
Di kamar Shen Yunza.
"Mi Anra, apa kau sudah menyiapkan apa yang aku perintahkan?" tanya Yunza sambil berjalan menuju pintu.
"Sudah, Nona. Bahan-bahan untuk membuat sup jamur sudah siap. Sebenarnya, aku juga bisa membuat sup jamur, jadi Nona tidak perlu turun tangan langsung," balas Mi Anra yang mengikuti dari belakang.
"Tidak perlu, biar aku saja. Lagian, aku membuatnya untuk orang yang aku sayangi. Mana boleh orang lain yang buatkan."
Mi Anra tertegun. "Untuk pangeran kedua?" celetuknya.
Yunza langsung memasang wajah datar. Saat hendak membuka pintu, seseorang mendorongnya terlebih dahulu dari luar.
"Kak Shen Xiao Lu?"
Shen Xiao Lu berwajahkan dingin dan datar namun dengan tatapan tajam. "Yo, adikku. Kemari sebentar, ada yang ingin aku bicarakan!" ucapnya dengan tegas sambil melangkah masuk.
Mi Anra terperangah kaget. "Diakah ... kakak perempuannya Nona? Cantik. Mirip sekali wajahnya dengan Nona," batinnya.
Setelah itu Yunza mengisyaratkan padanya untuk menunggu di luar sementara dia akan mengobrol terlebih dahulu dengan kakaknya. Mi Anra menganggukkan kepalanya dan pergi.
Shen Xiao Lu duduk di kursi yang sering Yunza duduki dengan posisi kaki kanan menyilang kaki kiri. "Padahal baru berapa bulan tidak bertemu, sepertinya kau mengalami banyak perubahan," ucapnya.
"Ya, seperti yang kakak lihat" jawab Yunza.
Dia mengernyitkan kedua alisnya kemudian berdiri. Di hadapan Yunza, Shen Xiao Lu menenggerkan sepasang tangannya di kedua bahu Yunza sambil mencengkramnya erat.
"Apa yang kemarin kau lakukan benar-benar membuatku marah. Sebagai seorang putri negara Long, bagaimana bisa kau hanya diam saat mereka menuduhmu?" tanyanya.
Yunza yang awalnya berwajah serius, kini mengukir senyum. "Oh, kakak mengkhawatirkanku?"
"Aku tidak mengkhawatirkanmu. Aku mengkhawatirkan reputasi negara Long!" jawabnya.
Yunza menepis kedua tangan Shen Xiao Lu kemudian berjalan ke sampingnya. "Apa kau datang hanya untuk mengatakan hal itu?" tanyanya.
Shen Xiao Lu membalikkan tubuhnya. "Shen Yun Ja, jangan biarkan siapapun menindasmu. Jika kau dibicarakan orang lain, balas dengan pukulan! Jika ada yang menindasmu, jangan lepaskan dengan mudah. Balas 100 kali lipat!"
Yunza terkekeh lucu mendengar hal itu. Dia tak bisa menahan tawanya hingga tertawa di depan Shen Xiao Lu.
"Apanya yang lucu! Apa kau mendengar apa yang aku katakan?" tanya Shen Xiao Lu dengan tegas.
"Baiklah, baiklah, tidak akan ketawa lagi." Penuturan Yunza barusan membuatnya teringat ibundanya. Bahkan jika dipikir kembali, Yunza lebih mirip dengan ibunya ketimbang dirinya sendiri.
Shen Xiao Lu memalingkan wajahnya ke bawah dengan tatapan sedih. Terdapat kerinduan di lubuk hatinya pada ibundanya. "Entah mengapa, saat melihatnya kerinduanku pada ibunda berkurang sedikit," batinnya.
"Kak Shen Xiao Lu?" Yunza muncul di hadapannya secara tiba-tiba dan membuatnya sedikit terkejut. "Kenapa melamun?" tanya Yunza.
"Tidak ada!" Ia langsung menjawab.
Kemudian Shen Xiao Lu menyapu pandangannya ke setiap sudut kamar Yunza. Kamar tersebut tak lebih baik dari kamarnya di negara Long.
"Oh, ya. Kembalikan buku yang pernah aku berikan padamu tempo hari," pintanya.
__ADS_1
"Buku apa?" tanya Yunza.
"Jangan pura-pura tidak tahu. Aku ingin kau mengembalikannya padaku sekarang!"
"Tapi, bukankah itu hadiah dari kakak untukku?"
"Aku sudah menyiapkan hadiah gantinya. Tapi buku itu benar-benar harus aku bawa kembali. Penulisnya memintaku untuk mengembalikan buku itu secepatnya."
Yunza tertawa kecil sambil menutup mulutnya. "Pandai sekali berbohong."
"Tapi, kak. Aku sudah berikan itu ke suamiku---"
"Kau berikan ke siapa!" kaget Shen Xiao Lu sambil membalikkan badannya. Matanya melotot dengan raut wajah panik yang gagal disembunyikannya.
Sekali lagi hal itu membuat Yunza tak bisa menahan tawanya. "Aku hanya becanda, hahahaha!" ucapnya sambil tertawa.
Shen Xiao Lu menggertakkan gigi, mengepalkan tangannya erat-erat lalu berkata, "kau berani mempermainkanku? Berhenti tertawa! Mengapa kau mirip sekali dengan ibunda, memangnya apa senangnya mentertawakanku seperti itu!"
Yunza terdiam. "Ibu ... Ibunda?" ucapnya dengan nada lirih pelan.
Shen Xiao Lu yang baru menyadari ucapannya diam mematung. Sementara hal itu telah mengingatkan Yunza pada ibunya yang telah ia tinggalkan.
"Gara-gara kau ibunda mati!" Kalimat tersebut yang selalu Shen Xiao Lu katakan tatkala marah pada Yunza, saat kanak-kanak dulu hingga dewasa.
Mengingatnya kini, membuatnya merasakan rasa yang amat sakit di hatinya. Dia segera menoleh ke arah Yunza. "A-aku tidak bermaksud---"
"Bukunya ada di sana." Yunza menyerobot sambil menunjuk ke salah satu laci dengan tatapan sedih.
Shen Xiao Lu berjalan ke arah laci tersebut dan mengambil buku yang pernah diberikannya. Kemudian dia bertanya, "Shen Yun Ja, apa kau membenciku?"
"Kau berbohong, kan? Sejak kecil aku selalu berbuat jahat padamu. Bahkan tak segan-segan untuk menyakitimu entah dengan ucapan maupun perbuatan. Mengapa kau tidak membenciku?" tanyanya yang masih membelakangi Yunza.
"Karena apa yang kau katakan benar. Aku yang menyebabkan ibunda mati. Jadi, apapun yang kau lakukan padaku aku tidak marah. Aku bersyukur kau masih mau berbicara padaku."
"Oh, itu sangat menyakitiku. Shen Yun Ja, benci aku. Benci aku sebanyak yang kau mau. Tapi jangan biarkan orang lain menindasmu, jangan biarkan orang lain menyakitimu lebih buruk dariku!"
Yunza tertegun mendengarnya. Dia menengadah dan melihat dari punggung kecil Shen Xiao Lu. "Gemetaran, sepertinya Shen Xiao Lu menangis," batinnya.
Tak lama dia melangkahkan kaki menghampirinya, kemudian memeluknya dari belakang. Yunza merasakan kehangatan bahu kakak perempuannya.
Dia lahir sebagai anak tunggal, tidak tahu seperti apa perasaan berbagi kebahagiaan atau rasa sakit dengan seorang saudara. Namun di sana, Shen Xiao Lu dapat memberikannya.
"Syukurlah aku memiliki kakak. Seperti biasanya, aku akan menuruti perkataanmu. Membalas mereka 100 kali lipat lebih buruk," ucap Yunza.
"Itu bagus!"
Shen Xiao Lu menepis tangan Yunza dan berjalan pergi menuju pintu keluar. Di tangannya di sembunyikan beberapa buku yang dicarinya.
Di ambang pintu, dia menghentikan langkahnya. "Lekas bersiap dan pergilah ke gerbang. Itu pun jika kau ingin mengantar kepergianku dan kak Han Xi."
"Kalian akan kembali ke negara Long? Kenapa buru-buru sekali?" tanya Yunza.
__ADS_1
"Banyak yang harus kak Han Xi urus di sana. Jika kau masih merindukannya, jangan lupa datang saat peringatan kematian ibunda," tuturnya.
Shen Xiao Lu melangkahkan kaki keluar. "Oh, ya. Sebagai gantinya, aku akan mengirim hadiahku. Kau tunggu saja!" Setelah itu dia pergi.
Sementara itu, di gerbang istana.
Shen Xiao Lu duduk di dalam kereta sementara Shen Han Xi masih mengobrol dengan Lin Jian yang mewakili kaisar untuk mengantar kepergiannya. Di sana juga berdiri seorang pria yang pernah bertemu Shen Xiao Lu.
"Apa dia marah dan tidak mau bertemu denganku? Andai ayah Kaisar tidak mendesakku pulang, aku masih ingin berada di sini untuk menjaganya," batin Han Xi.
"Sepertinya dia tidak akan datang. Kalau begitu, aku pergi dulu. Pangeran Lin Jian, aku titip adikku padamu. Aku harap kau bisa menjaganya melebihi diriku," ucapnya.
Lin Jian menjawab, "kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Bagaimanapun dia adalah istriku."
Dengan berat hati, Han Xi melangkah pergi. Langkahnya sangat pelan berharap Yunza segera datang. Namun sampai dia masuk ke dalam kereta, Yunza tak kunjung tiba.
"Apa kau membuatnya marah saat menemuinya tadi?" tanya Han Xi pada Xiao Lu.
"Tch! Berhenti menyalahkanku!" Xiao Lu memalingkan wajahnya dengan perasaan yang tidak karuan. Tak bisa dipungkiri, dia juga menunggu kehadiran Yunza di sana.
"Jalan!" ucap Han Xi pada kusir. Kereta pun mulai berjalan pergi.
Beberapa saat kemudian, saat mereka sudah cukup jauh dari gerbang. Dari kejauhan, terlihat seseorang sedang berlari mengejar.
"Kakak! Tunggu!" teriak Yunza mengejar kereta tersebut. Di tangannya terdapat sebuah kotak yang dilapisi kantong yang terbuat dari kain.
Ia berlari sangat cepat seorang diri, dan hampir mengejar kereta. Saat itu, Han Xi membuka tirai dan memerintahkan kusir untuk berhenti. Namun kusir tersebut sepertinya tidak mendengar perkataannya.
"Kakak! Ambil ini!" Yunza menyodorkan kotak tersebut lalu Han Xi mengulurkan tangannya. Hal itu tak semudah apa yang terlihat.
"Yunza, berhenti! Jangan mengejar lagi!" perintah Han Xi yang mengkhawatirkan.
"Ambil ini!"
Akan tetapi Yunza tak mendengarkannya. Ia bersikeras memberikan kotak tersebut pada kakaknya. Dan setelah perjuangan keras, dia pun berhasil memberikannya.
Dia menghentikan langkahnya sementara kereka terus maju dan menjauh. Kemudian Yunza mengangkat tangannya dan melambai.
"Hati-hati di jalan! Titip salah untuk ayah Kaisar!" teriaknya.
Shen Xiao Lu yang menyaksikan kejadian tersebut hatinya sempat berdebar khawatir. "Bodoh!" celanya.
Dia menyandarkan kepalanya ke dinding kereta. Kemudian dengan mata terpejam dia bergumam, "ibunda ... aku gagal menjaganya. Aku harap ibunda bisa menjaganya dengan baik."
Di sampingnya, Han Xi membuka kotak dan melihat isinya. "Sup ... jamur?" Setelah itu dia tersenyum bahagia.
Di sana, Yunza diam mematung menyaksikan kepergian kedua kakaknya. Semakin lama semakin menjauh, hingga akhirnya menghilang dari pandangannya.
Dia menghela napas kasar, disusul dengan napas memburu. Tiba-tiba saja, pandangannya menjadi buram. Kedua lututnya terasa lemas dan dia tak kuat berdiri lagi.
Hampir saja Yunza ambruk ke tanah. Beruntung, Lin Jian muncul di depannya dan menggendongnya.
__ADS_1
"Apa kau bodoh? Apa kau seekor kuda, hah?" omelnya.
Yunza tak menjawab dan hanya memejamkan mata dalam pelukan Lin Jian. Kemudian, Lin Jian berjalan membawa Yunza kembali ke istana.