan beritahu, ikut saja denganku," balasnya.

__ADS_1


Yunza pun membuntutinya dari belakang. Setelah beberapa lama akhirnya Yu Qin menghentikan langkah kakinya. Dia membalikkan tubuh dan langsung memberikan satu pedang kepada Yunza.


"Apa ini?" tanya Yunza.


"Perburuan akan segera tiba, setidaknya kau harus tahu dasar-dasar bela diri untuk menjaga diri. Aku akan mengajarkanmu berpedang, ambilah," ucap Yu Qin.


Sebelumnya, Yunza memang tertarik untuk belajar bersenjata. Ia yang sedikit ragu, akhirnya mengambil pedang itu dari tangan Yu Qin.


Namun siapa sangka, ternyata pedang itu tidak seringan seperti yang terlihat. Saat Yunza memegangnya pedang langsung menariknya jatuh ke tanah. Yu Qin yang melihat hal itu malah tertawa.


"Kenapa bisa berat sekali!" gerutu Yunza.


Pria bermata cantik itu kemudian berjongkok dan membantu Yunza berdiri. Saat itu, tidak sengaja mata mereka saling memandang satu sama lain.


"Tidak bisa dipungkiri, sebagai seorang pria ia sangat beruntung memiliki sepasang mata yang sangat cantik. Aku yang terlahir sebagai seorang perempuan sungguh iri," batin Yunza.


"Apa sudah jatuh cinta padaku?" celetuk Yu Qin.


Segera, Yunza memalingkan pandangannya ke lain arah dan lantas berdiri. Yu Qin menyusul dan memberikan pedang itu padanya lagi.


"Ayo," ajak Yu Qin.


Yunza mengikutinya kemudian Yu Qin mengajarkannya cara berpedang dan banyak lagi mengenai pertahanan diri. Bisa dikatakan, Yu Qin adalah orang yang paling mengerti buruknya dunia mereka untuk orang-orang yang lemah.


Beberapa saat kemudian, mereka beristirahat di bawah sebuah pohon rindang.


Yunza berdiri di sisi pohon, sementara Yu Qin di sisi lainnya di sebelah kanan. Bersamaan dengan menyapanya angin siang itu, Yunza mengajukan tanya, "mengapa kau melakukannya? Mengajariku berpedang."


Terdiam sejenak.


Mereka begitu menikmati hembusan angin yang menerbangkan dedaunan, menyentuh permukaan kulit serta memnuat rambut menari-nari.


"Apa sebelumnya, kita pernah bertemu? Mengapa kau begitu baik padaku? Meski begitu, aku tidak tahu mengapa kau selalu mengajakku pergi dari tempat ini. Yu Qin, bisakah kau memberitahuku?" pinta Yunza.


"Aku tidak tahu mengapa. Yang kutahu, aku mencintaimu dan ingin kita hidup berdua di tempat yang jauh dari peperangan," jawabnya.


"Shen Yun Ja, dunia ini sangat kejam untuk orang yang lemah. Kehidupan dan kematian saling berdampingan, dan kita tidak bisa menyangkal fakta tersebut," sambungnya.


"Ia mengatakan hal yang sama lagi," batin Yunza.


"Shen Yun Ja, jangan mencintai Lin Jian atau kau akan tersakiti olehnya. Bukan hanya kau, tapi orang-orang terdekatmu akan tersakiti jua."


Penuturan Yu Qin membuat Yunza membelakkan matanya. "Mengapa kau mengatakan hal itu? Siapa kau sebenarnya?" tanya Yunza lagi.


"Aku pikir, kau lebih tahu siapa aku."


Yunza langsung menoleh ke arah Yu Qin, menatapnya dengan penuh tanda tanya. "Kau ... kau tidak mungkin, tidak mungkin, kan?"


Yu Qin menghampiri Yunza seraya berkata, "jika kau setuju untuk pergi denganku, aku berjanji akan memberitahukan semuanya padamu. Dan aku akan menjadikanmu satu-satunya wanita paling beruntung dengan cintaku."

__ADS_1


Ia berjalan mendekat dan memojokkan Yunza dengan tubuh tingginya.


"Bagaimana jika memberitahuku dulu, baru aku pertimbangkan ikut denganmu atau tidak," tawar Yunza.


Yu Qin tersenyum lalu menyentuh dagu runcing Yunza. "Aku tahu aku tidak bisa bersilat lidah denganmu. Bagaimana dengan satu ciuman?"


Dia menarik dagunya ke atas dan dia menjemput ke bawah. Bersamaan dengan itu, Yunza menaikkan kakinya hendak menyundul jimat Yu Qin sebagai balasannya. Akan tetapi, seseorang muncul dan berdeham membuat mereka lekas menjauh.


Beberapa saat yang lalu. Chen Su yang sedang melintas di sekitar taman tidak sengaja melihat Yunza dan Yu Qin sedang berlatih pedang. Ia pun memiliki ide untuk mengajak Lin Jian memergoki mereka.


Dia pergi mencaritahu dimana Lin Jian berada. Akhirnya ia bertemu dengan Lin Jian yang baru kembali dari ruangan Kaisar.


"Salam, Pangeran kedua." Chen Su membungkukkan badannya di depan Lin Jian.


"Ah, ya. Kau boleh berdiri," balas Lin Jian.


"Terima kasih. Oh, iya, apa Pangeran sedang sibuk saat ini? Apa bisa temani aku jalan-jalan sebentar?" ajaknya.


"Maaf, aku sedang sibuk!" Lin Jian menolak mentah-mentah keinginan Chen Su dan langsung melangkahkan kaki menjauh darinya.


Setelah beberapa saat, Chen Su mengeluarkan kartu As-nya. "Padahal aku ingin mengajak Pangeran kedua menonton Permaisuri dan Pangeran Yu Qin berlatih pedang."


Benar saja, setelah mendengar hal itu Lin Jian lantas menghentikan langkah kakinya. "Permaisuri dan ... Pangeran negeri seberang?" tanyanya.


Chen Su langsung membalikkan tubuhnya dan menghampiri Lin Jian. Ia menjawab, "benar, Pangeran kedua. Aku melihat mereka berlatih pedang di taman. Mereka terlihat sangat cocok dan itu membuatku iri sekali."


Lin Jian mengernyitkan dahinya. "Bawa aku melihatnya!"


"Yes! Berhasil!" batin Chen Su. "Baiklah, ayo, Pangeran kedua." Ia mempersilakan Lin Jian berjalan di depan dan dia akan memberitahukannya dari belakang.


Setibanya di taman, siapa sangka bahwa mereka sudah sampai pada adegan yang sangat mesra. Chen Su semakin memanas-manasi Lin Jian sampai terbakar api cemburu.


Lin Jian segera menghampiri mereka dengan raut wajah dingin. Sementara Chen Su membuntuti dengan senyum penuh kepuasan.


"Nah, aku ingin lihat bagaimana Pangeran kedua akan mencaci Shen Yun Ja karena memergokinya selingkuh!" batinnya.


Di depannya, seorang pria hendak mencium istrinya. Bagaimana mungkin hal itu tak membuatnya marah. Lin Jian tiba di sana dan langsung menghentikan mereka.


"Yunza, apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya.


Alih-alih menjawab, Yunza malah mengintip sosok Chen Su yang tersenyum puas di belakang Lin Jian. "Oh, meninggalkanku ternyata pergi menemui selir kesayangannya," gerutunya dalam hati.


"Tuan Yu Qin, terima kasih sudah mengajariku berpedang. Lain kali aku akan mengundangmu untuk minum teh, aku pergi dulu." Yunza langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Lin Jian.


"Apa dia marah karena masalah tadi pagi?" batin Lin Jian. Setelah itu dia pergi menyusul Yunza.


Di sana, tinggalah Yu Qin dan Chen Su. Chen Su yang terlampau senang tak menyadari adanya Yu Qin yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan tajam.


"Ehem!" Dia pun berdeham untuk memberitahu Chen Su keberadaannya. Mendengar hal itu, Chen Su menoleh dan terkejut saat melihat Yu Qin. Sesaat kemudian dia pergi meninggalkan Yu Qin.

__ADS_1


"Shen Yun Ja, aku pasti akan membawamu pergi dari sini!"


__ADS_2