Not Idiot Princess

Not Idiot Princess
Mi Anra dan Gu Rong


__ADS_3

Siang itu, di pasar.


Mi Anra berjalan sambil memeluk sebuah kantong berisi perhiasan. Ia diperintahkan Yunza pergi ke toko perhiasan untuk menjual perhiasan milik Shenshen dan Chen Su yang didapatnya tempo hari.


Setibanya di toko tersebut, dia langsung mengutarakan maksudnya dan menunjukkan perhiasan yang dibawanya.


"7 tael perak!" tawar si pemilik toko.


"7 tael perak saja? Tuan, perhiasan ini cukup banyak dan bagus! Paling sedikit pun 15 tael perak!" tawar Mi Anra.


"Ya, aku tahu. Tapi orang biasa sepertimu, mempunyai perhiasan sebanyak ini patut dicurigai. Aku tidak akan melaporkanmu karena telah mencuri, jadi, aku memberikan harga sebanyak itu," ujar pemilik toko.


Mi Anra terdiam. Ia tahu bahwa tidak mudah untuk meyakinkan si pemilik toko bahwa tuduhannya tersebut tidak benar.


"Pikirkan, Mi Anra. Bagaimana pun kau harus mendapatkan uang! Jangan buat Nona kecewa!" batinnya. Ia menaruh tangan di dagu sambil memikirkan solusi.


"Hei, aku dengar beberapa selir untuk pangeran kedua sudah dipilih. Aku benar-benar iri sekali."


Tak sengaja Mi Anra mendengar obrolan sekelompok wanita yang sedang melihat-lihat perhiasan.


"Benar, aku dengar pemilihannya sangat ketat. Orang-orang seperti kita mana bisa menjadi selirnya, ahaha."


Tak lama, sebuah ide muncul di kepala Mi Anra. Dia membalikkan tubuhnya lalu berteriak, "para penggemar Pangeran kedua, berkumpulah. Lihat, lihat. Aku membawa sesuatu yang mungkin kalian sukai."


Tindakannya mengambil banyak perhatian, para wanita pun berdatangan dan mengerubunginya.


"Aku adalah pelayan Istana Hou Zzi. Lihat, lihat. Aku bawa perhiasan yang sangat bagus. Ini milik adik tersayang Pangeran kedua. Barang siapa membelinya, dia akan merasakan kasih sayang yang sama dari Pangeran kedua!"


"Perhiasan putri Shenshen?"


"Berikan padaku! Aku beli 3 tael untuk satu perhiasan!" tawar seorang wanita berbadan gemuk.


"3 tael persatu perhiasan? Itu kemahalan, tapi tidak apa-apa, deh," gumam Mi Anra.


"Aku juga membawa perhiasan Permaisuri pangeran kedua. Keromantisan mereka akan dirasakan seolah-olah kalian yang merasakannya. Rasakanlah cinta Pangeran kedua melalui perhiasan-perhiasan ini," teriak Mi Anra semakin kencang.


"Hei!" berang si pemilik toko. "Kau tidak bisa menjualnya pada mereka, kau sudah menjualnya padaku tadi!" ujarnya.


"Aku tidak akan membiarkannya mendapat banyak keuntungan di sini," batin si pemilik toko.


Mi Anra mengetahui akal busuk pemilik toko tersebut. Ia memilih mengabaikannya dan segera menjualnya habis agar bisa cepat-cepat pergi dari tempat itu.


"Perhiasan Permaisuri? Harga awal 1 tael perak!" tawar Mi Anra.


Semua orang sempat ragu dan terlihat kurang tertarik dengan perhiasan yang sebenarnya bukan milik Yunza.


"Ah! Ini adalah tusuk rambut milik Permaisuri pangeran kedua. Pemberian langsung dari Pangeran kedua namun Permaisuri sudah merasa bosan dan memberikannya padaku."


"Aku masih merasakan dengan jelas aroma cinta Pangeran kedua pada tusuk rambut ini. Jika Pangeran kedua suatu hari melihat kalian memakainya, bayangkan ia menghampiri dan mencium tangan kalian dengan penuh kelembutan," lanjutnya.


"Aku! Berikan padaku tusuk rambut itu!"


"Aku beli 5 tael perak!"

__ADS_1


"Aku 6 tael perak!"


"Aku 7 tael perak!"


Mi Anra bak panen pohon berbuah kepingan tael perak. Semua perhiasan ludes dibeli para penggemar Pangeran kedua. Setumpuk Taek perak pun berhasil dikantonginya. Ia membungkusnya lalu pergi dari toko dengan perasaan gembira.


Namun, melihat hal itu pemilik toko menjadi iri. Dia mengisyaratkan kepada empat orang pria, pekerja di tokonya, untuk membuntuti Mi Anra. Tujuannya untuk merampas uang tersebut. Mereka pun menuruti perintahnya.


Di perjalanan, Mi Anra yang awalnya ceria perlahan merubah raut wajahnya menjadi tegang tatkala menyadari bahwa dirinya sedang dibuntuti seseorang.


Meski begitu, ia berusaha bersikap tenang dan mencari jalan keluar. Dia mengeratkan pegangannya pada kantong berisi puluhan tael perak tersebut.


Dalam keramaian pasar siang itu, dia mengelabui orang-orang itu dan menyelinap masuk ke dalam gang guna menghindari kejaran mereka.


Sayangnya, perhitungannya ternyata salah. Orang dari kelompok yang sama ternyata sudah menunggu di gang tersebut. Mi Anra yang terpojok merasa bingung dan ketakutan.


"Siapa kalian?" tanyanya.


"Berikan kantong itu jika ingin nyawamu selamat!" ancam mereka.


Mi Anra semakin mengeratkan pegangannya. "Tidak akan!" Kemudian dia berlari memasuki gang yang yang bercabang.


"Kejar dia!"


Ia berlari sangat kencang sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memeriksa keberadaan mereka. Namun, melihat mereka berada cukup dekat dan bahkan bisa menangkapnya membuat Mi Anra takut.


"Nona, aku harus bagaimana?" Ia memejamkan matanya. Mi Anra tak berputus asa dan terus berlari dengan cepat.


Tiba-tiba, sebuah belati melesat ke arahnya. Bidikan mereka meleset dan hanya mengenai ikat rambut Mi Anra. Rambut panjang yang selama ini diikat pun akhirnya tergerai indah.


Di sana dia menghentikan langkah kakinya. Di susul beberapa orang yang mengejarnya.


"Berikan uang itu!" pinta mereka.


Mi Anra membalikkan tubuhnya dan berusaha melindungi uang tersebut. Kemudian, dengan kasar salah satu pria merebut kantong tersebut dan mendorong Mi Anra sampai jatuh ke tanah.


"Jangan ambil uang itu! Kembalikan padaku!" pintanya.


Setelah mendapatkan keinginannya mereka tak langsung pergi. Mereka saling menukar tatapan penuh arti satu sama lain.


"Nona, sepertinya kau cukup energik. Bagaimana kalau bermain dengan kita lebih dulu? Kita akan bagi beberapa tael perak denganmu nanti," ucap salah satu pria.


Mi Anra amat terkejut mendengar penuturannya. Kedua lututnya mulai lemas mengingat dia tak memiliki kesempatan untuk melarikan diri lagi.


Ia semakin ketakutan tatkala mereka mulai menghampirinya.


"Jangan mendekatiku! Pergi! Tolong! Siapapun tolong aku!" teriak Mi Anra ketakutan.


Mereka tertawa terbahak-bahak. Salah satu pria berkata, "Nona, tidak akan ada yang menolongmu. Ini jalan buntu!"


"Lebih baik pasrah saja. Kami berjanji akan bersikap lembut," sahut lainnya.


Mereka kembali mendekat dan itu membuat Mi Anra kembali berteriak. Sampai suaranya serak, sampai air matanya habis, tetap tak ada seorang pun yang datang.

__ADS_1


Sampai akhirnya. Ketika mereka hampir memegangi tubuh Mi Anra, seseorang datang dan langsung menghunuskan pedang dan memotong tangan salah satu pria tersebut.


"Tangan mana yang kalian gunakan untuk menyentuhnya?" tanyanya.


Mi Anra terkejut kemudian menengadah. "Kau," ucapnya.


"S-siapa kau?" Mereka mulai ketakutan.


Ia menjawab dengan acungan pedang, membuat mereka ketakutan kemudian lari terbirit-birit. Sebelum itu, kantong yang mereka rampas berhasil dirampas kembali.


Kemudian, dia menghampiri Mi Anra dan berjongkok di depannya. Namun Mi Anra cukup ketakutan saat melihatnya.


"Sekarang sudah baik-baik saja," ucapnya.


Mi Anra kembali menoleh, memandang wajahnya yang tak asing. Sekejap kemudian dia langsung memeluknya dan menangis sejadi-jadinya di pelukannya. Ia menuangkan semua rasa takutnya di sana.


Tak lama, dia menggendong Mi Anra. "Aku akan mengantarmu pulang. Pegangan yang erat," ucapnya.


Sore harinya.


Mi Anra berdiam diri dengan tatapan kosong di ranjang tidur sambil meringkuk memeluk kedua lututnya. Ia masih terbayang-bayang kejadian saat itu dan andai saja dia tidak datang.


Brak!


"Mi Anra!" Tiba-tiba Yunza mendobrak pintu dan langsung masuk ke dalam kamar. Dia menghampiri Mi Anra dan langsung memeluknya.


"Maafkan aku. Semua salahku," ucapnya.


Mendengar hal itu membuat Mi Anra tak kuasa menahan tangis lagi. Rasa ketakutannya dipahami betul oleh Yunza, dan dia sangat menyesali hal itu.


"Aku janji akan membalas mereka! Sudah, jangan menangis lagi," bujuknya. Mi Anra menganggukkan kepalanya dan melepas pelukan.


Yunza tersenyum. "Sebagai pelayanku, kau tidak boleh kalah begitu saja. Jika berhadapan dengan orang mesum, pecahkan saja bijinya!" celetuknya.


Mi Anra tersenyum mendengarnya, dan itu membuat Yunza merasa lega dan rasa bersalahnya sedikit berkurang.


"Tapi, Nona, bukankah kakimu sedang terluka?"


Yunza terdiam sejenak, lalu tertawa. "Ahaha, benar juga. Saat mendengar ceritamu dari Gu Rong, aku tidak memikirkan apa-apa lagi dan langsung pergi ke sini. Tadi tidak terasa sakit, tapi sekarang mulai terasa," ucapnya sambil meringis kesakitan.


Mi Anra turun dari ranjang tidurnya lalu mengulurkan tangan. "Aku sudah baik-baik saja. Sebaiknya Nona kembali ke kamar untuk beristirahat, aku akan antar," ucapnya.


Dengan senyuman hangat, Yunza mengulurkan tangannya lalu berdiri. Perlahan, mereka pun mulai berjalan pergi.


"Oh, iya, Mi Anra. Aku kepikiran sesuatu."


"Apa itu?"


"Bagaimana kalau ... kau dan Gu Rong menikah saja?"


Mi Anra membelakkan matanya. "A-apa yang Nona katakan? Itu tidak lucu! Aku tidak ingin dengar!" Padahal wajahnya merah menyala.


"Ayolah, aku akan merasa aman jika ada dia menjagamu."

__ADS_1


"Diam! Atau nanti aku lepaskan tangannya!"


__ADS_2