Not Idiot Princess

Not Idiot Princess
Kebenaran Tentang Yu Qin


__ADS_3

Saat petang tiba.


Kepakkan sepasang sayap burung di dekat jendela membuat Kaisar negeri seberang, Huan Qing, beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri burung yang kini bertengger di jendela.


Di kaki burung tersebut, terdapat sebuah surat yang diikat erat. Dia menangkap burung itu lalu mengambil suratnya. Setelah itu burung di lepaskan. Kemudian, pria dengan jenggot tebal tersebut mulai membaca isi surat.


Awalnya, raut wajah yang ditunjukkannya biasa saja. Namun semakin lama dia semakin menyipitkan matanya dengan wajah serius. Sampai akhirnya, surat selesai dibaca seluruhnya. Dia terdiam sejenak.


"Bagaimana mungkin Yu Qin melakukannya? Ini masih terlalu dini untuk menguasai negara Hou, bahkan sebelum perang dengan negara Long terjadi." Ia menaruh tangannya di dagu.


Tak berapa lama, seseorang masuk ke ruangannya dengan tergesa-gesa serta dengan raut wajah panik. Sambil bersujud dengan tubuh gemetaran, orang itu berkata, "Yang Mulia ... ditemukan sebuah mayat di Istana dingin!"


Mendengar hal itu, Kaisar lantas melangkahkan kakinya pergi dari ruangannya. Ia bersama beberapa orangnya pergi ke Istana dingin untuk memeriksa apa yang terjadi. Setibanya, tempat tersebut sudah dikerubungi banyak orang yang melihat.


"Kaisar tiba!" teriak pengawal. Semua orang beralih pandangan dan langsung berlutut memberi salam. Mereka juga membuka jalan untuk kaisar agar ia bisa memeriksa apa yang terjadi.


Tak berselang lama, seorang pengawal memegangi seorang wanita. Mereka keluar dari Istana dingin dengan keadaan si wanita yang kumuh dan berantakan.


"Tidak! Bukan aku yang membunuhnya!" teriak wanita itu seperti orang gila. Dia pun diseret ke hadapan Kaisar.


"Ada apa ini?" tanya Kaisar.


Beberapa pengawal itu lantas berlutut. Salah satu dari mereka menjawab, "ijin menjawab, Yang Mulia. Di dalam ditemukan sebuah mayat yang sudah membusuk. Kematiannya diperkirakan beberapa bulan lamanya."


"Tidak! Aku tidak membunuh! Suamiku! Aku tidak membunuhnya!" Wanita gila itu merangkak lalu memegang kedua kaki Kaisar.


Kaisar menarik kakinya mundur sampai wanita itu terjatuh. Ia melihat dengan sangat jijik dan penuh kehinaan terhadapnya wanita di hadapannya tersebut. "Jangan menyentuhku!" berangnya.


"Suamiku, maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja membunuhnya! Aku tidak sengaja membunuh anak kita!" ucap wanita tersebut sambil berderai air mata.


Kemudian disusul oleh beberapa pengawal yang menggotong mayat tersebut keluar dari Istana dingin milik wanita itu. Betapa busuk aromanya sampai semua orang menutup hidung mereka dengan kain maupun tangan mereka.


Kaisar membelakkan matanya sempurna saat melihat jasad yang sudah terbujur kaku tersebut. Ia mengenal pakaian yang dikenakannya, dan juga giok yang menggantung di pakaiannya.


"Tidak mungkin!" ucapnya.


"Suamiku maafkan aku! Aku tidak membunuhnya! Orang itu yang menyuruhku membunuhnya!" teriak histeris wanita tersebut.

__ADS_1


Kaisar masih tidak percaya dengan apa yang telah dilihatnya, dia berjalan menghampiri untuk memeriksa sendiri.


Saat dia menyibakkan kain penutup kepalanya, wajah pucat putranya tercinta sudah membiru dan sangat dingin. Kaisar mengangkat tangannya hendak menyentuh wajahnya sambil berkata, "Yu ... Qin!"


"Tidak mungkin! Yu Qin! Bangun! Bukankah kita akan menguasai negara Hou dan negara Long! Bangun! Kau tidak boleh mati! Ini perintah!" teriak Kaisar bak orang kesetanan.


Kehilangan putranya, Yu Qin, bagi Kaisar seperti kehilangan jantungnya. Yu Qin merupakan pedang negeri seberang. Dan dia mengutuk orang yang sudah membunuhnya tersebut.


Pemakaman Yu Qin pun dilakukan penuh suka suka. Langit pun turut menangis mewakili teririsnya hati seorang gadis kecil, putri semata wayang Yu Qin, puteri Yuan.


Tetiba, Kaisar mengingat isi surat yang diterimanya dari negara Hou. Dalam surat tersebut, Kaisar Hou mengatakan kalau putranya diam-diam melakukan pemberontakan.


"Bagaimana mungkin Yu Qin melakukan pemberontakan sementara dia sudah meninggal? Apa mungkin ... Yu Qin yang berada di negara Hou, yang membawa pasukan negeri seberang, adalah Yu Qin palsu?" gumamnya.


Dia membalikkan tubuhnya dan meninggalkan tempat pemakaman diikuti oleh penasehat dan beberapa kasim.


"Kasim Jung, panggil Jenderal Aran untuk datang menemuiku. Penasehat Chang Li, ikutlah denganku," titahnya.


"Baik, Yang Mulia," balas mereka serentak.


Sebelum keberangkatan, mereka membalas surat kiriman terlebih dahulu. Dalam surat, dia memberitahu bahwa Yu Qin yang berada di negara Hou adalah Yu Qin palsu. Kemudian memerintahkannya untuk menangkap hidup-hidup orang yang memmbunuh puteranya tersebut.


Di negara Hou, tepatnya di kamar Yunza.


Sejak percakapannya dengan Mi Anra, sampai diketahuinya perihal kehamilan, Yunza terus meringkuk di atas tempat tidur sambil membalut tubuhnya dengan selimut. Dia menangis ketakutan, mengingat apa yang akan terjadi pada dirinya.


"Bodoh! Kau sangat bodoh,Yunza! Apanya yang mengubah alur! Kau malah jatuh cinta dan terperangkap di sana!" Ia menghina dirinya sendiri.


"Apa yang akan aku lakukan dengan anak ini, sekarang? Jika Kaisar sampai mengetahuinya, tamat sudah hidupmu!" gumamnya lagi.


Tiba-tiba, terdengar suara pintu terbuka. Yunza lekas menyeka air matanya dan pura-pura tidur. Langkah kaki pun terdengar semakin mendekat. Tak lama, seseorang memeluknya dari belakang sambil menyebut namanya dengan lembut.


"Lin Jian?" gumam Yunza dalam hati.


Lin Jian menyadari sebagian selimut yang berada di dekat wajah Yunza basah, dia segera membalikkan tubuh Yunza sampai menghadap dirinya sambil bertanya, "Yunza, ada apa? Kenapa kau menangis?"


Yunza lantas menepis tangan Lin Jian seraya memalingkan wajahnya. "Aku hanya kelelahan saja," katanya.

__ADS_1


Akan tetapi, Lin Jian kembali menarik wajahnya sampai menghadap dirinya. "Apa kau sedang sakit? Aku akan menyuruh Wang Xi panggilkan tabib," ujar Lin Jian.


Yunza langsung membuka matanya dan berkata, "jangan! Tidak perlu panggil tabib, aku baik-baik saja, kok." Yunza menarik tangan Lin Jian dan memeluknya erat.


Lin Jian kemudian menyentuh kening Yunza dengan telapak tangannya untuk memastikan apakah suhu tubuhnya naik atau tidak. "Tidak panas. Syukurlah kalau tidak sampai sakit. Takutnya kelelahan dalam perjalanan sampai jatuh sakit," gumamnya.


Ia menatap wajah istrinya yang sedikit pucat. Lalu bergumam dalam hati, "bagaimana jika aku benar-benar dihadapkan pada dua pilihan. Apakah aku akan memilih Yunza, ataukah ibuku?" Lin Jian mengelus rambut Yunza.


"Yunza," seru Lin Jian.


"Hm?"


"Aku harus pergi ke kamp militer. Kau pasti sudah mendengar beritanya, kan? Ayahanda memintaku pergi memeriksanya," ucapnya.


Yunza melepaskan pelukannya lalu bangun terduduk sambil menatap Lin Jian. "Berapa lama?" tanyanya.


"Tidak lama. Mungkin besok siang sudah kembali. Yunza, tunggu aku pulang, oke."


Yunza membalas dengan anggukkan kepala, kemudian menyandarkan kepalanya di dada Lin Jian. Keduanya sedang berada di dalam dilema namun tak bisa membaginya satu sama lain.


"Yunza, aku mencintaimu," ucap Lin Jian tiba-tiba.


"Hm," balas Yunza.


"Aku harap, aku bisa memiliki kesempatan untuk mengatakan kalau aku juga mencintainya," gumamnya dalam hati.


Tak lama, Lin Jian melepaskan pelukannya lalu berkata, "aku harus segera pergi,"


Yunza tertegun, kemudian bertanya, "saat ini juga? Kenapa buru-buru sekali?"


"Jika masalahnya selesai lebih cepat, itu lebih baik. Aku pun punya banyak waktu untuk menemani istriku," jawabnya sambil tersenyum. Kemudian, dia membungkukkan badannya lalu mencium kening Yunza.


"Jangan tidur terlalu larut malam. Jika merasa tidak enak badan, lekas suruh seseorang memanggilkan tabib. Aku ... pergi dulu." Terdapat keraguan saat melangkahkan kaki dalam meninggalkan Yunza.


Yunza yang menyadari hal itu kemudian tersenyum. Dia mengangkat tangannya lalu melambaikannya sambil berkata, "aku akan menunggumu pulang. Hati-hati di jalan, suamiku."


Senyum Lin Jian semakin lebar. "Baik, istriku."

__ADS_1


__ADS_2