
Yunza yang masih merasa shock diantar Mei An ke kamarnya. "Dia sudah datang! Pangeran dari negeri seberang, Yu Qin, sudah datang!" batinnya sambil melamun.
Ia menaruh tangannya di dagu. "Jika dipikir-pikir, wajah ovalnya Yu Qin memiliki kemiripan dengan seseorang. Sorot mata serta senyumnya pun nampak tidak asing, tapi siapa?" Ia menerka-nerka.
"Terima kasih, Shen Yun Ja." Yunza teringat pada seorang pria yang duduk di kursi roda memiliki senyum yang sama dengannya. Sontak, Yunza menoleh ke arah Mei An dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Ada apa?" tanya Mei An menyadari tatapan Yunza.
"Ah, tidak. Oh ya, kakak ipar, saat kontes tahap pertama aku melihat putra mahkota turut hadir menyaksikan. Namun, dua kontes lainnya aku tidak melihatnya," ucap Yunza.
Raut wajah Mei An berubah seketika. Ia kemudian menjawab, "beberapa hari yang lalu, putra mahkota pergi ke kuil Tianxi untuk berdoa. Juga bertemu dengan ketua agung untuk pengobatan kakinya. Ia mungkin akan kembali dalam beberapa bulan ke depan."
"Aku ... aku merasa sangat sedih karena tidak bisa berada di sisinya saat dia membutuhkan. Ia tidak pernah meminta bantuanku, bahkan saat dia jatuh dari kursi roda pun dia tidak pernah membiarkanku membantunya," lanjut Mei An.
Yunza menatapnya iba. Di sisi lain dia merasa heran, pasalnya saat bertemu di taman, Lin Yu yang terjatuh dari kursi roda bersedia dibantu oleh Yunza.
"Mungkin saat itu karena tidak ada orang lain, jadi, tidak ada pilihan lain selain menerima bantuanku," pikir Yunza.
"Apa kau tahu? Pertama kali aku bertemu dengannya, dia adalah seorang pria yang sangat lembut dan penyayang. Aku pun jatuh cinta kepadanya. Tidak peduli meski pun dia cacat atau apapun, aku tetap mencintainya," tutur Mei An.
"Kemudian kami menikah dan dikaruniai seorang anak laki-laki, kami pun merasa sangat bahagia. Namun, suatu hari sikapnya tiba-tiba berubah. Dia lebih banyak diam dan cenderung menjauhiku," lanjutnya.
Mei An tertawa pahit. "Yunza, apa menurutmu dia sudah tidak mencintaiku lagi?" tanyanya.
"Itu tidak benar, kakak ipar. Dibalik sikap putra mahkota saat ini, dia pasti memiliki masalah yang ia tak bisa bagi denganmu. Terlebih setelah perang, banyak hal yang akhirnya menjadi kacau balau," balas Yunza.
Mei An menoleh dan tersenyum. "Terima kasih. Sebelumnya aku tidak memiliki teman untuk berbagi cerita. Tapi saat mengenalmu dan menceritakan semuanya, sedikit beban di kepalaku hilang," kata Mei An.
"Kau tidak perlu sungkan seperti itu. Ke depannya datanglah padaku jika kakak membutuhkan teman mengobrol."
Tetiba Mei An menghentikan langkah kakinya. Yunza pun ikut terhenti lalu bertanya, "ada apa, kak?"
Mei An menatap lurus ke depan kemudian tersenyum. "Aku mengantar sampai sini saja, karena pangeran sudah datang menjemputmu," ucapnya.
__ADS_1
Yunza pun menoleh ke arah Mei An menatap. Di sana, berjalan Lin Jian ke arah mereka dengan tatapan tajamnya yang khas.
"K-kakak ipar, tidak apa-apa. Ikut saja dengan---eeh?" Saat Yunza menoleh, dia sudah tak mendapati Mei An di sana. Begitu cepat dan terampil, sampai langkah kakinya saja tak terdengar.
Yunza tersenyum masam. "Tega sekali kau mendorongku ke kandang serigala, kak," batinnya.
Lin Jian berjalan bersama Wang Xi di belakangnya yang terus mengoceh. "Peserta itu menembakkan panah ke arah permaisuri pangeran kedua. Beruntung, seseorang datang dan menghalau panah tersebut," ucap Wang Xi.
Jarak mereka yang dirasa masih jauh membuat Yunza mengambil kesempatan untuk kabur. Namun baru saja membalikkan tubuhnya dan mengangkat kaki, Lin Jian segera memanggil.
"Kau mau kemana?" tanyanya sambil berjalan mendekat.
Yunza yang ketahuan pun tak bisa kabur lagi, hanya bisa beralasan saja. "Kembali ke aula untuk menyaksikan para kontestan tampil," jawabnya.
Lin Jian tiba di hadapan Yunza. Ia lantas mengernyitkan dahinya saat mengingat sesuatu yang dikatakan Mi Anra. "Boneka dari penggemar rahasia." Kalimat tersebut terngiang-ngiang di telinga Lin Jian saat itu.
"Pangeran kedua, aku ijin pergi," ucap Wang Xi yang langsung disetujui Lin Jian.
Yunza berniat meniru trik Wang Xi tersebut. "Yang Mulia pangeran kedua, hamba ijin pergi---"
"Pergi menemui tabib untuk pemeriksaan. Permaisuri pangeran kedua tidak boleh cacat!" ujarnya.
"Aku baik-baik saja! Aku tidak cacat! Lepaskan!" Yunza memberontak. Namun itu sia-sia.
Yunza menyipitkan matanya sambil menatap punggung suaminya. "Lin Jian, lepaskan!" Ia beranikan diri memanggil dengan namanya, dan itu berhasil membuat Lin Jian berhenti.
"Kau memanggilku apa?" tanyanya. Yunza yang sempat merasa senang kini bergidik ngeri setelah mendengar pertanyaan Lin Jian tersebut.
"Y-yang Mulia---"
Lin Jian membalikkan tubuhnya dan langsung menggendong Yunza di pundaknya. "Sepertinya aku harus menghukum permaisuriku yang lancang ini!" ujar Lin Jian.
Yunza terbelalak kaget mendapat perlakuan tak terduga seperti itu. Wajahnya perlahan memerah karena rasa malu. "Lepaskan aku!" teriak Yunza sambil memberontak tatkala Lin Jian memulai langkahnya.
__ADS_1
"Diam!" sentak Lin Jian diikuti sebuah pukulan di bokong Yunza yang kembali membuatnya terkejut bukan main.
"Dasar cabul! Lepaskan atau aku akan berteriak!" ancam Yunza.
"Teriak saja sekerasnya, tidak akan ada yang berani membantumu!" balas Lin Jian.
Sepasang mata Yunza berkaca-kaca. "Tolong! Ada orang cabul di sini! Penjaga!" teriaknya sambil memukul-mukul Lin Jian. Akan tetapi, tak ada satu orang pun yang muncul di sana.
"Apa yang akan dilakukan serigala ini padaku? Tidak! Tidak mungkin melakukan itu, kan? Aku tidak mau!" batin Yunza.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Ia kembali melakukan pemberontakan yang sia-sia.
Sementara itu, Mei An yang bersembunyi dibalik salah satu dinding mengintip ke luar. Dia melihat Yunza dalam kesulitan namun sadar tak bisa memberinya bantuan. "Adik ipar, semoga Tuhan selalu menjagamu," ucapnya.
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di depan kamar Yunza. Saat itu, Yunza yang merasa lelah dan kehabisan suaranya, diam dengan pasrah.
Brak!
Lin Jian dengan kasar mendobrak pintu kamar Yunza. Mi Anra yang berada di dalam dibuat terkejut sampai melompat. Keterkejutannya bertambah saat melihat Yunza di pundak Lin Jian.
"Nona?" serunya.
Yunza menoleh dengan wajah meminta pertolongan. "Mi Anra, tolong aku," pintanya dengan wajah memelas.
Awalnya Mi Anra merasa kesal pada perlakuan Lin Jian pada Yunza. Namun baru menatap matanya saja, Mi Anra sudah menciut nyalinya. Tak berapa lama, sebuah ide gila muncul di kepalanya.
"A-aku baru ingat kalau ada yang harus aku lakukan di dapur. Nona, pangeran kedua, aku pamit pergi," ucap Mi Anra dengan wajah polos sambil melangkah pergi.
"Tunggu---" Yunza berniat menghentikannya namun Mi Anra segera keluar dan menutup pintu rapat-rapat.
"Dia menghianatiku!" batin Yunza.
Di luar, Mi Anra berkata, "nona, selamat bersenang-senang." Dengan tawa jahatnya.
__ADS_1
Kemudian Lin Jian melanjutkan langkahnya sampai tibalah di dekat ranjang tidur. Tanpa aba-aba, dia langsung menjatuhkan Yunza ke atas kasur.
Ia meringis kesakitan sambil memegang bokongnya. Tak lama dia mulai menatap Lin Jian pelan-pelan sambil berkata, "a-apa yang akan kau lakukan?"