Not Idiot Princess

Not Idiot Princess
Rencana Bulan Madu


__ADS_3

Esok paginya, tibalah Lin Jian dan Wang Xi di Istana. Semalaman melakukan perjalanan membuatnya lelah, Lin Jian pun lekas pergi ke kamar Yunza untuk beristirahat.


Namun, dalam perjalanannya dia bertemu dengan adiknya, Shenshen, beserta dayangnya. Hal mengejutkan saat melihat salah satu tangan Shenshen diperban membuat Lin Jian akhirnya berhenti dan bertanya, "ada apa dengan tanganmu?"


Alih-alih menjawab, Shenshen malah memalingkan wajahnya sambil cemberut. "Aku tidak akan beritahu! Karena kakak sudah tidak menyayangiku lagi!" ujarnya.


Mendengar hal itu, Lin Jian tersenyum. "Kakak sangat sibuk akhir-akhir ini. Lain kali akan mengajak Shenshen jalan-jalan. Sekarang, beritahu kakak mengapa tanganmu seperti ini?" tanyanya lagi.


"Aku beritahu pun kakak tidak akan mempercayainya, kan?" tanyanya sambil terus cemberut.


"Mana mungkin tidak percaya Shenshen," jawabnya.


Shenshen tersenyum licik mendengarnya. Kemudian menjawab, "seseorang telah menganiayaku. Aku tidak berani mengadu kepada ayahanda karena dia pasti tidak akan mempercayai ucapanku. Tapi kakak, kau pasti akan membelaku kan?"


"Oh? Siapa yang berani menganiaya adik perempuanku?"


"Kakak ipar Shen Yun Ja!" jawab Shenshen dengan tegas dan percaya diri.


"Apa?"


"Kenapa? Apa kakak tidak mempercayaiku? Aku mengatakan yang sejujurnya, Shen Yun Ja telah menganiayaku sampai tanganku seperti ini, kak! Bukan hanya itu, dia juga memukulku sampai membuat gigiku patah!"


"Shenshen, hentikan! Dia tidak mungkin melakukan hal itu. Jika pun benar, pasti ada penyebab yang membuatnya berlaku demikian, bukan?" Lin Jian membela Yunza.


Mendengar hal itu, Shenshen tersenyum kecewa. "Lihat! Bahkan kakak pun membelanya. Padahal aku mengatakan yang sebenarnya. Jika tidak percaya tanya saja dayang-dayangku," ucapnya.


Lin Jian melihat ke beberapa dayang di belakang Shenshen. "A-ampun Pangeran kedua ... apa yang dikatakan Nona memang benar. Permaisuri telah menganiayanya, memukul wajah dan menginjak tangannya hingga terluka," aku salah satu dayang.


"Apa kakak masih tidak mempercayaiku?" tanya Shenshen.


"Bukan begitu, tapi ...."


"Kakak masih membelanya, lalu untuk apa aku mengatakannya tadi. Apa yang dikatakan ibunda benar, kakak akan mencintai wanita lain dan melupakan adiknya." Dia menundukkan kepala dengan raut wajah sedih dan kecewa.


"Kalau begitu, aku tidak akan mengganggu Pangeran kedua lagi." Dia membungkukkan badannya kemudian pergi.


Di kamar Yunza.


Kabar kematian Gu Rong telah mengguncang hati Mi Anra. Kesedihan mendalam membuatnya jatuh sakit. Terpaksa, Yunza harus membereskan kamarnya seorang diri sementara menunggu Mi Anra sehat kembali.


"Sudah beberapa bulan berlalu, bagaimana keadaan ayah dan ibu di sana? Mereka tidak jadi bercerai, kan? Mereka sudah tidak bersedih lagi karena kematianku, kan?" Dia melamun.


Tak berapa lama, suara ketukan pintu mengejutkannya. Yunza membalikkan tubuhnya kemudian berjalan untuk membukakan pintu. "Siapa pagi-pagi begini?" gumamnya.

__ADS_1


Ketika pintu dibuka, sosok yang berada di depan pintu langsung memeluk Yunza dengan sangat erat. "Yunza, apa kau merindukanku?" tanyanya.


"L-lin Jian?" Yunza membelakkan matanya. "L-lepaskan! Nanti ada yang lihat!" ucapnya kemudian sambil mendorong tubuh Lin Jian.


Lin Jian melepaskan pelukannya, lalu bertanya, "kalo ada yang lihat memangnya kenapa? Apa sangat aneh jika aku memeluk istriku?"


Alih-alih menjawab, Yunza malah membalikkan tubuhnya dengan pipi memerah. Setelah itu dia melangkah masuk dan diikuti oleh Lin Jian.


Yunza melanjutkan berbenah kamarnya, sedangkan Lin Jian berjalan ke arah ranjang tidur kemudian duduk ditepi ranjang. Dia membuka lebar kakinya lalu berkata, "Yunza kemarilah!"


"Aku sedang sibuk," balas Yunza.


Lin Jian menghela napas panjang dan kembali berkata, "kemari sebentar. Ada yang ingin aku tanyakan padamu."


Mau tidak mau, Yunza pun akhirnya menghampirinya. Dia berdiri di hadapan Lin Jian yang sedang duduk. Kemudian tubuhnya kembali dirangkul oleh Lin Jian. Ia menghirup aroma tubuh Yunza yang sudah menjadi candunya kini.


"Apa memanggilku hanya untuk ini?" tanya Yunza.


"Tidak, biarkan seperti ini sebentar dulu. Aku baru saja kembali dari kamp dan aku sangat merindukanmu."


Mendengar penuturan Lin Jian, Yunza malah menaikkan alisnya dengan ekspresi acuh tak acuh. Dia pun bertanya, "jadi, akan yang ingin kau tanyakan padaku? Aku sedang sibuk sekarang."


Lin Jian menengadahkan kepalanya. Tak lama dia menoleh ke sana kemari seperti mencari sesuatu. "Kau yang membereskan kamar? Kemana pelayanmu pergi?" tanyanya.


"Dia sedang tidak enak badan, jadi aku tidak tega menyuruhnya bekerja. Faktor kehamilan juga bisa membuat seorang wanita menjadi cepat lelah. Aku tidak ingin dia kelelahan," jawab Yunza.


Tiba-tiba raut wajah Yunza berubah. "Suaminya ... sudah meninggal." Dia mengatakan hal itu sambil menatap tajam ke arah Lin Jian.


Lin Jian tampak mengerti maksud dari ucapan Yunza. Kemudian dia mengubah arah pembicaraan. "Kalau begitu, apa kau ingin hamil juga? Putra kakak ipar Mei An, pangeran Lin He, sepertinya membutuhkan teman bermain," ucapnya.


"Aku tidak ingin hamil." Lagi-lagi itu yang dikatakan Yunza.


"Kau akan hamil!" balas Lin Jian.


Yunza tak menjawab lagi. Setelah itu Lin Jian menarik tubuh Yunza dan mendudukkannya di pangkuannya. "Ada yang ingin aku tanyakan," ucapnya lagi.


"Katakan saja!" balas Yunza.


Sebelum mengatakannya, Lin Jian menghela napas kasar terlebih dahulu. Tampak suatu keraguan di raut wajahnya.


"Tadi pagi aku bertemu Shenshen. Aku melihat ada luka di tangannya dan dia mengatakan kau yang melakukannya. Apa itu benar?" tanyanya.


"Benar." Yunza menjawab tanpa bantahan dengan ekspresi wajah serius. Hal itu membuat Lin Jian terkejut.

__ADS_1


"Tapi ... apa kau bertanya padanya mengapa aku sampai melakukan hal itu?" tanyanya.


"Aku tidak bertanya karena aku tahu kau tidak akan melakukannya," jawab Lin Jian.


"Karena kau sudah mengakuinya, beritahu aku kenapa kau sampai melukai Shenshen seperti itu?" sambungnya.


Yunza memalingkan wajah serta tubuhnya lurus ke depan. Sebelum menjawab, dia menghela napas kasar terlebih dahulu.


"Dia ... merusak perhiasan seseorang," jawab Yunza.


Mendengar hal itu, Lin Jian mengernyitkan dahinya. "Hanya karena perhiasan kau sampai memukul dan melukai tangannya?" tanya Lin Jian dengan tatapan tajam.


Yunza tertawa pahit menanggapi ucapan Lin Jian. "Benar," akunya lagi.


"Lin Jian, apa kau tahu perhiasan siapa yang dia rusak?" tanya Yunza, Lin Jian menggelengkan kepalanya. "Itu perhiasan dari suaminya Mi Anra. Sebelum meninggal, dia menitipkan perhiasan itu padaku. Saat dia bersedih atas kematiannya, aku berniat memberikan perhiasan itu untuk menghiburnya. Namun, adik kesayanganmu malah merusaknya," bebernya.


"Apa? Bagaimana mungkin Shenshen melakukan itu?"


Yunza kesal mendengar ucapan Lin Jian yang seolah-olah tak mempercayai ucapannya tersebut. Dia pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menjauh dari Lin Jian.


"Aku tahu kau tidak akan percaya. Seharusnya aku tidak memberitahumu karena bagaimanapun ... adikmu segalanya dibandingkan diriku," ucap Yunza.


Lin Jian tersadar dengan apa yang sudah dilakukannya mungkin sudah menyakiti perasaan Yunza. Ia jadi teringat kisah cinta segitiga Jenderal Thang dan ibundanya.


Bisa jadi, saat ini dialah yang berperan sebagai putera mahkota yang egois dan tidak memikirkan perasaan Yunza. Mengingat hal itu, Lin Jian enggan menjadi seperti ayahandanya itu.


Dia pun beranjak dari posisinya dan menghampiri Yunza. Dipeluknya Yunza yang saat itu sedang berdiri di depan jendela kamar. "Maafkan aku," bisiknya.


"Jangan terlalu memikirkannya. Kau baru tiba di Istana, bukan? Istirahat terlebih dahulu, biar aku bawakan makanan untukmu," ucap Yunza.


"Tidak perlu. Aku justru ingin memakanmu saat ini," celetuknya sambil mulai mencium tengkuknya.


"Lin Jian, ini masih pagi. Lagian aku juga harus membawakan makanan untuk Mi Anra."


"Biar pelayan lain yang melakukannya."


"Tidak bisa! Beberapa hal harus ditangani olehku sendiri. N-nanti malam ... saja ...." Kalimat terakhir terdengar pelan, nyaris tak terdengar karena diucapkan dengan malu-malu.


Lin Jian tersenyum jahat, barulah melepaskan Yunza. "Ada satu hal lagi yang ingin aku katakan. Aku ingin kau menemaniku pergi ke suatu desa bernama Jongwu. Biasanya, di sana diadakan festival musim panas. Sangat cocok untuk kita berbulan madu, bukan?"


"Desa ... Jongwu?"


Lin Jian membalikkan badannya dan berjalan kembali ke ranjang tidur. "Benar! Kita berdua akan menginap beberapa waktu di sana. Kemudian pulang bertiga ke Istana."

__ADS_1


Yunza membalikkan tubuhnya, dengan raut wajah bingung dia bertiga. "Kita pergi berdua, bukan? Mengapa pulang bertiga?" tanyanya.


"Yah ... karena di sana kita akan membuat b-a-y-i." Wajah Yunza memerah seketika. Dia pun menyembunyikan wajahnya.


__ADS_2