Not Idiot Princess

Not Idiot Princess
Gagal Belah Duren


__ADS_3

Esok hari.


Yunza membuka matanya dengan rasa nyeri menyerang kepalanya. Saat hendak bangun, dia merasa kalau tubuhnya tertahan sesuatu. Kemudian melirik ke bawah.


Betapa terkejutnya dia saat melihat sepasang tangan melingkar di perutnya. Yunza langsung menoleh ke belakang dan mendapati Lin Jian di sana.


"Lepaskan!" Dia berusaha melepaskan sepasang tangan Lin Jian yang sedang memeluknya dengan sekuat tenaga. Namun, perlakuannya membuat Lin Jian meringis kesakitan.


Yunza terdiam merasakan sesuatu. "Tubuhnya panas. Apa dia demam?" Dia kembali melepaskan diri dari tangan Lin Jian dan berhasil. Kemudian dia duduk menghadap Lin Jian dan menyentuhkan tangan di keningnya.


Sekejap kemudian, menarik tangannya lagi. "Panas sekali!" Tak lama, Yunza menyibakkan selimutnya dan berniat turun. "Aku harus mengambil air untuk mengompres---"


Akan tetapi, tiba-tiba tangan Lin Jian merangkul tubuh Yunza dan tak ingin melepaskannya lagi. Yunza terdiam kehabisan akal. Melawan pun percuma, dan dia takut membuat Lin Jian kesakitan.


Sampai akhirnya, suara ketukan datang. "Nona, bangun! Ini sudah siang! Aku sudah siapkan air hangat untuk Nona mandi," ucap Mi Anra sambil berjalan masuk.


Saat menyadari adanya Lin Jian di ranjang tidur Yunza, dia sontak menghentikan langkah kakinya dengan wajah bengong bak orang bodoh. Suasana pun menjadi canggung untuk mereka berdua.


"Mi Anra, aku---"


"Aku tidak lihat apa-apa! Ini belum siang, jadi Nona bisa kembali tidur!" Dia membalikkan tubuhnya dan bersiap-siap melarikan diri. Namun, Yunza menghentikannya.


"Jika kau berani pergi aku akan meminta Gu Rong ... Hihihi," ucapan yang diakhiri tawa jahat itu pun membuat Mi Anra diam tak berkutik.


"Lin Jian terkena demam, bisa kau ambilkan air untuk mengompresnya?" pinta Yunza kemudian. Mi Anra membalas dengan anggukkan kepala tanpa menoleh, lalu dia pun pergi.


Seperginya Mi Anra, Yunza kembali berusaha melepaskan diri dari pelukan Lin Jian, namun tidak bisa. "Kenapa kau doyan sekali demam! Tidak bisakah saat demam pergi ke kamar selir kesayanganmu itu saja?" omelnya sambil berkacak pinggang.


Siang hari, Kaisar dan Yu Qin duduk mengobrol di ruang pribadi bersama para petinggi negara lainnya. Tak berselang lama, seorang kepercayaan datang membawakan dokumen yang akan mereka bahas bersama.


Kaisar membuka gulungan dokumen secara perlahan. Akan tetapi, setelah dibuka ekspresi wajahnya berubah seketika. "Apa ini?" tanyanya.


"Itu ... dokumen yang Anda minta, Yang Mulia," jawab orang itu.


Brak!

__ADS_1


Kaisar melempar gulungan itu ke hadapannya. "Apa kau buta! Tidak ada tulisan apapun di dalamnya! Itu bukan yang aku minta!" berangnya.


Orang tersebut bersujud sambil gemetaran. "Ampun, Yang Mulia. Tapi ... gulungan itu yang hamba temukan di tempat yang Anda katakan. Tidak ada yang lain," jawab orang itu.


Sepasang mata Kaisar langsung menatap tajam. "Jadi menurutmu ... gulungan itu hilang?" tanyanya.


Orang itu tidak berani menjawab lagi. Kemudian Kaisar berdiri dari tempat duduknya. "Aku perintahkan kalian untuk menemukan dokumen itu sekarang juga!" titahnya. Semua pengawal pun lekas pergi untuk menjalankan perintahnya.


Setelah itu, Kaisar melirik Yu Qin. "Maaf, lagi-lagi kau harus menyaksikan hal memalukan ini. Anda bisa kembali, Pangeran Yu Qin. Kita akan membahasnya lain hari."


Kaisar berjalan menuju pintu keluar. "Dimana Lin Jian?" tanyanya kepada penasehat di sampingnya.


"Ijin menjawab, Yang Mulia. Pangeran kedua berada di kamar Permaisuri. Pelayan mengatakan kalau beliau terkena demam sejak tadi malam," jawab penasehat.


Pembicaraan mereka didengar Yu Qin. Dia amat tak menyukai apa yang baru saja diketahuinya itu. Kemudian dia mengajak bawahannya untuk pergi dari tempat itu juga.


Di kamar Yunza.


Lin Jian akhirnya membuka mata. Ia melirik Yunza yang tertidur di sampingnya dengan bersandar ke sandaran kasur dengan tangan menyentuh kain kompresan di keningnya.


Pria itu kembali melingkarkan tangannya sambil membenamkan kepalanya ke dada Yunza. Ia menghirup udara segar di pegunungan dan hampir mabuk kepayang dibuatnya.


"Apa di sana menyenangkan?" Suara Yunza didengarnya. Segera, dia mendongakkan kepalanya dan dilihatkan wajah masam istrinya itu.


"Di sini sangat menyenangkan," ucap Lin Jian sembari kembali membenamkan wajahnya di sana.


"Tidak tahu malu!" gerutu Yunza. "Jika kau sudah merasa baikan segera lepaskan tanganmu dariku! Aku sudah menahan lapar sejak tadi dan sekarang sudah tidak bisa menahannya lagi!" omelnya kemudian.


"Biarkan seperti ini sebentar lagi," pintanya.


Yunza terdiam, lalu memeriksa suhu di kening Lin Jian. "Panasnya sudah turun. Lepaskan aku! Aku akan bawakan makanan untukmu, kau lapar juga bukan?" tanyanya padahal hanya beralasan.


Meski begitu, Lin Jian tak melepaskannya dengan mudah. Ia malah memasukkan tangannya ke dalam pakaian Yunza dan memainkan kepalanya di tempat itu.


Seketika wajah Yunza memerah. "A-apa yang kau lakukan!" Dia mendorong tubuh Lin Jian menjauh.

__ADS_1


"Yunza, aku sangat lapar. Apa kau bisa memberiku makan?" Perkataannya yang ambigu tersebut membuat gadis polos dan suci itu bergidik takut.


Sesaat kemudian Lin Jian bangkit, namun malah menindih Yunza dan mengurungnya dalam kungkungan kedua tangannya.


Yunza yang ketar ketir berkata, "apa? Jangan minta jatah padaku! Minta sama selir kesayanganmu itu sana!"


Mendengar hal itu Lin Jian tertawa. "Kau selalu mengatakan hal itu. Jangan bilang kalau kau cemburu padanya?"


"Mana ada! Aku tidak cemburu, kok!" sangkal Yunza sambil mengalihkan pandangannya. "Menyingkir dariku!" Ia mendorong tubuh Lin Jian.


Lin Jian tak menghiraukan penolakan Yunza. Ia malah mengulurkan tangannya menjangkau dagu Yunza. Sesaat kemudian langsung menciumnya dengan segenap perasaan.


Di bawahnya, Yunza terus menerus meronta. Namun itu adalah tindakan yang percuma. Namun entah mengapa, saat itu tiba-tiba pikirannya menjadi tenang. Ia yang mungkin akan mengomel dan memberontak malah diam kini.


Ia pun terbawa arus permainan Lin Jian dan ikut memejamkan matanya. Dalam pikirannya, "mungkin tak mengapa melakukannya dengan suaminya."


Semakin lama, tangan Lin Jian semakin tak terkendali. Dia mulai membuka helai pakaian Yunza bagian atas dan bermain-main di berbagai titik tempat. Hal itu menimbulkan suatu gejolak di hati Yunza.


Ditengah permainannya, Lin Jian menghentikannya. Melihat Yunza yang seperti itu membuatnya menelan ludah. Ia pun bertanya, "apa boleh?"


Yunza menutupi wajah merahnya dengan tangan. Mendengar pertanyaan Lin Jian membuatnya tak kuasa menjawab. Akan tetapi, ada sebuah perasaan yang tidak tertahankan lagi. Pikirannya pun sudah kacau dibuatnya.


Diamnya Yunza dianggap sebagai persetujuan oleh Lin Jian. Dia mulai menciumnya lagi di bagian leher kini. Sungguh, hal itu membuat Yunza hampir gila.


Beberapa saat kemudian, Lin Jian semakin menggila apalagi setelah mendengar suara ******* Yunza. Dia melepaskan pakaian keduanya dengan penuh perasaan.


Setelah hampir mencapai puncaknya, Lin Jian kembali terhenti. Dia membenarkan posisinya dengan memegang kedua betis Yunza. Namun tiba-tiba, seseorang mengetuk pintu kamarnya.


"Ini aku, penasehat Kaisar, Yang Mulia Pangeran kedua. Aku datang menjemput Anda karena ada urusan penting yang ingin dibicarakan Kaisar kepada Anda," ucap seseorang di luar.


Lin Jian menoleh dengan tatapan membunuh. Lalu mengalihkan pandangannya pada Yunza yang masih menutupi wajahnya.


"Aku ... harus pergi," ucapnya memberitahu Yunza. Akan tetapi Yunza tak mengatakan apapun.


Lin Jian akhirnya menunda kegiatan mereka dan turun dari ranjang tidur. Dia memakai kembali pakaiannya dengan perasaan kesal. Sebelum pergi, dia menoleh ke arah Yunza. Yunza meringkuk membungkus diri dengan selimut. Kemudian, Lin Jian pergi meninggalkan kamar.

__ADS_1


Saat itu Yunza menutup wajahnya dengan bantal. Meski sadar itu tak bisa menyembunyikan rasa malunya. "Bodoh! Apa yang kau lakukan Shen Yun Ja! Tadi itu hampir saja!" gerutunya dalam hati.


__ADS_2