Not Idiot Princess

Not Idiot Princess
Rencana Perburuan Musim Panas


__ADS_3

Yunza berjalan di depan Gu Rong yang sedang menggendong Mi Anra. Sejak tadi, tak ada satu pun dari mereka yang berbicara.


"A-aku bisa jalan sendiri," ucap Mi Anra. Jangankan menurunkannya, mengatakan sesuatu pun Gu Rong tidak. Sedari tadi dia hanya menatap ke depan dengan raut wajah tegang.


Baru ia sadari bahwa jalan yang sedari tadi mereka tempuh bukanlah menuju Istana. Mi Anra kemudian melirik Yunza di depan, dan bertanya, "Nona, ini bukan jalan menuju Istana. Kemana kita akan pergi?"


Yunza melirik sambil terus melangkahkan kaki, kemudian menjawab, "Kuil Sakura. Aku akan menikahkan kalian berdua di sana."


Betapa terkejutnya Mi Anra mendengarnya. "A-aku tidak mau. Nona, ayo kita pulang saja. Tuan Gu Rong, tolong turunkan aku," pintanya. Lagi-lagi mereka tak menjawab dan hanya mengabaikan sambil terus berjalan.


"Aku sudah melupakan kejadian malam itu. Jadi, tidak perlu sampai seperti ini! Kau tidak perlu memaksakan diri seperti ini!" ujar Mi Anra yang benar-benar ingin menghentikan mereka.


Yunza terdengar menghela napas kasar. "Mi Anra, Gu Rong melakukannya bukan karena keterpaksaan. Namun, dia baru menyadari perasaannya saat kau pergi," ucapnya.


Mi Anra tercengang dan langsung mendongakkan kepalanya melihat Gu Rong. Wajah merah Gu Rong tak bisa menyembunyikan perasaannya. Menyadari hal itu, Gu Rong memalingkan wajahnya karena rasa malu.


"Tidak mungkin, kan?" batin Mi Anra.


"Tapi Nona---" Ia hendak melakukan protes namun segera disela ucapan Yunza.


"Tidak ada tapi-tapian lagi. Setelah apa yang baru saja terjadi, hatiku dengan yakin mengatakan kalau aku memang seharusnya menikahkan kalian," ucap Yunza.


Tak berapa lama, tibalah mereka di sebuah tempat yang sangat sejuk udaranya. Pemandangannya sangat indah dengan pohon-pohon besar di sekitar bangunan serta jauh dari kebisingan ibu kota yang ramai.


Sesampainya, seorang Biksu datang menghampiri. Yunza pun mengutarakan maksud kedatangannya dan meminta bantuan Biksu tersebut.


Hari itu, Yunza sebagai saksinya, menikahlah Mi Anra dan Gu Rong di kuil Sakura. Semuanya berlangsung khidmat dan penuh haru tanpa adanya satu orang pun sanak keluarga yang menyaksikan.


Sementara itu di waktu yang sama, di kediaman Chen Su.


Ia yang sedang duduk sambil menahan kebenciannya terhadap Yunza, tetiba dikejutkan oleh datangnya sebuah panah yang melesat dan mendarat di dinding tak jauh dari posisinya berada.

__ADS_1


Ditengah rasa takut dan tegang, wanita berparas cantik itu melihat sebuah kertas diikat di batang panah. Ia pun segera mengambilnya dan membaca isi surat.


"Aku peringatkan kau, jangan pernah menyentuhnya walau hanya sehelai rambut saja!" Begitu isi surat tersebut.


Wajah Chen Su menjadi pucat pasi karena surat ancaman tersebut. Sesosok bayangan hitam yang pernah menemuinya jauh-jauh hari pun kembali teringat dibenaknya, membuatnya bergidik ketakutan seketika.


Kemudian terdengar ketukan pintu yang membuat Chen Su segera menyembunyikan surat tersebut. Tak lupa, ia menarik panah dari dinding dan lekas menyembunyikannya di bawah meja di dekatnya.


Disusul dengan masuknya Shenshen beserta dayangnya ke dalam kamar. Melihat raut wajah Chen Su, Shenshen lantas bertanya, "tidak bisakah memasang raut wajah lain selain murung seperti itu?"


Chen Su menoleh sekilas, lalu memalingkan pandangannya sembari berusaha bersikap tenang.


"Apa kau datang ke sini hanya untuk mengatakan hal itu?" tanya balik Chen Su.


Shenshen tak menjawab dan langsung duduk di kursi sebelah Chen Su. Kemudian, gadis berusia 17 tahun itu kembali bertanya, "apa karena wanita itu lagi?" Kali ini Chen Su hanya diam.


"Aku tidak boleh membiarkannya tahu masalah tadi malam. Kalau tidak, dia pasti akan mengadukanku ke Pangeran kedua dan aku akan langsung ditendang dari Istana," batin Chen Su.


"Berburu musim panas," celetuk Shenshen.


"Sebentar lagi akan diadakan perburuan musim panas. Banyak orang dari berbagai kalangan turut ikut serta di dalamnya. Pria, bahkan wanita. Para pangeran dan juga istri-istri mereka," ujar Shenshen.


Shenshen menoleh ke arah Chen Su yang tampaknya masih tak mengerti maksud dari ucapannya. "Perburuan akan dilangsungkan di pegunungan Cheng yang terkenal dengan banyaknya berbagai hewan buas. Semua istri-istri pangeran turut hadir yang berarti Shen Yun Ja juga akan hadir. Kau tahu artinya apa?" tanyanya.


"Peluang besar untuk melukai Shen Yun Ja?"


"Bukan hanya melukai saja. Kita bahkan bisa ... membunuhnya."


Penuturan Shenshen amat membuatnya terkejut sampai melotot kedua matanya. Hal itu memang diinginkannya, tapi di sisi lain orang 'itu' tidak akan membiarkannya melakukannya.


"Heh! Apa-apaan ekspresimu itu? Apa kau takut?"

__ADS_1


"Kau tidak perlu khawatir apapun. Kita akan membunuh Shen Yun Ja dengan seolah-olah dia mengalami kecelakaan di pegunungan Cheng," sambung Shenshen.


"Seperti ... jatuh dari tebing, atau bahkan membiarkannya menjadi mangsa hewan buas," lanjutnya.


"Apa yang dikatakannya benar. Jika Shen Yun Ja mati karena kecelakaan itu, orang itu tidak akan menyalahkanku. Aku juga harus membalas apa yang sudah dia lakukan!" batin Chen Su lagi.


Chen Su menoleh ke arah Shenshen lalu mengajukan tanya. "Bagaimana kalau ternyata dia tidak datang?"


"Shenshen, aku pikir kita tidak bisa menggunakan cara yang terlalu biasa untuk menjebaknya. Entah mengapa tapi aku merasa kalau dia selalu bisa menebak rencana kita, seperti seorang peramal yang mengetahui masa depan dan dia selalu bisa berada satu langkah di depan kita," ungkapnya.


Mendengar hal itu Shenshen hanya tersenyum tipis. Tak bisa dipungkiri, apa yang dikatakan Chen Su memang benar. Ia pun sempat berpikir seperti itu.


"Masalah itu, kau tenang saja. Aku sudah meminta bantuan seseorang untuk melakukannya," jawab Shenshen.


"Satu hal lagi, apa kau tahu Pangeran dari negeri seberang yang datang beberapa waktu lalu?"


"Pria yang menyelamatkan Shen Yun Ja dari anak panah?" tanya Chen Su.


"Benar. Aku lihat dia memiliki ketertarikan kepada wanita bodoh itu. Untuk menghancurkannya sampai ke akar maka harus membuatnya tidak punya dukungan terlebih dahulu."


"Meski kakakku tidak mencintainya, namun bukan berarti dia tidak akan membelanya demi reputasinya. Yang perlu kita lakukan hanya membuat kakakku tidak mempercayainya lagi dan meninggalkannya," lanjut Shenshen.


"Jadi, maksudmu ... menggunakan pria itu untuk menjadi orang ketiga dan merusak kepercayaannya Pangeran kedua?"


Shenshen hanya menganggukkan kepala.


Tak berapa lama, dia beranjak dari tempat duduknya sambil meregangkan tubuh. "Aku harap kau sudah paham dengan apa yang aku bicarakan tadi. Ingat, ini kesempatan emas kita untuk menyingkirkannya!"


"Aku paham," balas Chen Su.


"Baiklah kalau begitu. Masih banyak yang harus aku kerjakan, aku pergi dulu." Dia melangkahkan kaki dan meninggalkan kamar Chen Su.

__ADS_1


Seperginya Shenshen, Chen Su segera menyalakan lilin dan membakar surat yang dibawa anak panah untuk menghilangkan bukti. Sementara anak panahnya dia sembunyikan baik-baik di tempat tersembunyi.


Di luar kamar, Shenshen berdiri dengan raut wajah datar. Kemudian menolehkan kepalanya ke belakang. "Bekas goresan di dinding kamarnya, mungkinkah diakibatkan oleh anak panah?"


__ADS_2