Not Idiot Princess

Not Idiot Princess
Cerita Kepala Desa


__ADS_3

Beberapa hari berlalu setelah berita kematian Lin Yu, Lin Jian dan Yunza pergi ke desa Jongwu untuk mencaritahu tentang keberadaan ibunya. Tentu saja, perjalanan mereka tak diketahui oleh yang lainnya terutama oleh Kaisar.


Setelah melakukan perjalanan seharian penuh, mereka pun tiba di tempat itu sebelum gelap tiba.


Setibanya, Yunza dibuat terpukau dengan desa tersebut. Lingkungannya sangat bersih, lentera dan pernak-pernik cantik menghiasi sepanjang jalanan desa tersebut.


"Festival akan berlangsung besok malam. Sekarang, sebaiknya kita mencari penginapan terlebih dahulu. Ayo, Yunza." Lin Jian menggenggam tangan Yunza, dan mereka berjalan bersama-sama.


"Wah~ aku tidak pernah pergi ke tempat seperti ini sebelumnya. Menyenangkan sekali. Ini terlihat seperti sedang kencan bersama kekasih." Yunza tertawa kecil.


Di penginapan, mereka langsung menyewa satu kamar untuk beristirahat malam ini. Setibanya di kamar, Yunza langsung merebahkan diri di kasur karena kelelahan dalam perjalanan.


Lin Jian menghampiri dan berdiri di dekat ranjang tidur, tepatnya di depan Yunza. "Jika saja tidak ada sesuatu yang harus aku urus, mungkin saat ini juga sudah ...." Ia menatap tubuh Yunza dari atas ke bawah, dan sebaliknya.


Melihat hal itu, Yunza tersenyum menantang. "Ada apa? Sudah tidak sabar ingin memakanku?" tanyanya.


"Benar. Sayangnya aku memiliki suatu urusan yang harus di selesaikan terlebih dahulu. Jika tidak, kau mungkin tidak akan bisa melihat festival besok malam karena kelelahan," balas Lin Jian dengan senyum iblis.


Yunza cemberut, kemudian bertanya, "kau ada urusan apa? Apa datang ke sini bukan karena benar-benar mengajakku melihat festival saja?"


Lin Jian tersenyum. "Hanya urusan kecil. Bukankah kita harus makan? Kau kelelahan, jadi diamlah di kamar. Biar aku yang membeli makanan," ujarnya.


Yunza tak bisa menyembunyikan rasa lelahnya, lalu mengiyakan perkataan Lin Jian. Setelah itu, Lin Jian mencium keningnya kemudian pergi meninggalkan kamar.


Di luar kamar, Lin Jian berdiri cukup lama sambil memastikan kalau tidak ada seorang pun di sana. "Wang Xi!" Ia memanggil pengawalnya. Sekejap kemudian, Wang Xi sudah berada di hadapannya dengan posisi berlutut.


"Hamba di sini, Yang Mulia."


"Cari tahu apakah di desa ini ada keluarga dengan marga Mu, dan apakah mereka mengenal nama Mu Jiangyu. Periksa semua orang dan jangan terlewat satu pun," perintahnya.

__ADS_1


"Baik, Yang Mulia."


Lin Jian mengisyaratkan kepadanya untuk pergi. Kemudian, dia pun pergi menemui Kepala Desa untuk membicarakan suatu hal dengannya.


Kedatangannya yang secara tiba-tiba di desa tersebut membuat Kepala Desa terkejut. Penyambutan sederhana pun dilakukan oleh istri dan kedua putrinya.


"Kepala Desa tidak perlu berlebihan. Aku datang ke sini karena mendengar akan diadakan festival musim panas. Jadi, aku mengajak istriku untuk melihatnya," ucap Lin Jian.


"I-istri?" Kepala Desa bertanya.


"Benar, Permaisuriku."


Saat mereka mengobrol, kedua putri Kepala Desa terus menerus menatap Lin Jian tanpa berkedip. Mereka terpesona dengan ketampanan sempurna yang dimiliki olehnya.


"Beruntung sekali bisa menjadi Permaisuri pangeran kedua. Namun, kalo tidak salah, Permaisurinya bukankah gadis bodoh dari negara Long, seperti yang dirumorkan itu? Mengapa pangeran kedua mau dengannya?" gumam sang kakak perempuan.


"Benar. Apa Anda tahu sesuatu tentang marga Mu?" tanya Lin Jian.


Raut wajah gelisah ditunjukkan Kepala Desa. Dia memalingkan pandangannya tanpa berani menjawab. Lin Jian menyadari gelagat aneh Kepala Desa kemudian berkata, "mungkin saat itu bukan kau yang memimpin desa ini, namun, kau pasti mengenalnya, bukan?"


"B-benar, tapi itu sudah lama sekali. Mengapa pangeran kedua mencari tahu tentang hal itu?" Ia malah bertanya balik.


Alih-alih menjawab pertanyaannya, Lin Jian malah menatap istri serta kedua putrinya dengan penuh arti. Kepala Desa mengerti maksudnya, kemudian meminta mereka pergi hingga meninggalkan mereka berdua saja.


Setelah mereka pergi, Lin Jian pun berkata, "salah seorang wanita yang bermarga Mu ... adalah ibu kandungku."


Mendengar pernyataan Lin kain tersebut, Kepala Desa membelakkan matanya sempurna. "J-jangan-jangan ... kau anaknya Mu Jiangyu yang dinikahi putra mahkota negara Hou?"


"Benar, itu aku. Namun, sekitar dua puluh tahun yang lalu, ibuku menghilang dari Istana. Sampai akhirnya aku mengetahui kalau dia berasal dari desa ini. Jadi, apa Kepala Desa bersedia memberitahuku tentang keluarga bermarga Mu tersebut?"tanya Lin Jian.

__ADS_1


Kepala Desa menganggukkan kepalanya, kemudian dia mulai bercerita. "Aku dan Mu Jiangyu merupakan teman dekat, saat remaja dulu. Dia sangat berbakat di bidang pengobatan. Saat itu, di desa terjadi krisis pangan. Dia dan beberapa teman perempuannya pun menjadi relawan medis di medan perang dengan gandum dan roti kering sebagau imbalannya," ucap Kepala Desa.


"Bulan pertama, mereka kembali ke desa bersama-sama dengan membawa makanan untuk para penduduk desa yang kelaparan. Saat itu, Kepala Desa sudah mendapatkan cara untuk mengatasi krisis tersebut dan meminta Mu Jiangyu dan yang lainnya berhenti pergi ke medan perang. Namun mereka menolak," sambungnya.


"Beberapa bulan berlalu, keadaan desa mulai membaik dan hari itu bertepatan dengan kembalinya mereka ke desa. Akan tetapi, semua orang pulang tapi tidak dengan Mu Jiangyu. Teman-temannya mengatakan kalau dia dibawa oleh putra mahkota negara Hou untuk dinikahi. Meski begitu, keluarganya tak mengetahui apapun."


"Sejak hari itu, Mu Jiangyu tidak pernah kembali ke desa lagi. Sanak keluarga berusaha mencarinya dengan mendatangi Istana, namun mereka pulang tanpa mendapatkan apapun."


"Kemudian beberapa tahun berlalu. Seorang wanita mirip dengan Mu Jiangyu muncul di desa, namun saat itu dia dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Dia pun pulang ke keluarganya. Akan tetapi, esok harinya semua anggota keluarga marga Mu bersama dengan Mu Jiangyu menghilang bak ditelan bumi."


Lin Jian menaruh tangannya di dagu. "Jadi, ibu sempat kembali ke desa ini setelah menghilang dari Istana? Apa yang terjadi padanya saat itu? Kemana hilangnya satu keluarga Mu?" Beberapa pertanyaan bermunculan di kepalanya.


"Pangeran kedua, jujur saja, hanya itu yang aku ketahui. Hingga saat ini kami tidak tahu dimana keberadaan keluarga marga Mu. Juga tidak berani mencari tahu karena bagaimanapun masalah ini kemungkinan berhubungan dengan keluarga kerajaan," ucap Kepala Desa.


"Tidak masalah, Kepala Desa. Aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu karena sudah mau menceritakan semuanya kepadaku." Tak lama, Lin Jian beranjak dari tempat duduknya.


"Aku tidak bisa berlama-lama di sini. Kalau begitu, aku pamit."


Kepala desa turut berdiri. "Baiklah. Mari, saya antar," ucap Kepala Desa.


"Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri." Kemudian Lin Jian pun pergi dari tempat tersebut.


Beberapa saat setelah kepergian Lin Jian, Kepala Desa dengan panik membuka sebuah laci dan mengeluarkan lembar kertas dan juga kuas. Di sana, dia menuliskan sesuatu yang singkat namun sangat jelas.


"Guan!" serunya. Seorang pria bernama Guan pun tiba. "Kirim surat ini ... ke Istana Hou Zzi!" perintahnya.


Di luar kediaman Kepala Desa, Lin Jian kembali memanggil Wang Xi. "Selidiki Kepala desa dan keluarganya. Aku merasa, ada sesuatu yang disembunyikan oleh mereka," ucapnya.


"Baik, Yang Mulia."

__ADS_1


__ADS_2