
Beberapa sosok bayangan hitam melesat cukup cepat di hutan. Salah satu dari mereka melempar sebuah kunai sampai mengenai kaki seseorang dan dia terjatuh karenanya.
"Sial!" umpat orang tersebut.
Kemudian, beberapa sosok bayangan hitam yang mengejarnya tiba di hadapannya. Dia tak gentar dan langsung mengeluarkan pedangnya. "Siapa kalian?" tanyanya.
Salah satu dari mereka melangkahkan kaki sambil berkata, "mata-mata dari negara Long, Gu Rong, kau pantas mati!" Dia mengayunkan pedang di tangannya hendak menyerang Gu Rong, beruntung dia menahannya dengan pedang di tangannya.
"Siapa mereka? Apa mungkin orang-orang yang dikirim Kaisar Hou untuk membunuhku?" gumam Gu Rong dalam hati sembari menahan serangan sekuat tenaga.
Gu Rong bangkit dan mendorong orang itu menjauh. Beberapa orang lainnya datang menyerang dengan sebuah pedang. Sekelompok melawan satu orang, hal itu membuat Gu Rong kewalahan.
Pertarungan pun terjadi di sana. Meski dalam keadaan tertekan, Gu Rong berusaha bertahan dan mengimbangi mereka sebisanya. Sampai tiba-tiba, dari arah belakang seseorang menusukkan pedang ke perutnya.
Gu Rong terdiam menahan rasa sakit itu. Namun dia tidak menyerah begitu saja. Setelah pedang ditarik dari perutnya, dia bergegas melarikan diri setelah melempar bola asap.
Nyatanya, sangat sulit menghindar dari kejaran mereka. Mereka seperti seseorang yang profesional dan terlatih dalam hal membunuh.
Baru beberapa saat Gu Rong melarikan diri. Dari arah belakang, puluhan panah beterbangan ke arahnya. Dia sempat menghindar namun beberapa panah tetap saja mengenai bagian tubuhnya.
Gu Rong jatuh ke tanah dengan posisi tengkurap. Napasnya menggebu hebat. Dengan kedua tangannya, dia berusaha merangkak pergi. Namun sudah terlambat, orang-orang yang mengejarnya sudah berada di depannya kini.
Sosok di hadapannya mengangkat tinggi pedang di tangannya. "Pergilah ke neraka!" Ia mengayunkan pedangnya.
"Pangeran Han Xi, Nona kedua, Mi Anra ... maafkan aku." Kemudian ditebasnya leher Gu Rong, dan akhirnya dia tewas.
"Apa yang akan kita lakukan dengan mayatnya?" tanya salah satu orang.
"Biarkan membusuk dan habis dimakan hewan buas. Sebaiknya kita segeea kembali dan melaporkannya kepada Kaisar!" Setelah itu, orang-orang itu pun pergi meninggalkan jasad Gu Rong.
Seperginya mereka. Seseorang yang sedari tadi menyaksikan hal itu dibalik pohon akhirnya keluar. Dialah Yu Qin. Dia berjalan menghampiri Gu Rong dan berjongkok di depan jasadnya.
"Mereka sangat kejam," ucapnya setelah melihat luka di beberapa bagian tubuh Gu Rong.
Tak lama, sepasang matanya melihat sebuah kertas di tangan Gu Rong. Meskipun dia sudah meninggal, tangannya sangat erat menggenggam kertas tersebut. Yu Qin berusaha mengambil kertas tersebut dari tangannya.
Setelah didapatkannya, dia membuka kertas berisi dua lembar tersebut. Terdapat sebuah tulisan di dalamnya dan Yu Qin mulai membacanya. "Untuk Pangeran kedua ...." Ia membacanya sampai selesai pada satu lembar kertas.
__ADS_1
Kemudian dibacanya kertas kedua, ternyata kertas tersebut ditujukan untuk Yunza. Yu Qin menggenggam kertas tersebut lalu memasukkannya ke dalam pakaiannya.
Dia beranjak dan membalikkan tubuhnya. Sesaat kemudian memanggil bawahannya datang. "Hamba di sini, Pangeran Yu Qin," ucap pengawal tersebut.
Ia memutar bola matanya namun tak sempat menoleh. Lalu berkata, "kubur mayat itu dengan benar, dan jangan biarkan siapapun mengetahuinya." Yu Qin kemudian melangkahkan kakinya dan pergi.
Di dalam gua.
Lin Jian mencelupkan sobekan pakaiannya ke dalam air kemudian mengompres Yunza. Akibat luka yang didapatnya, Yunza mengalami demam hebat malam itu. Namun, Lin Jian setia di sisinya dan bahkan merawatnya.
Ia melihat sepasang mata Yunza berkedip dengan dahi mengkerut kesakitan, didengarnya ringisan-ringisan yang diselangi igauan Yunza. "Ibu ... Ibu ...."
Segera, Lin Jian memegang tangannya seraya berkata, "sekarang sudah baik-baik saja, Yunza." Ia melamun. Memikirkan cerita yang diketahuinya mengenai ibunda Yunza yang meninggal setelah melahirkannya.
Dibanding dengannya, tentu dia termasuk orang yang beruntung bisa melihat bagaimana bentuk wajah ibu kandungnya. Tidak seperti Yunza.
Beberapa saat kemudian, Yunza tenang kembali. Lin Jian menggelar pakaiannya di samping Yunza kemudian membaringkan tubuhnya di sana. Dia memejamkan mata sambil berkata, "aku tidak akan meninggalkanmu." Kemudian dia tertidur.
Esok harinya.
Samar-samar di telinganya terdengar suara derap langkah kaki kuda yang beriringan. Guncangan di tubuhnya akhirnya membangunkannya. Ia membuka mata dan melihat apa yang terjadi.
Lin Jian menundukkan kepalanya, melihat Yunza yang akhirnya sadar membuat dia senang. "Semua sudah baik-baik saja, Yunza. Kita akan kembali ke tenda," ucapnya.
Yunza membenamkan wajahnya di dada Lin Jian sambil mengeratkan pelukannya. Dengan suara gemetaran dia berkata, "iya. Aku ingin pulang. Di sini sangat menakutkan." Mendengar hal itu, Lin Jian mengusap lembut punggungnya.
Menjelang siang, mereka pun tiba di tenda. Beberapa orang telah menyambut kedatangan mereka, termasuk Mi Anra. Saat melihat Yunza, dia segera berlari ke arahnya.
"Nona!" serunya.
Lin Jian turun dari kuda, kemudian membantu Yunza turun dengan sangat hati-hati. Melihat Mi Anra berlari ke arahnya sambil menangis, Yunza malah tersenyum.
Semakin dekat, Mi Anra membentangkan tangannya dan siap memeluk Yunza. Akan tetapi, Lin Jian menghadang dengan tangannya. Dia berkata, "Nona-mu terluka, kau tidak bisa menyentuhnya sembarangan!"
"N-nona, kau terluka?" tanya Mi Anra, barulah dia menyadari adanya perban membalut salah satu lengan Yunza. Dia terkejut sampai melotot dengan mulut menganga.
Tak lama, disusul oleh datangnya Mei An. Dia hendak memeluk Yunza namun kembali dihadang oleh Lin Jian. "Adik ipar, syukurlah. Aku senang melihatmu pulang dengan keadaan baik-baik saja," ucapnya dengan perasaan lega.
__ADS_1
Yunza tersenyum dan berkata, "terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Mi Anra, kakak ipar."
"Kakak ipar, tolong temani Yunza dulu. Aku harus menemui ayahanda untuk membahas masalah ini," ucap Lin Jian.
"Pergilah, biar aku dan Mi Anra yang merawat Yunza. Lagian, sebentar lagi kita akan kembali ke Istana," balas Mei An. Lin Jian membalas dengan anggukkan kepala, kemudian pergi.
Mi Anra dan Mei An membantu Yunza berjalan dan membawanya ke tenda untuk beristirahat terlebih dahulu. Saat memapah Yunza, Mi Anra sempat menoleh ke belakang.
"Dimana tuan Gu Rong?" batinnya dengan hati cemas.
Di tenda Kaisar, Lin Jian datang menemuinya. Kebetulan di sana ada Permaisuri, Shenshen dan juga adik-adik yang lainnya.
Melihat Lin Jian sudah kembali. Shenshen berdiri dan langsung berlari ke arahnya, dia melemparkan diri ke pelukan Lin Jian sambil berkata, "syukurlah kakak baik-baik saja." Dengan suara setengah menangis.
Lin Jian mengelus rambut Shenshen. Pelukan pun dilepaskan kemudian Lin Jian berjalan menghampiri Kaisar.
"Kau sudah kembali, Lin Jian," ucap Kaisar.
"Ayahanda, mengenai kejadian yang telah menimpa banyak Permaisuriku, aku ingin meminta keadilan dan dilakukan pemeriksaan terkait orang-orang berpakaian hitam yang kutemui di tepi sungai. Aku yakin, ada seseorang yang sengaja melakukan hal untuk mengacaukan perburuan ini," ujar Lin Jian.
Mendengar hal itu, Shenshen membelakkan matanya lalu menundukkan kepala. Keringat dingin mulai menetes satu demi satu. Perlahan, wajahnya pun mulai pucat.
"M-menyelidiki masalah ini? Kakak ingin masalah ini diselidiki, bagaimana jika dia tahu bahwa aku yang melakukannya?" Gelisah menghantuinya.
Berbeda dari respon Shenshen, Kaisar malah menyipitkan matanya mendengar penuturan Lin Jian. "Masalah itu, kau tidak perlu khawatir. Kau baru saja kembali, beristirahatlah dulu," kata Kaisar.
Lin Jian membungkukkan badannya, kemudian membalikkan tubuhnya lalu pergi dari tempat itu tanpa mengatakan apapun lagi.
Menanggapi sikap Lin Jian, Kaisar bergumam dalam hatinya, "apa kau sudah mulai peduli padanya, Lin Jian?"
Siang harinya, setelah membereskan semua barang-barang mereka pun kembali ke Istana.
Di kereta, Yunza, Mi Anra, dan Mei An duduk berhadapan. Mereka menceritakan semua yang terjadi kepada Yunza. "Jadi, Chen Su masih hidup?" tanya Yunza.
Keduanya menganggukkan kepala. "Dia dibawa pulang dalam keadaan terluka parah. Aku dengar, karena luka tersebut kemungkinan dia akan mengalami cacat," imbuh Mei An.
Yunza termenung. "Tidak mati pun sudah beruntung. Anggap saja sebagai pelajaran untuknya," batin Yunza.
__ADS_1
Disela-sela obrolan, Mi Anra menoleh ke belakang. Melalui jendela, dia menerawang ke arah luas seperti sedang mencari-cari sesuatu.
"Kemana dia."