Not Idiot Princess

Not Idiot Princess
Firasat Buruk


__ADS_3

Pagi hari berikutnya, Lin Jian mendapatkan surat dari Kaisar. Yang mana surat tersebut berisi sebuah alamat dan mengatakan kalau di sanalah ibunya berada.


Dia sangat senang mengetahui akan bertemu dengan ibunya lagi, di sisi lain dia merasa curiga dengan Kaisar yang tiba-tiba memberitahunya tentang ibunya. Meski begitu, dia memilih untuk tetap pergi.


Dia pun menunda kepulangannya dan langsung pergi ke tempat yang diberitahukan Kaisar setelah mengirim surat kepada Yunza.


Di Istana, Yunza sangat kecewa terhadap Lin Jian yang mengingkari janjinya. Namun dia berusaha berpikir positif dan tidak terlalu memikirkannya. Hingga tak berapa lama, Mi Anra datang dengan raut wajah pucat.


"Mi Anra, begadang tidak baik untuk ibu hamil." Yunza memperingatinya.


Mi Anra biasanya akan menanggapi dengan candaan, namun hari ini berbeda. Ia terus menunjukkan raut wajah tegang sambil berjalan menghampiri Yunza.


"Nona, ada yang ingin aku beritahukan padaku," ucapnya.


Yunza menoleh ke arahnya. Namun tiba-tiba mengalihkan pandangannya pada jendela kamar yang tertiup angin. Beberapa helai daun masuk mengiringi sebuah kertas putih, lalu mendarat bersama di lantai.


Yunza turun dari tempat tidurnya kemudian memungut kertas tersebut. Di sana, tertera sebuah alamat yang sangat tidak asing. "Yu Qin?" Nama itu yang muncul pertama kali di kepala Yunza.


"Nona, ada apa?" Mi Anra menghampiri.


Alih-alih memberitahunya, Yunza malah menyembunyikan secarik kertas tersebut dari Mi Anra. Kemudian dia menjawab, "tidak ada. Oh, ya, Mi Anra. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan di luar. Tetaplah di kamar dan jangan sampai kelelahan."


Yunza mengambil pakaian luarnya dan langsung bergegas pergi. Mi Anra membuntuti sambil bertanya, "kemana Nona akan pergi? Aku akan ikut denganmu!"


"Tidak, tidak perlu! Aku ingin mencari hadiah untuk selir Ning Ning dan anaknya. Kau sedang hamil, jadi jangan terlalu kelelahan. Aku akan segera kembali!" ucap Yunza yang semakin menjauh.


Mi Anra terdiam di depan pintu. "Apa dia lupa kalau dia sendiri pun sedang hamil. Sh! Nona ini!" gerutunya.


Yunza pergi keluar Istana melalui jalan yang biasa dia lewati, yakni lubang anjing. Kemudian langsung pergi ke tempat yang tertera di dalam kertas.


Tak berapa lama, dia pun tiba di tempat tersebut. Seorang pelayan menghampirinya lalu berkata, "apa kau Nona Yunza? Mari, saya antar bertemu tuan." Setelah itu Yunza pun diantar ke ruangan pribadi Yu Qin dan bertemu dengannya di sana.


"Sudah lama sekali sejak bertemu dengannya terakhir kali, tapi Yu Qin sepertinya tidak banyak berubah," gumam Yunza saat memasuki tempat tersebut. Dia pun dipersilahkan duduk di hadapan Yu Qin.

__ADS_1


"Lama tidak bertemu, Yunza," sapanya.


"Benar. Sudah lama tidak bertemu, tapi Tuan Yu Qin sepertinya tidak banyak berubah," balas Yunza.


"Tidak ada yang berubah, termasuk perasaanku." Yu Qin mengambil cangkir teh lalu menyeruputnya dengan mata terpejam.


Tak lama, membuka mata langsung menatap Yunza. Keduanya pun saling bertatapan, namun hal itu tak berlangsung lama. Yunza lantas memalingkan pandangannya ke sembarang arah.


"Jadi, apa yang kali ini kau katakan padaku? Apa ingin mengajakku pergi seperti sebelum-sebelumnya? Maaf, jawabanku masih sama," ucap Yunza.


Yu Qin menghela napas terlebih dahulu, lalu kemudian berkata, "dengarkan aku baik-baik, Yunza. Kaisar telah mencurigaimu dengan keterlibatanmu atas dicurinya gulungan penting." Yu Qin memasang wajah serius.


"Gulungan? Gulungan yang menyebabkan Gu Rong dibunuh?" tanya Yunza.


"Benar, dan tidak mungkin dia tidak akan melakukan sesuatu padamu. Untuk itu, malam ini pergilah denganku."


Mendengar hal itu, Yunza malah tertawa masam. Ia berpikir Yu Qin sengaja mengarang cerita untuk membodohinya dan membawanya pergi sesuai keinginannya.


"Yunza, aku serius!" Yu Qin menatapnya dalam, membuat Yunza diam seketika. "Tidak bisakah kau mempercayai sekali saja?" pintanya.


"Yunza, malam ini, jangan tidur! Tunggu aku datang menjemputmu dan kita akan pergi berdua," ucap Yu Qin dengan tegas.


Yunza menundukkan pandangannya. "Yu Qin, terima kasih. Aku tidak tahu kenapa kau selalu mengajakku pergi dan selalu mengkhawatirkanku. Akan tetapi, aku sungguh tidak bisa pergi," balas Yunza.


Yu Qin mengerutkan dahinya. "Apa ini ... karena Lin Jian? Kau sudah mulai mencintainya, dan karena itu selalu menolakku?" tanyanya.


"Sudah cukup! Masalah itu, kau tidak perlu tahu. Aku mencintainya atau tidak, itu urusanku!" ucap Yunza dengan sangat angkuh.


Tak berapa lama, dia beranjak dari tempat duduknya. "Terima kasih sudah memberitahu dan memperingatkanku. Ke depannya aku akan lebih hati-hati lagi. Kalau begitu, sampai jumpa," ucap Yunza.


"Yunza, tunggu!" Yu Qin berniat menghentikannya, namun terlambat. Yunza meninggalkannya tanpa mau mendengar penjelasannya, seperti biasanya.


"Yunza, tidak bisakah mempercayaiku sekali saja, meski pun kau mencintainya!" gumam Yu Qin dengan tatapan sedih.

__ADS_1


Siang harinya, Yunza tiba di Istana dengan perasaan yang cemas setelah mengetahui apa yang Yu Qin beritahukan padanya. "Tidak, tidak! Lin Jian pasti akan melindungiku! Aku hanya perlu memberitahunya kalau aku sedang hamil. Ya, benar begitu!" gumam Yunza.


Tibalah dia di depan kamarnya. Ketika membuka pintu, dia dikejutkan oleh Mi Anra yang sedang membungkus pakaian dan barang-barangnya.


Yunza melangkahkan kakinya masuk sambil berkata, "Mi Anra, apa yang kau lakukan? Apa kau berniat mengusirku dari kamar?" tanyanya.


Menyadari kedatangan Yunza, Mi Anra malah berjalan ke arah pintu. Dia menutup dan mengunci rapat pintu. Setelah itu berjalan menggandeng Yunza dan duduk di tepi ranjang tidur.


"Nona, ada yang ingin aku beritahukan. Dengarkan baik-baik," ucapnya dengan raut wajah serius. Yunza pun menanggapinya dengan anggukkan kepala.


Mi Anra menundukkan kepalanya dengan raut wajah cemas. "Nona, semalam, aku tidak sengaja mendengar perbincangan Kaisar dengan seseorang. Isi perbincangan mereka sangat membuatku terkejut," ucap Mi Anra.


Yunza menepuk pundak Mi Anra lalu bertanya, "ada apa, Mi Anra. Apa yang mereka bicarakan?"


Mi Anra memainkan kedua tangannya karena rasa takut dan gugup. Sampai akhirnya dia berkata, "mereka ... mereka mengatakan kalau negeri seberang sedang menyiapkan pasukan dan akan tiba di sini dalam beberapa waktu."


"Nona, apa akan terjadi perang?" Mi Anra memegang kedua tangan Yunza sambil menatapnya ketakutan. Yunza merasakannya dengan jelas bahwa kedua tangan pelayannya tersebut terasa sangat dingin.


"Mi Anra, tenanglah."


"Tidak, Nona. Sebenarnya bukan hanya itu yang aku dengar. Aku mendengar Kaisar berkata kalau putera mahkota Lin Yu ... masih hidup!" lanjutnya.


Mendengar hal itu, Yunza teringat ucapan Yu Qin. "Jadi benar, Yu Qin adalah putera mahkota Lin Yu. Tapi, bagaimana bisa?" batin Yunza.


"Karena itu, sebaiknya malam ini kita pergi ya, Nona."


Yunza menyentuh pipi Mi Anra yang ketakutan dengan sepasang mata yang berkaca-kaca. "Mi Anra, dengarkan aku. Kau tidak perlu takut, aku pasti akan melindungimu," ucap Yunza.


"Ini bukan tentang melindungiku, Nona. Ini tentang apa yang ada di dalam rahim kita," kata Mi Anra.


"Pangeran kedua sedang tidak ada di Istana, bagaimana mungkin kita bisa tetap aman. Nona, Kaisar Lin sangatlah licik. Dia pasti sudah merencanakan sesuatu yang buruk!" Mi Anra panik.


"Mi Anra!" bentak Yunza. "Tenanglah, kau sedang hamil! Tidak boleh panik lebihan!" ucap Yunza.

__ADS_1


Namun, bukannya lebih tenang Mi Anra justru malah menangis. Yunza pun memeluknya untuk menenangkannya. "Perasaan apa ini? Kenapa firasatku sangat buruk," batin Yunza.


Dia menatap jauh ke luar jendela. "Lin Jian, kapan kau kembali?"


__ADS_2