Not Idiot Princess

Not Idiot Princess
Kedua Pangeran


__ADS_3

"Buka pakaianmu!" perintah Lin Jian.


Yunza langsung menyilangkan tangannya di dada sebagai tanda penolakan keras. Dalam hatinya merasa benar-benar tidak menyangka bahwa Lin Jian akan setidak tahu malu itu padanya.


"Aku pikir kau salah paham. Aku hanya ingin memeriksa apa kau terluka atau tidak. Aku sudah mengatakannya kalau aku tidak mau permaisuriku cacat walaupun itu hanya sebesar kuku jari kelingking!" jelasnya.


"Aku juga sudah mengatakannya kalau aku baik-baik saja. Yang perlu kau khawatir adalah orang yang menyelamatkanku. Dia tamu besar ayah Kaisar, pangeran dari negeri seberang, Yu Qin."


Mendengar penuturan Yunza membuat Lin Jian terkejut. "Siapa kau bilang?" tanyanya memperjelas.


"P-pangeran negeri seberang, Yu Qin," jawab Yunza.


Lin Jian terdiam sejenak. "Mengapa Wang Xi tidak memberitahukan hal ini padaku?" batinnya bertanya-tanya.


Setelah itu dia berjalan mundur sampai akhirnya membalikkan tubuhnya dan pergi. Namun di ambang pintu, dia kembali terhenti dan berkata, "aku akan meminta tabib datang untuk memeriksamu. Jadi, tetaplah di kamarmu!"


Yunza baru bisa menghirup udara dengan lega saat Lin Jian pergi. Dia terengah-engah lalu menjatuhkan tubuhnya ke belakang. "Sial! Tadi itu memalukan sekali!" gumamnya sambil menutup wajah merahnya dengan telapak tangan.


Di waktu yang sama, di ruangan pribadi Kaisar.


Kaisar duduk di sebuah kursi berhadapan dengan Yu Qin, sementara di samping Yu Qin berdiri seorang pengawal prianya. Di sisi lainnya duduk seorang tabib yang sedang mengobati luka di tangan Yu Qin.


Kaisar memerhatikan, menatap wajah Yu Qin sambil bergumam dalam hati, "dia seorang pangeran yang sangat mahir bersenjata, entah itu pedang, tombak, maupun panah. Pertama kali pergi ke medan perang saat berusia 12 tahun dan membantu ayahnya memenangkan peperangan. Tapi mengapa, hanya sebuah anak panah saja dia tidak menghadangnya dan malah mengorbankan tangannya?"


Ia kemudian menekuk tangannya ke meja dan menyanggah dagunya. "Dan juga ... mengapa dia menyelamatkan Yunza dari serangan panah itu?" Hatinya bertanya-tanya.


"Saat mengirim pesan, waktu itu, rombonganku disergah sekelompok bandit di sebuah gunung," ucap Yu Qin memulai obrolan.


"Apa?" tanya Kaisar.


"Jadi, aku mengatakan bahwa akan tiba di sini beberapa hari lagi setelah membereskan mereka. Tapi siapa sangka, ternyata membereskan mereka tidak sesulit yang dipikirkan. Aku pun tiba di negara Hou lebih awal," jelasnya.


Kaisar menegakkan posisi duduknya. "Ternyata begitu. Aku tidak tahu ada hal seperti itu yang menimpa tamuku. Jika aku tahu, aku akan mengirimkan pasukan tambahan untuk mengawal kedatanganmu," ujarnya.

__ADS_1


Yu Qin tertawa kecil. "Itu terlalu berlebihan. Apa yang akan mereka katakan tentangku jika membereskan bandit saja aku tidak mampu."


"Namun sekarang, apa yang harus aku katakan pada Kaisar negeri seberang atas masalah yang telah menimpamu ini. Aku tidak punya malu untuk muncul di depannya nanti," tutur Kaisar.


"Anda tidak perlu khawatir. Sebenarnya, masalah ini terjadi karena kelalaianku. Oh ya, Kaisar Lin, ayahanda menghadiahkan beberapa tanaman langka sebagai salam perkenalan. Itu akan tiba di negara Hou pada esok hari." Yu Qin mengalihkan pembicaraan.


Kaisar tersenyum. "Kaisar Zhun Shi memang baik hati. Negara Hou tidak memiliki apa-apa untuk diberikan sebagai hadiah. Aku benar-benar malu."


"Negara Hou memiliki banyak sumber daya alam, dan Kaisar berkata 'tidak memiliki apa-apa'? Jika dibandingkan negara Long yang memiliki sumber daya sedikit, itu lebih baik karena mereka memiliki kepemerintahan yang kuat," batin Yu Qin.


Yu Qin membalas dengan senyuman saja. Bersamaan dengan itu, tabib telah selesai mengobati dan membalut luka di lengan kanan Yu Qin.


"Sudah selesai, Tuan. Agar proses penyembuhan bisa berlangsung dengan cepat, sebaiknya hindari terkena air terlebih dahulu," ucap tabib.


"Terima kasih," jawab Yu Qin.


Tabib membenahi barang-barang medisnya sambil berdiri. Kemudian ia berkata, "Yang Mulia Kaisar, Tuan Yu Qin, kalau begitu aku pamit pergi." Ia membungkukkan badan lalu Kaisar mengisyaratkan dengan lambaian tangan.


"Lin Jian?"


Lin Jian berjalan masuk sambil memerhatikan pria asing yang duduk di dekat Kaisar. "Diakah Yu Qin, pangeran dari negeri seberang itu?" batinnya menerka-nerka.


Yu Qin melempar tatapan dingin pada Lin Jian dan bergumam dalam hatinya. "Dia ... pangeran kedua, Lin Jian?"


Pertemuan kedua orang tersebut membuat suasana menjadi hening seketika. Hanya derap langkah kaki saja yang terdengar saat itu.


Semakin Lin Jian mendekat, Kaisar dan Yu Qin pun beranjak dari tempat duduknya. Saat tiba di hadapan mereka, Lin Jian kemudian membungkukkan badannya.


"Lin Jian memberi hormat, semoga Ayahanda diberkati umur yang panjang," ucapnya.


Dia kembali menegakkan badannya dengan perlahan. Sambil menatap Yu Qin dia berkata, "selamat datang di negara Hou, pangeran Yu Qin. Dan terima kasih karena telah menyelamatkan permaisuriku dari serangan anak panah."


Yu Qin tersenyum masam. "Anda terlalu berlebihan, pangeran kedua, Lin Jian. Tapi aku baru tahu, ternyata orang yang aku selamatkan adalah permaisuri dari pangeran kedua. Berarti dia ... gadis dari negara Long itu?" tanyanya.

__ADS_1


Lin Jian langsung menyipitkan matanya. "Ternyata pangeran Yu Qin mengetahui banyak hal mengenaiku. Aku sangat kagum," balasnya.


"Itu bukan apa-apa dibandingkan denganmu," balas Yu Qin kemudian.


Kaisar yang sedari tadi menyadari adanya yang tidak beres dengan obrolan mereka berdua, kemudian berbicara, "Pangeran Yu Qin, pelayanku sudah menyiapkan sebuah kamar untukmu. Kau baru saja tiba di istana dan itu pasti sangat melelahkan. Seorang penjaga akan mengantarmu ke sana." Ia melerai keduanya.


"Kaisar Lin memang sangat pengertian. Kalau begitu, aku pamit undur diri," ucapnya lalu membungkukkan badannya. "Ayo, Xen Fu," ajaknya pada pengawalnya. Mereka berdua pun pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Seperginya Yu Qin beserta pengawalnya, Kaisar kemudian kembali duduk sambil menghela napas kasar dan memijat kepalanya dengan tangan kanan.


"Lin Jian," seru Kaisar.


"Kau tidak datang di aula, lalu tiba-tiba datang di sini dan membuat kepalaku sakit karena obrolan kalian. Apa ada yang ingin kau katakan padaku?" tanyanya kemudian.


Lin Jian membalikkan badannya menghadap Kaisar. "Ayahanda, jujur saja, sejak awal aku tidak setuju kita bersekutu dengan negeri seberang. Dan aku sudah melihatnya tadi, pria itu," jawab Lin Jian.


"Sudah cukup! Apa kau tahu, negara Long sedang merencanakan sesuatu untuk merebut negara kita sepenuhnya. Kita tidak bisa hanya berdiam diri dengan pasrah, dan hanya dialah yang bisa membantu kita. Kau seharusnya tahu itu!" berang Kaisar.


Lin Jian diam mendengarnya. Ia hanya menunduk tak mampu membalas ucapan Kaisar.


"Kedatanganku ke sini ingin memberitahu Ayahanda. Kontes ini, sebaiknya segera diakhiri. Dua kali Yunza hampir celaka dan aku tidak ingin ada yang ketiga kalinya!"


Kaisar menyipitkan matanya dan menatap tajam ke arah Lin Jian. "Oh, sepertinya kau sudah mulai perhatian dengan Permaisurimu itu," ucap Kaisar.


Lin Jian terkejut mendengarnya. Ia ingin menyangkalnya namun hatinya tak bisa. "Bukan begitu, Ayahanda. Hanya saja, jika hal itu diketahui kakaknya, Han Xi, bagaimana? Bukankah Ayahanda sendiri yang mengatakannya agar aku memperlakukannya dengan baik."


Kaisar menghela napas panjang. Setelah terdiam beberapa saat, dia kembali berkata, "kontes menari akan diadakan malam nanti. Selain untuk mempercepat pemilihan selir, juga sebagai penyambutan kedatangan pangeran Yu Qin."


"Lin Jian, aku harap kau tidak lupa. Putri dari menteri NanSu---"


"Aku mengerti!" serobot Lin Jian. "Putri menteri NanSu, Chen Su," ucapnya dengan jelas.


Tak berapa lama dia membalikkan tubuhnya. "Lakukan seperti yang Ayahanda inginkan. Aku pamit pergi!" Kemudian dia melangkahkan kaki pergi dari tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2