
Pagi harinya, di sebuah tempat.
Lin Jian bersama beberapa orang kepercayaannya mendatangi sebuah kediaman yang diduga menjadi tempat tinggal ibunya, berdasarkan apa yang Kaisar beritahukan padanya.
Akan tetapi, kediaman yang terletak di desa kecil tersebut nampak sudah tidak berpenghuni. Beberapa bangunan hampir dilahap habis oleh rumput liar. Beberapa lainnya sudah mulai rusak, berdebu dan kotor.
Sayangnya, di sana, dia tidak bisa menemukan apapun yang berhubungan dengan ibunya. Lin Jian berdiri dengan kesal, berpikir kalau Kaisar sudah menipunya. Namun tak berapa lama, sebuah benda di atas meja menarik perhatiannya.
Perlahan, dia melangkahkan kaki dan mengambil benda yang sudah berbalut debu. Kemudian dia mengambil ujung pakaiannya lalu mulai membersihkan benda tersebut.
"Tusuk rambut?" Lin Jian membelakkan matanya. Pola pada tusuk rambut membuat ingatan masa kecilny muncul, mengingatkannya bahwa dia pernah melihat tusuk rambut tersebut menempel cantik di kepala ibunya.
Namun, tak berselang lama, seorang bawahan datang menghampirinya. "Yang Mulia, sebuah surat datang dari panglima Thang Su," kata orang tersebut.
Lin Jian mengernyitkan dahinya. "Surat dari panglima Thang Su? Bagaimana mungkin?" batinnya.
Meski keraguan melanda, Lin Jian mengulurkan tangannya, mengambil surat tersebut dan mulai membukanya perlahan. "Ini ... surat dari kakak ipar Mei An?" Kini semakin membuatnya terheran.
"Mungkinkah, kakak ipar pergi ke kamp untuk menemuiku?" tebaknya. "Karena tak menemuiku, jadi, dia mengirim surat melalui panglima Thang? Tapi, bagaimana mungkin? Tidak ada satu orang pun yang tahu mengenai kepergianku ke desa ini," lanjutnya.
Selebaran kertas sudah terpampang jelas di depan matanya. Baru saja membaca beberapa kalimat, Lin Jian lekas membelakkan matanya hingga bulan sempurna.
Raut wajahnya perlahan berubah. Khawatir, gelisah dan ketegangan terpancar amat jelas. Tak bisa disembunyikannya saat menyelesaikan hingga kalimat terakhir.
Sekejap kemudian, Lin Jian melangkahkan kaki meninggalkan tempat tersebut diikuti oleh para bawahannya. Ia langsung memacu kudanya dengan kecepatan tinggi sampai membuat beberapa bawahan bertanya-tanya.
"Yang Mulia, kemana kita akan pergi sekarang?" tanya Wang Xi.
"Kembali ke Hou!" ucap Lin Jian dengan sangat tegas.
__ADS_1
Hari berlalu begitu cepat. Setibanya di istana, Lin Jian lantas bergegas pergi untuk menemui Kaisar dengan langkah cepat dan wajah datar penuh kemarahan.
Dia bahkan menendang pintu ruangan milik Kaisar. Membuat semua orang yang ada di sana terkejut dengan kehadirannya, terutama Kaisar sendiri.
Kedatangannya tersebut justru malah disambut oleh puluhan pedang yang diacungkan prajurit kepadanya. Lin Jian mengernyitkan dahinya seraya bertanya, "apa maksudnya ini, Ayahanda?" Dengan tatapan tajam.
Kaisar menegakkan tubuhnya lalu mengangkat tangan kanannya. Seketika, para prajurit perlahan menurunkan senjata mereka.
"Putraku, Lin Jian. Kau kembali sangat cepat. Bagaimana, apa kau menemukan apa yang kau inginkan selama ini?" tanyanya.
"Kau lebih tahu dibanding diriku. Bukankah begitu?" tanya balik Lin Jian. "Yang Mulia Kaisar Lin, aku dengan kau melakukan sesuatu terhadap Permaisuriku. Apa itu benar?" lanjutnya.
Mendengar hal itu, Kaisar hanya mengerutkan dahi sambil melempar tatapan tajam. Tak berapa lama, dia beranjak dari tempat duduknya dan berdiri tegak dengan kedua tangan dilipat ke belakang.
"Benar," jawabnya yang membuat Lin Jian mengepalkan tangannya. "Shen Yun Ja telah melakukan penghianatan terhadap kerajaan. Dia bersekongkol dengan musuh untuk mencuri dokumen penting," jelasnya.
"Dia tidak mungkin melakukannya!" Lin Jian menyangkal tuduhan Kaisar terhadap Yunza.
Keheningan terjadi di tempat tersebut. Sampai akhirnya Lin Jian mengajukan tanya. "Dimana dia? Apa yang kau lakukan padanya? Ayahanda, selama ini aku selalu menuruti semua keinginanmu tanpa terkecuali. Dan itu tak lain demi untuk menemukan ibuku. Namun, kau tak lain hanya seorang penipu saja," lanjutnya.
"Aku harap, kau tidak lupa bahwa sampai kapan pun kau tidak akan pernah bisa menyakiti Yunza. Negara Long, mereka---"
"Mengenai hal itu, kau tidak perlu khawatir." Kaisar menyela ucapan Lin Jian. Dia menatap lurus lalu menyungging sebuah senyuman. "Sekuat apapun negara Long, tidak akan bisa mengalahkan Hou. Karena ... aku memiliki sekutu yang sangat kuat," lanjutnya.
Lin Jian terperangah kaget. "Mungkinkah ... Negeri seberang?" batinnya menerka-nerka.
"Ya, kau benar," kata Kaisar seolah mampu membaca isi hati Lin Jian. Dia kembali duduk di singgasana miliknya.
"Dengan bantuan negeri seberang, kita tidak tertandingi. Aku ... akan membalaskan dendam negara Hou dan membunuh semua keturunan Shen---"
__ADS_1
Tiba-tiba saja, Lin Jian menarik pedang dan mengacungkannya tepat di hadapan Kaisar. Semua prajurit kembali mengangkat pedang mereka untuk berjaga-jaga jika Lin Jian melakukan sesuatu.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhnya!" ucap Lin Jian.
Kaisar menatap dengan wajah datar. "Tentu saja. Aku ingin melihat apa kau akan memilih ibumu ataukah istrimu," ujar Kaisar.
"Nah, Lin Jian, aku memberimu dua pilihan. Diantara ibu dan istrimu, mana yang akan kau pilih?" tanyanya kemudian.
Mendengar pertanyaan yang Kaisar lontarkan, Lin Jian malah tertawa sinis. "Kau pernah melakukan trik yang sama dan akhirnya berhasil menipuku. Ayahanda, jika kau mengatakan hal itu pada Lin He, dia pasti akan percaya. Namun tidak denganku," jawab Lin Jian.
Kaisar mendengus kesal, sampai akhirnya mengisyaratkan sesuatu pada penasehat di sampingnya. Beberapa saat kemudian, dia berjalan menuju sebuah pintu di dalam ruangan tersebut dan membukanya.
Apa yang ada di dalam ruangan rahasia tersebut membuat semuanya orang terperangah kaget. Mereka seakan tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.
Lin Jian yang merasakan hal yang sama, perlahan menurunkan pedangnya dengan sorot mata menatap tak berkedip ke arah ruangan rahasia itu.
Penasehat masuk dan membawa keluar seorang perempuan dengan memapahnya.
"Tidak mungkin ... ibu," ucap Lin Jian dengan suara lirih pelan.
Wanita dengan pakaian kumuh itu terlihat sangat lemah tak berdaya. Dia perlahan mengangkat kepalanya dan menatap putranya dengan tatapan sendu penuh kerinduan.
"Lin Jian." Suara yang sangat Lin Jian rindukan akhirnya dapat dia dengar kembali.
Masih sulit untuk dia percayai. Apa yang ada di hadapannya adalah orang yang selama ini dia cari-cari. Lin Jian melepaskan pedang di tangannya dan tanpa sadar berjalan hendak menghampiri ibunya. Akan tetapi, baru beberapa langkah seorang prajurit memukul kepalanya sampai ia jatuh pingsan.
"Lin Jian!" teriak ibu. "Apa yang kau lakukan padanya? Jangan menyakitinya!" kata ibu kepada Kaisar.
Kaisar menoleh ke arahnya. "Kau tenang saja. Dia masih berguna untukku, aku tidak akan membunuhnya," kata Kaisar dengan raut wajah tanpa berbelas kasih.
__ADS_1
Ibu tak habis pikir dengannya. "Kau sangat kejam, tunggulah kehancuranmu!" sumpahnya. Tak berselang lama, beberapa orang menyeretnya pergi dari hadapan Kaisar. Begitupun dengan Lin Jian.