Not Idiot Princess

Not Idiot Princess
Tidak Ingin Menikah


__ADS_3

Suatu malam, di negara Long.


Han Xi sedang sibuk dengan beberapa dokumen di ruang baca miliknya. Tak berapa lama, seekor burung datang dari jendela dengan sebuah gulungan yang diikat di kakinya.


Ia kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri burung tersebut. Gulungan yang cukup besar itu pun dilepaskan secara perlahan. Setelah itu, Han Xi mulai membacanya.


Tiba-tiba saja dia langsung membelakkan matanya saat mulai membaca isi gulungan tersebut. Sesaat setelahnya dia langsung menggulung kembali gulungan itu dan bergegas pergi dari ruangannya.


Han Xi berjalan dengan langkah cepat. Perasaannya menjadi tidak karuan setelah membaca gulungan tersebut. "Aku harus segera memberitahu ayah Kaisar," gumamnya dalam hati.


Beberapa saat kemudian, tibalah dia di depan ruang baca ayahadanya. Akan tetapi, pengawal menghadang sambil berkata, "Yang Mulia sedang tidak bisa diganggu saat ini."


Saat itu Han Xi baru ingat kalau tadi siang Kaisar kedatangan tamu dari negara Yangjou, negara yang tidak akan lama lagi akan menjadi besan negara Long. Mengetahui hal itu, Han Xi memilih pergi dan akan memberitahukannya lain hari.


Dalam perjalanan kembalinya ke ruangan, Han Xi tidak sengaja melihat Shen Xiao Lu yang sedang duduk seorang diri di sebuah gazebo di tepi danau. Ia yang mengkhawatirkannya pun menghampirinya.


Setibanya, Shen Xiao Lu langsung mengenali langkah kakinya namun ia tak menoleh sedikitpun dan terus asyik melamun.


Han Xi kemudian duduk dan berkata, "udara malam tidak baik untuk kesehatanmu. Kembalilah ke kamar, Shen Xiao Lu."


Shen Xiao Lu tak bergerak sedikitpun, lalu mengajukan tanya, "mengapa wanita harus menikah?"


"Mengapa kau tidak ingin menikah?" tanya balik Han Xi.


"Setelah menikah, seorang wanita harus ikut dengan suaminya, bukan? Aku tidak mau. Aku tidak mau meninggalkan negara ini. Aku tidak mau meninggalkan tempat penuh kenangan bersama ibunda ini, kak," jawabnya.


Han Xi terdiam, dia mengerti dengan jelas bagaimana perasaan adik perempuannya itu. Tak lama, dia berdiri lalu berkata, "lekas kembali ke kamar."


Setelah mengatakan itu, Han Xi langsung melangkahkan kaki hendak pergi. Namun beberapa saat kemudian dihentikan oleh pernyataan Shen Xiao Lu.


"Apa ... apa kakak bisa berbicara dengan ayahanda mengenai hal ini? Aku yakin, jika itu kakak, ayahanda pasti akan mendengarkan," pintanya dengan tatapan penuh harapan.


Han Xi hanya menoleh kemudian berkata, "maaf, Shen Xiao Lu, aku tidak bisa. Lebih baik kau melupakan keinginanmu dan turuti ayahanda. Ini demi kebaikanmu. Kau harus belajar dari adikmu."

__ADS_1


"Dia tidak bahagia dengan pernikahannya, kakak."


"Dia hanya belum bahagia."


"Dia tidak akan pernah bahagia!" bentak Shen Xiao Lu dengan tatapan tajam. "Mengapa kalian sangat serakah dan egois! Kalian membuat kami menderita hanya untuk kepentingan negara! Aku membenci kalian!" Setelah itu Shen Xiao Lu pergi meninggalkan Han Xi.


Ia menatap sayu kepergian Shen Xiao Lu tanpa bisa berbuat apapun. "Maaf, Xiao Lu. Tidak lama lagi negara ini mungkin akan menghadapi perang. Kau maupun Yunza setidaknya harus berada di tempat yang aman saat itu tiba," batin Han Xi.


Sementara itu, di negara Hou.


Lin Jian berjalan kaki pada malam hari sambil melamun. Ia tak bisa melupakan apa yang baru saja dibicarakannya dengan Wang Xi.


"Bagaimana penyelidikan di desa itu, Wang Xi?" tanya Lin Jian.


"Ijin menjawab, Yang Mulia. Berdasarkan perintah Anda aku sudah mengutus beberapa orang pergi ke desa tersebut beberapa hari yang lalu dan mencari tahu mengenai beliau. Setelah dilakukan survei, tak ada satu pun dari mereka yang mengenal nama Lin Jiangyu," jawab Wang Xi.


"Akan tetapi, saat nama Mu Jiang disebutkan, ekspresi mereka menjadi berubah dan cenderung menghindari pertanyaan. Mereka pergi begitu saja tanpa menjawab seperti takut akan sesuatu," sambungnya.


Mendengar hal itu, Lin Jian menghentikan tangannya. "Mengapa? Apa mereka tahu sesuatu tentang nama ibuku?" tanyanya.


Lin Jian menghela napas kasar lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tak berselang lama dia bangkit dan berjalan menuju pintu keluar.


"Yang Mulia," seru Wang Xi.


Lin Jian menghentikan langkah kakinya lalu bertanya, "apa masih ada lagi?"


Wang Xi terdiam beberapa saat. Dilihat dari raut wajahnya, ia tampak sedikit ragu untuk mengatakan penuturannya.


"Ada apa, Wang Xi?" tanya Lin Jian.


"Mohon ampun, Yang Mulia. Ada satu informasi penting namun aku ragu untuk memberitahukannya," ucapnya sambil menunduk.


Lin Jian membalikkan tubuhnya lalu berkata, "katakan!"

__ADS_1


"Saat aku hendak menemui mereka untuk mengetahui informasi tersebut, sepulangnya, seorang ibu menghadangku. Beliau mengaku kalau dia dan nyonya Jiangyu berteman sejak kecil."


"Teman ibunda? Apa dia ada mengatakan sesuatu padamu?" tanya Lin Jian.


"Benar. Awalnya dia menanyakan kabar nyonya Jiangyu, kemudian aku memberitahunya bahwa nyonya ...." Wang Xi menghentikan ucapannya. "Setelah mendengar hal itu, beliau amat terkejut sampai menangis. Kemudian memberitahuku satu informasi," lanjutnya.


Lin Jian diam mendengarkan.


"Beliau mengatakan ... bahwa nyonya Jiangyu memiliki hubungan dengan ... dengan Jenderal Thang Su."


Penuturan Wang Xi membuat Lin Jian membelakkan matanya. "Jenderal ... Thang Su, katamu?"


"Yang Mulia, aku tidak tahu informasi itu benar atau tidak. Namun sepertinya, kita harus pergi ke kamp militer untuk menanyakan langsung kepada orangnya."


Lin Jian tak menjawab lagi. Dia membalikkan tubuh dan langsung pergi meninggalkan ruangannya.


Berjalan tanpa arah dengan segudang masalah di kepalanya. Siapa sangka, langkah kaki malah menuntunnya ke depan pintu kamar istrinya, Yunza.


Dia sempat terdiam sejenak, sampai akhirnya mendorong pintu dan masuk ke dalam. Rasa lelah menuntunnya kepada sebuah ranjang tidur dimana Yunza tengah tertidur pulas.


Pria itu menatap sayu pada sosok di depannya.


"Lin Jian ingin tidur bersama Ibunda!" ucap pria kecil dengan bantal di pelukannya.


"Baiklah. Tapi untuk hari ini saja, ya. Kelak saat dewasa, Lin Jian akan tidur bersama orang yang Lin Jian cintai."


Kenangan bersama sang Ibunda kembali terlintas di kepalanya. "Mencintai, kah?" batinnya sambil menatap punggung Yunza.


Ia tak mengerti dengan perasaannya. Entah cinta ataukah bukan, saat melihatnya benar-benar membuat hatinya tenang.


Lin Jian kemudian menaikkan kakinya dan tidur di samping Yunza. Seketika, aroma tubuhnya menarik perhatian pria itu.


Ia memberanikan diri membalikkan tubuhnya menghadap Yunza yang membelakanginya. Kemudian memeluknya dari belakang. Hangatnya tubuh Yunza benar-benar memberikan ketenangan untuk Lin Jian.

__ADS_1


Lin Jian memejamkan matanya sambil menghirup aroma tubuh Yunza. "Ibunda ... apa aku mencintainya?" Setelah itu dia tertidur dengan sangat pulas sampai esok hari tiba.


__ADS_2