Not Idiot Princess

Not Idiot Princess
Kecurigaan Kaisar


__ADS_3

Di penginapan, Yunza tidur terlentang dengan perut yang terus berbunyi. "Sudah beberapa waktu berlalu, kenapa Lin Jian belum kembali juga? Aku sudah lapar sekali," gumamnya sambil mengelus perut.


Tiba-tiba, Yunza bangun terduduk. "Kenapa aku harus menunggunya pulang sedangkan aku bisa pergi sendiri untuk mencari makan? Yosh, ayo kita pergi. Sekalian menikmati pemandangan menakjubkan di desa ini."


Yunza turun dari tempat tidur, kemudian memakai pakaian luar yang dilapisi mantel tebal. Setelah, itu dia pergi meninggalkan kamar.


Pemandangan malam hari terlihat lebih indah dari pada saat dia tiba di sana sebelumnya. Banyak sekali orang berlalu lalang membuat kebisingan namun tak terdengar menyakitkan di telinga.


"Andai Mi Anra ada di sini, dia pasti akan merasa sangat senang. Entah bagaimana keadaannya saat ini. Apa saat tidak ada aku dia baik-baik saja?" Dia bergumam.


Salahnya melamun di tempat ramai, sampai akhirnya seseorang menabrak dirinya dan membuatnya hampir terjatuh. "Hei!" Yunza menegur orang tersebut namun dia malah pergi begitu saja.


Saat dia memeriksa pakaiannya, ternyata kantong berisi uangnya telah hilang dicuri. Yunza menoleh ke arah orang yang menabraknya tadi, namun dia sudah menghilang dari pandangan.


Dia pun mengejar dan berusaha menemukannya. "Itu uang Lin Jian. Jika aku menghilangkannya, bukan hanya tidak bisa makan beberapa hari, tapi dia juga akan menghukumku semalaman!"


Ditengah kegelisahannya, dia kembali bertabrakan dengan seseorang. Namun kali ini yang menabraknya ternyata adalah Lin Jian. "Apa yang kau lakukam di sini, Yunza? Mengapa tidak menungguku di kamar saja?" tanyanya.


Yunza langsung mencengkram tangan Lin Jian. "Itu tidak penting. Lin Jian, seseorang mencuri uangku tadi," ucap Yunza dengan cemas.


Mendengar hal itu, Lin Jian lantas mengernyitkan dahinya. "Tunggu aku di sini. Aku akan mencari pencuri tersebut dan mengambil kembali uangmu." Setelah mengatakan hal itu, Lin Jian pun pergi.


Dengan patuh Yunza menuruti ucapannya, tak bergerak sedikit pun dari posisinya dan setia menunggu Lin Jian kembali.


Beberapa saat kemudian, Lin Jian pun kembali. Dia menepati janjinya dan memberikan kantong uang kepada Yunza. Namun, tak sengaja Yunza melihat punggung tangan suaminya terdapat sebuah luka.


"Apa kau berkelahi dengannya?" tanyanya.


"Benar. Aku memberinya pelajaran. Mencuri juga harus melihat dulu siapa suaminya. Ayo, kita cari makan," ajaknya. Penuturan Lin Jian barusan membuat Yunza senyam senyum sendiri.


"Eh, tunggu dulu. Kau sudah pergi begitu lama katanya ingin belikan makanan, kenapa sekarang malah mengajak makan?" tanya Yunza.


"Oh. Tadi tidak sengaja melewati sebuah rumah bordil, dan mampir terlebih dahulu---"


"Lin Jian!"

__ADS_1


"Hahaha, aku hanya becanda. Baiklah, aku sudah sangat lapar. Aku harap nanti malam bisa mendapatkan hidangan spesial."


"Jangan harap!"


Mereka memasuki sebuah kedai makanan dan memesan banyak makanan. Setelah itu pergi jalan-jalan dan membeli banyak camilan dan manisan. Melihat Yunza sangat menikmati hal tersebut membuat Lin Jian senang.


Namun tiba-tiba, di kepalanya terbesit sebuah tanya. "Bagaimana jika suatu saat nanti, aku dihadapkan dengan dua pilihan. Negaraku, atau istriku. Apa yang akan aku pilih?" batinnya.


"Lin Jian, beli boneka ini untuk Mi Anra dan pangeran Lin He, ya." Yunza menunjuk sebuah boneka yang dijual di pinggir jalan. Lin Jian pun mengijinkannya dengan sebuah anggukkan.


Ketika Yunza sibuk membeli boneka, dia melihat pedangan yang menjual perhiasan. Dia pun menghampirinya dan melihat-lihat.


"Apa yang kau butuhkan, Tuan?" tanya si pedagang.


"Apa perhiasan yang paling disukai wanita? Berikan padaku!" pinta Lin Jian.


"Wanita sangat menyukai sebuah kalung. Tunggu sebentar, aku memiliki kalung yang sangat bagus dan satu-satunya di benua ini." Pedagang masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil kalung tersebut.


Beberapa saat kemudian, dia kembali dengan sebuah kotak kayu. Saat kotak kayu dibuka, terlihatlah sebuah kalung yang sangat cantik dengan permata berwarna merah zamrud.


"Berapa harganya? Bungkus untukku," ucap Lin Jian.


"Tidak mahal, hanya 1 tael emas saja."


Kemudian, Lin Jian melemparkan dua tael emas kepada pedagang tersebut. Dia pun pergi membawa kalung tersebut namun menyembunyikannya saat hendak menemui Yunza.


Setelah puas menikmatinya, mereka pun kembali ke penginapan. Di sana, kendati memberikan kalung tersebut Lin Jian malah tetap menyimpannya. "Aku akan mencari waktu yang tepat untuk memberikannya."


Lin Jian duduk termenung di tepi ranjang tidur. Dia teringat kejadian saat mengejar pencuri yang mencuri uang Yunza. Tiba-tiba saja orang itu berkata, "jika kau ingin mengetahui tentang Mu Jiangyu, tanyakan pada ayahmu sendiri!"


Dia kemudian menaruh tangannya di dagu. "Siapa orang itu? Apa dia mengenal ibunda?" batinnya bertanya-tanya.


"Lin Jian." Tiba-tiba Yunza duduk di kedua paha Lin Jian sambil memanggil namanya. "Apa benar kau pergi ke rumah bordil tadi?" tanyanya sambil cemberut.


Lin Jian mengukir senyum iblis, lalu bertanya, "apa istriku sedang cemburu?"

__ADS_1


"Aku tidak cemburu! Hanya saja, aku menunggumu sampai kelaparan tadi. Tapi apa yang kau lakukan? Kau malah bersenang-senang dengan wanita lain!" omel Yunza.


"Iya, aku minta maaf," ucap Lin Jian.


Tak lama, Yunza beranjak dari paha Lin Jian. "Sudahlah, aku sangat lelah dan ingin tidur." Ia hendak melepaskan pakaiannya namun Lin Jian keburu menariknya jatuh ke atas kasur.


"Kenapa buru-buru sekali? Bukankah makanan penutupnya belum dinikmati?" tanyanya.


"Oh, apa wanita-wanita itu tidak bisa membuatmu puas?" tanya balik Yunza.


Lin Jian mencium dada Yunza sambil berkata, "hanya Yunza yang bisa membuatku sangat puas."


Di negara Hou.


Tok tok tok!


Seseorang mengetuk pintu ruangan pribadi Kaisar. Kemudian, masuklah seseorang lalu berlutut di hadapannya dan memberi salam. Kepadanya Kaisar bertanya, "bagaimana? Apa sudah ditemukan?"


"Ijin menjawab, Yang Mulia. Kami sudah memeriksa ke dasar jurang, namun jasad putra mahkota tidak jua ditemukan. Kemungkinan, jasadnya sudah dimangsa binatang buas---"


"Tidak! Itu tidaklah mungkin," sangkal Kaisar. "Bagaimanapun, pasti ada jejak yang ditinggalkan namun ini tidak ada sama sekali," lanjutnya.


"Hamba juga berpikir demikian. Apa mungkin ada orang yang sengaja membuat drama putera mahkota seolah-olah tewas oleh bandit?" tanya orang tersebut.


Kaisar terdiam. Tak berapa lama dia berkata, "cari kelompok bandit yang menghadang putera mahkota. Jika perlu, seret ketua mereka ke hadapanku. Aku ingin tahu siapa yang berada di balik semua ini."


"Baik, Yang Mulia." Orang itu pun pergi.


Kaisar menekuk tangannya lalu menyanggah dagu. "Pertama, seseorang yang mencuri gulungan. Meski aku sudah membunuhnya namun hati berkata masih ada orang lain di belakangnya. Kemudian berita kematian Lin Yu. Ini pasti bukan hanya sekedar kebetulan," gumam Kaisar.


"Tapi, siapa yang bisa melakukannya dengan sangat baik seperti ini?" Dia menerka-nerka sambil mengingat satu persatu orang.


"Apa mungkin ... gadis bodoh itu? Tapi, bagaimana bisa?"


"Ataukah ... Pangeran negeri seberang, Yu Qin?"

__ADS_1


__ADS_2