
Hari berganti.
Pagi itu Mi Anra membereskan kamar Yunza dengan sangat ceria. Dia menyanyikan sebuah lagu dengan suara yang merdu sambil tersenyum-senyum. Dalam benaknya, dia sedang membayangkan seseorang.
"Semenjak tinggal bersama Nona, hidupku menjadi lebih baik. Sedikitnya aku merasa dihormati sebagai pelayannya, tidak seperti saat menjadi rakyat jelata yang jelek dan buruk yang selalu dihina orang," gumamnya.
"Andai aku bertemu dengannya lebih cepat, mungkin Su Li juga akan merasakan kehidupan seperti ini," lanjutnya dengan wajah sedih.
Tiba-tiba raut wajah murungnya berubah, dia mengepalkan tangan sambil berkata, "pokoknya aku akan setia pada Nona! Apapun yang diinginkannya akan aku turuti. Terkecuali ...." ucapannya terhenti.
"Menikah dengan tuan Gu Rong," sambungnya. Setelah itu, ia kembali bersenandung dan melanjutkan pekerjaannya dengan penuh kegembiraan.
Sampai tak berapa lama, pintu kamar diketuk oleh seseorang. Mi Anra meninggalkan pekerjaannya dan langsung membukakan pintu.
Saat pintu dibuka, dia terkejut melihat sosok di depannya. Karenanya, wajahnya pun perlahan memerah. "Tu-tuan ... Gu Rong!" Kagetnya.
"Apa Nona ada di dalam? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengannya," ucap Gu Rong dengan wajah datar.
Mi Anra tak langsung menjawab dan menoleh ke belakang untuk melihat, padahal ia tahu bahwa Yunza tak ada di kamarnya. "Nona ... tidak ada di kamar," jawabnya.
Gu Rong terdiam sejenak, kemudian berkata, "saat ia kembali, tolong beritahukan padanya kalau aku mencarinya. Kalau begitu, aku pergi." Setelah mengatakan hal itu Gu Rong pergi begitu saja.
Mi Anra merasa sedih dengan sikap Gu Rong yang bahkan tak membiarkannya mengatakan apapun lagi dan langsung pergi begitu saja. "Apa tuan Gu Rong membenciku?" batinnya.
Raut wajah sedih kembali ditunjukkannya. Kemudian tak lama dia menutup pintu dan melanjutkan pekerjaannya.
Sementara itu, di tepi danau di taman timur.
Yunza merebahkan tubuhnya di sebuah kursi berbentuk persegi panjang dengan kedua kaki lurus ke depan. Dia melipat kedua tangannya di belakang kepala dengan mata terpejam.
Hari itu cuaca sangat cerah, ia menikmati angin sepoi-sepoi di bawah pohon rindang dekat sebuah danau.
Gadis berambut hitam panjang itu menghirup udara segar dan berkata, "akhirnya bisa menikmati kesunyian yang menenangkan seperti ini. Di duniaku, hanya perpustakaan tempat ternyaman untuk menyendiri."
Akan tetapi, ketenangannya itu tak berlangsung lama setelah Chen Su terlihat melintasi tempat itu. Dia yang melihat Yunza seorang diri lantas menghampirinya.
"Selir Chen Su memberi salam, semoga Permaisuri berumur panjang," katanya sambil berdiri di samping Yunza dengan posisi sedikit membungkukkan badan dan kedua tangan dilipat.
Mendengar hal itu, Yunza membuka matanya. Lalu dia bangun dan duduk dengan tegak kemudian berkata, "oh, Selir Chen Su, kah? Jangan membungkuk lagi dan duduklah di kursi sebelah." Yunza menunjukan kursi di dekatnya yang terhalang meja kecil.
Chen Su menegakkan tubuhnya, namun setelah itu ia meringis kesakitan sambil memegang pinggangnya. "Sssh! Sakit sekali! Semalam Pangeran kedua sangat tidak bisa bersikap lembut," ucapnya pamer.
"Lihat saja pergelangan tanganku, sampai memar digenggamnya semalaman. Tapi tak bisa ku pungkiri, Pangeran kedua memang sangat tangguh. Sampai membuatku kecanduan," lanjutnya sambil tersenyum membayangkannya.
__ADS_1
"Oh, dia mau pamer di depanku ceritanya." Yunza tersenyum masam. "Benarkah begitu? Berarti dia tidak pernah berubah, pada orang lain pun masih bersikap kasar," balas Yunza. Lalu berdiri.
Chen Su menyerengit. "Aku hanya berkata bohong untuk memanasinya. Tak disangka dia sedikit pun tidak terprovokasi oleh ucapanku," batinnya.
Alih-alih menuruti permintaan Yunza untuk duduk di kursi sebelahnya, Chen Su malah berjalan ke arah danau dan melihat ke bawah. Sekejap kemudian dia tertawa kecil.
"Permaisuri, apa kau tahu sesuatu? Aku pernah mendengar cerita bahwa ada seseorang yang menceburkan diri ke danau hanya untuk menyelamatkan ikan yang tenggelam. Aku tidak habis pikir dengannya," ejeknya sambil tertawa-tawa.
"Benarkah? Orang bodoh dari mana itu?" tanya Yunza.
"Entahlah. Aku pikir dia sangat bodoh. Mungkin jika aku menjadi ibunya, aku akan sangat merasa malu karena telah melahirkan anak seperti dirinya itu."
Yunza mengepalkan tangan saat mendengar perkataan Chen Su. Sepasang matanya menatap tajam dengan gigi menggertak. Ia tak bisa terima jika Chen Su menghina ibunya seperti itu.
Chen Su melirik, dalam hatinya bergumam, "melihat ekspresi wajah yang penuh kebencian itu darinya membuatku merasa sangat puas. Shen Yun Ja, bagaimanapun kau tidak ada apa-apanya dibandingkan diriku."
"Kehidupan Shen Yun Ja hancur karena wanita jahat ini. Kala itu, jika dia tidak memberitahu Kaisar mengenai kehamilannya, mungkin Kaisar tidak akan membunuh Shen Yun Ja. Chen Su, aku berjanji akan membalasmu berkali-kali lipat!" batin Yunza.
Tak lama, Chen Su berbalik dan bertanya, "aku dengar kakimu terluka karena terlalu bersemangat menari. Apa sekarang sudah baikan?"
"Ah, dia juga yang menyebabkan luka di kakiku," gumam Yunza dalam hati.
Yunza kembali duduk di tempatnya lalu berkata, "tentu saja, sekarang sudah baikan. Bagaimana tidak, karena kejadian ini Pangeran kedua jadi lebih perhatian padaku. Sebenarnya aku ingin berterima kasih pada pembuat sepatu yang membuatku seperti ini. Jika perlu, aku hadiahi dia beberapa tael perak dan perhiasan."
"Dan juga, luka seperti ini mana bisa menyakitiku. Aku pernah melewati badai mengerikan, mana bisa menjadi gentar hanya karena sebuah gerimis kecil." Yunza menyungging senyum sambil menatap ke arah Chen Su.
Ia pun hanya diam membisu.
Ditengah kebisuannya, Chen Su tak sengaja mendengar suara seseorang mengobrol tak jauh dari tempatnya berdiri. Dia menoleh ke arah tersebut dan bergumam, "Pangeran kedua?"
Yunza pun menyadari hal itu dan melirik. "Lin Jian, kah?" batinnya menerka saat mendengar suara tersebut.
Tetiba, senyum seringai terukir di sudut bibir Chen Su tatkala sebuah ide muncul di kepalanya. "Pangeran kedua akan melewati tempat ini. Saat itu terjadi, lihat apa yang akan aku lakukan!" ucapnya dalam hati.
Kemudian dia membalikkan tubuhnya ke danau. "Waaah. Permaisuri, lihatlah. Bukankah ikan di sini sangat cantik-cantik? Lihatlah sirip warna yang sangat indah ini." Ia mulai memancing.
"Dia merencanakan sesuatu?" Yunza melirik ke arahnya. Dia pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk membalasnya, lalu memilih mengikuti permainannya terlebih dahulu.
Yunza beranjak dari tempat duduknya dan mendekati Chen Su. Dia melihat ke danau dimana beberapa ikan sedang berenang ke sana kemari dengan sangat indahnya.
"Ada jenis ikan yang terlihat cantik, namun sebenarnya ia sangat berbahaya. Aku pikir itu sama dengan manusia. Kita tidak bisa menilai seseorang dari luarnya saja atau kita akan tertipu," ucap Yunza.
"Aku setuju dengan ucapanmu. Terkadang, orang bodoh pun tidak bisa dianggap bodoh. Kita tidak bisa meremehkan orang bodoh karena tidak tahu tipu muslihat apa yang sedang dimainkannya," balas Chen Su.
__ADS_1
Dia memeriksa dengan pandangan dan pendengarannya. "Pangeran kedua sepertinya sudah semakin dekat," batinnya saat mendengar suara Lin Jian.
Tiba-tiba Chen Su mencekal tangan Yunza. "Permaisuri, aku---aaaaah!" Ia berteriak dan seolah-olah terpeleset dengan posisi tubuh condong ke arah danau yang memungkinkannya tercebur ke danau.
Setelah itu dia tersenyum penuh kemenangan sambil menatap Yunza. "Aku akan membuat Pangeran kedua membencimu dan hanya mencintaiku seorang," gumamnya.
Teriakan Chen Su terdengar oleh Lin Jian dan Wang Xi yang sedang melewati tempat tersebut. "Wang Xi, apa kau mendengar sesuatu?" tanyanya.
"Benar, Yang Mulia. Suaranya dari arah danau," balas Wang Xi. Mereka pun bergegas pergi ke danau.
Yunza bersikap setenang mungkin dalam situasi tersebut. Dengan cekatan dia langsung memegang tangan Chen Su dan mencegahnya tercebur ke danau.
Chen Su yang melihat hal itu terheran. Terlebih saat Yunza tiba-tiba menariknya dengan sekuat tenaga yang menyebabkannya kembali ke darat dan terjatuh ke tanah.
Setelah itu, Yunza malah menceburkan diri ke danau tepat di depan mata Chen Su. "A-apa? Kenapa jadi begini?" Chen Su dia membeku.
Yunza yang sempat tenggelam akhirnya muncul di permukaan danau. Dia gelagapan sambil berteriak minta tolong. "Tolong! Siapapun tolong aku!" teriaknya.
Teriakan itu kembali terdengar oleh Lin Jian dan Wang Xi. Sampai akhirnya mereka pun tiba di dekat danau dan amat terkejut dengan apa yang mereka lihat.
Chen Su menoleh ke arah mereka berdua. "Pangeran kedua?" batinnya dengan raut wajah cemas.
Melihat Yunza tenggelam, Lin Jian langsung melepas helai pakaian luarnya dan langsung menceburkan diri. Dia menggendong Yunza lalu membawanya ke darat.
Tubuh keduanya pun menjadi basah kuyup. Napas Yunza terengah-engah dengan tubuh yang terasa lemas semuanya. "Sial! Aku lupa kalau aku sebenarnya tidak bisa berenang!" batinnya.
"Apa kau bodoh?" tanya Lin Jian.
Yunza tak membalas dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Lin Jian. Mengingat masih ada Chen Su di sana, dia pun mengeratkan pelukannya pada Lin Jian. Beberapa saat kemudian, Lin Jian melangkahkan kaki membawa Yunza pergi.
Akan tetapi, Chen Su menghentikan. "P-pangeran kedua, aku ...." ucapnya terhenti dengan tatapan merasa bersalah.
Lin Jian menoleh sekilas lalu membuang muka. "Wang Xi, antar Selir itu ke kamarnya." Dia bahkan tak menyebut namanya.
Hal itu membuat Chen Su terkejut.
Kemudian, Yunza mengintip ke arahnya lalu melempar senyum penuh kemenangannya. Dia mengulurkan jari tengahnya kepada Chen Su dan dalam hati berkata, "aku menang!"
"Dia menantangku?" Sepasang mata Chen Su menatap tajam kepergian Yunza dan Lin Jian.
"Selir, mari, aku antar," ucap Wang Xi.
"Tidak perlu!" bentak Chen Su kemudian pergi.
__ADS_1