
Siang hari.
Semua wanita sudah siap di atas kuda mereka masing-masing. Saat itu, Yunza yang bersebelahan dengan Chen Su mendapatkan suatu tekanan dari tatapan tajam yang diarahkan Chen Su terhadapnya, namun sedikit pun dia tidak gentar.
Dari sebelah kiri barisan, tetiba terdengar kegaduhan. "Lihat, lihat! Itu Pangeran kedua! Waaah, tampan sekali!" ujar salah satu wanita.
Lin Jian berjalan di depan mereka sambil melihat-lihat. Saat yang dicarinya ditemukan, ia pun segera menghampirinya.
Melihat Lin Jian berjalan ke arahnya membuat Chen Su senang. Dia merapikan rambut dan pakaiannya untuk menyambut Lin Jian. Saat tiba di dekatnya, dia pun menyapa, "Pangeran kedua ...."
"Yunza, apa kau sudah merasa baikan?" Lin Jian malah menghampiri Yunza dengan perkataan lembut serta tangan yang mengelus tangan Yunza. Perilaku Lin Jian yang langka tersebut benar-benar membuat semua wanita iri kepada Yunza.
"Apa? Kenapa dia bisa bersikap lembut kepadanya?" Chen Su terkejut setengah mati.
Ekspresi yang ditunjukkan Chen Su membuat Yunza merasa sangat puas. Dia pun berniat memanas-manasinya.
Yunza mendekatkan wajahnya ke telinga Lin Jian kemudian berkata, "aku baik-baik saja. Semalam Pangeran sudah bekerja keras, sebaiknya lekas beristirahat."
Perkataannya tersebut terdengar oleh Chen Su. "Apa? Mereka melakukan apa semalam? Tidak mungkin tidur bersama, kan?" Dia mencengkram erat tali kuda sebagai pelampiasan dari emosinya.
Adapun Lin Jian, mendengar perkataan Yunza raut wajahnya memerah seketika. Dia pun segera menutupinya dengan telapak tangan.
"Hei! Aku pikir ada yang tidak beres dengan kakak kalian," ucap Pangeran Zhou Fu kepada pangeran keenam dan pangeran ketujuh yang menyaksikan hal tersebut.
"Benar, aku seperti tidak mengenali dirinya saja tadi."
"Sepertinya gunung es sudah mencair." Mereka malah mengolok-oloknya.
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Ingat pesanku!" ucap Lin Jian. Tak berapa lama, ia pergi meninggalkan Yunza.
Kemudian Yunza tersenyum menyeringai sambil melirik dengan tatapan merendahkan kepada Chen Su. "Seorang selir ingin berebut dengan Permaisuri? Jangan mimpi!"
__ADS_1
Aba-aba pertanda perburuan dimulai pun dilepaskan. Masing-masing dari mereka mulai memacu kuda yang ditungganginya dengan kecepatan tinggi dan memasuki hutan.
"Shen Yun Ja! Aku pasti akan membunuhmu!" batin Chen Su.
Ketika memasuki hutan, mereka pun mulai berpencar untuk mencari hewan buruan masing-masing. Begitu pun dengan Yunza. Saat memasuki hutan, ia langsung dihadapkan dengan dua jalan.
"Jangan pergi ke Timur hutan, atau hindari jalan dengan tanda merah di sekitarnya." Peringatan yang Lin Jian beritahukan kembali teringat.
Namun sedari tadi, dia tidak melihat satu tanda merah dimana pun. Yunza melihat satu jalan di sebelah Selatan kemudian membawa kudanya pergi ke sana.
"Kenapa dia tidak pergi ke Timur!" geram Chen Su yang sedari tadi mengintip di balik pohon. Ia kemudian mengangkat tangannya dan muncullah beberapa orang berpakaian hitam lengkap dengan penutup kepala.
"Bagaimana pun caranya, bawa dia ke tempat yang sudah disiapkan!" perintahnya. Orang-orang tersebut lantas pergi menjalankan perintah Chen Su sembari menunggangi kuda.
Di hutan, Yunza sedikit kesulitan mendapatkan hewan buruan. Tidak hanya karena tidak bisa menggunakan senjata seperti panah dan tombak, namun hewan di sana juga cukup langka.
Tak berapa lama, seekor kelinci dengan bulu berwarna putih melintas tak jauh darinya. Yunza pun turun dari kuda dan mengendap-endap menghampiri kelinci tersebut.
Yunza kembali bersembunyi di balik pohon. Sekilas dia mengintip sayangnya tak ada satu orang pun di sana. "Jika sesama pemburu, kenapa mereka tidak mengambil kelincinya?" batin Yunza
Ia merasakan sesuatu yang janggal kemudian berlari ke arah kudanya. Dugaannya benar, saat ia muncul beberapa anak panah kembali melesat menjadikannya sebagai target.
Yunza segera naik ke kuda dan pergi dari tempat itu. "Siapa mereka? Mengapa ingin melukaiku? Apa orang suruhan Chen Su?" Ia menerka-nerka sambil menoleh ke belakang.
Ditengah pelariannya, beberapa anak panah kembali mengejarnya. "Aarrghh!" Hingga salah satu anak panah menancap dalam di lengan kanan bagian belakang. Dia menahan rasa sakit sambil terus memacu kuda.
Sampai tidak terasa, ternyata mereka menggiring Yunza ke hutan bagian Timur.
Salah satu dari orang-orang yang mengejarnya memberi isyarat kepada Chen Su. Chen Su yang sudah menunggu sedari tadi kemudian memberi perintah. "Jatuhkan!"
Mereka lantas menyerbu kuda yang ditunggangi Yunza dengan beberapa anak panah. Beberapa mengenai bokongnya, beberapa lagi mengenai kaki depan dan kaki belakang kuda. Kuda yang kesakitan pun mengamuk dan melempar Yunza dari atasnya.
__ADS_1
"Aarrghh!" tubuh Yunza menabrak sebuah pohon yang membuatnya berteriak kencang.
Setelah itu, orang-orang berpakaian hitam pun datang mengepungnya sambil mengarahkan anak panah.
Menyadari dirinya telah dipojokkan, Yunza malah tersenyum pahit. Dia berdiri dengan perlahan sambil memegangi luka di lengannya kemudian berkata, "apa kau sangat suka bersembunyi, Chen Su?"
Tak berselang lama, terdengar langkah kaki menyibakkan semak-semak. Chen Su pun muncul dengan senyum penuh kemenangan terukir di bibirnya.
"Aku sangat terkejut melihatmu masih baik-baik saja dan bahkan sampai memanggilku datang. Shen Yun Ja, sudah kuduga bahwa kau pasti bukanlah gadis bodoh dari negara Long seperti yang mereka bicarakan," ucap Chen Su.
"Nah, sekarang beritahu aku siapa dirimu yang sebenarnya?" tanyanya kemudian.
Yunza tersenyum menyeringai lalu menjawab, "aku, Shen Yun Ja, memang bukan gadis bodoh dari negara Long. Tapi aku adalah menantu sah keluarga Lin dan istri sah Pangeran kedua."
Chen Su tertawa terbahak-bahak mendengarnya. "Kau benar, tapi itu tidak akan lama lagi. Menantu dan istri sah Pangeran kedua akan segera menjadi milikku," ujarnya dengan angkuh.
"Memiliki mimpi yang tinggi itu bagus, Chen Su. Tapi jangan lupa bangun untuk mewujudkannya. Tapi tidakkah kau sadar adanya benteng tinggi yang menghalangi mimpimu itu? Benteng itu adalah aku!"
Mendengar hal itu Chen Su langsung naik pitam. "Aku tidak keberatan jika harus menghancurkan benteng rapuh tersebut," ucapnya.
Chen Su mengangkat tangannya, mereka pun langsung mengangkat busur dan menarik anak panah. "Shen Yun Ja, sayang sekali. Salahkan saja takdirmu yang menjadikanku musuhmu. Kau bisa tidur dengan nyenyak sekarang!"
Secepat kilat Chen Su mengarahkan tangannya ke depan, secepat itu pula sebuah mangkuk yang terbuat dari tanah liat terjatuh dari tangan Mi Anra sampai pecah menjadi beberapa keping.
Mi Anra diam membeku sambil menundukkan kepalanya. "Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba mangkuknya jatuh?" Ia bertanya-tanya tentang keanehan tersebut.
"Nona!" Tiba-tiba air matanya menetes. Firasat buruk pun mulai menghantui dari segala sisi.
"Apa sesuatu terjadi pada Nona? Mengapa perasaanku sangat buruk saat ini!" Raut wajahnya menjadi cemas. Tak lama dia membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar tenda.
"Tidak! Aku harus menemui Pangeran kedua dan memintanya menjemput Nona!"
__ADS_1