Not Idiot Princess

Not Idiot Princess
Mi Anra Salah Paham


__ADS_3

Aula terbuka terletak di sebelah barat istana. Di sana, terdapat sebuah panggung tempat dimana para peserta akan menunjukkan bakat bertema senjata kali ini. Sedangkan tempat penonton dan juri berada di pinggir panggung.


Saat Yunza tiba di sana, ternyata kontesnya sudah dimulai sejak tadi. "Aku terlambat," batinnya sambil berdiri mematung di dekat pintu masuk.


Yunza melirik jajaran anggota keluarga kerajaan yang menonton di tepi panggung. "Lin Jian tidak datang?" batinnya.


Di panggung, berdiri seorang wanita memegang sebuah pedang di tangan kanannya. Sementara di hadapannya berdiri seorang prajurit pria yang menjadi lawan mainnya.


Yunza melangkahkan kaki mendekati sebuah pilar, ia menyaksikan dengan seksama ke arah panggung. "Seorang wanita memiliki keahlian berpedang, itu terdengar sangat keren," batinnya.


Kelihaian wanita itu dalam memainkan pedang benar-benar membuat siapapun yang melihatnya merasa kagum. Hal itu juga didukung oleh perawakan yang tinggi dan kuat, berbeda dari wanita lainnya.


Beberapa saat kemudian, permainan pun berakhir dengan sangat mengagumkan. Ramai orang bertepuk tangan dan memujinya.


Namun, tak berapa lama seorang pria menaiki panggung dan menantang wanita itu bertarung dengannya. "Apa kau berani menerima tantanganku?" tanyanya.


Wanita itu tersenyum lalu berkata, "suatu kehormatan besar untukku bisa bertarung dengan pangeran keenam. Namun, aku harap pangeran bisa sedikit bersikap lembut padaku."


Pangeran keenam, Lin Zhong, tersenyum lalu menarik pedangnya. Pertarungan pun kembali dimulai, tak kalah mengagumkan seperti sebelumnya.


"Aku rasa, aku mulai mengetahui alasanku berada di dunia ini. Tidak hanya mencegah kematian Shen Yun Ja, tapi aku juga harus memberinya kehidupan yang layak. Bagaimana pun, perang itu pasti akan terjadi," batin Yunza.


"Aku tidak bisa hanya berdiam diri saja. Aku harus mengasah kemampuanku, tapi bagaimana?" Yunza menaruh tangannya di dagu sembari berpikir.


Ia bersungguh-sungguh dengan pemikirannya tersebut, sampai kemudian sebuah nama melintas di kepalanya. "Gu Rong! Aku yakin dia adalah pengawal pribadinya kak Han Xi. Kemampuannya pasti melebihi prajurit biasa terlebih dalam menggunakan sebuah senjata."


"Tapi akhir-akhir ini ... aku belum bertemu dengannya lagi," sambung Yunza sambil menoleh ke suatu arah.


Di koridor timur, Mi Anra berjalan dengan langkah pelan sambil menggerutu, "mengapa hanya nona yang tidak boleh membawa pelayannya masuk ke aula? Tidak adik sekali!"


"Jangan-jangan ... mereka mau menindas nona!" Sepasang matanya melotot saat memikirkan hal itu.


"Tch! Aku tidak akan membiarkan mereka menindas---ah!" Ia tidak fokus dengan langkah kakinya sampai tak sengaja bertabrakan dengan seseorang dan jatuh.

__ADS_1


"Sshhh!" Mi Anra meringis kesakitan sambil mengusap bokongnya.


Saat itu sebuah tangan terulur ke bawah diiringi sebuah tanya, "apa kau baik-baik saja?"


Mi Anra terperajat kaget dan langsung menengadahkan kepalanya. Betapa terkejutnya dia saat melihat pria malam itu berdiri tepat di depannya.


"Kau baik-baik saja? Apa kau bisa berdiri?" tanyanya.


Mi Anra tersipu malu dan menjadi salah tingkah di depannya. Ia segera berdiri dan merapikan dirinya. Lalu berkata, "a-aku baik-baik saja." Dengan suara terbata-bata.


"Kenapa di hadapannya aku merasa sangat malu seperti ini? Ah! Ini pasti gara-gara perkataan nona saat itu. Tidak, tidak! Aku tidak boleh seperti ini!" gerutu Mi Anra dalam hati dengan raut wajah panik.


"Kau yakin baik-baik saja? Perlu aku antar menemui tabib?" tanya Gu Rong.


"Gentle sekali!" batin Mi Anra.


"T-tidak perlu. Aku baik-baik saja, kok," balas Mi Anra sambil mengibas-ibaskan tangannya dan tersenyum seolah menunjukan keadaannya yang baik.


"Syukurlah kalau begitu." Gu Rong menatap ke arah Mi Anra datang. Kemudian melanjutkan obrolan dengan sebuah pertanyaan, "apa nona masih di dalam?"


Gu Rong menatap Mi Anra. "T-tidak ... h-hanya saja ...." Ia menghentikan ucapannya dengan satu tangan disembunyikannya di belakang. Hal itu membuat Mi Anra penasaran.


Mi Anra mengintip sesuatu di belakang Gu Rong, namun Gu Rong berusaha menyembunyikannya dari Mi Anra.


"Apa itu?" tanya Mi Anra.


Gu Rong menghela napas kasar. Dia menyerah dan akhirnya menunjukkan sesuatu yang disembunyikannya sedari tadi. Itu adalah sebuah boneka beruang seukuran anak anjing. Bulunya sangat halus dengan wajah terlihat sangat menggemaskan.


Mi Anra terharu untuk sementara waktu. Ia tidak percaya ternyata Gu Rong seorang pria yang sangat romantis.


"Ini ... untuk nona Yunza."


Seketika Mi Anra membatu. Malu semalu-malunya sampai tidak tahu harus menaruh muka dimana lagi. "Bodoh! Memalukan sekali kau Mi Anra! Kau pikir siapa dirimu!" omelnya dalam hati.

__ADS_1


"Ini adalah hadiah pernikahan dari kakak perempuannya nona, nona Shen Xiao Lu, yang kemarin datang berkunjung bersama pangeran kedua, Shen Han Xi," jelas Gu Rong.


Mi Anra menoleh. "Wanita yang mendatangi nona waktu itu?" batinnya mengingat kejadian dimana Shen Xiao Lu pernah mendatangi Yunza di kamarnya tempo hari.


"Rencananya aku ingin menemui nona untuk memberikannya langsung, akan tetapi dia sedang sibuk. Jika pergi ke kamarnya aku rasa itu sangat tidak sopan," lanjut Gu Rong.


"Kau bisa memberikannya padaku. Kebetulan, aku hendak pergi ke kamar nona," ucap Mi Anra.


Gu Rong berkata, "b-benarkah? Kalau begitu, kau sudah menolongku," balasnya sedikit sungkan. Kemudian menyerahkan boneka tersebut kepada Mi Anra.


Setelah itu, keduanya terdiam tak mengatakan apapun. Tak jua pergi atau melakukan sesuatu. Sampai akhirnya Gu Rong berkata, "k-kalau begitu ... aku pergi dulu."


Dia membalikkan tubuhnya lalu melangkah pergi. Melihat hal itu, Mi Anra hanya diam saja. "Hm." Ia hanya membalas dengan gumaman saja.


"Siapa dia sebenarnya? Kenapa selalu nempel-nempel sama nona?" gumamnya sambil mengernyitkan kedua alisnya.


"Hih! Kenapa aku bisa memikirkan hal itu? Nona sudah menjadi milik pangeran kedua, mana mungkin berselingkuh dengan seorang penjaga biasa. Itu tidak mungkin!" gumamnya.


Ia melirik boneka itu kemudian tersenyum. Setelah itu melanjutkan langkah kakinya sambil bersenandung bersenang ria.


Beberapa saat kemudian, tibalah Mi Anra di depan kamar Yunza. Di sana, dia kejutkan dengan pintu kamar yang terbuka.


"Jangan-jangan ... ada maling!" batinnya dengan ekspresi wajah terkejut.


"Tidak bisa! Aku harus melindungi barang-barang milik nona! Tidak boleh ada yang menyentuhnya apalagi membawanya pergi!" Ia celingukan kesana kemari mencari sesuatu.


Tak jauh dari tempatnya berdiri, ada sebuah balok kayu seukuran betis orang dewasa tergeletak di tanah. Mi Anra langsung mengambilnya.


Kemudian, dia berjalan dengan penuh kehati-hatian menuju pintu kamar yang terbuka. "Aku akan memergoki maling itu dan melaporkannya ke Kaisar untuk di hukum. Lihat saja!" katanya dalam hati.


Dia berdiri di belakang pintu. Dari sana terdengar suara langkah kaki mendekat. Mi Anra segera bersiap dengan mengangkat tinggi-tinggi balok kayu di tangan kanannya.


Saat suara semakin mendekat, dia pun mulai menyerang dengan sebuah teriakan, "kena kau dasar maling!" Sambil melayangkan sebuah pukulan.

__ADS_1


Akan tetapi, orang itu dapat menahan serangan Mi Anra hanya dengan menggunakan tangan kosong. Dengan suara dingin dia bertanya, "siapa yang kau sebut maling?"


Mi Anra membelakkan matanya lebar-lebar.


__ADS_2