
Semua orang ikut terpana melihatnya. Yunza yang muncul di hadapan mereka saat itu seperti sosok asing tak dikenali. Wajahnya sangat cantik dan tubuhnya begitu indah.
Tak lama, dia melangkahkan kakinya masuk. Lonceng kaki terdengar berirama bersamaan dengan semerbak bau parfum tercium di hidung mereka.
Lin Jian yang melihat hal itu lantas mengernyitkan dahinya dengan tatapan tajam nan dingin. "Apa yang dikenakannya? Apa urat malunya sudah putus?" gumamya dalam hati.
Setibanya di depan mereka, Yunza memberi salam terlebih dahulu. Sebelum akhirnya irama berdentum, tarian pun mulai Yunza lakukan.
Lagu yang dipilihnya sama dengan lagu yang dipilih Chen Su, yakni 'Teratai Bulan Purnama' namun dengan tarian yang berbeda.
Berbeda dari tarian Chen Su yang didominasi dengan tarian erotis, tarian yang dibawakan Yunza lebih ringan dan berpusat pada kedua tangan. Gerakkannya lembut dan senada dengan lagu, juga terdapat unsur-unsur yang berhubungan dengan lagu tersebut.
"Lihat bagaimana aku memadukan tarian kuno dengan tarian KPop," gumamnya dalam hati.
Chen Su yang melihat semua berjalan tak sesuai rencananya hanya bisa menggigit jari. "Heh! Untung aku sudah siapkan rencana kedua." Senyum seringai terukir di bibirnya.
Ia terus memandangi sepatu yang dikenakan Yunza. "Aku mengenal pengrajin sepatu langganan keluarga kerajaan, kemudian memintanya membuat model sepatu yang kuinginkan. Sekarang, lihat bagaimana itu akan menyakitimu."
Tepat setelah itu, Yunza berteriak kesakitan lalu terjatuh ditengah tariannya. Semua orang terkejut melihatnya.
Yu Qin melihat ada yang tidak beres dengan kaki Yunza. Dengan wajah khawatir dia berdiri hendak menghampiri Yunza. Akan tetapi ia didahului oleh Lin Jian.
Lin Jian berdiri dari tempat duduknya, lalu menghampiri Yunza sambil melepas pakaian luarnya. Ia berjalan dengan langkah cepat. Saat tiba di hadapannya, dia langsung menutup tubuh Yunza dengan pakaiannya lalu menggendongnya.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Yunza.
"Diam!"
Lin Jian membalikkan tubuhnya kemudian memberi hormat pada ayahnya dan yang lainnya. "Aku minta maaf karena mungkin Permaisuriku tidak bisa melanjutkan tariannya lagi. Aku permisi."
Setelah mengatakan hal itu, Lin Jian melangkah pergi sambil membawa Yunza dalam pelukannya.
Zhou Fu yang melihat hal itu tersenyum, dalam hati ia bergumam, "apa gunung es itu sudah meleleh?"
Lain halnya dengan Yu Qin. Ia menatap tajam sambil mengepalkan tangannya.
Darah menetes menjadi jejak perjalanan Lin Jian membawa Yunza ke kamarnya. Mendapatkan perlakuan seperti itu, Yunza terus meronta ingin Lin Jian menurunkannya.
"Turunkan aku! Aku bisa berjalan sendiri!"
"Shen Yun Ja, aku ingat aku pernah memperingatkanmu untuk tidak mempermalukanku di depan umum. Sekarang, apa yang sudah kau lakukan?" tanyanya.
__ADS_1
"Aku tidak merasa sudah mempermalukanmu. Hentikan omong kosongmu dan turunkan aku!" Ia terus meronta-ronta.
Namun, semakin meronta Lin Jian malah semakin erat menggendongnya. Ia baru menyadari bahwa kaki Yunza terluka dan sedari tadi mengeluarkan darah.
"Wang Xi!" serunya. Wang Xi pun muncul.
"Hamba di sini, Yang Mulia," balasnya.
"Bawa tabib ke kamar Permaisuri, dan minta seseorang membersihkan darah yang bercucuran di lantai," perintahnya.
"Hamba mengerti, Yang Mulia." Setelah itu dia pergi.
Di kamar, beberapa saat kemudian. Tabib memeriksa kaki Yunza dan mendapati sesuatu menancap di tumit kakinya. Hal itu membuatnya sangat terkejut.
"Ada apa? Kenapa tidak segera mengobati kakinya?" tanya Lin Jian.
"Ampun, Pangeran kedua. Terdapat suatu benda menancap di tumit Permaisuri. Sebelum mengobatinya, hamba harus mengeluarkan benda tersebut terlebih dahulu. Akan tetapi ... mengeluarkannya mungkin akan sangat menyakitkan," jelas tabib.
Raut wajah Yunza berubah menjadi pucat pasi. Ia tahu bahwa benda seperti paku menancap di kakinya dan tidak terbayang bagaimana rasa sakit saat mengeluarkannya.
"Di dunia kuno ini tidak ada obat untuk menghilangkan rasa sakit seperti di dunia modernku. Apa aku bisa menahannya," gumam Yunza.
Ia sudah merasa ngeri hanya dengan membayangkannya saja. Ditengah ketakutannya, Lin Jian menghampiri dan duduk di sampingnya.
Tabib terkejut mendengarnya. "T-tapi ...." Ia ragu dan menatap Yunza.
"Lakukan apa yang dikatakannya," ucap Yunza.
"Baik," balas Tabib.
Sementara Tabib menyiapkan peralatan dan obat-obatan. Lin Jian tetiba menarik tubuh Yunza dan membenamkannya dalam pelukannya. Ia memahami betul ketakutan wanita di hadapannya itu.
Sesaat kemudian, Tabib dan asistennya mulai mengeluarkan benda itu dari kaki Yunza. Entah bagaimana caranya Yunza tidak tahu, ia hanya merasakan sakit yang teramat sangat dan tidak tertahankan.
Menetes air mata Yunza akibat rasa sakit itu. Ia mencengkram pakaian Lin Jian untuk meredamnya, dan membungkam mulutnya agar tak menimbulkan suara.
"Aargh!" Ringisannya justru membuat Lin Jian sangat terganggu.
"Jika ingin berteriak, teriak saja!"
"Aaarrghhhh!" Yunza berteriak sekeras mungkin bersamaan dengan keluarnya benda tersebut dari kakinya. Tabib pun segera mengobatinya.
__ADS_1
Tangan Yunza masih mencengkram erat pakaian Lin Jian. Ia masih terisak sambil menyembunyikan kepalanya di pelukan Lin Jian.
Beberapa saat kemudian dia mengerutkan dahinya. Giginya menggertak sambil bergumam, "Shenshen, Chen Su, aku akan mengingat rasa sakit ini seumur hidupku. Dan aku akan membalasnya jauh lebih menyakitkan!"
"Dia gemetaran," gumam Lin Jian dalam hati.
Setelah beberapa waktu berlalu, Tabib selesai mengobati kaki Yunza dan membalutnya dengan sebuah perban. Yunza yang berada di pelukannya tak lagi terdengar Isak tangisnya, deru napasnya pun sudah mulai tenang.
"Dia tidur?" batin Lin Jian lagi.
Dia memberi isyarat dengan tangannya dan menyuruh semua orang pergi dari kamar Yunza. Namun, tidak dengan Mi Anra. "Kau! Tunggu sebentar!" Ia menghentikannya.
Mi Anra menoleh dan bertanya, "ada apa, Yang Mulia?"
"Ganti pakaiannya. Sepertinya Nona-mu ini sudah tertidur," balasnya.
Mi Anra menganggukkan kepalanya. Namun saat hendak melepaskannya, Yunza malah semakin mengeratkan pelukannya seolah tak ingin terlepas. Lin Jian dan Mi Anra yang melihat hal itu diam terheran.
Ia mencoba melepaskannya lagi, namun tetap tidak bisa. Akhirnya Lin Jian menyerah dan menyuruh Mi Anra pergi dari sana.
Hari berganti.
Semua orang sudah menunggu diumumkannya para pemenang yang akan menjadi selir pangeran kedua. Namun, ketidakhadiran Lin Jian membuat semua orang bertanya-tanya.
Seseorang datang dan membisikkan sesuatu kepada Kaisar. Ia amat terkejut dengan apa yang disampaikannya kemudian berkata, "Pangeran kedua sedang mengurus sesuatu dan tidak bisa hadir. Penutupan pemilihan selir, biar Pangeran keenam yang melakukannya."
Sebagain orang tampak kecewa, dan beberapa tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Kemudian, nama peserta yang terpilih menjadi selir Pangeran kedua pun mulai di sebut satu persatu.
Sekitar 13 orang yang terpilih yang mana salah satunya adalah Chen Su, wanita yang diincar Kaisar untuk mendekati ayahnya yang seorang menteri.
Sementara itu, di kamar Yunza.
Matahari sudah naik ke ufuk, cahayanya berusaha menerobos masuk melalui celah jendela yang tertutup rapat.
Di ranjang tidur, Yunza akhirnya terbangun. Ia membuka mata dan melihat langit-langit kamar untuk memperjelas penglihatannya.
Ternyata rasa kantuk masih menyerang. Ia menguap sambari membalikkan tubuhnya dengan sangat hati-hati, lalu melingkarkan tangannya pada sebuah guling sambil memejamkan matanya.
Kedua alisnya menyerengit. Ia merasakan suatu keanehan dari guling yang dipeluknya. Kemudian dengan tangannya mulai meraba-raba untuk memastikan.
"Sudah puas pegang-pegangnya?" Suara tersebut kemudian mengejutkannya.
__ADS_1
Sontak, Yunza menengadahkan kepalanya dan alangkah terkejutnya saat melihat Lin Jian berbaring di sampingnya.
"D-dasar mesum!"