Not Idiot Princess

Not Idiot Princess
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Malam harinya.


Chen Su bersama pria itu mengendap-endap memasuki pekarangan kediaman Yunza. "Dengar, sesaat setelah dupa dinyalakan, segeralah masuk dan lakukan seperti yang aku katakan tadi!" ucap Chen Su.


Pria itu mengangguk-angguk sambil memasang wajah mesum dengan air liur yang hampir menetes ke tanah.


Tak lama, tibalah mereka di depan pintu kamar Yunza. Tanpa berlama-lama lagi, Chen Su menusukkan sebuah bambu panjang ke dalam dinding hingga tembus ke dalam, kemudian menyalakan dupa tersebut.


Seketika sekumpulan asap pun menyerbung memenuhi seisi kamar Yunza.


"Nah, pergilah!" perintah Chen Su padanya.


Dengan patuh pria itu mulai mendorong pintu secara perlahan lalu masuk ke dalam. Chen Su tersenyum melihatnya. "Shen Yun Ja, selamat bersenang-senang!" Setelah itu dia pergi karena takut seseorang memergokinya.


Di dalam, pria itu tak bisa melihat dengan jelas karena asap dupa yang masih mengepul. Namun ia yakin, ada seseorang yang sedang berbaring di ranjang tidur. Wajah mesumnya semakin menjadi-jadi sambil mendekati ranjang tidur.


Efek dari dupa tersebut pun sudah mengendalikannya dengan hanya hitungan detik saja. Ia berjalan mendekati ranjang dengan air liur yang terus menetes.


Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba seseorang muncul di belakangnya dan langsung memukulnya hingga tak sadarkan diri.


"Dia sudah pingsan, Nona kedua," ucap Gu Rong yang memakai penutup hidung.


Yunza yang terbaring di ranjang pun bangun. Beruntung, dia sudah mengetahui hal itu akan terjadi sudah menyiapkan semuanya dengan matang termasuk masker penutup hidung.


"Sial! Wanita itu tidak ada jera-jeranya!" sungut Yunza.


"Apa yang akan Anda lakukan pada pria ini, Nona?" tanya Gu Rong.


Yunza berdiri kemudian melangkahkan kakinya. "Tentu saja ... mengembalikannya kepada pemiliknya." Mereka pun pergi membawa pria itu dalam gendongan punggung Gu Rong.


Beberapa waktu kemudian, mereka tiba di depan kamar Chen Su. Setelah memastikan bahwa tidak ada yang melihat, Yunza pun meniupkan dupa seperti yang Chen Su lakukan.


"Nah, Chen Su. Kau harus belajar dari sebuah peribahasa 'Senjata Makan Tuan' sebelum melakukan suatu hal, kau juga harus tahu siapa yang menjadi lawanmu terlebih dahulu!" kata Yunza.

__ADS_1


"Gu Rong, cepat lempar dia ke dalam!" perintahnya.


Gu Rong membuka pintu dan langsung melempar pria itu masuk, kemudian pintu kembali di tutup dengan sangat rapat dan bahkan dikunci dari dalam.


Setelah itu, mereka berdua pun meninggalkan tempat itu. "Kita tunggu siapa yang akan kalah!" ucap Yunza dalam hati.


Dalam perjalanan kembali ke kamarnya, Yunza merasakan sesuatu dalam dirinya. Tubuhnya tiba-tiba merasa panas yang tidak tertahankan. "Apa aku terkena efek obat itu? Padahal aku sudah menutup hidungku."


Tak sengaja, dia berpapasan dengan Lin Jian dan Wang Xi di sana. Tanpa disadari olehnya dia langsung melemparkan diri ke pelukan Lin Jian.


"Ada apa dengan wanita ini?" tanya Lin Jian yang keheranan.


Dalam pelukannya Yunza menengadah, menatap Lin Jian dengan kedua pipi memerah serta raut wajah yang menggoda. "Aku ... aku merasa sangat panas sekali, Lin Jian," ucap Yunza.


"Mungkinkah ia terkena obat perangsang?" batinnya.


Lin Jian segera menggendong Yunza kemudian berkata pada Wang Xi, "sudah cukup untuk malam ini. Kau bisa kembali, Wang Xi."


"Sshhh! Panas sekali!" Yunza meraba lehernya berniat melebarkan kerah pakaiannya. Tindakannya membuat Lin Jian menelan ludah, tapi dia berusaha menahannya.


"Sssh! Kenapa panas sekali! Aku tidak tahan!" Yunza semakin menjadi-jadi sambil membuka pakaian bagian dadanya sambil mengipasi dengan tangannya.


Kali ini, Lin Jian memilih untuk memejamkan matanya. Akan tetapi, Yunza malah semakin nekat. Dia tiba-tiba menyelipkan masuk tangannya ke dalam pakaian Lin Jian yang membuatnya gemetaran sekaligus terkejut.


"Hehe. Lin Jian, tubuhmu ternyata bagus juga," ucap mesum Yunza dengan bibir yang hampir meneteskan air liur.


"Shen Yun Ja! Kau benar-benar keterlaluan! Kau akan tahu akibatnya jika sudah memprovokasiku seperti ini! Jangan menyesal kelak!" Lin Jian mempercepat langkah kakinya.


Sampai tiba di depan kamar Yunza, dia mendobrak pintu dan masuk. Langkahnya semakin cepat menuju ke ranjang tidur. Sesampainya, dia langsung melempar Yunza ke atas ranjang tidur.


Mendapat perlakuan seperti itu Yunza kemudian bangun perlahan, kemudian menarik Lin Jian ke ranjang jua. "Lin Jian, bantu aku," pintanya dengan wajah menggoda.


Hal itu membuat wajah Lin Jian memerah. Tak lama dia mengukir senyum iblis dan menapakkan tangannya di atas ranjang. Yunza kini berada di bawah kungkungan Lin Jian.

__ADS_1


"Apa kau yakin kau tidak akan menyesalinya?" tanya Lin Jian sambil menyentuh permukaan wajah Yunza menggunakan jarinya.


"Tidak akan!" balas Yunza dengan percaya diri.


Lin Jian kembali mengukir senyum iblis kemudian mulai memegang ikat pinggangnya. "Aku harap seperti itu. Jadi jangan menyalahkanku nanti!" Kemudian dia menarik lepas ikat pinggangnya.


Di kamar Chen Su, beberapa saat sebelumnya.


Ia yang sempat memejamkan mata tiba-tiba dikejutkan oleh sekumpulan asap yang memenuhi ruangan kamarnya. Dia pun langsung bangkit dari tempat duduknya dan melihat apa yang terjadi.


Alangkah terkejutnya dia saat melihat pria itu tergeletak di bawah tempat tidurnya. Menggunakan kaki kanannya, Chen Su membangunkan pria itu.


"Hei, apa yang kau lakukan di sini, bodoh!" Ia menendang keras sampai akhirnya pria itu pun bangun.


"Kenapa kau bisa ada di sini? Apa kau sudah melakukan tugasmu?" tanyanya kemudian.


Pria itu terduduk dengan wajah linglung. Dia kemudian mendongakkan kepalanya dan melihat Chen Su yang begitu menggoda di hadapannya membuatnya sangat tidak tahan.


Dia beranjak dan menghampiri Chen Su dengan tatapan mesum yang siap menerkamnya. "Apa yang ingin kau lakukan, bodoh! Menjauh dariku!" berang Chen Su sambil melempar bantal ke arah pria itu.


"Wanita cantik, hehehe." Pria itu tersenyum dan kembali menghampiri.


"Ah, ada apa ini?" Chen Su memegangi kepalanya. Tak lama, ia merasakan panas di sekujur tubuhnya. "A-apa ini?" tanyanya.


"Panas sekali!" Ia melepaskan pakaiannya tanpa menghiraukan adanya pria itu. Malah, saat melihat pria itu nafsunya menjadi tidak terbendung lagi. Saat pria itu mendekatinya dia pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Ia menghabiskan malam dengan pria itu dengan sangat penuh gairah. Di matanya, dia melihat pria itu adalah Lin Jian barulah mau melakukannya dengan penuh semangat.


Di tempat lain, Gu Rong juga terkena efek obat yang sangat kuat itu. Ia berjalan dengan sempoyongan tanpa arah, sambil memegangi pakaiannya sambil mengeluhkan rasa panas yang semakin menjalar.


"Efek obat itu pasti sangat kuat! Sial! Aku harus segera pergi dan berendam!" ucapnya.


Namun di tengah jalan, dia tak sengaja bertemu dengan seorang wanita yang baru saja keluar dari kamarnya. "Sial! Tidak bisa lagi!"

__ADS_1


__ADS_2