
Di waktu yang sama, di negara Long.
Sebuah surat rahasia dibawa oleh seekor burung kepada Kaisar Long. Setelah mengetahui isinya, dia pun segera memanggil putra-putranya datang untuk membahasnya bersama-sama.
"Kenapa ayah Kaisar memanggil kami diwaktu seperti ini?" tanya pangeran keempat.
"Putra-putraku, dengarkan aku baik-baik," perintahnya di hadapan mereka. "Baru saja, aku menerima sebuah surat. Dalam surat, seseorang meminta kita mengirim pasukan ke perbatasan jika ingin adik kalian, Yunza, selamat," lanjutnya.
Han Xi berdiri sambil terbelalak kaget. "Apa maksudnya, Ayahanda? Apa Yunza sedang dalam bahaya?" berangnya kemudian.
"Tenanglah, Han Xi. Biar ayah selesaikan ucapan ayah terlebih dahulu," pinta Kaisar. Setelah itu, dia menghela napas kasar. Tampak keseriusan di raut wajahnya yang membuat semua orang cemas.
"Putera mahkota Lin Yu, mengirim surat kepadaku lengkap dengan token miliknya sebagai bukti bahwa surat ini benar darinya. Dia tidak memberitahukan situasinya, namun memintaku mengirim pasukan ke perbatasan jika ingin Yunza selamat," jelasnya.
"Putera mahkota Lin Yu? Bagaimana mungkin? Bukankah dia sudah meninggal?" Semua orang berpikiran sama.
"Putera mahkota Lin Yu masih hidup. Ia memalsukan kematiannya untuk mengkudeta ayahnya. Dan tujuan lainnya adalah ... membawa Yunza kembali ke negara Long dengan selamat," ucap ayah Kaisar.
"Sudah kuduga," batin Han Xi.
"Lalu, apa yang akan Ayahanda lakukan? Sebaiknya jangan terlalu percaya. Mungkin saja, mereka sedang merencanakan sesuatu dengan mengatasnamakan kematian putera mahkota dan Yunza!" ujar putera mahkota Shen.
"Apa yang dikatakan kakak pertama benar, Ayahanda. Mereka pasti melakukan suatu rencana untuk mengecoh kita. Jangan termakan omongannya!" tolak pangeran lainnya.
Kaisar menaruh tangannya di dagu. "Meski aku juga berpikir demikian, tapi aku tidak bisa mengabaikan surat ini karena menyangkut putriku, Yunza," katanya.
"Untuk itu, aku sudah memutuskannya dengan sangat matang," lanjutnya sambil menatap lurus ke depan.
Semua pangeran terdiam menunggu keputusan ayah Kaisar, dengan perasaan gelisah dan khawatir.
"Pangeran keempat, kau sudah melewati masa latihanmu bertahun-tahun di kamp militer. Ini saatnya untuk terjun langsung ke medan perang. Untuk itu, aku memerintahkanmu membawa 1000 pasukan pergi ke perbatasan dan menyelamatkan adikmu!" titah Kaisar.
Han Xi tiba-tiba berdiri. "Aku tidak setuju, Ayahanda. Biarkan aku saja yang pergi!" pintanya.
__ADS_1
"Han Xi, keputusan ayah tidak bisa diubah lagi. Ini belum termasuk perang dan kita harus menyelesaikan urusan kita dengan negara Yangjou terlebih dahulu!" ujar Kaisar.
"Meski begitu, aku tetap tidak setuju, Ayahanda! Masalah negara Yangjou, aku yakin kau dan kakak pertama bisa mengatasinya. Namun ini menyangkut nyawa Yunza." Han Xi bersikeras dengan keinginannya.
"Cukup Han Xi!" Kaisar berkata dengan tegas. "Di sini, memangnya siapa yang tidak menyayangi Yunza? Semua menyayangi adiknya! Keputusan yang aku ambil bukan berarti tanpa pertimbangan matang. Dan aku ingin kau menerimanya!" katanya.
Han Xi terdiam tak berani menjawab. Namun, di hatinya terdapat suatu kekecewaan atas keputusan yang ayahnya ambil.
"Pangeran keempat, apa kau sanggup menerima tugas ini?" tanya Kaisar pada pangeran keempat, Shen Tian Tian.
Shen Tian Tian berdiri dari tempat duduknya dan lantas membungkuk di hadapan Kaisar. "Aku bersedia menerima tugas ini, Ayahanda," ucapnya.
Setelah itu, Kaisar memperbolehkan mereka pergi dari ruangannya dan memberitahu mereka untuk menutupi masalah ini dari banyak orang terutama dari Shen Xiao Lu. Dia tidak mau membuat Shen Xiao Lu memikirkan hal lain menjelang pernikahannya.
Sementara itu, di negara Hou tepat pada tengah malam.
Kaisar Lin dibangunkan oleh suara langkah kaki seseorang di depan kamarnya. Tak lama, disusul oleh ketukan pintu dengan tempo seperti sebuah isyarat. Dia pun turun dari tempat tidurnya dan pergi dari kamar selir Ning Ning.
Di luar, dia bertemu seseorang dengan pakaian serba hitam dan tertutup. Di hadapan Kaisar, orang itu berlutut lalu berkata, "aku datang berdasarkan perintah Kaisar Huan Qing dan membawakan surat darinya untukmu, Yang Mulia Kaisar Lin."
"Apa Kaisar Huan ada mengatakan sesuatu mengenai masalah ini?" tanyanya sambil membuka gulungan.
"Tuanku sedang menyiapkan ribuan pasukan untuk dikirim ke negara Hou ini. Dan beliau sendiri yang akan memimpin pasukan," jawab orang tersebut.
Kaisar membaca isi surat dan dibuat terkejut dengan apa yang ada di dalamnya. "Pangeran Yu Qin ditemukan meninggal di Istana dingin? Bagaimana mungkin? Lalu, siapa yang selama ini tinggal di Istana Hou Zzi ini?" batin Kaisar.
"Aku sudah menduga ada yang tidak beres dengannya, terlebih saat berita kematian Lin Yu tiba di Istana," gumamnya. Tak lama, dia membelakkan matanya. "Jangan-jangan ... dia adalah ...."
"Satu lagi, Kaisar Lin. Tuanku meminta Anda menangkap hidup-hidup orang itu. Dia sendiri yang akan menghukumnya atas apa yang sudah dilakukannya! Begitu perintah selanjutnya darinya," kata orang itu.
Kaisar mengiyakan ucapannya dan lalu menutup gulungan. Kemudian pada orang itu dia berkata, "kau sudah boleh pergi." Orang itu pun pergi dengan secepat mata berkedip.
Setelah dia pergi. Kaisar mengepalkan tangannya dengan tatapan membunuh. "Lin Yu! Apa kau ingin bermain-main denganku?" katanya sambil menggertakkan gigi.
__ADS_1
Malam itu, Mi Anra terbangun. Karena dahaga, dia berniat pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Namun, sekembalinya dari dapur, dia tidak sengaja melihat Kaisar dan orang asing.
Dia juga tidak sengaja menguping percakapan mereka yang akhirnya membuatnya dia shock dan ketakutan. Mi Anra berjongkok merapatkan tubuhnya ke dinding dengan telapak tangan menutup rapat mulutnya.
"Siapa yang ingin mereka tangkap? Putera mahkota, tidak mungkin putera mahkota masih hidup!" gumamnya dalam hati.
Setelah melihat sosok itu pergi, tadinya Mi Anra pun hendak pergi. Akan tetapi, tiba-tiba saja dia menjatuhkan gelas di tangannya yang membuat Kaisar waspada.
"Siapa di sana!" teriaknya sambil melihat ke arah Mi Anra.
Karena tak ada jawaban, Kaisar lantas menarik pedangnya dan berjalan menghampiri asal suara. Sementara itu, Mi Anra semakin ketakutan. Namun, jika dia pergi saat itu mungkin Kaisar akan memergokinya.
"Bagaimana ini? Apa aku akan mati di sini?" gumamnya.
Semakin dekat Kaisar menghampiri dengan acungan pedang tajamnya, semakin takut pula Mi Anra sampai kedua lututnya gemetaran.
"Aaarrghhhh!"
Akan tetapi, suara teriakan selir Ning Ning menghentikan langkah kakinya. Teriakan kedua kembali terdengar dan membuat Kaisar khawatir. Dia akhirnya lebih memilih memeriksa keadaan selir Ning Ning.
Melihat Kaisar memasuki kamar selir Ning Ning, Mi Anra menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri.
Sedangkan di dalam kamar, selir Ning Ning meringis kesakitan sambil memegangi perut buncitnya. Kaisar pun menghampirinya dengan raut wajah cemas.
"Apa apa, Ning Ning? Apa perutmu terasa sakit?" tanyanya.
"Suamiku, aku ... aku mungkin akan segera melahirkan," jawabnya sambil menahan rasa sakit.
"Bagaimana mungkin? Ini belum waktunya!"
"Aku tidak tahu. Tapi perutku sakit sekali, aku tidak tahan lagi."
"Kalau begitu tunggu sebentar, aku akan menyuruh seseorang memanggil tabib." Setelah itu Kaisar pergi dari kamar dan memerintahkan pengawalnya untuk membawa tabib Istana. Ia sangat khawatir karena ini merupakan kelahiran anak pertama selir Ning Ning.
__ADS_1
Setelah malam berlalu dengan penuh ketegangan dan kekhawatiran, akhirnya selir Ning Ning melahirkan seorang putri yang sangat cantik. Namun, karena usia kandungan yang belum cukup, bayi tersebut memiliki tubuh yang sangat mungil.
Meski begitu, Kaisar sangat senang atas kelahiran putrinya tersebut. "Namanya adalah, Lin Ning Su."