
Beberapa hari setelahnya, berburu musim panas pun tiba.
Mereka pergi ke gunung Cheng bersama-sama. Para selir dan Permaisuri menggunakan kereta kuda, sementara Pangeran dan yang lainnya menunggangi kuda di sebelah kereta.
Di dalam suatu kereta, Yunza menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan mata terpejam. Mei An yang duduk satu kereta dengannya kemudian berkata, "aku rasa, sejak tadi Pangeran kedua selalu menoleh ke sini. Mungkin dia ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Bukan menoleh ke sini, tapi ke kereta yang satunya. Apa kakak ipar tahu, di dalam kereta itu ada selir kesayangannya. Mana mungkin ia bisa jauh-jauh darinya," jawab Yunza dengan nada sinis.
Mei An menoleh. "Selir kesayangan? Adik ipar, apa kau sedang marahan dengan Pangeran kedua? Jika ada kesalahpahaman, sebaiknya dibicarakan baik-baik," nasihatnya.
"Tidak, kok," jawab simple-nya.
Mei An dibuat kebingungan dengan tingkah laku mereka berdua. Ia sangat yakin bahwa di antara mereka pasti ada suatu kesalahpahaman.
Menjelang siang, tibalah mereka di tempat yang sudah ditentukan. Tenda-tenda pun langsung didirikan di dekat tepi sungai yang mengalir deras.
Setelahnya, mereka beristirahat di tenda masing-masing sebelum berburu dimulai. Saat itu, Lin Jian mendatangi tenda Yunza, namun ia tak mendapati istrinya di sana.
Saat keluar dari tenda, tak sengaja berpapasan dengan Mei An. Ia pun bertanya, "kakak ipar, apa kau melihat Yunza?"
Mei An menghentikan langkah kakinya. "Yunza? Aku tidak melihatnya," jawab Mei An sambil menoleh ke sana kemari.
Ia kemudian melirik Lin Jian. "Adik ipar, apa kalian sedang bertengkar? Aku lihat sepertinya Yunza sedang kesal sejak tadi pagi," tanyanya kemudian.
"Hanya salah paham saja. Kakak ipar, terima kasih. Jika bertemu dengannya tolong beritahu kalau aku mencarinya. Aku pergi dulu, berburu akan segera dimulai," ucap Lin Jian kemudian pergi.
Tak berselang lama, para pangeran berkumpul di depan tenda untuk segera memulai perburuan. Di sana, Kaisar berkata, "barang siapa mendapatkan hewan buruan terbanyak, aku akan memberinya hadiah!"
Sesaat setelahnya, perburuan pun dimulai. Para pangeran dengan kuda mereka masing-masing mulai memasuki hutan dan akan kembali sore nanti bersama hewan buruan yang mereka dapatkan.
Di suatu tempat, tak jauh dari tenda.
Yunza berdiri menyandarkan tubuhnya ke batang sebuah pohon. Sambil menyidekapkan tangannya di dada, dia bertanya, "ada apa Gu Rong? Kenapa memintaku menemuimu secara diam-diam?"
Gu Rong duduk di dahan pohon di atas Yunza. "Maaf atas ketidaksopananku, Nona Kedua. Aku hanya ingin mengobrol sebentar," ujarnya.
"Hubunganmu dengan Mi Anra baik-baik saja, bukan?"
"Benar," jawab Gu Rong.
"Nah, jadi apa yang ingin kau bicarakan denganku?"
Gu Rong terdiam dengan raut wajah sedih. Tak lama dia merogoh pakaiannya dan mengeluarkan sebuah kalung cantik. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di depan sana. Nona kedua, bisa aku meminta sesuatu padamu?" pintanya.
__ADS_1
"Katakan!"
"Tolong berikan kalung ini kepadanya. Dan satu hal lagi. Nona kedua, aku mohon padamu. Bagaimana pun keadaannya tolong lindungi dia."
Mendengar hal itu, Yunza mendongakkan kepalanya seraya bertanya, "ada apa denganmu, Gu Rong? Mengapa mengatakan hal yang seperti itu? Apa kau akan pergi ke suatu tempat?"
Gu Rong membalas dengan gelengan kepala, kemudian dia memberikan kalung tersebut kepada Yunza. "Mungkin aku akan kembali ke negara Long beberapa hari lagi, tanpa dirinya. Untuk itu, aku titip dia, ya."
Setelah mengatakan hal itu, Gu Rong pergi tanpa membiarkan Yunza menjawab. Penuturannya yang seolah-olah memiliki arti lain beberapa saat yang lalu benar-benar membuat Yunza khawatir. Yunza pun kembali ke tenda.
Di pintu tenda, saat hendak memasukinya tetiba Mei An datang. "Adik ipar, darimana saja kau?" tanyanya.
Yunza terhenti dan menjawab, "aku hanya melihat-lihat saja tadi."
Mei An mengangguk-anggukkan kepalanya. "Oh, ya. Tadi Lin Jian datang mencarimu. Eh? Apa kau sedang sakit?" tanyanya saat menyadari raut wajah pucat yang ditunjukkan Yunza.
"Mungkin aku hanya kelelahan, kakak ipar jangan khawatir. Aku akan beristirahat di dalam. Kakak ipar, aku masuk dulu." Yunza berpamitan dan langsung masuk ke dalam.
Di dalam, dia langsung merebahkan tubuhnya. Tak bisa dipungkiri, apa yang dikatakan Gu Rong telah membuat pikirannya tidak tenang. Yunza berusaha menafsirkan arti ucapan Gu Rong, namun tetap tak menemukan apa-apa.
Di dalam hutan, Lin Jian melihat seekor babi hutan dengan ukuran yang sangat besar. Dia pun mengejarnya berniat menangkapnya. Namun, siapa sangka. Yu Qin juga ternyata mengincar binatang yang sama dengannya.
"Aku akan mendapatkan apapun yang aku mau!" kata Lin Jian dan bersiap memperebutkan hewan buruan tersebut.
Ia mengernyitkan kedua alisnya. "Kau bisa menang saat ini, tapi tidak nanti. Aku pastikan kalau aku akan membawa Yunza pergi darimu!" ucapnya dalam hati, setelah itu pergi mencari hewan buruan lain.
Perburuan berlangsung cukup lama, sampai tak terasa bahwa fajar sudah tenggelam. Beberapa pangeran pun kembali ke tenda dengan membawa hewan buruan mereka masing-masing.
Setibanya di sana, Lin Jian menoleh ke sana kemari mencari sesuatu. Hingga didapatinya Mei An lalu dia bertanya, "apa Yunza belum kembali ke tendanya?"
"Ia sudah kembali tadi siang, tapi sepertinya dia sedikit tidak sehat. Mungkin saat ini masih beristirahat di tendanya," jawab Mei An.
Segera setelah itu, diumumkanlah pemenang perburuan musim panas yang dimenangkan oleh Lin Jian dengan hewan buruan terbesar. Saat malam tiba, mereka pun memasak semua hewan buruan dan menikmatinya bersama-sama.
Ditengah perayaan, Lin Jian menyelinap pergi dengan semangkuk sup hangat di tangannya. Dia pergi ke tenda Yunza untuk melihat keadaannya. Saat tiba di sana, ia yang melihat Yunza duduk di tepi ranjang kemudian menghampirinya.
"Apa kau sakit? Aku akan panggilkan tabib," ucap Lin Jian seraya duduk di samping Yunza.
"Tidak. Aku baik-baik saja," jawab Yunza.
Lin Jian kemudian menyodorkan semangkuk sup ke hadapan Yunza. "Makanlah. Kau belum makan apa-apa sejak tadi siang, kan?"
Yunza malah memalingkan wajahnya dan berkata, "aku tidak lapar." Sambil mendorong tangan Lin Jian.
__ADS_1
Melihat perlakuan Yunza, Lin Jian lantas menaruh mangkuk tersebut di atas meja. Kemudian dia merogoh pakaiannya dan mengeluarkan sebuah tusuk rambut yang sangat cantik dengan beberapa permata.
Lin Jian membalikkan tubuh Yunza sampai menghadap dirinya. "Apa yang kau lakukan?" tanya Yunza sambil menepis tangan Lin Jian.
Tanpa berkata apapun, Lin Jian lantas menusukkan tusuk rambut tersebut di rambut Yunza. Melihat hal itu Yunza terkejut bukan main.
"Apa sudah tidak marah lagi?" tanya Lin Jian.
"S-siapa yang marah memangnya," jawab Yunza malu-malu.
Dia bukannya marah karena kegagalan waktu itu, namun Yunza masih malu untuk menampakkan diri di depan Lin Jian setelah apa yang sudah terjadi diantara mereka.
"Aku memenangkan perburuan hari ini, apa kau tidak mau memberiku hadiah?" tanya Lin Jian.
"Aku akan siapkan setelah kembali ke Istana," ucap Yunza sambil memalingkan wajahnya.
Tetiba Lin Jian mendekatnya diri. Jemari tangannya menyentuh dagu Yunza dan ditariknya secara perlahan sambil berkata, "tidak perlu nanti, aku ingin malam ini juga."
Saat hendak dicium, Yunza malah memalingkan wajahnya.
"Yunza, jangan menolakku," bisik Lin Jian sambil kembali menarik dagunya kemudian menciumnya.
Lin Jian mendorong jatuh tubuh Yunza ke atas ranjang tidur. Di hadapan Yunza, dia berdiri dengan kedua lutut sambil melepas pakaian yang dikenakannya.
"Apa kau tahu, malam ini, aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah," ucapnya dengan senyum seringai.
"Sial! Mengapa dia bisa memiliki bentuk tubuh sebagus itu? Bagaimana bisa aku menahannya sedangkan aku hanyalah manusia yang juga memiliki nafsu!" batin Yunza.
Setelah itu, dia menarik selimut sampai menutupi tubuh bagian bawah keduanya. Kemudian kembali mencium Yunza dengan penuh gairah yang sudah tak bisa dipertahankan lagi.
Perlahan Lin Jian menurunkan ciumannya ke leher. Satu tangan menahan tubuhnya, satu tangan lagi sibuk membuka pakaian Yunza.
Beberapa saat kemudian, surga dunia terpampang di depan matanya. Bentuk tubuh yang sangat indah berwarna putih cerah, serta tekstur kulit yang terlihat kenyal terutama di kedua bagian.
"Memalukan sekali!" batin Yunza.
Lin Jian melirik wajah Yunza yang memerah. Hal itu membuatnya menelan ludah. "Yunza, apa aku boleh?" Ia meminta ijin terlebih dahulu.
Tak lama Yunza menutup wajahnya dengan telapak tangan. Lalu dengan suara yang lirih pelan dia menjawab, "lakukan ... saja."
Karena sudah mendapatkan lampu hijau, Lin Jian tak mau membuang-buang waktu lagi. "Jika terasa sakit, beritahu aku," ucap Lin Jian.
Ritual malam pertama yang sempat tertunda pun berlangsung dengan penuh gairah. Bagi keduanya, ini adalah kali pertama mereka melakukannya.
__ADS_1
"Aaarrghhhh!"