
Di malam yang sama, di tenda Chen Su.
"Ini kesempatan besar untuk kita menyingkirkan Shen Yun Ja sepenuhnya, dan aku sudah menyiapkan semuanya. Kau tinggal melakukannya dengan baik, Chen Su," ucap Shenshen.
Mendengar hal itu Chen Su mengerutkan dahinya. "Aku? Apa kau tidak ikut serta dalam rencana kali ini?" tanyanya.
"Tidak, Ibunda melarangku ikut berburu. Tapi kau jangan khawatir, aku sudah menyiapkan dengan matang rencana kali ini. Ini pertarungan satu lawan satu, ah tidak, seharusnya satu lawan sekelompok dimana kau akan memenangkannya nanti," ucap Shenshen.
Tak berapa lama, dia menunjukkan sebuah peta di atas meja. Mereka pun mulai membahas rencana mereka berdasarkan peta tersebut.
"Kau hanya perlu menggiringnya ke sini." Shenshen menunjuk suatu tempat dalam peta. "Setelah tiba di sana pastikan kau menahannya, sementara orang-orang itu pergi ke dekat bukit," sambungnya.
"Mereka pergi ke bukit untuk memanggil kawanan serigala, bukan begitu?" tanya Chen Su.
"Benar. Dengan panah yang kau bawa, buatlah kuda yang ditunggangi Yunza pergi meninggalkannya. Setelah mereka datang dengan kawanan serigala, lekaslah pergi." Shenshen menyilangkan kakinya.
"Shen Yun Ja yang tidak bisa melarikan diri tanpa kudanya akan dimangsa para serigala sampai tak menyisakan sejengkal pun dagingnya. Setelah itu, tidak akan ada penghalang lain antara kau dan kakakku," lanjutnya.
"Kau benar. Kematiannya akan dianggap sebagai kecelakaan dalam berburu dan tidak akan ada yang menyalahkan kita," ujar Chen Su.
Keduanya tersenyum penuh arti, kemudian malam pun berlalu begitu saja.
Hari berganti.
Pagi itu saat Yunza membuka matanya, ia melihat Lin Jian yang sedang memeluknya dan mendapati mereka tertidur tanpa sehelai benang pun dibawah selimut yang sama.
Mengingat kejadian semalam membuatnya malu sampai memerah kedua pipinya. "Oh! Apa yang sudah aku lakukan?" Yunza seakan-akan baru menyadari perbuatannya dan menyesalinya.
Saat itu, tetiba Lin Jian membuka matanya. Melihat keresahan istrinya, dia langsung mendaratkan ciuman selamat pagi di keningnya.
"Apa masih terasa sakit?" Pertanyaan yang Lin Jian lontarkan membuat Yunza malu tidak kepayang.
Ia tak menjawab dan mendorong tubuh Lin Jian. Akan tetapi, Lin Jian tak melepaskannya begitu saja. Dia malah mengeratkan pelukannya dan berkata dengan lembut, "Yunza, lahirkan seorang anak untukku."
Mendengar hal itu Yunza lantas membelakkan matanya. Raut wajahnya seketika berubah dan dia memalingkan pandangannya. Hal itu membuat Lin Jian heran dan bertanya-tanya.
__ADS_1
Sampai akhirnya ia melepaskan Yunza. Yunza bangun dan duduk membelakangi Lin Jian.
Lin Jian pun bangun dan memeluk Yunza dari belakang. Ia kemudian bertanya, "kenapa? Apa kau tidak mau mengandung anakku?" Ia menyibakkan rambut panjang Yunza dan mencium tengkuk lehernya.
"Tidak," jawab simpel Yunza. "Aku tidak akan pernah mengandung anakmu, atau aku akan mati," batin Yunza.
Yunza meronta melepaskan diri dari Lin Jian, setelah itu ia memungut pakaiannya dan memakainya. "Perburuan selanjutnya akan segera berlangsung, kau sebaiknya kembali ke tendamu atau orang lain akan melihatmu keluar dari sini," ucap Yunza.
Lin Jian tertawa lucu mendengarnya. "Memangnya kenapa kalau orang lain melihatku keluar dari sini? Bukankah ini tenda istriku?" tanyanya.
"Kau tidak takut selir kesayanganmu cemburu nantinya?" tanya balik Yunza.
Lin Jian sudah sangat muak mendengar Yunza mengatakan hal tentang 'selir kesayangan' yang sebenarnya tidak ia miliki.
Tiba-tiba, Yunza menghampiri Lin Jian dan menutup mulutnya dengan tangannya. "Ada yang masuk," ucapnya sambil melihat ke pintu tenda.
"Nona, aku bawakan air hangat untuk mandi." Terdengar suara Mi Anra di depan tenda.
Yunza menarik selimut dan menyembunyikan Lin Jian, setelah itu, dia menarik tirai ranjangnya sampai menutupi tempat tidur. Tak berapa lama, Mi Anra pun masuk.
"Kau lihat sendiri, aku sudah bangun," jawab Yunza dengan gelagat mencurigakan.
Mi Anra masuk bersama beberapa orang sambil membawa beberapa ember air hangat. Mereka langsung pergi ke balik sebuah bilik tak jauh dari tempat tidur dan menuangkan air ke dalam bak sampai terisi penuh.
Setelah selesai, mereka pun pergi meninggalkan kamar namun tidak dengan Mi Anra. Dia malah mendekat sambil bertanya, "wajah Nona pucat sekali, apa masih sakit?"
"Mi Anra, jangan ke sini!" perintah Yunza. Mi Anra seketika menghentikan langkah kakinya. "A-aku baik-baik saja, kau sudah boleh pergi," ucap Yunza.
Mi Anra dibuat terheran dengan tingkah laku Yunza pagi itu. Hal mencurigakan lainnya dirasakan olehnya saat melihat sesuatu berwarna merah di leher Yunza.
"Nona, leher Anda---"
Yunza segera menutupi lehernya dan berkata, "ny-nyamuk di sini sangat banyak semalam."
Kemudian tak sengaja sepasang mata Mi Anra melihat sehelai pakaian tergeletak di tanah. Ia yang mengurus semua keperluan Yunza tahu bahwa itu bukan pakaiannya.
__ADS_1
"Ah! Bukankah itu pakaian Pangeran kedua?" Kedua matanya membelak sempurna saat menyadari hal itu.
"K-kalau begitu aku pergi dulu! Titip salam untuk tuan nyamuk!" celetuk Mi Anra kemudian meninggalkan kamar.
Di belakang, terdengar suara tawa Lin Jian.
"Apanya yang lucu!" serang Yunza. Ia kemudian beranjak dari tempatnya dan pergi mandi.
Perlahan, Yunza mencelupkan kakinya ke bak mandi. Setelah dirasa airnya pas, dia pun mulai berendam dengan tubuh telanjang. Entah sejak kapan dia tidak pernah berhati-hati lagi saat bersama Lin Jian.
"Apa ini cinta? Aku tidak pernah pacaran dulu, jadi tidak tahu bagaimana rasanya berdekatan dengan pria," gumamnya sambil menyandarkan tubuh dengan mata terpejam.
"Di dunia kuno ini, dimana aku bisa mendapatkan obat kontrasepsi?" celetuknya.
"Obat kontrasepsi? Apa itu?" Tetiba suara Lin Jian terdengar di telinganya. Saat membuka mata, Yunza mendapati Lin Jian sudah berada di dalam bak yang sama.
Tanpa menutup-nutupinya, Yunza memberitahukannya pada Lin Jian mengenai obat tersebut. Hal itu tentu saja membuat Lin Jian marah.
"Aku ingin kau mengandung anakku! Mau tidak mau kau harus menerimanya, Shen Yun Ja!" ucap Lin Jian dengan tegas.
Yunza tertawa di depannya. "Mengapa aku harus melakukannya? Jika menginginkan seorang anak, kau bisa melakukannya dengan selir-selirmu," balas Yunza.
Lin Jian mendekati Yunza dan memeluknya dari depan. Dia kemudian mencium tulang selangka Yunza sambil berkata, "aku yang menentukan siapa yang akan mengandung anakku. Jika aku bilang kau, maka harus kau!"
"Mengapa harus aku?" tanya Yunza.
Lin Jian mendekatkan wajahnya ke wajah Yunza. Ia menempelkan keningnya lalu berkata, "karena ... aku mencintaimu."
Yunza tersenyum pasrah. "Shen Yun Ja, jika kau terus seperti itu mungkin aku akan kecanduan nantinya," bisik Lin Jian.
Beberapa saat kemudian.
Yunza bersiap diri karena hari sudah mulai siang dan berburu hampir dimulai. "Sial! Dia membuatku hampir terlambat dan sekarang pergi entah kemana! Habis manis sepah dibuang. Lin Jian br*ngsek!" sungutnya.
Dari luar, datanglah Mi Anra seraya berkata, "Nona, perburuannya akan segera dimulai!"
__ADS_1
Yunza berjalan ke arahnya dengan pakaian berburu dan rambut diikat tinggi dengan sebuah tusuk rambut cantik. "Ayo kita pergi, Mi Anra."