
Seorang pria kecil menyandarkan kepalanya di kaki seorang wanita dewasa. Ia begitu menikmati senandung yang dinyanyikan ibunya tersebut. Tiba-tiba, sebutir air mata menetes di pipinya.
Dia membuka mata dan melihat ke arah ibunya lalu bertanya, "kenapa Ibunda menangis?"
Si ibu dengan sigap langsung menyeka air matanya. "S-siapa yang menangis? Ibunda tidak menangis, kok," jawabnya dengan senyum menipu.
Si pria kecil menatapnya tajam. "Apa ayahanda menyakiti Ibunda lagi?" tanyanya kemudian.
Pertanyaan yang dilontarkannya cukup membuatnya terkejut. Dia memalingkan wajahnya dan menjawab, "tidak, ayahanda bersikap baik akhir-akhir ini. Lin Jian jangan terlalu mengkhawatirkan hal itu, ya."
Tak lama, seorang pelayan pria datang menjemput Lin Jian kecil untuk melanjutkan berlatih pedangnya. Sebelum ia pergi, dia memeluk ibunya terlebih dahulu.
"Ibunda jangan bersedih lagi. Lin Jian akan berusaha menjadi pria yang kuat untuk melindungi Ibunda kelak. Tunggu sampai waktu itu tiba, aku tidak akan membiarkan ayahanda menyakiti Ibunda lagi."
Mendengar hal itu ibu hanya menganggukkan kepala sambil memasang senyum. "Sekarang, pergilah. Lin Jian harus menjadi pangeran yang sangat kuat! Maka dengan itu Ibunda akan merasa tenang dan bahagia."
Lin Jian menganggukkan kepala, kemudian pergi bersama pelayan yang menjemputnya.
Setelah kepergian putranya, ibu kembali menangis dengan kedua tangan menutupi mulutnya agar tidak bersuara.
"Maafkan Ibunda, Lin Jian. Maaf ...."
Hari berganti.
Lin Jian kembali mengunjungi kediaman ibundanya. Sayangnya, dia sudah tak mendapatinya di sana. Bahkan barang-barang milik ibundanya pun tidak ada.
Ia berlari sambil menangis, menemui ayah Kaisar berharap dia bisa mendapatkan jawaban dari menghilangnya ibunya. Akan tetapi, ayah Kaisar malah memperkenalkan seorang wanita padanya.
"Lin Jian, lihatlah. Dia adalah ibu kandungmu yang sebenarnya. Ayo, beri salam padanya." Ia adalah wanita yang kini dikenal banyak orang dengan sebutan Permaisuri.
Lin Jian pun membuka matanya. Ia melihat langit-langit kamar Yunza lalu bangun dan duduk. "Aku memimpikan hal itu lagi," ucapnya sambil menyentuhkan tangannya ke kepala.
Dia menggertakkan giginya. "Ibunda, aku berjanji akan menemukanmu. Setelah itu, akan kucabik-cabik orang yang sudah menyakitimu!" batinnya dengan kedua mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Tidak terasa, air mata pun menetes. Saat itu, sesosok wanita muncul di hadapan Lin Jian dan menyeka air matanya menggunakan lap tangan. Alangkah terkejutnya Lin Jian saat mengetahuinya.
"I ... Ibunda," ucapnya pada sosok yang benar-benar mirip dengan ibundanya tersebut.
"Heh! Ternyata pangeran kedua yang terkenal sangat kejam dan tidak berperasaan bisa meneteskan air mata juga." Sosok itu perlahan berubah menjadi sosok Yunza.
Menyadari hal itu, bukannya malu Lin Jian malah memeluk Yunza. "Hei! Lepaskan!" Yunza mendorong tubuh Lin Jian sekuat tenaga.
"Biarkan seperti ini, sebentar saja," pintanya.
Yunza terkejut mendengarnya. Suara gemetar Lin Jian meluluhkan hatinya kemudian dia berhenti mendorongnya. "Mengapa dia bisa sesedih ini? Padahal dia orangnya menyebalkan. Lalu, kenapa dia memanggilku 'Ibunda' tadi? Bukankah ibunya adalah Permaisuri?" batinnya.
Sementara itu, di kamar Chen Su.
Dia duduk dengan kesal sambil mengetuk-ngetukan jarinya ke atas meja. "Aku tidak percaya, dia bisa membalikkan keadaan dan mengambil perhatian dari Pangeran kedua! Shen Yun Ja, sepertinya aku tidak boleh meremehkanmu," gumamnya.
Lalu Chen Su menaruh tangannya di dagu. "Tidak bisa! Aku harus bisa mengalahkannya terutama mengambil perhatian Pangeran kedua! Aku harus pikirkan caranya. Cara agar Pangeran kedua membencinya," sambungnya.
Setelah lama berpikir, dia pun menemukan sebuah ide. "Membuat Pangeran kedua membencinya? Sepertinya aku tahu apa yang harus aku lakukan!"
Ia pergi ke pasar dan setelah beberapa saat, langkahnya terhenti di toko Bei Fanrong. Di depan pintu, dia menoleh ke sana kemari untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang memerhatikannya. Setelah itu, barulah masuk ke dalam toko.
Di sana ia bertemu dengan pemilik toko, tuan Bei. "Apa kau memerlukan sesuatu?" tanya tuan Bei padanya.
"Paman, aku ingin membeli obat p*rangsang," ucap Chen Su dengan suara pelan dan terus berwaspada.
Kendati memberikan apa yang dimintanya, tuan Bei membungkuk dan berusaha mengintip wajah dibalik kain tersebut. "Apakah kau ... salah satu kontestan pemilihan selir Pangeran kedua?" tanyanya.
Chen Su yang mendengar hal itu amat terkejut. Dia mendongakkan kepalanya. Saat melihat wajah tuan Bei barulah menyadari sesuatu. "Anda ... paman dari gadis itu, kan?" tanyanya balik.
Tuan Bei tak menjawab dan hanya memasang wajah tidak suka saat Chen Su membahas hal itu. Melihat hal itu, ide jahat kembali muncul di kepala Chen Su.
"Keponakannya didiskualifikasi dan diusir dari istana secara tidak hormat. Belum sampai di situ, dia bahkan di kirim ke pengasingan di pinggir perbatasan. Atas semua yang sudah terjadi, seharusnya dia menyimpan dendam untuk Shen Yun Ja." Chen Su mengukir senyum.
__ADS_1
"Aku sudah menjadi selir Pangeran kedua sekarang. Namun aku benar-benar dibuat tidak tahan oleh perilaku jahat Permaisuri yang selalu menyudutkanku." Ia memasang wajah sedih.
"Putri dari negara Long itu?" tanya tuan Bei.
"Benar. Aku benar-benar sudah tidak kuat dan putus asa. Aku pun melakukan hal nekat dengan berniat memberikan obat itu padanya. Aku hanya ingin membela diriku saja." Dia berakting menangis.
Melihat hal itu, tumbuhlah rasa iba bersamaan dengan rasa benci kepada Yunza. Tuan Bei menepuk pundaknya lalu berkata, "kau jangan khawatir, aku akan membantumu."
"Berhasil!" batin Chen Su.
Tuan Bei kemudian pergi mengambil obat yang diminta Chen Su. Tak berselang lama, dia kembali sambil membawa obat tersebut.
"Ini adalah obat dengan dosis tinggi. Aku jamin dia tidak akan lepas dengan mudah," ucap tuan Bei sambil memberikan obat tersebut.
Chen Su menerima obat tersebut sambil tersenyum. "Shen Yun Ja, kau tidak akan lepas dari genggamanku kali ini. Lihat bagaimana aku akan membuat Pangeran kedua membencimu!" batinnya.
"Apa kau butuh sesuatu lagi? Katakan saja!" ujar tuan Bei.
Chen Su menoleh ke arahnya lalu bertanya, "apa paman mempunyai seorang budak pria yang kumuh dan jelek?"
Tuan Bei menaruh tangan di dagu. "Budak kumuh dan jelek?" gumamnya. "Ah! Tunggu sebentar," lanjutnya kemudian pergi dari hadapan Chen Su.
"Akhirnya aku tidak perlu repot-repot mengurusnya. Tinggal menyusun rencana dan menjalankannya nanti nanti malam. Dan setelah malam ini. Shen Yun Ja! Kau kalah!" katanya dalam hati.
Beberapa saat kemudian tuan Bei kembali dengan seorang pria yang berpakaian compang-camping dan berwajah buruk rupa. Aromanya sangat busuk sampai dia harus menutup hidung dengan tangannya.
"Apa ini sudah cukup?" tanya tuan Bei.
Chen Su memandang dari bawah ke atas dan sebaliknya. Lalu menganggukkan kepalanya sambil berkata, "iya, iya."
"Paman, kalau begitu aku pinjam dia, ya," sambungnya.
Tuan Bei mendorong pria jelek itu. "Iya, bawa saja pergi. Obat ini juga tidak perlu bayar. Pokoknya kau harus membalas wanita itu dengan kejam! Agar tidak ada wanita lain seperti keponakanku lagi karena ulahnya."
__ADS_1
"Tentu saja." Chen Su dan pria itu pun pergi dari toko.