Not Idiot Princess

Not Idiot Princess
Konsekuensi Menyakiti Permaisuri


__ADS_3

Dibawah senja, Yunza berjalan dengan keputusasaannya karena tak dapat menemukan Lin Jian di manapun. Ia semakin mencurigai suaminya tersebut.


Dia menghampiri sebuah kursi kayu di pinggir jalan sambil berkata dalam hati, "apa dia pergi ke rumah bordil lagi?" Kepalanya mulai memikirkan yang tidak-tidak.


Tiba-tiba, sesosok bayangan hitam berdiri tepat di hadapannya. Perlahan Yunza menengadahkan kepalanya, namun sekejap kemudian orang itu langsung memukulnya sampai tak sadarkan diri. Yunza pun dibawa oleh orang-orang misterius tersebut.


Di waktu yang sama, Lin Jian tiba di penginapan. Akan tetapi, dia terkejut karena tidak mendapati Yunza di sana. Dia pun berniat pergi untuk mencari Yunza.


Namun, di depan pintu Wang Xi datang menghadang. "Yang Mulia, pengawal rahasia yang Tuan perintahkan untuk menjaga Permaisuri, ditemukan tewas di belakang penginapan," kata Wang Xi.


"Apa? Bagaimana mungkin!" bantah Lin Jian tak mempercayai hal itu. "Wang Xi, perintahkan pengawal lainnya untuk mencari Permaisuri segera!" Setelah mengatakan hal itu, Lin Jian lekas bergegas pergi.


"Baik, Yang Mulia." Wang Xi pun pergi.


Lin Jian mencari ke segala penjuru desa namun tak kunjung menemukannya. Sampai akhirnya, tak sengaja dia melihat tusuk rambut milik Yunza tergeletak di tanah. Dia pun memungutnya.


Sementara itu, di sebuah tempat kumuh dan gelap, Yunza diikat di sebuah kursi dalam keadaan tidak sadarkan diri. Di depannya, berdiri seorang perempuan yang tak lain adalah putri tertua Kepala Desa.


"Jadi, dia Permaisuri pangeran kedua, gadis bodoh dari negara Long itu?" tanyanya sambil bersidekap tangan.


Tak lama, dia menengadahkan tangannya. "Ambilkan seember air dingin," perintahnya pada orang suruhannya. Mereka pun melakukan apa yang diminta. Kemudian dengan air tersebut, dia menyiram Yunza sampai akhirnya membuatnya bangun.


Yunza gelagapan akibat dinginnya air tersebut. Dia pun mendongakkan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi. Dilihatnya seorang wanita, kemudian dia bertanya, "siapa kau? Mengapa kau melakukan hal ini?"


Diam-diam, Yunza menggesekkan tali yang mengikat tangannya di permukaan kursi yang tajam.


"Aku, putri tertua Kepala Desa. Tujuanku melakukan hal ini hanya sekadar ingin bertemu dengan Permaisuri pangeran kedua. Aku ingin lihat seperti apa orang yang beruntung mendapatkan pangeran kedua," tuturnya.


Terlepas dari apa yang dikatakannya, perbuatannya malah berbanding terbalik. Kemudian Yunza tersenyum. "Heh! Apa begini caranya menyambut Permaisuri pangeran kedua? Membawanya dengan paksa, mengikatnya kemudian menyiramnya dengan air dingin? Aku tidak tahu bagaimana reaksi pangeran kedua jika mengetahuinya."

__ADS_1


Penuturan Yunza membuat dia tertegun. Dia baru menyadari hal tersebut yang tidak dipertimbangkannya sebelum melakukannya. "Apa kau pikir pangeran kedua sebegitu mencintaimu sampai rela melakukan sesuatu untukmu?" tanyanya.


"Tentu saja. Saat ini aku bahkan sedang ... mengandung anaknya," celetuk Yunza. Seketika wanita itu membelakkan matanya sempurna. Padahal yang dikatakan Yunza hanyalah kebohongan.


Yunza hampir bisa melepaskan ikatan di tangannya. Kemudian saat dia lengah, Yunza segera bangkit sambil memegang kursi yang tadi didudukinya untuk memukul wanita yang tidak diketahui namanya.


Brak!


Suara keras pun terdengar akibat benturan tersebut. Namun, rencananya tidak berhasil saat seseorang tiba-tiba muncul di belakangnya dan melempar kursi ke dinding. Segera setelah itu, dia memegangi Yunza kembali.


Wanita itu tersenyum iblis. "Ternyata kau mempunyai keberanian juga. Tidak salah jika pangeran kedua mencintaimu. Namun, apa jadinya jika kau sudah mati? Apa dia akan tetap mencintaimu atau tidak?"


"Kau ingin membunuhku? Apa kau sudah memikirkan konsekuensi karena bukan hanya menyakitiku, namun juga berniat membunuhku? Jika pun negara Hou bungkam, tapi tidak dengan negara Long!" ancam Yunza.


"Itu tidak masalah. Aku hanya perlu membuat kematianku seolah-olah merupakan suatu kecelakaan. Dengan begitu, aku bisa terlepas dari tuduhan apapun," jawabnya.


"Apa dengan membunuhku pangeran kedua akan mencintaimu? Jangan mimpi!" berang Yunza. Perkataannya membuat wanita itu naik pitam.


Dibawanya benda itu ke hadapan Yunza. "Apa kau tahu, aku sangat suka menyiksa orang dengan cambuk ini. Dengan senang hati aku mengijinkanmu untuk mencoba kehebatannya," ujarnya.


Yunza mengernyitkan dahinya. Namun kemudian dia membelakkan matanya saat wanita itu mulai mengangkat tangannya. Saat cambuk akan dihentikan, Yunza pun menutup matanya ketakutan.


Namun, yang terdengar olehnya malah sabetan pedang disusul oleh benda terjatuh dan teriakan keras wanita tersebut.


Yunza pun membuka matanya dan melihat apa yang terjadi. Wanita itu jatuh terduduk sambil meratapi tangannya yang terputus sambil menangis. Di sampingnya, berdiri Lin Jian dengan tatapan tajam mengarah padanya.


"Lin Jian?" ucap Yunza lirih pelan.


Tak hanya sampai disitu. Lin Jian kembali mengangkat pedangnya hendak menebas leher wanita tersebut. Akan tetapi, Kepala Desa datang dan langsung berlutut di hadapannya.

__ADS_1


"Kepala Desa, apa begini cara kalian memperlakukan istriku?" tanya Lin Jian.


"Hamba yang tidak becus mendidiknya, tolong Yang Mulia mengampuninya," pinta Kepala Desa. Istri dan putri bungsunya pun turut berlutut untuk meminta pengampunan.


"Tidak bisa. Putriku berusaha menyakiti istriku, dia harus dibawa ke Istana untuk diadili."


Perkataan Lin Jian membuat Kepala Desa bergidik ketakutan. "Tolong jangan lakukan itu, Yang Mulia. Apa yang akan terjadi pada desa Jongwu jika masalah ini sampai ke Istana," pinta Kepala Desa lagi.


Tiba-tiba, istri Kepala Desa menghampiri Yunza sambil merangkak. Dia berlutut bahkan bersujud di hadapan Yunza. "Permaisuri, tolong ampuni kebodohan anak kami. Apa yang didapatnya sudah cukup untuknya mendapatkan pelajaran," pintanya.


Yunza pun jadi tidak tega jika melihat hal seperti itu. Dia menatap Lin Jian dan mengisyaratkan untuk tidak melakukannya. Kemudian, Lin Jian pun menyimpan pedangnya lalu menghampiri Yunza.


"Aku melepaskan kalian bukan karena rasa kasihan, melainkan karena ini permintaan dari istriku. Kelak, jika hendak melakukan sesuatu juga harus melihat siapa suaminya."


Lin Jian menggendong Yunza yang dalam keadaan basah kuyup, lalu pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Arrrghhh! Tanganku!" teriak wanita itu. Akibat perbuatannya, dia pun kehilangan tangan kanannya.


Malam hari, di kamp militer.


Beberapa orang mengendap-endap masuk ke gudang pangan sambil menenteng wadah berisi minyak tanah. Di dalam, mereka mencipratkan minyak tanya ke semua sudut ruangan termasuk karung berisi candangan pangan.


Setelah selesai melakukannya, mereka pun keluar dari gudang. Satu orang yang membawa obor langsung melemparkannya ke dalam, dan sekejap kemudian gudang pun terbakar hebat.


Namun, tidak hanya gudang pangan saja yang terbakar. Gudang senjata pun terbakar hebat di waktu yang bersamaan. Semua prajurit panik dan berusaha memadamkan api tersebut.


"Apa apa ini? Mengapa gudangnya bisa terbakar?" teriak Jenderal Thang.


Kekacauan pun terjadi di kamp militer. Dalam satu malam, persediaan pangan dan senjata untuk jangka waktu beberapa bulan ke depan pun ludes terbakar tanpa sisa. Hal itu menimbulkan kerugian yang sangat besar.

__ADS_1


"Hanya gudang pangan dan gudang senjata yang terbakar. Kejadian malam ini pasti bukan hanya kebetulan. Ada seseorang yang melakukannya!" Jenderal Thang menoleh ke belakang.


Di sana, dia tak sengaja melihat sesosok bayangan yang tengah mengintai mereka sejak tadi. "Siapa dia?" batin Jenderal Thang.


__ADS_2