
Malam hari.
Lin Jian dan Wang Xi tiba di kamp militer. Mereka disambut hangat oleh beberapa prajurit terutama oleh Jendral Thang Su, sebagai pemimpin kamp.
Setibanya, Lin Jian langsung pergi ke suatu ruangan dan meminta Jenderal Thang Su datang untuk membicarakan sesuatu. Mendengar hal itu, Jenderal Thang Su mengerutkan dahinya. Ia sudah menebak apa yang akan dilakukan Lin Jian kepadanya.
Di dalam ruangan, Lin Jian dan Jenderal Thang Su duduk saling berhadapan. Hanya mereka berdua dan tidak ada siapa-siapa lagi di sana.
"Jarang sekali Pangeran kedua datang ke kamp militer apalagi malam-malam begini. Apa ada masalah penting yang harus segera diselesaikan?" tanya Jenderal Thang Su.
"Tebakan Jenderal Thang Su sangat akurat, seperti biasanya. Kedatanganku ke kamp karena ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Aku harap, Jenderal Thang dapat bekerja sama dalam menjawabnya," balas Lin Jian.
Jenderal Thang tersenyum dengan satu sudut bibirnya terangkat. Kemudian Lin Jian berkata, "aku tidak akan berbasa-basi lagi. Pertanyaanku adalah ... Jenderal Thang, apa kau mengenal seorang wanita bernama ... Mu Jiangyu?"
Jenderal Thang yang tadinya tersenyum tiba-tiba berubah ekspresi wajahnya ketika mendengar nama itu diucapkan oleh Lin Jian.
"D-dari mana Anda tahu tentang nama itu?" tanyanya dengan keterkejutan di wajahnya.
"Itu tidak penting. Aku ingin dengar jawabanmu."
Jenderal Thang menundukkan kepalanya dengan ekspresi yang masih sama. Dia menjawab, "aku ... tidak bisa beritahu."
Jawabannya membuat Lin Jian kecewa, namun dia tak mau menyerah begitu saja. Raut wajah dinginnya perlahan berubah, ketenangan dapat dilihat di wajahnya sekarang.
"Dia harus sedikit diprovokasi, baru bisa mengatakan yang sebenarnya," batin Lin Jian lalu mengambil cangkir teh lalu menyeruputnya ditengah pembicaraan.
"Mu Jiangyu, seorang Oiran (mojang di rumah bordil) dari rumah bordil yang terletak di pinggir ibukota. Suatu hari tidak sengaja bertemu dengan ayah Kaisar kemudian dia menikahinya. Saat melihatnya, kau pun jatuh hati dan merebut---"
"Itu tidak benar!" Jenderal Thang menyela perkataan Lin Jian. "Mu Jiangyu bukanlah seorang Oiran! Dia wanita baik-baik!" ucapnya kemudian.
Lin Jian terkejut mendengar ucapannya. Tidak menyangka bahwa Jenderal Thang sebegitu membela ibunya.
Jenderal Thang baru menyadari ucapan yang baru saja dia katakan. Dia kembali bungkam sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Melihat hal itu, Lin Jian bertanya, "mengapa kau tidak mau memberitahuku mengenai Mu Jiangyu itu? Atau jangan-jangan ... apa yang aku katakan barusan adalah kebenaran?"
Jenderal Thang masih diam. Dia terlihat sangat gelisah dan ketakutan. Ditengah keraguannya, dia pun mulai membuka mulut. "Mu Jiangyu ... pertama kali aku bertemu dengannya adalah saat perang 20 tahun yang lalu. Dia merupakan seorang relawan medis," ucapnya.
"Dia gadis yang baik, ceria, dan memiliki senyuman yang sangat hangat. Aku pun jatuh hati padanya ...."
Lin Jian mendengarkan dengan seksama cerita masa lalu Jenderal Thang bersama ibunya yang tidak pernah diketahuinya.
"Di medan perang, aku terluka cukup parah. Dialah yang berdiri paling depan saat mengobatiku, dengan raut wajah cemasnya. Diambang kesadaran, dalam hati aku berkata, 'jika aku diberi kesempatan hidup, aku ingin hidup dengannya'." Cerita masih berlanjut.
Dalam cerita, beberapa hari berlalu.
Jenderal Thang akhirnya sadarkan diri. Perang pun berhasil dimenangkan berkat putera mahkota (Kaisar saat ini). Saat itulah, berkat keberanian Jenderal Thang Su, dia pun mendapatkan gelar Jenderal yang diberikan langsung oleh putra mahkota.
Di atas rasa bahagianya itu, Jenderal Thang berlari dengan langkah yang sangat cepat. Ia hendak menemui Mu Jiangyu untuk berbagi kebahagiaan, namun setelah mencarinya kemana mana, dia tak bisa menemukannya.
Tak ada yang memberitahunya apapun mengenai kemana perginya Mu Jiangyu, dan itu sangat membuatnya kecewa dan patah hati. Dia mengubur perasaannya kepada Mu Jiangyu sejak saat itu.
Suatu ketika, putera mahkota mengundangnya ke Istana. Hal itu bertujuan untuk membahas beberapa hal mengenai perang dan yang lainnya.
"Nona Mu, mengapa kau bisa ada di sini?" tanya Jenderal Thang kepadanya.
Alih-alih menjawab, Mu Jiangyu malah menghindar dan meninggalkan Jenderal Thang. Akan tetapi, Jendela Thang menghalanginya pergi.
"Sejak kapan kau ada di sini? Beritahu aku!"
Mu Jiangyu berwajahkan murung. Dengan ragu dia mendongakkan kepalanya menatap Jenderal, lalu berkata, "Tuan Thang, aku ... aku akan menikah sebentar lagi."
Perkataannya bak sebuah pedang menusuk relung hati Jenderal Thang. Lebih menyakitkan lagi saat melihat Mu Jiangyu menangis di hadapannya. "Tuan Thang, aku ... aku tidak ingin menikah. Karena aku sebenarnya mencintaimu," aku Mu Jiangyu sambil terisak.
Jenderal Thang kemudian memeluk Mu Jiangyu. Dengan wajah dingin dia berkata, "Nona Mu, aku juga mencintaimu. Aku akan membawamu pergi dari sini. Kau tidak perlu menikah jika tidak menginginkannya."
Tetiba Mu Jiangyu mendorong tubuh Jenderal Thang. "I-itu tidak mungkin terjadi. Kau tidak akan bisa membawaku pergi dari sini karena ... seseorang yang akan menikahiku adalah---"
__ADS_1
"Nona Mu!" Seseorang memanggilnya dari arah belakang. Saat menoleh, mereka mendapati putera mahkota berdiri di sana.
Saat melihat adanya putera mahkota di sana, Mu Jiangyu langsung bungkam dan menundukkan kepalanya. Sementara di depan, putera mahkota berjalan mendekat.
Jenderal Thang membungkukkan badannya, "hamba memberi salam, Yang Mulia putera mahkota."
"Jenderal Thang Su, ini sudah larut malah dan kau baru tiba beberapa saat yang lalu. Aku sudah meminta pelayan untuk menyiapkan sebuah kamar untukmu," ucap putera mahkota sambil melirik ke suatu arah.
"Hamba mengerti. Terima kasih, Yang Mulia." Jenderal Thang menganggukkan kepalanya. Sebelum melangkah pergi, dia melirik Mu Jiangyu terlebih dahulu.
"Nona Mu, aku pergi dulu. Kita bicara lain waktu." Setelah mengatakan hal itu, Jenderal Thang berjalan ke arah yang ditunjukkan putera mahkota tadi.
Ia merasa ada sesuatu yang aneh terjadi. Sehingga tak jauh dari sana, dia pun menoleh ke belakang.
Di sana dia melihat putera mahkota melepaskan mantel tebalnya dan memakaikannya ke Mu Jiangyu. Tangannya merangkul bahu Mu Jiangyu kemudian mereka pergi bersama.
"Apa mungkin ... orang yang akan menikahinya adalah putera mahkota?" batin Jenderal Thang.
Apa yang ditakutkannya benar terjadi. Beberapa hari kemudian digelarlah pesta pernikahan putera mahkota dengan seorang gadis yang tak lain adalah Mu Jiangyu. Dia kecewa dan sangat terkejut saat mengetahuinya.
Kekecewaannya tidak terbendung lagi. Ia bahkan enggan melihat wajah Mu Jiangyu. Namun tugas yang diberikan putera mahkota mengharuskannya tinggal di Istana beberapa waktu.
Suatu hari, setelah selesai membahas masalah militer bersama beberapa panglima dan putera mahkota, Jenderal Thang tak sengaja bertemu Mu Jiangyu lagi.
Mu Jiangyu malu terhadap dirinya dan tidak berani menatap Jenderal Thang. Begitu juga dengan Jenderal Thang yang sudah terlanjut kecewa. Saat berpapasan, mereka tak menyapa satu sama lain dan lewat begitu saja.
Akan tetapi, perban di pergelangan tangan Mu Jiangyu membuat Jenderal Thang terkejut. Dia menghentikan langkah kakinya dan langsung memegang tangan Mu Jiangyu untuk memeriksanya.
"Ini ... luka apa ini?" tanyanya.
Mu Jiangyu tak menjawab dan menarik tangannya. Dia membalikkan tubuhnya dan kembali melanjutkan langkah kaki. "Sebaiknya Tuan Thang jangan menemuiku lagi," ucap Mu Jiangyu.
Jenderal Thang kembali mencekal lengan Mu Jiangyu agar tidak pergi. Kemudian berkata, "beritahu aku! Apa yang terjadi? Mengapa tanganmu bisa terluka?" Ternyata setitik perasaan masih ada di hatinya.
__ADS_1
Mu Jiangyu tak bisa berbohong lagi. Dia menangis lalu berkata, "putera mahkota yang melakukannya."