Not Idiot Princess

Not Idiot Princess
Sekutu


__ADS_3

Pagi itu seseorang mengetuk pintu kamar Shenshen saat dia sedang diobati oleh tabib. Tak lama, seorang dayang datang dan berkata, "Nona, seorang wanita datang menjenguk."


Shenshen menaikkan satu alisnya. "Siapa?" tanyanya.


Derap langkah kaki terdengar mendekat dari arah bilik yang menjadi batas antara ruang lainnya dan tempat tidur. Perlahan sosok itu pun muncul di hadapan Shenshen.


Seorang wanita cantik dengan rambut berwarna coklat cerah dengan wajah khas orang barat berdiri di depannya. Kecantikannya membuatnya terlihat begitu anggun ketika di pandang, membuat siapa saja akan jatuh cinta padanya.


"Chen Su memberi hormat, semua tuan putri lekas sembuh," ucapnya sambil membungkukkan badannya.


Shenshen terdiam sejenak, lalu tak lama membalas ucapannya sinis. "Oh, Nona Chen. Ada apa? Jarang sekali ada seorang kontestan yang datang jika bukan karena suatu urusan. Katakan!"


Chen Su tersenyum memuji. "Putri pertama negara Hou memang mengagumkan. Bisa menebak maksud kedatanganku bahkan sebelum aku mengatakannya," imbuh Chen Su.


"Akan tetapi ...." Dia menghentikan ucapannya dan melihat ke sekelilingnya, melihat ke arah tabib serta para dayang yang ada di sana dengan tatapan penuh arti. Hal itu segera disadari oleh Shenshen.


Tak lama, Shenshen memberikan isyarat pada dayang serta tabib yang ada di sana untuk pergi dari kamarnya. Setelah memastikan kondisi majikan mereka baik-baik saja, mereka pun pergi meninggalkan kamar, sesuai perintah.


Setelah kepergian mereka, Shenshen menyidekapkan kedua tangannya di dada dan dengan angkuh berkata, "katakan! Aku tidak punya banyak waktu untuk mengobrol dengan orang asing!"


Dalam hatinya Chen Su mengumpat, namun di luar dia tersenyum manis. Karena dirasa sudah aman, dia pun membuka mulutnya.


"Kedatanganku ke sini, selain untuk menjengukmu juga ingin memberitahukan sesuatu. Ini mengenai bedak yang kau pakai," ucapnya sambil duduk di tepi ranjang tidur Shenshen.


Shenshen menatapnya sinis, menunjukkan ketidaksukaannya pada Chen Su.


"Kau pasti berpikir kalau yang melakukannya adalah wanita bernama Lan Mei itu, bukan? Namun itu sangat keliru. Aku yakin kau tahu siapa orangnya," lanjutnya sambil menatap Shenshen.


"Shen ... Yun Ja?" tanyanya sambil menatap balik.


"Tepat sekali!"


"Malam itu aku tidak sengaja melihatnya berkeliaran di sekitar kediamanmu. Tuan putri Shenshen, dia yang melakukan hal buruk itu padamu. Menyebabkan wajahmu ... terluka dan mempermalukanmu di depan banyak orang. Dialah orangnya!"


Shenshen merasa, apa yang dikatakan Chen Su ada benarnya. Dan dia termakan hasutannya. Semua dapat dilihat jelas dari raut wajahnya yang penuh akan kebencian.

__ADS_1


"Sebelum masuk ke istana, aku mendengar banyak hal tentangnya. Seorang putri dari negara Long yang terkenal akan kebodohannya. Namun, setelah melihatnya langsung, aku berubah pikiran. Dia tidak seperti yang banyak orang katakan," lanjut Chen Su.


"Kau juga menyadarinya?" tanya Shenshen.


"Bukan hanya aku, tapi mungkin orang-orang juga. Entah rumornya atau orangnya yang palsu. Yang pasti, dia yang sekarang sepertinya tidak mudah untuk ditindas," ucap Chen Su.


Ia yang sempat mengalihkan pandangan, kini kembali menatap Shenshen sambil melanjutkan ucapannya. "Karena itu, aku ingin mengajakmu bekerja sama," lanjutnya.


Mendengar hal itu Shenshen lantas mengernyitkan dahinya. Rupanya hal itu yang membawa Chen Su datang ke hadapannya.


Hal itu telah menarik perhatiannya. "Katakan!" ucapnya yang merasa penasaran.


Kendati langsung menjawab, Chen Su malah tertawa. Entah menertawakan apa.


"Apanya yang lucu?" tanya Shenshen dengan nada sinis.


"Maaf, maafkan aku," ucap Chen Su dan berusaha berhenti tertawa.


Dia memasang wajah serius, lalu berkata, "aku akan membantumu membalaskan dendam pada Shen Yun Ja itu. Dan tentu saja dengan sebuah syarat." Chen Su mengukir senyum seringai di bibirnya.


Shenshen membalas dengan senyum merendahkan. "Heh! Kau pikir aku akan menyetujui permintaan bodohmu itu?"


"Tentu saja. Karena tidak ada yang bisa melawannya, selain dari pada aku," jawab Chen Su.


Setelah itu dia beranjak dari posisinya. "Aku akan menunggu jawabanmu. Tidak perlu tergesa-gesa karena kau juga perlu banyak istirahat. Tuan putri Lin Shen, kalau begitu aku pamit dulu."


Dia membungkukkan badannya di hadapan Shenshen, kemudian melangkahkan kaki meninggalkan kamar tersebut.


Shenshen diam melamun. Dalam hati mempertimbangkan tawaran kerja sama yang Chen Su ajukan kepadanya.


"Aku tidak yakin kalau aku tidak bisa mengalahkan Shen Yun Ja. Kemenangannya saat itu mungkin hanya kebetulan saja, atau dewi keberuntungan sedang berpihak padanya saja," gumamnya.


Sementara itu, di ruang baca Kaisar.


Beberapa saat yang lalu Lin Jian datang dan menanyakan suatu hal. "Ayahanda, aku dengar, dia akan datang dalam beberapa hari ke depan. Apa itu benar?" tanyanya.

__ADS_1


Kaisar yang masih bergelut dengan beberapa dokumen menyempatkan untuk menjawab. "Benar." Jawaban yang diberikannya begitu singkat dan padat.


Keadaan hening. Hanya terdengar suara derap langkah kaki Lin Jian yang menghampiri sebuah kursi kemudian mendudukinya.


"Oh iya, apa kau sudah menyelidiki jenderal Thang?" tanya Kaisar.


"Aku berencana pergi ke kamp militer untuk masalah itu. Tapi, Ayahanda, mengenai kedatangannya, apa yang akan Ayahanda lakukan sementara Shen Han Xi masih ada di sini?"


Kaisar seketika terdiam. "Kau benar, Lin Jian. Sebelumnya, aku tidak memperhitungkan kedatangan Shen Han Xi. Jadi, aku mengundangnya datang ke istana lebih cepat."


"Lalu, apa yang akan Ayahanda lakukan?" Lin Jian mengulangi pertanyaannya.


Kaisar meletakan kuas di tempatnya lalu menyingkirkan sebuah dokumen yang ada di hadapannya. Dia kemudian menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kemudian menekuk tangan dan menyanggah kepalanya.


"Jika tidak salah hitung, dia akan tiba di sini sekitar dua sampai tiga hari. Selama itu, seharusnya Shen Han Xi dan adik perempuan satunya akan pergi," ucap Kaisar.


"Selain itu, pemilihan selir harus segera di selesaikan sebelum dia tiba di sini. Lin Jian, apa kau masih mengingat nama wanita itu?"


"Tentu saja, Ayahanda. Salah satu putri dari seorang menteri kota Nansu bernama ... Chen Su, benar, bukan?" tanyanya.


Senyum penuh kepuasan terukir di bibir Kaisar. "Kau memang satu-satunya putraku yang paling bisa diandalkan," pujinya.


Tak lama Lin Jian beranjak dari tempat duduknya. Dia mendekat dan membungkukkan sedikit badannya. "Terima kasih, Ayahanda. Ada sesuatu yang harus aku lakukan, aku pamit undur diri," ucapnya.


Kaisar menganggukkan kepalanya.


"Lin Jian, lekas selesaikan masalah Jendral Thang Su dan pemilihan selir. Namun terlebih dahulu selesaikan masalahmu dengan Shen Yun Ja. Bersikap baiklah di hadapannya, setidaknya saat kakak beradik Shen masih ada di sini. Bagaimana pun, kita belum bisa melepaskan Shen Yun Ja. Kau ingat itu!"


"Baik, Ayahanda."


Setelah itu Lin Jian pergi meninggalkan tempat tersebut. Saat keluar dari ruangan, raut wajahnya berubah dengan tatapan dingin.


Wang Xi yang sedari tadi menunggu di luar kemudian menghampirinya dan bertanya, "Yang Mulia, persiapan pergi ke kamp militer hampir selesai---"


"Tidak sekarang, Wang Xi," serobotnya.

__ADS_1


"Ada yang harus aku selesaikan dulu."


__ADS_2