Not Idiot Princess

Not Idiot Princess
Naluri


__ADS_3

"Itu ... itu kuda milik Nona!"


Perkataannya membuat semua orang gempar. Kemudian firasat buruk mulai menghampiri beberapa orang terutama Lin Jian. Namun, hal itu tidak berlaku untuk Shenshen.


Ia tersenyum sebab berpikir rencananya telah berhasil. Lalu tanpa berpikir berkata, "kuda milik kakak ipar kembali dalam keadaan terluka. Jangan-jangan ... dia mati dimangsa hewan buas!" Ia memanas-manasi keadaan.


Mendengar hal itu, Lin Jian lantas mengerutkan dahinya kemudian melempar tatapan tajam kepada adik perempuannya tersebut. Hal itu membuatnya terkejut dan langsung diam menutup mulut.


Tak berapa lama, dia membalikkan tubuhnya dan mulai melangkahkan kaki dengan tergesa. Didekatinya seseorang yang menunggangi kuda tak jauh dari posisinya berada. Lalu berkata padanya, "berikan kudanya padaku!"


Si penunggang kuda turun dari kuda. Kemudian barulah Lin Jian menaikinya dengan raut wajah cemas dan khawatir. "Pangeran keenam, Pangeran ketujuh, ikutlah denganku!" perintahnya kepada adik-adiknya.


Setelah itu, dia memacu kudanya memasuki hutan. Disusul oleh adik-adiknya di belakang.


Mi Anra melihat kepergian Lin Jian dengan kedua tangan memohon di dada. Kekhawatiran yang juga dirasakannya terpampang jelas di raut wajah. "Nona, kau harus baik-baik saja!" batinnya.


Sementara itu, beberapa saat yang lalu.


Yunza berjalan dengan tubuh yang mulai tidak seimbang, serta penglihatan yang sedikit kabur. Dirabanya sesuatu di sampingnya sambil berkata, "apa ini sebuah gua?"


Perlahan, sambil berpegangan pada dingin gua dia pun mulai memasukinya. Namun, baru beberapa langkah dari mulut gua, tubuh Yunza segera ambruk ke tama lalu dia tak sadarkan diri.


Di hutan, tepatnya di persimpangan yang mana salah satu jalannya mengarah ke Timur. Di sana Lin Jian berkata, "kalian pergilah ke arah lain. Aku akan mencarinya ke Timur."


"Kakak kedua, apa kau yakin akan pergi ke Timur? Permaisurimu bukannya sudah diperingatkan untuk tidak pergi ke sana? Bagaimana kalau dia tidak ada di sana?" tanya adik keenam.


Lin Jian menoleh ke arahnya. "Aku punya firasat kalau dia pergi ke Timur. Lagian, dia itu istriku. Tebakanku tidak mungkin salah." Setelah mengatakan hal itu, Lin Jian melanjutkan pencarian dan memasuki hutan bagian Timur.


Kedua adik beserta bawahannya dibuat heran dengan sikap kakak mereka yang tidak seperti biasanya. "Sepertinya dia sudah mulai mencintainya. Aku sangat salut kepadanya yang bisa mencarikan gunung es seperti kak Lin Jian," celetuk adik ketujuh.


"Berhenti bicara, sebaiknya kita segera mencari istrinya. Atau tidak, dia pasti akan menghukum kita," ucap adik keenam. Dia menggiring kudanya ke suatu arah.

__ADS_1


"Aku akan mencarinya ke sini, kau pergilah ke tempat lain!" lanjutnya sambil berlalu pergi. Adik keenam menghela napas kasar kemudian pergi ke tempat lain untuk mencari Yunza.


Tibalah Lin Jian di hutan Timur, dia mencari-cari namun tak kunjung menemukan Yunza. "Yunza! Apa kau mendengar suaraku?" teriaknya dengan suara keras. Akan tetapi, Lin Jian tak mendapatkan jawaban dari ucapannya itu.


Tiba-tiba, tak sengaja sepasang matanya melihat ceceran darah di tanah. Dia amat terkejut kemudian turun dari kudanya dan berjongkok. Di sentuhnya darah yang sudah hampir mengering tersebut olehnya.


"Kejadiannya sekitar setengah jam sampai satu jam yang lalu," gumam Lin Jian.


Dia mengamati ternyata ceceran darah tersebut mengarah ke suatu arah. Dia beranjak dan mengikuti arah tersebut dengan pandangannya. Tak lama, Lin Jian kembali menaiki kudanya dan pergi mengikuti jejak darah tersebut.


Beberapa waktu berlalu, sampailah dia di sebuah tempat di dekat sungai. Lin Jian terperajat kaget saat melihat hampir semua bagian dari tempat itu dipenuhi darah. Bau menyengat pun sampai menusuk hidungnya.


Lin Jian kemudian turun dari kuda. Dia mengamati dengan seksama saat melihat tumpukkan mayat tersebut. Lalu berlari kearahnya dengan perasaan khawatir.


"Yunza?" Dengan tangannya dia menyibakkan tumpukkan. Tak peduli dengan bau amis dari darah, maupun darah yang menempel di lengannya. Dia sudah tidak peduli lagi.


"Yunza!" serunya lagi.


"Wang Xi." Dia memanggil Wang Xi. Sekejap kemudian Wang Xi pun muncul di belakang Lin Jian.


"Cari tahu apa yang terjadi di sini, dan periksa identitas orang-orang ini," perintahnya.


Lin Jian kembali menghampiri kudanya. Setelah menaikinya dia pun pergi ke tempat sebelumnya. Tempat pertama kali dia melihat adanya darah di tanah, mungkin bisa menemukan Yunza dari sana.


Setibanya, Lin Jian kembali mengamati tempat kejadian tersebut. Akhirnya menyadari bahwa ada bercak darah di salah satu batang pohon. Dia berjalan menghampiri pohon tersebut.


Menyentuh batang pohonnya dengan segenap perasaan dan pikiran tajam. "Yunza." Ia kembali memanggil namanya untuk yang kesekian kalinya.


Ia memeriksa semak-semak yang tumbuh di sekitar pohon. Beberapa ranting patah, seperti baru tertimpa sesuatu yang berat.


Karena rasa penasaran, Lin Jian menyibakkan semak-semak tersebut dan malah menemukan jejak darah. Jejak tersebut mengarah ke suatu arah yang berlawanan dengan lokasi ditemukannya mayat-mayat tersebut. Dia memutuskan untuk mengikuti jejak tersebut.

__ADS_1


Lama waktu berlalu, Lin Jian mengikutinya dengan perlahan. Jejak itu kemudian mengantarnya kepada sebuah gua tua tak beroenghuni. Dia terdiam sejenak di depan gua, sampai akhirnya melangkahkan kakinya masuk.


Akan tetapi, baru saja tiba di mulut gua, dia dikejutkan oleh orang yang terbaring tidak berdaya tergeletak di tanah. "Yunza!" teriak Lin Jian sembari menghampirinya.


Dia membalikkan tubuh Yunza yang tengkurap sambil memeriksa denyut nadinya. Perasaannya saat itu menjadi tidak karuan saat melihatnya seperti itu. "Denyut nadinya sangat lemah," gumam Lin Jian.


"Yunza, bangun! Apa kau mendengarku? Aku sudah datang menyelamatkanmu, jadi, bukalah matamu!" Ia menepuk-nepuk pipi Yunza untuk menyadarkannya. Namun Yunza tak merespon sedikit pun.


Lin Jian menggendong tubuh Yunza dan berniat membawanya kembali ke tenda, namun siapa sangka, senja hampir ditelan kegelapan. Setelah memastikan tempat itu aman, dia pun membawa Yunza ke dalam dan menidurkannya.


Di sana, Lin Jian hendak memperbaiki perban di lengan Yunza. Saat melihat luka di lengannya, sorot mata membunuh pun terpancar jelas di matanya. "Siapa yang berani melakukan hal ini padamu?" tanyanya.


"Apa orang-orang berpakaian hitam di tepi sungai itu? Jika aku sampai mengetahuinya, aku tidak akan pernah melepaskannya begitu saja. Aku janji, Yunza."


Di waktu yang sama, di tepi sungai.


Para bantuan sudah datang untuk membantu pencarian dan pemeriksaan mayat-mayat tersebut. Seseorang berkata, "luka di beberapa tubuh mereka, seperti gigitan hewan buas."


"Apa itu karena serigala yang ada di bukit yang terkenal itu?" tanya orang lainnya.


"Bisa jadi. Jika benar begitu, kemungkinan Permaisuri pangeran kedua masih hidup sangat kecil. Orang-orang ini tentunya seorang profesional, apalagi hanya seorang wanita," sahut lainnya.


"Hei! Di sini ada orang!" teriak seorang pengawal. Dia memeriksa sebuah semak dengan lentera di tangannya, lalu memanggil rekan-rekannya untuk menghampiri.


Di sana, dia menunjuk sesuatu. Setelah di dekati, ternyata jasad seorang perempuan. "Bukankah dia salah satu selir Pangeran kedua? Dia ... apa dia sudah meninggal?"


Chen Su terbaring tak sadarkan diri dengan hampir sekujur tubuh dipenuhi luka gigitan. Satu orang maju dan memeriksa denyut nadinya.


"Dia masih hidup," ucapnya.


"Kalian! Bawa selir ke tenda! Aku akan melaporkan penemuan kepada Pangeran kedua dan yang lainnya."

__ADS_1


"Baik!"


__ADS_2