Not Idiot Princess

Not Idiot Princess
Mi Anra Jangan Pergi


__ADS_3

"Sekarang, sudah bisa turunkan aku," ucap Yunza.


Lin Jian menjawab dengan sebuah lirikan tajam berwajahkan datar. Tak sengaja sepasang matanya melihat dua buah gunung kembar yang tercetak jelas dibalik pakaian basah Yunza. Dia pun memalingkan wajahnya dengan kedua pipi memerah.


Awalnya Yunza bingung dengan sikap Lin Jian tersebut, sampai akhirnya dia melirik ke arah suaminya melihat. Betapa terkejutnya dia dan langsung menutupnya dengan kedua tangan.


"Dasar mesum!" serangnya. Keduanya pun terdiam.


Tak berapa lama, tibalah mereka di kamar Yunza. Dia meletakkan Yunza di kursi kemudian berdiri di depannya dan bertanya, "dimana kotak obat dari tabib?"


Yunza menyerengit. "Untuk apa? Aku bisa mengganti perbannya sendiri," sungutnya.


Lin Jian tak mengatakan apapun dan lebih memilih mencarinya sendiri. Yunza hanya bisa cemberut, lalu ia menoleh ke sana kemari mencari sesuatu. "Dimana Mi Anra?" batinnya.


"Oh, iya. Surat yang aku kirim ke kak Han Xi seharusnya sudah sampai, kan? Dengan kecepatan burung itu, seharusnya sudah ada balasannya," gumamnya dalam lamunan.


Tak disadari Lin Jian telah berada di hadapannya. Dia berlutut di depan Yunza dengan kotak obat yang berhasil ditemukannya. Saat hendak menyentuh kakinya, Yunza malah menghentikan.


"Aku bisa menggantinya sendiri!" kata Yunza.


Lin Jian mengabaikan ucapannya dan malah memanggil Wang Xi. Suara Wang Xi pun terdengar di luar pintu kamar, kemudian Lin Jian berkata, "ambilkan pakaian ganti untukku ke sini."


Yunza membelakkan matanya. "Kau ... hendak berganti pakaian di sini?"


"Benar, lalu kenapa? Apa aku tidak boleh berganti pakaian di kamar Permaisuriku?" tanyanya sambil fokus mengobati kaki Yunza.


"Kau punya kamarmu sendiri. Mengapa harus berganti pakaian di kamar orang lain?"


"Semua tempat di sini adalah milikku. Aku berganti pakaian di mana pun tidak ada urusannya denganmu. Aku pernah mengatakan hal ini tiga kali apa kau bodoh sampai menjadi pikun?" cemoohnya.


"Sialan!" batin Yunza sambil menahan emosi.


Tak lama dia teringat sesuatu lalu berkata, "kalau begitu kenapa tidak di kamar Selir barumu saja? Bukankah kalian sudah melewatkan malam penuh gairah bersama-sama?"


Mendengar hal itu, Lin Jian menengadahkan kepalanya. Kemudian dia tersenyum dan berkata, "kenapa, apa kau cemburu?" tanyanya.


Raut wajah jijik pun ditunjukkan Yunza. "Cemburu? Haha, yang benar saja," ucapnya sambil memalingkan wajah.


Ia berpikir, "apa aku sungguhan cemburu? Saat mendengar cerita Chen Su aku memang sedikit merasa kesal. Tapi itu bukan berarti cemburu, kan?" batinnya.


Keadaan menjadi hening.

__ADS_1


"Selesai," ucap Lin Jian sambil berdiri. Bersamaan dengan itu, Wang Xi datang membawakan pakaian ganti Lin Jian.


"Pergilah, Wang Xi. Biar Permaisuri yang membantuku memakai pakaian."


Sepasang mata Yunza langsung melotot sempurna. Ia terkejut sampai jantungnya terasa mau copot. "Hei, kau becanda, kan?" tanyanya.


Lin Jian tetiba mencekal tangan Yunza. "Aku tidak becanda. Salah satu kewajiban istri memang membantu suami mengganti pakaian," ujarnya.


Yunza menepis tangannya lalu berdiri. "Aku tidak mau!" Ia menolak kemudian berjalan menuju lemari pakaian. Mengambil beberapa helai pakaiannya lalu pergi ke dalam bilik untuk berganti pakaian sendiri.


Lin Jian yang melihat itu tak memiliki pilihan lain selain memakai pakaiannya sendiri.


Beberapa saat kemudian, Yunza selesai berganti pakaian. Saat kembali, dia melihat Lin Jian sudah berbaring di tempat tidur dengan kedua mata terpejam.


"Apa-apaan, sih!" Dia mendengus kesal dan memilih untuk pergi dari kamarnya.


Di luar, dia dikejutkan oleh keberadaan Wang Xi. Wang Xi bertanya, "Pangeran kedua---"


Akan tetapi Yunza langsung menyerobot. "Dia tidur di dalam! Tch, menyebalkan sekali," sungut Yunza.


"Akhir-akhir ini banyak yang harus pangeran kedua urus, itu membuatnya gampang merasa lelah. Aku harap, Permaisuri tidak merasa keberatan jika tuan menumpang tidur sebentar," ucap Wang Xi.


"Bukankah ada kamar Selir kesayangannya? Kenapa tidak tidur di sana saja!" Ia menggerutu sampai akhirnya melangkah pergi.


Di koridor, Yunza berjalan dengan langkah cepat.


"Aku meminta Mi Anra membersihkan kamar tadi pagi. Sekarang, entah dia pergi kemana." Yunza menoleh ke sana kemari mencarinya.


Tak berselang lama, seseorang memanggilnya dari arah belakang. Ketika menoleh, Yunza mendapati Gu Rong berjalan ke arahnya.


"Gu Rong, ada apa?" tanya Yunza.


Gu Rong menghampirinya sambil berkata, "aku menemukan seekor burung dengan surat di kakinya. Satu surat merupakan surat balasan untuk Nona, yang satunya lagi untukku dari pangeran kedua, Han Xi." Dia menyerahkan surat milik Yunza.


Yunza menerima surat tersebut lalu bertanya, "baiklah, Gu Rong. Mengenai masalah ini, kau pasti sudah tahu, bukan? Lalu, bagaimana pendapatmu?"


"Aku ... menolak!" ucapnya dengan tegas.


Yunza mengernyitkan dahinya. "Kenapa? Gu Rong, Mi Anra adalah wanita baik-baik. Aku tahu ini mungkin terlalu mendadak, tapi kau bisa memikirkannya lagi dan memberikan jawabannya nanti," ucap Yunza.


Mendengar hal itu, Gu Rong memalingkan pandangannya. "Semenjak aku memasuki istana dan menjadi pelayan pangeran kedua, aku sudah mendedikasikan hidupku hanya untuk melayaninya saja. Tak sedikit pun terlintas perihal sebuah pernikahan di benakku," ucap Gu Rong.

__ADS_1


"Jika benar begitu, kau seharusnya tidak menolak permintaan kakakku, kan?"


"Seharusnya mungkin begitu. Tapi ini bukan perintah langsung darinya melainkan berdasarkan permintaan Nona. Nona kedua, aku ... minta maaf." Gu Rong membalikkan tubuhnya kemudian pergi begitu saja.


Yunza terdiam meratapi kepergian Gu Rong. Dalam hati dia merasa bersalah dan bertanya, "apa aku terlalu berlebihan? Mengenai pernikahan, apa aku sudah terlalu ikut campur dan sewenang-wenang?"


Dia kemudian menoleh ke belakang. "Apa Mi Anra sudah mengetahui tentang hal ini?" Kemudian kembali melanjutkan langkah kakinya.


Di kamar pelayan, Mi Anra duduk melamun. Sikap Gu Rong benar-benar membuat hati dan pikirannya tidak tenang.


"Mungkin untuk sementara waktu, aku pergi dulu dari istana. Ya! Aku akan meminta ijin untuk mengunjungi makam Su Li kepada Nona. Dia pasti akan memberi ijin," gumamnya.


Dia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri lemari kecil di samping tempat tidurnya. Sebuah kain dibentangkan di lantai dan dia mulai mengeluarkan pakaiannya.


Namun tak lama, Yunza datang. Dia yang melihat hal itu sangat terkejut kemudian mendekat sambil bertanya, "apa kau akan meninggalkanku?" tanyanya.


Suara Yunza telah mengejutkan Mi Anra. Dia menoleh secara perlahan dan menjawab, "N-nona. Ini ... tidak, kok. Itu ... sebenarnya ada yang ingin aku katakan." Dia berdiri dan berhadapan dengan Yunza.


"Mi Anra."


Mi Anra menarik tangan Yunza kemudian mereka duduk di tepi ranjang tidur. "Nona, sudah lama sekali sejak terakhir kali aku mengunjungi makam Su Li. Aku hendak meminta ijin, beberapa hari ini aku ingin tinggal di rumah lamaku dulu untuk mengenang kenangan bersama Su Li," ucap Mi Anra.


Yunza tahu pelayan yang sudah dianggapnya sebagai saudari itu tengah menyembunyikan sesuatu darinya. "Ini semua salahku. Aku menempatkannya dalam situasi sulit karena keegoisanku," batin Yunza.


"Aku harap, Nona memberiku ijin," sambung Mi Anra.


Yunza menghela napas kasar, menatapnya sayu dan bertanya, "apa kau tega meninggalkanku saat kakiku sakit seperti ini? Siapa yang akan membantuku menyiapkan air hangat untuk mandi nanti?"


Mi Anra menoleh. "I-itu ... aku akan meminta pelayan lain untuk melakukannya," jawabnya.


Yunza memalingkan pandangannya. "Tapi mereka mungkin akan menindasku. Terlebih sekarang ada beberapa selir yang tidak menyukaiku, aku tidak bisa melawannya sendirian."


Mendengar hal itu Mi Anra terdiam. "Apa aku terlalu egois dan tidak memikirkan perasaan Nona? Bagaimana pun aku sudah berjanji untuk setia melayaninya. Aku juga ... aku tidak menyukai tuan Gu Rong. Lalu kenapa aku harus kacau seperti ini hanya karenanya dan membuat Nona sedih?" batinnya.


"Dan juga ... Mi Anra, apa kau tahu. Si serigala itu semakin hari semakin tidak sopan saja padaku. Hari ini dia sudah menginvasi tempat tidurku dengan sangat kejam!"


Mi Anra tertawa mendengar curhatan Yunza. Yunza yang melihatnya merasa senang. "Mungkin begini rasanya mempunyai saudari kandung. Bisa curhat dan berbagi banyak hal," batinnya.


Yunza kemudian memeluk Mi Anra yang sedang tertawa, lalu berkata, "Mi Anra, jangan pergi, ya."


"Baiklah, baiklah. Aku lebih tidak tega jika harus membiarkan Nona ditindas oleh serigala itu." Keduanya kemudian tertawa bersama.

__ADS_1


"Aku tidak akan memaksa lagi. Apapun yang mereka pilih, terutama Mi Anra, aku akan mendukungnya sepenuh hati," batin Yunza.


__ADS_2