
Menjelang siang.
Semua wanita sudah mendapatkan kuda untuk mereka berlatih. Masing-masing dari mereka pun sudah ditemani pendamping. Sedangkan Yunza malah baru saja tiba di lapangan dengan kudanya.
Ia melihat semua orang memiliki pendamping sementara dirinya tidak. "Apa hanya aku yang tidak memiliki pendamping?" gumamnya sambil melihat-lihat.
"Ehem!" Tiba-tiba terdengar dehaman dari arah belakang. Saat Yunza menoleh, dia mendapati Lin Jian berdiri di sana.
"Apa yang sedang kau tunggu? Cepat naik!" perintah Lin Jian dengan wajah datar.
"T-tunggu dulu. Aku masih belum punya pendamping," balas Yunza.
Tetiba Lin Jian menghampiri dan langsung menggendong Yunza, menaikkannya ke atas kuda. "Ada aku, tidak perlu pendamping!" katanya dengan tegas.
Yunza terperangah kaget namun tak mengatakan apapun lagi. Lin Jian kemudian memegang tali kuda dan membawanya ke lapangan dengan perlahan.
"Apa-apaan pria ini! Datang-datang langsung menggendongku begitu saja. Tidak sopan sekali!" gerutu Yunza dalam hati sambil cemberut.
Tibalah mereka di lapangan. Yunza langsung bergabung dengan Mei An dan yang lainnya.
Mengetahui bahwa pendamping Yunza adalah Lin Jian, Chen Su langsung memasang wajah tidak suka karena cemburu. Ia tak bisa menerimanya.
Setelah itu, mereka diberikan materi mengenai cara menunggangi kuda dan yang lainnya. Semua dilakukan untuk persiapan berburu musim panas yang tahun ini akan diikuti oleh para Permaisuri dan selir-selir Pangeran.
Mereka pun mulai mencobanya sendiri tanpa pendamping. Awalnya mereka mengalami kesulitan, namun seiring berjalannya waktu mulai bisa mengambil kendali dari kuda yang mereka tunggangi.
Di sana, Chen Su membawa kudanya menghampiri Shenshen. Kemudian dia bertanya, "apa yang akan kita lakukan padanya sekarang?"
Shenshen tersenyum jahat, lalu merogoh pakaiannya dan mengeluarkan sebuah benda berbentuk lonjong sebesar jari kelingking.
"Apa itu?" tanya Chen Su.
"Kau akan tahu sendiri nanti." Shenshen kemudian pergi.
Seperti yang lainnya, mulanya Yunza juga mengalami kesulitan saat mengendalikan kuda miliknya. Akan tetapi, berdasarkan instruksi dari Lin Jian, perlahan dia mulai bisa mengendalikannya.
"Yosh! Yosh! Kuda yang baik!" Yunza mengelus kepala kuda tersebut. Hingga tanpa ia sadari, di belakang, Shenshen sedang mengincarnya.
__ADS_1
Shenshen menaruh benda seperti rokok tersebut di mulutnya sambil memerhatikan gerak gerik Yunza. Di suatu waktu yang telah diperhitungkan, dia pun meniup benda tersebut.
Sebuah jarum kecil keluar dari benda itu dan melesat dengan cepat ke arah Yunza.
Akan tetapi, Yunza bukanlah target sesungguhnya dari itu melainkan kuda miliknya. "Shen Yun Ja, semoga Tuhan menolongmu," ucapnya sambil tersenyum menyeringai.
Bidikannya tepat sasaran dan mengenai bokong kuda tersebut. Siapa sangka, jarum sekecil itu bisa menyakiti kuda sampai teriakannya terdengar ke segala penjuru.
Akibatnya, kuda pun mengamuk dan mulai berlari dengan kecepatan tinggi. Yunza yang berada di atas kuda mulai panik dan mempererat pegangannya.
"Tenanglah! Tenanglah!" teriak Yunza pada kuda miliknya.
Semua orang yang menyaksikan hal itu terkejut, begitu juga dengan Lin Jian. Dia pun segera berlari ke arah Mei An sambil berkata, "berikan kudanya padaku!" Mei An turun dan Lin Jian segera mengambil alih.
Dengan kuda yang dipinjamnya dari Mei An, dia pun mengejar Yunza. "Apa dia bodoh?" cemoohnya ditengah rasa khawatir.
Lin Jian yang terkenal garang di medan perang, dengan kuda yang bukan miliknya akhirnya bisa menyusul Yunza.
"Tarik talinya perlahan!" ujar Lin Jian kepada Yunza.
"Tch!" Tak lama, Lin Jian mengulurkan tangannya. "Ulurkan tanganmu perlahan!" perintahnya.
Yunza terdiam dan hanya melihat tangan Lin Jian. Dia tak bisa melepaskan genggamannya karena takut terjatuh. "Aku ... tidak bisa!" perkataannya membuat Lin Jian geram.
"Turuti perkataanku, Shen Yun Ja! Ulurkan tanganmu!" pintanya lagi.
Yunza berniat menurutinya, namun baru saja melepasnya beberapa saat, rasa takut terjatuh kembali menghantui dirinya. "Aku tidak bisa!" balasnya lagi sambil kembali berpegangan.
Hal itu membuat Lin Jian semakin kesal. Tak berselang lama, saat memikirkan cara untuk menyelamatkan istrinya, sepasang mata Lin Jian malah melihat sebuah jurang di depan mereka. Ia amat terkejut.
Yunza melihat hal yang sama kemudian dia menangis. "Ayah ... Ibu ... apa aku akan mati lagi? Setelah ini apa lagi?" gumamnya pasrah.
Di saat itu, tiba-tiba saja Yu Qin muncul dan langsung naik ke kuda yang Yunza tunggangi. Dia mengambil alih tali dan berkata, "jangan takut, Yunza. Ada aku di sini."
Yunza dan yang lainnya terperajat kaget dengan kemunculannya. Namun, mendengar ucapannya membuat Yunza merasa sedikit lega.
"Dengarkan aku, Shen Yun Ja. Aku akan memberikan aba-aba dan kita akan melompat," ucap Yu Qin.
__ADS_1
"M-melompat? Tapi ini sangat berbahaya!"
"Percaya padaku! Kau akan baik-baik saja."
Yunza pun menganggukkan kepalanya. Tak lama, Yu Qin memeluk erat Yunza dari belakang, satu tangan lainnya dia gunakan untuk memegang tali.
"Lepaskan talinya sekarang!"
Begitu mendengar aba-aba dari Yu Qin, Yunza segera melepaskan tali tersebut. Kemudian, dengan sekuat tenaga Yu Qin menarik tubuh Yunza membuat keduanya jatuh ke tanah dan menggelinding beberapa kali. Kuda itu pun terjerumus ke dalam jurang.
Saat menggelinding, Yu Qin melindungi kepala dan wajah Yunza menggunakan tangannya. Saat menyentuh tanah pun dia menggunakan tubuhnya sebagai penghalang.
Beberapa saat kemudian, mereka terhenti hanya beberapa jengkal saja dari bibir jurang. Yunza membuka matanya. "Aku ... aku baik-baik saja?"
Kemudian dia mendengar suara ringisan di belakangnya, ia pun segera bangkit. Alangkah terkejutnya dia saat melihat tangan Yu Qin terluka.
"Yu Qin!" teriaknya.
Tangan yang waktu itu digunakan untuk menyelamatkan Yunza dari anak panah, kini digunakannya lagi untuk melindunginya. Yunza benar-benar tidak mengerti dan dia hanya menangis.
Yu Qin yang melihatnya kemudian bangun sambil berkata, "aku baik-baik saja. Jangan menangis lagi." Padahal tangannya terluka sampai mengeluarkan darah. Beberapa bagian tubuh pun mendapat goresan luka kecil.
Saat itu Lin Jian dan orang-orangnya datang, dia langsung memeriksa keadaan Yunza. "Apa kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" tanyanya yang dipenuhi kekhawatiran.
Yunza menggelengkan kepalanya. "Lin Jian, bawa Yu Qin ke tabib. Dia terluka karena menolongku."
Lin Jian melirik Yu Qin dengan tatapan sinis. Sekejap kemudian dia berkata, "aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena Tuan sudah menyelamatkan istriku."
Yu Qin membalas, "itu tidak masalah, Pangeran kedua."
Kemudian Lin Jian memerintahkan bawahannya untuk membantu Yu Qin, sementara dia menggendong Yunza dan membawanya pergi dari sana.
"Wang Xi! Masalah ini usut sampai tuntas! Aku ingin dalang dibalik kecelakaan ini segera ditemukan!"
"Baik, Yang Mulia!"
Dalam pelukan Lin Jian, Yunza menoleh ke belakang, melihat Yu Qin. "Siapa kau sebenarnya? Mengapa sampai melakukan ini untukku? Mengapa melukai diri sendiri demi melindungiku? Yu Qin, aku benar-benar tidak mengerti."
__ADS_1