Not Idiot Princess

Not Idiot Princess
Menguji Yu Qin


__ADS_3

Suatu malam, di ruang baca milik Kaisar yang dijaga ketat oleh beberapa penjaga profesional, menyelinap seseorang dengan pakaian serba hitam ke dalam ruangan tersebut tanpa satu pun penjaga sadari.


Seorang pria dengan tubuh tinggi, langkahnya cepat dan nyaris tak terdengar suaranya walau hanya suara napasnya saja.


Di dalam ruangan, dia mulai mencari-cari sesuatu. Dari rak buku satu ke yang lainnya, laci satu ke laci yang lainnya, dan semua tempat tidak ada satu pun yang terlewat dari pencariannya.


Hingga sampailah ia di depan sebuah lukisan yang terpajang di dinding. Ia memperhatikan setiap sudut lukisan tersebut dengan sangat teliti kemudian menarik lukisan tersebut.


Apa yang menjadi praduganya ternyata benar. Di balik lukisan tersebut terdapat sebuah pintu kecil yang dikunci rapat. Beruntung, ia sudah menyiapkan kunci cadangan.


Dibukalah pintu tersebut dengan sangat mudahnya. Di dalam, terdapat satu gulung berkas yang tengah dicarinya. Dia mengambil gulungan tersebut dan meletakkan yang palsu di dalam, setelah itu kembali mengunci pintunya.


Akan tetapi, saat hendak melarikan diri dia malah tak sengaja menyenggol sebuah kursi sampai terjatuh dan menimbulkan suara keras. Para penjaga di luar pun segera memeriksa ke dalam dan tidak mendapati apapun.


Yang mereka lihat hanya sebuah kursi yang tergeletak di lantai. Mereka mengira adanya pencuri, dan melakukan pemeriksaan di semua sudut ruangan dengan sebuah pedang di tangan mereka. Akan tetapi, mereka tetap tak mendapati apapun di sana.


Sampai akhirnya setelah membenarkan posisi kursi, memastikan bahwa semuanya baik-baik saja, mereka pun pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Si pencuri yang bersembunyi di langit-langit ruangan pun merasa lega karena kepergian mereka. Tak lama dia menoleh ke atas genteng. "Di bawah tidak aman lagi," ucapnya.


Ia mulai melubangi genteng, lalu pergi melalui atap dengan membawa berkas rahasia yang telah di dapatnya.


Esok harinya, di kamar Yunza.


Yunza duduk di depan cermin sambil merias diri. Ia yang melihat kegigihan pelayannya dalam bekerja kemudian berkata, "mulai besok, kau bisa datang agak siang ke kamarku."


Mi Anra yang mendengar hal itu terperangah kaget. "K-kenapa? Bukankah sudah biasa kalau aku datang pagi-pagi?" Ia bertanya.


"Sekarang beda lagi. Kau sudah bersuami, bukan? Layani suamimu dulu baru aku," tutur Yunza. Mendengar hal itu Mi Anra hanya menganggukkan kepala.


"Oh, ya, Nona. Pakaian yang Nona pakai sekarang ...." Ia menghentikan ucapannya sambil menatap dari atas ke bawah pakaian yang dikenakan Yunza.


Pasalnya, pakaian yang dikenakannya hari ini berbeda dari pakaian yang biasanya di pakai. Penampilan pun sedikit berubah dengan rambut yang diikat tinggi.

__ADS_1


"Apa Nona akan pergi ke suatu tempat?" tanyanya kemudian.


Yunza beranjak dari tempat duduknya dan menjawab, "benar. Untuk acara perburuan musim panas, Kaisar mengajak semua wanita di Harem untuk pergi ke kandang kuda dan berlatih menunggangi kuda. Nantinya akan diadakan lomba yang akan diikuti oleh para permaisuri dan juga selir."


Mi Anra mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Mi Anra, setelah membereskan kamarku kembalilah ke kamarmu," lanjut Yunza.


"Eh? Kenapa begitu? Aku akan ikut dengan Nona. Jika semua orang di Harem ikut, itu berarti Nona Shenshen dan selir itu juga ikut. Takutnya dia berniat mencelakai Nona di sana, jadi, aku akan ikut!" kekehnya.


Yunza tertawa mendengar hal itu. "Kau tidak perlu khawatir, kebetulan kakak ipar Mei An juga ikut. Sebaiknya kau banyak istirahat akhir-akhir, Mi Anra. Itu baik untuk persiapan hamil."


"H-hamil? Apa yang Nona katakan? Tidak lucu!" Ia merajuk dan langsung membelakangi Yunza. Membereskan kamar Yunza tanpa mengatakan sepatah katapun lagi.


Yunza tak begitu menghiraukannya, kemudian pergi meninggalkan kamar.


Seperginya Yunza, Mi Anra terdiam. "Hamil apanya. Dia bahkan tidak tidur bersamaku tadi malam. Entah kemana perginya," gumamnya dengan nada lirih.


Saat terik matahari sudah di atas kepala, Yunza dan Mei An pun tiba di tempat berkuda. Setibanya, mereka dibuat terkagum oleh tempat beralaskan rumput hijau sejauh mata memandang.


Tak berapa lama, terdengar suara seseorang di belakang mereka. Saat menoleh, Yunza melihat Yu Qin dan beberapa orangnya datang di tempat itu. "Apa yang dilakukannya di tempat ini?" batin Yunza.


"Bukankah dia Pangeran negeri seberang, Yu Qin?" ujar Mei An.


Yunza terdiam. Dalam hatinya dia masih mengira kalau Yu Qin adalah Lin Yu, namun sangat disayangkan bahwa dia tidak memiliki bukti terhadap apa yang dipercayainya.


"Putra mahkota, Lin Yu, tidak suka orang lain menyentuhnya bahkan oleh istrinya sendiri, Mei An." Yunza menoleh ke arah Mei An.


"Kebetulan keduanya ada di sini. Aku ingin membuktikan bahwa Yu Qin adalah Lin Yu, tapi bagaimana?" batinnya.


Ia menaruh tangannya di dagu dan mulai berpikir. Pandangannya pun digunakannya untuk mencari ide di sekitar. Dan tak lama, dia melihat adanya Permaisuri kaisar.


Permaisuri duduk di kursi di bawah pohon rindang, ditemani oleh sayangnya serta putri kesayangannya Shenshen. Menantu kesayangannya, Chen Su, juga turut menemaninya menikmati teh.

__ADS_1


"Kakak ipar, kita belum memberi salam untuk Permaisuri," ucap Yunza.


"Benar. Ayo adik, kita temui Permaisuri," ajak Mei An.


Keduanya pun mulai berjalan menuju Permaisuri berada. Jalan yang mereka lalui kebetulan akan berpapasan dengan Yu Qin dan yang lainnya.


"Aku ingin lihat. Jika aku membuat kak Mei An jatuh di depannya, apa yang akan dilakukannya. Apa dia akan membantunya atau malah membiarkannya," ucap Yunza dalam hati.


Di depan sana, Yu Qin yang menyadari adanya Yunza lantas tersenyum. "Shen Yun Ja, akhirnya kita bertemu lagi," batin Yu Qin.


Langkah membawa mereka semakin dekat satu sama lain. Tinggal beberapa langkah lagi. "Kakak ipar, maafkan aku." Yunza mengangkat kakinya dan membuat Mei An tersandung.


Tubuh Mei An pun menjadi tidak seimbang dan hendak jatuh dengan posisi condong ke depan, ke hadapan Yu Qin dan yang lainnya.


Mereka melihat jelas bagaimana Mei An akan terjatuh, namun tak satupun dari mereka bergerak untuk menahannya. Begitu juga dengan Yu Qin.


Kemudian Mei An jatuh ke tanah sambil berteriak kesakitan, Yu Qin tetap saja diam.


Yunza merasa bersalah kepada Mei An karena sudah menjadikannya bahan percobaan. Dia segera menghampirinya sambil berkata, "kak Mei An, kau baik-baik saja? Maaf aku tidak sengaja tadi."


Dia berjongkok, hendak membantu Mei An berdiri. "Jangankan membantunya berdiri, mengatakan apapun saja tidak. Sikapnya sangat mirip dengan Putra mahkota Lin Yu. Sekarang aku sadar---hah?"


Yunza dikejutkan oleh ukuran tangan. Saat menoleh, Yu Qin sedang membungkukkan badannya kemudian berkata, "apa Anda baik-baik saja, Nona Mei An? Mari, saya bantu berdiri."


Mendengar hal itu Yunza diam mematung. Terlebih saat melihat dengan mata kepalanya sendiri, Yu Qin menggunakan tangannya membantu Mei An berdiri, benar-benar tak bisa dipercaya.


"Bagaimana mungkin!" batin Yunza.


Yunza tersadar dan segera berdiri, lalu bertanya pada Mei An. "Kakak ipar, apa kau baik-baik saja? Maaf, tadi aku tidak sengaja," ujarnya.


"Tidak apa-apa, adik. Aku baik-baik saja," balas Mei An. "Terima kasih, Pangeran sudah membantuku berdiri tadi." Di hadapan Yu Qin, Mei An membungkukkan badannya.


"Tidak masalah. Lain kali, perhatikan jalan saat melangkah. Kalau begitu, kami pergi dulu," ucap Yu Qin.

__ADS_1


Mereka pergi ke arah yang berlawanan dengan Yunza. Saat melewati Yunza, tangan Yu Qin menyentuh tangan Yunza bahkan menggenggamnya beberapa saat. Yunza yang mendapatkan perlakuan seperti itu hanya diam.


Sementara itu, Shenshen dan Chen Su yang melihatnya tersenyum penuh arti.


__ADS_2