Not Idiot Princess

Not Idiot Princess
Bala Bantuan


__ADS_3

"Kau bisa tinggal di sisiku, dan aku akan menjamin hidupmu selama kau mau mengabdi padaku!" ucap Yunza di hadapan Mi Anra. Mi Anra pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuannya.


"Mi Anra, apa kau tahu tempat judi di sekitar sini?"


"Nona! Walaupun kita miskin tapi juga tidak boleh bermain judi!"


"Ahahahaha, tidak kok. Aku hanya ingin tahu saja," kata Yunza.


"Sebagai pelayanku, kau tidak boleh kalah begitu saja! Jika bertemu orang seperti itu lagi, pecahkan saja bijinya!" Yunza memperingati. Mendengar hal itu, Mi Anra tertawa lucu.


"Oh, ya, Mi Anra. Bagaimana kalau kau menikah dengan Gu Rong?"


"A-apa yang Nona katakan! Jangan sembarangan!" ucap Mi Anra dengan wajah memerah.


"Apa kau tahu, si serigala itu semakin hari semakin tidak sopan saja padaku. Sekarang, dia bahkan berani menginvasi tempat tidurku!" keluh Yunza.


Mi Anra tersenyum mendengar keluh kesah Yunza tentang Lin Jian.


"Kita akan pergi kemana, Nona?" tanya Mi Anra.


"Kuil Sakura. Aku akan menikahkan kalian di sana!" balas Yunza.


Di Kuil Sakura, Mi Anra memeluk Yunza. "Terima kasih, Nona. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan jika tidak ada dirimu," kata Mi Anra.


Yunza mengelus punggungnya. "Jangan bicara seperti itu. Mulai sekarang, jadilah istri yang baik untuk Gu Rong."


Mi Anra berisak tangis di samping Yunza. Yunza pun berkata, "aku masih hidup. Jangan menangis seperti sedang menangisi orang mati di sampingku!"


"Apa Nona tahu? Semalam aku tidak tidur karena mengkhawatirkan Nona. Saat mereka kembali tapi aku tidak melihat Nona, aku sangat takut sampai gemetaran."


"Iya, iya. Mi Anra yang terbaik."


"Mi Anra, maafkan aku. Gu Rong ... dia sudah ...."


Mi Anra ambruk bersamaan dengan hancurnya hatinya berkeping-keping. Yunza menghampirinya kemudian memeluknya erat, memberinya sandaran sambil terus menguatkannya.


"Syukurlah kau sudah pulang. Apa kau tahu, selama kau pergi aku sangat kesepian," ucap Mi Anra.


"Benarkah? Kalau begitu ayo kembali ke kamar. Aku belikan sesuatu untukmu."

__ADS_1


"Wah~ apa itu?" tanya Mi Anra.


Yunza menaruh tangannya di ujung bibir. "Ssttt, rahasia."


"Nona, jangan bersedih. Sungguh, aku hanya pergi untuk menemui suamiku saja. Hiduplah dengan baik." Kalimat terakhir yang Mi Anra ucapkan amat menyakitkan.


Kenangan-kenangan bersamanya perlahan bermunculan. Suka dan duka mereka lalui bersama. Namun siapa sangka, harus memiliki akhir yang sangat tragis seperti ini.


Dalam pelukan Yu Qin yang masih melangkahkan kaki membawanya pergi, Yunza menangis dengan air mata yang sudah mengering. Suaranya enggan keluar saking sesaknya rasa sakit memenuhi ruang dada.


"Mi Anra." Hanya namanya yang selalu dia sebut. Bersamaan dengan itu, ketika mengingat kenyataan pahit itu, rasa sesaknya malah mencekik sampai ke leher. Sesak sekali.


Tiba-tiba, langkah Yu Qin menjadi tidak seimbang membuat mereka berdua akhirnya terjatuh ke tanah.


Yu Qin tersungkur sambil memegangi perutnya. Melihat raut wajah pucat Yu Qin, Yunza pun mendekatinya sambil merangkak.


"Yu Qin, ada apa?" tanyanya sambil mengulurkan tangan hendak memeriksa keadaannya.


Akan tetapi, Yu Qin malah menepis tangan Yunza seraya berkata, "pergi! Pergi dari sini!" Perintahnya.


"Aku tidak mau pergi sendiri, kita pergi bersama, kan? Yu Qin, kau mendengarku?" Yunza tak mendapatkan jawaban apapun dari pertanyaannya.


Sampai akhirnya dia sadari sebuah luka di punggung Yu Qin yang terus menerus mengeluarkan darah segar.


Ia melihat ke bawah dimana Yu Qin tersungkur seperti orang yang bersujud dengan tangan menyentuh perutnya, dan di sana, Yunza melihat genangan darah.


"Lukanya sangat parah. Bagaimana ini bisa terjadi? Apa ini yang menyebabkannya terlambat menjemputku?" batin Yunza.


Dia tak bisa membuang-buang waktu lagi. Akhirnya Yunza membaringkan Yu Qin di tanah, kemudian merobek pakaian luarnya untuk membalut luka Yu Qin terlebih dahulu. Namun, saat hendak melakukannya Yu Qin kembali menepis tangan Yunza.


"Yunza, pergilah ke perbatasan ... kau akan aman ... di sana ...," ucap Yu Qin terbata dengan mata yang hampir tertutup.


"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu!" ucap Yunza. Dia kembali berniat membalut luka Yu Qin, dan untuk yang kesekian kalinya Yu Qin menolak.


"Aku ... aku tidak bisa ... tapi Yunza, pergilah! Aku ingin kau tetap hidup! Tetaplah hidup ... untukku," pinta Yu Qin.


Bergetar hati Yunza. Rasa sesak bertambah di dadanya saat mendengar ucapan Yu Qin. Dia yang berniat mengorbankan dirinya demi keselamatan Yunza seperti yang dilakukan Mi Anra benar-benar membuatnya hancur.


Kini, menangis sudah tidak bisa. Terlebih, saat melihat pasukan sudah berhasil mengejar mereka.

__ADS_1


"Yunza, pergilah! Pergilah!"


"Tidak, Yu Qin," tolak Yunza. "Aku tidak ingin hidup dengan melangkahi mayat teman-temanku," lanjutnya.


Yunza melihat pedang milik Yu Qin lalu mengambilnya. "Tidak lagi! Aku tidak ingin melihat siapapun mati karena menyelamatku. Aku tidak kuasa menanggung rasa bersalah yang kian memuncak lagi. Aku tidak bisa!" kata Yunza, dalam hati.


"Yu Qin. Aku ... tidak tahu siapa kau." Yunza beranjak secara perlahan. "Terima kasih karena sudah memperingatiku berkali-kali. Aku pikir aku bukanlah gadis bodoh, ternyata masih saja bodoh," lanjutnya.


"Andai aku mendengarkan ucapanmu dan pergi saat itu juga. Gu Rong dan Mi Anra mungkin masih hidup sekarang." Kini, Yunza sepenuhnya berdiri tegak dengan pedang mengacung di tangannya.


"Di mana Lin Jian saat aku membutuhkannya?" batin Yunza.


Dia melirik pedang milik Yu Qin. "Dulu aku tidak tahu, mengapa kau mau repot-repot mengajariku berpedang. Kini aku tahu. Aku ... akan berusaha melawan mereka. Jika ada kesempatan hidup maka hidup bersama. Jika mati pun harus mati bersama," kata Yunza.


Yu Qin membuka matanya dengan keadaan yang sangat lemah karena darah yang tak henti-hentinya mengalir deras. Meski begitu, dia masih berniat menghentikan Yunza.


"Pergi! Kau tidak boleh mati!" kata Yu Qin.


Yunza hanya menganggukkan kepalanya saja, lalu berkata, "ya, terima kasih. Kau orang yang sangat baik, Yu Qin. Sayang sekali, takdir malah mempertemukanmu denganku."


Yunza mengeratkan pegangan kedua tangannya pada pedang di tangannya sambil menatap lurus ke arah sekelompok orang yang hampir tiba.


Beberapa pemanah mulai mengangkat busur mereka, namun dihentikan seketika ketika panglima Ming melihat Yunza menodongkan senjata ke arah mereka.


"Dia sudah menyerah?" batin Panglima Ming.


Dia pun memerintahkan mereka untuk menurunkan busur karena berpikir Yunza sudah menyerah. Tak berapa lama, perintah lain diucapkannya. "Tangkap mereka berdua bagaimana pun keadaannya!"


Mereka pun mulai mempercepat laju kuda mereka dengan sangat bersemangat. "Tangkap penghianat itu!" teriak mereka.


Mendengar teriakan mereka, hati Yunza disentuh perasaan takut. Kedua kaki dan tangannya gemetaran tak henti-henti.


"Yunza ... kau tidak boleh mundur, atau akan ada satu atau bahkan dua nyawa yang menghilang lagi!" batinnya.


Yunza menarik napas dalam-dalam, kemudian berteriak sangat keras untuk menyambut mereka sambil mengangkat pedang dan siap bertarung sekuat tenaganya sampai titik darah penghabisan.


Namun, tiba-tiba saja, ratusan prajurit berkuda muncul dari arah belakangnya dan langsung menyerang pasukan panglima Ming.


Yunza berdiri sambil kebingungan. Dia menoleh ke sana dan kemari untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kemudian, satu orang yang menaiki kuda muncul di hadapannya.

__ADS_1


"Naiklah, Yunza!"


Yunza membelakkan matanya lebar-lebar dengan mulut menganga. "K-kakak keempat?"


__ADS_2