Not Idiot Princess

Not Idiot Princess
Penyambutan Yu Qin


__ADS_3

Malam hari, di tempat penjamuan.


Sebuah tempat yang didekorasi khusus oleh Kaisar untuk menyambut kedatangan Yu Qin di negara Hou. Di tempat itu terdapat satu meja untuk kaisar, dan beberapa pasang meja yang disediakan untuk anggota keluarga kerajaan, Yu Qin, serta Zhou Fu dari negara Bei Xinxia.


Posisi tempat duduk kaisar berada di depan, sedangkan yang lainnya berada di kedua sisi yakni kiri dan kanan. Para pria duduk di sebelah kiri sedangkan wanita di sebelah kanan.


Sedangkan bagian tengah akan digunakan untuk panggung para penari. Mereka duduk beralaskan sebuah bantal dengan posisi duduk seperti orang-orang Jepang.


Shenshen duduk di sebelah Permaisuri. Sedari tadi dia terus menggerutu dalam hatinya sambil sesekali menatap Yunza dengan tatapan kebencian.


"Selama hidupku, aku tidak pernah mendapatkan penghinaan seperti ini! Tapi Shen Yun Ja, kau ternyata orang yang cukup berani!" Dia menggertakkan giginya sambil mengepalkan tangan.


"Kenapa aku merasa ... hidungku menangkap suatu aroma yang tidak sedap di sini. Shenshen, kau juga menciumnya, kan?" Perkataan Permaisuri di sampingnya membuat Shenshen terkejut.


Ia menjadi gelapan dan menjawab, "b-bau apa, Ibunda? A-aku tidak cium apa-apa, kok." Dengan terbata-bata.


"Benarkah tidak mencium bau tidak sedap? Apa Indra penciumanku yang bermasalah?" tanya Permaisuri sambil mengendus-endus lagi. Shenshen tak menjawab dan hanya diam.


"Awas saja kau, Shen Yun Ja. Aku akan membalasnya dua kali lipat!" ancamnya dalam hati.


Sementara itu. Yunza tengah asyik melamun sambil menatap Yu Qin. "Jelas sekali, Yu Qin dan Lin Yu memiliki beberapa kemiripan. Apa mungkin mereka orang yang sama? Tapi, bukannya Lin Yu itu cacat?" batinnya.


"Ah, tidak mungkin. Dalam cerita, Yu Qin dan Lin Yu adalah dua orang yang berbeda. Itu mungkin hanya perasaanku saja." Yunza menggeleng-gelengkan kepalanya sambil bergumam dalam hati.


"Sekarang, adalah bagaimana caranya agar aku bisa menemuinya secara pribadi dan memintanya membatalkan kerja sama dengan negara Hou. Meski aku tahu, itu tidak mudah untuk dilakukan," gumamnya lagi.


Tiba-tiba, terdengar suara lonceng kaki dari sebuah pintu. Para penari sudah siap memasuki tempat dan acara akan segera dimulai.


Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan masuklah seorang kontestan dengan penari pendukung di belakangnya. Musik pun diputar dengan judul 'Sepasang Angsa'.

__ADS_1


Lenggak-lenggok mereka menari ke sana kemari dengan diiringi bunyi lonceng yang berirama. Lekuk tubuh yang gemah gemulai menjadi pemandangan yang indah di mata serta bau parfum yang wanginya hampir memenuhi semua sudut ruangan tersebut.


Setelah kontestan itu selesai menari, disambung kontestan lainnya yang gerakan tariannya tak kalah bagusnya. Hal itu cukup memberi muka kepada Kaisar di hadapan Yu Qin.


Sampai akhirnya, kontestan terakhir tiba di tempat tersebut dengan para penari pendukungnya, dialah Chen Su dan kawan-kawan.


Ia berpakaian seksi dengan baju tanpa lengan dan rok yang memiliki belahan yang sangat tinggi di sebelah pinggir. Dia juga memakai cadar berwarna merah yang menutupi sebagian wajahnya yang dirias sedemikian rupa cantiknya.


Sebelum memulai tariannya, dia melihat ke arah Yunza dengan tatapan penuh kebencian. "Kejadian lebah di taman, pasti dia yang melakukannya. Dia juga membohongiku! Meski aku sudah meluluri tubuh dengan kotoran, tetap saja ada satu lebah yang menyengat bibirku! Awas saja kau!" sungutnya dalam hati.


Di sana, Kaisar dan Lin Jian saling menatap penuh arti. Tak lama Kaisar menganggukkan kepalanya perlahan, lalu memandang Chen Su dan berkata, "mulailah!"


Irama musik berjudul 'Teratai Bulan Purnama' pun mulai dilantunkan. Chen Su beserta penari lainnya mulai menari dengan indah dan penuh percaya diri.


"Tarian yang sangat erotis. Sedangkan lagu yang dibawakannya, 'Teratai Bulan Purnama' sendiri menceritakan tentang ibu dan anak. Tch! Benar-benar, deh," gumam Yunza.


Seperti apa yang dikatakan Yunza, tarian yang dibawakan oleh Chen Su memang benar-benar erotis. Hampir setiap gerakannya menunjukkan bagian tubuhnya yang cukup terbuka.


Sementara Yu Qin mengalihkan pandangannya pada Yunza. Ia menatap dengan tatapan sendu yang dibaliknya menyimpan sebuah perasaan yang amat dalam dan misterius. Siapapun yang melihatnya berpikir, dia pria yang sedang jatuh cinta.


"Shen Yun Ja, tunggu sampai waktunya tiba, aku akan membawamu pergi dari sini dengan tanganku sendiri. Dan kau akan menjadi satu-satunya wanita yang sangat aku cintai," gumamnya dalam lamunan.


Kejadian kelam masa lalu bermunculan di kepala Yu Qin sebagai potongan kisah tragis. Kehidupan dan kematian saling berdampingan, seperti sebuah mimpi yang amat nyata rasa sakitnya.


Kembali ke pertunjukan Chen Su. Dia merasa senang karena semua orang menikmati tariannya, namun cukup terganggu dengan sikap acuhnya Lin Jian.


Ia pun keluar dari formasi tarian dan berjalan ke arah Lin Jian dengan gerakan-gerakan yang mampu menggoncang iman.


Di hadapannya, Chen Su menatap Lin Jian dengan penuh perasaan yang memabukkan. Menyadari kehadirannya Lin Jian akhirnya membuka mata. Dia memasang wajah sedingin mungkin.

__ADS_1


Untuk mencairkan suasana, Chen Su mengulurkan tangannya dan mengambik botol minum kemudian menuangkan isinya ke dalam suatu gelas di depan Lin Jian.


"Pangeran kedua, silakan diminum." Ia begitu percaya diri menyodorkan gelas ke hadapan Lin Jian dengan tatapan yang masih sama.


Wajah masam pun terpasang, terpampang jelas di raut wajah Lin Jian. Di sisi lain dia tak bisa melupakan kesepakatannya dengan ayahandanya, yang akhirnya dia memilih menuruti perkataan Chen Su.


Lin Jian menggapai gelas dari tangan Chen Su dan langsung meneguknya habis dalam satu tegukan.


Chen Su kembali ke formasinya, melanjutkan tarian hingga selesai. Semua orang bertepuk tangan untuknya.


Semua peserta dipanggil ke tempat tersebut. Akan tetapi, Kaisar menunda pengumuman yang terpilih menjadi selir sampai esok hari tiba.


Acara yang singkat sekaligus sebagai penyambutan Yu Qin itu pun berakhir.


Tetiba, Chen Su berkata, "maaf atas kelancangan hamba, Yang Mulia. Hamba mewakili semua peserta hanya ingin mengutarakan keinginan, yaitu ingin melihat potensi dari apa yang dimiliki oleh Permaisuri pangeran kedua."


Semua orang terkejut mendengar ucapannya.


"Permaisuri pangeran kedua, maaf atas kelancanganku. Tapi sebagai penutupan, bisakah kami meminta Permaisuri pangeran kedua untuk menarikan sebuah tarian?"


"Lancang!" bentak Kaisar.


Chen Su gemetar dibuatnya. "Tidak boleh! Aku harus tetap membuatnya menari untuk mempermalukannya," gumamnya, kemudian dia menoleh ke arah Shenshen. "Bantu aku bicara!" Mungkin itu yang tersirat dari tatapannya.


Seperti melakukan telepati, Shenshen langsung mengerti arti tatapannya. Kemudian dia berkata, "apa yang dikatakannya benar, Ayahanda. Tidak ada salahnya jika Permaisuri menari beberapa gerakan untuk kami sebagai salam perkenalan. Mungkin ... Tuan Yu Qin juga menginginkan hal yang sama."


Ia tersenyum ke arah Yu Qin namun langsung mendapatkan balasan dengan sikap dingin yang ditunjukkan. Shenshen terkejut dan menjadi kesal karenanya.


Namun, apa yang dikatakan Yu Qin kemudian membuat ia senang. "Benar, Kaisar Lin. Namun, kembali ke keputusan dari Permaisuri. Aku tentu tidak akan memaksa."

__ADS_1


Semua orang terdiam menunggu keputusan Yunza. Melihat Shenshen dan Chen Su yang begitu ingin menjatuhkannya tentu ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Baiklah."


__ADS_2