
Malam hari.
Di luar tenda, Mi Anra dan Mei An berjalan bolak-balik bak gosokan dengan perasaan cemas dan khawatir menunggu kepulangan Yunza. "Kenapa belum kembali? Nona ... kemana kau?" batin Mi Anra.
Tak berapa lama, pangeran keenam dan pangeran ketujuh beserta orang-orang yang pergi bersamanya pun kembali ke tenda. Masing-masing di kuda yang mereka tunggangi dibawanya sesuatu. Mi Anra dan yang lainnya menghampiri mereka untuk melihat apa yang terjadi.
Dia melihat-lihat dari depan ke belakang, kanan ke kiri namun tak melihat adanya Yunza maupun Lin Jian. Pangeran keenam dan pangeran ketujuh pun turun dari kuda.
Kepada mereka berdua, Kaisar bertanya dengan pertanyaan beruntun. "Dimana kakak kedua kalian? Bagaimana pencariannya? Mengapa pulang dengan sedikit orang? Apa yang kalian bawa di kuda?"
Beberapa pengawal menggendong selir di tangan mereka. "Dalam pencarian, kamu menemukan sekelompok mayat yang tidak diketahui identitasnya. Di tempat yang sama kami menemukan selir kakak kedua tergeletak tak berdaya dengan bersimbah darah. Satu selir kakak pertama tewas diakibatkan terjatuh dari tebing, dan beberapa diantaranya tersesat di hutan," jawab pangeran ketujuh.
Semua orang bergidik ngeri mendengar pernyataannya. Di samping Permaisuri Kaisar, Shenshen ketakutan melihat Chen Su yang hampir seluruh badannya berlumuran darah dengan luka-luka dalam.
Ia mengerutkan dahinya kemudian menoleh ke arah barisan. Dia mencari-cari sosok Yunza namun tak ditemuinya. "Dimana Shen Yun Ja? Apa dia sudah mati?" batinnya.
"Bagus jika dia mati, jadi, perjuangan Chen Su tidak sia-sia," sambungnya.
"Ayahanda, kita harus segera mengobati mereka," ucap pangeran keenam.
"Bawa mereka ke tenda!" titah Kaisar.
Mereka melangkahkan kaki dan membawa para selir untuk segera mendapatkan pertolongan. Akan tetapi, mereka sepertinya melupakan sesuatu. Untuk itu, Mi Anra menghentikan mereka.
Sambil mengepalkan tangannya, dia bertanya, "dimana ... Permaisuri pangeran kedua?"
Kaisar juga bertanya, "benar, dimana kakak kedua kalian? Kenapa tidak kembali bersama-sama?"
Kedua pangeran saling menukar pandangan, keduanya kemudian menghela napas kasar. Lalu salah satunya menjawab, "Permaisuri kakak kedua belum ditemukan dan dia masih mencarinya di hutan. Beberapa pengawal ada bersamanya."
"Melihat apa yang terjadi di sana, dia mungkin ...." pangeran ketujuh menghentikan ucapannya.
Semua orang yang mendengar hal itu terperajat kaget, terutama Mi Anra yang bagai sebuah pedang baru saja mengikis hatinya. "Tidak mungkin!" batinnya.
__ADS_1
Setelah itu, mereka melanjutkan langkah kaki membawa para selir yang terluka ke sebuah tenda. Mi Anra diam mematung, detak jantungnya seperti berhenti saat itu juga.
"Dia pasti akan baik-baik saja. Adik ipar akan baik-baik saja," ucap Mei An yang sama terkejutnya dengan Mi Anra. Dia melangkahkan kaki dan menyusul mereka sementara Mi Anra masih saja diam.
Sedetik kemudian, dia memutar tubuhnya dan berlari menjauh dari area tenda. Dia berlari sambil berderai air mata. Setelah dirasa cukup jauh, dia pun menengadahkan kepalanya kemudian berteriak, "tuan Gu Rong!"
"Tuan Gu Rong, dimana kau!"
"Tuan Gu Rong! Aku ... butuh bantuanmu." Dia menghentikan langkah kakinya kemudian menangis dengan kepala menunduk.
Tiba-tiba, sebuah angin menabrak tubuh Mi Anra sampai membuatnya hampir saja terjatuh. Beruntung, Gu Rong datang dan segera memeluknya. Mi Anra mendongakkan kepalanya, raut senang pun terpancar di wajahnya.
Gu Rong menoleh ke belakang seolah sedang waspada terhadap sesuatu. Kemudian dia bertanya, "ada apa, Mi Anra?"
Mi Anra lantas mencengkram pakaian Gu Rong, tatapan khawatir dan cemas kembali dia tunjukkan. "Nona pergi memasuki hutan untuk berburu. Menjelang sore tadi, kuda yang ditungganginya kembali seorang diri dengan keadaan terluka. Karena takut terjadi sesuatu padanya, pangeran kedua dan banyak orang lainnya menyusul ke hutan," jelas Mi Anra.
"Baru saja, mereka kembali dengan beberapa selir yang terluka. Bahkan salah satu dari mereka meninggal karena terjatuh dari tebing. Akan tetapi, dari sekelompok orang yang kembali aku tidak melihat Nona maupun pangeran kedua diantara mereka," sambungnya.
Mi Anra menundukkan kepalanya, menyandarkannya ke dada Gu Rong. Kemudian terdengar Isak tangisnya lalu dia berkata, "tuan Gu Rong, tolong cari Nona. Aku takut terjadi sesuatu padanya."
Dia mengelus kepala Mi Anra lalu berkata, "aku akan pergi mencarinya. Kau sebaiknya menenangkan dirimu dulu, pergilah ke kamarmu." Setelah itu, Gu Rong kembali menoleh ke belakang.
"Aku harus segera membawanya pergi sebelum mereka melihat!" gumamnya. "Lekas kembali ke tendamu, aku akan pergi mencari Nona sekarang juga." Dia melepaskan pelukannya.
Mi Anra sedikit merasa tenang mendengar ucapan Gu Rong. Dia membalikkan tubuhnya berniat kembali ke tenda. Tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya seraya berkata, "tuan Gu Rong, berhati-hati ... lah ...."
Namun, Gu Rong sudah tak didapatinya di sana. Mi Anra kembali membalikkan tubuh kemudian berlari dengan sangat cepat kembali ke tenda.
Di tenda pengobatan.
Hampir sepuluh tabib dikerahkan untuk mengobati para selir yang terluka. Dari semuanya, Chen Su merupakan orang dengan luka yang sangat parah. Banyaknya luka dengan goresan sangat dalam membuat mereka sedikit kesulitan menanganinya.
"Apa yang terjadi padanya?" Permaisuri menatap iba.
__ADS_1
"Apa benar ini ulah kawanan serigala? Tapi bagaimana bisa ini terjadi? Bukankah sudah diberitahukan larangan pergi ke Timur hutan?"
"Mungkin, ada seseorang yang melanggar peringatan dan pergi ke sana. Kemudian membawa para kawanan serigala sampai menyerangnya," ucap Shenshen.
Beberapa waktu berlalu, hampir larut malam mereka akhirnya selesai ditangani. Akan tetapi, Yunza dan Lin Jian belum kunjung kembali dan itu membuat keresahan dihari beberapa orang.
"Yang Mulia, untuk sementara waktu para selir sudah ditangani. Hamba akan kembali ke Istana untuk membuat obat," ucap tabib.
Kaisar menganggukkan kepalanya kemudian memberi isyarat padanya untuk pergi. Namun, tabib malah diam dengan keraguan di wajahnya. "Yang Mulia, mengenai kondisinya, itu ...."
"Katakan!" titah Kaisar.
Tabib itu jatuh bersujud di hadapan Kaisar sambil berkata, "ampun, Yang Mulia. Luka yang diterima selir itu sangat fatal. Tidak hanya itu, ada beberapa tulangnya yang patah. Salah satu kaki selir tersebut mengalami patah tulang dan mungkin akan membuatnya cacat."
Semua orang terperajat kaget mendengar hal itu. Shenshen sampai melotot sambil menutupi mulutnya yang menganga saking terkejutnya.
"Cacat? Bagaimana bisa?" ujar Permaisuri.
Tabib tak berani mengatakan lebih banyak lagi. Lalu Kaisar kembali memberi isyarat untuknya pergi, pergilah beberapa tabib tersebut dari tenda.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Apa yang harus aku katakan kepadanya nanti," batin Kaisar risau.
Tak berapa lama, Kaisar membalikkan tubuhnya. Saat hendak melangkahkan kaki, permaisuri lantas menghentikan dan berkata, "Lin Jian ... Lin Jian belum kembali. Suamiku, tolong perintahkan lebih banyak orang untuk mencarinya."
Kaisar menoleh dengan tatapan tajam. "Kau tidak perlu khawatirkan hal itu. Dia, Lin Jian, pedangnya negara Hou tidak akan mudah dikalahkan apalagi oleh seekor binatang!" Setelah itu dia melanjutkan langkah kakinya dan pergi dari tenda.
Malam itu, di tengah hutan.
Yu Qin melihat sebuah gua kemudian turun dari kudanya. Sudah sejak tadi sore dia mencari Yunza, namun tak kunjung ditemukan.
Ia berjalan perlahan mendekati mulut gua. Semakin dekat, dia melihat secercah cahaya jingga dari dalam. "Api unggun? Apa di dalam ada orang?" batinnya menerka-nerka.
Dia pun menjadi semakin hati-hati dalam melangkahkan kaki. Sampai akhirnya dia tiba di mulut gua, kemudian mengintip ke dalam. "Yunza!" Sepasang matanya membelalak saat melihat sosok yang berbaring di dalam gua.
__ADS_1
Yu Qin hendak melangkah masuk, namun saat melihat Lin Jian berada di sana, dia mengurungkan niatnya. Dia berdiri di sana cukup lama. "Yunza, syukurlah kau baik-baik saja." Kemudian melangkahkan kaki dan pergi.