
Tok tok tok!
Seseorang mengetuk pintu kamar Mei An. Saat itu, dia sedang menyisir rambut Lin He. "Biar aku yang buka pintunya, ibunda." Lin He turun dari kursi dan pergi membukakan pintu.
Setelah pintu dibuka, di luar, berdiri seorang Kasim. "Salam, Permaisuri putera mahkota. Salam, pangeran Lin He. Aku datang berdasarkan perintah Kaisar. Beliau meminta Anda pergi ke aula karena yang lain sudah berkumpul di sana," ucap Kasim.
Mei An beranjak dan berjalan menghampiri. "Aula? Mengapa Kaisar meminta orang-orang berkumpul di aula? Ini tiba-tiba sekali," ujar Mei An.
"Anda akan mengetahuinya jika sudah tiba di sana. Permaisuri, kalau begitu aku pamit." Kasim pun pergi setelah memberitahukan informasi tersebut.
Mei An termenung dengan tangan menyentuh dadanya. Ada suatu kekhawatiran yang tak bertepi dihatinya. Entah mengapa, firasat buruk tiba-tiba dirasakannya.
"Ibunda?" Lin He menyadari kegelisahan ibundanya.
"Tak apa, nak. Sebaiknya kita lekas bersiap dan pergi ke aula. Ayo," ajaknya kepada Lin He. Mereka pun kembali bersiap diri, kemudian barulah pergi ke aula.
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di aula. Seperti yang Kasim katakan, orang-orang sudah berkumpul di sana. Hampir semua orang memasang raut wajah yang sama yakni raut wajah sedih. Hal itu membuat Mei An bingung.
"Menantu, kemarilah," ucap Kaisar.
Dengan patuh, Mei An pun menghampirinya bahkan sempat memberi salam kepadanya. Ditengah kebingungan yang melanda, dia memberanikan diri untuk bertanya.
"Yang Mulia, ini ... mengapa semua orang berkumpul di sini?" tanyanya.
Kaisar menundukkan kepalanya, tak berani menatap mata Mei An apalagi menjawab pertanyaannya. Kemudian, Permaisuri menghampirinya dan berkata, "menantu, kau harus tabah."
Hal itu menambah kebingungan Mei An. "Permaisuri, sebenarnya ada apa ini?" tanyanya lagi.
Permaisuri memasang raut wajah sedih, akan tetapi ragu untuk memberitahukannya. Namun akhirnya, dia pun berkata, "putera mahkota, tewas dibunuh sekelompok bandit dalam perjalanan pulangnya ke Istana."
Mei An sangat terkejut mendengar berita tersebut. Kedua matanya melotot sempurna dengan mulut sedikit menganga. Saat itu, dunia terasa berhenti untuknya. Jantungnya terasa telah berhenti berdetak.
"A-apa? Apa yang Permaisuri katakan? Ini tidak mungkin!"
Permaisuri lantas memeluk Mei An. Tak berapa lama, tangisnya pun pecah memenuhi semua sudut aula. Kesedihan dan kehilangan yang sangat mendalam dirasakannya.
Mei menangis tersedu-sedu dalam pelukan Permaisuri, begitu juga dengan Lin Hen di sampingnya. Melihat hal itu, hati Yunza kembali teriris pedih. Dia menunduk sambil menitikkan air mata. Lin Jian yang berada di sampingnya pun memeluknya.
"Mengapa bisa jadi seperti ini? Kematian Lin Yu lebih cepat dari pada di dalam cerita. Apa ini karena aku mengubah alurnya?" batinnya.
Kabar kematian Lin Yu tak bisa diterima oleh Mei An. Ia menjadi kalap, kemudian tak sadarkan diri karena kesedihan yang amat mendalam.
Semua orang menjadi panik, kemudian Mei An dibopong dan dibawa pergi dari aula. Yunza melihat Lin He menangis, bukan hanya karena kematian ayahnya namun juga karena melihat kondisi ibundanya yang seperti itu.
__ADS_1
Dia pun menghampirinya, menggendongnya kemudian membawanya pergi dari tempat itu.
Berdasarkan informasi yang diterima Kaisar, Putera mahkota, Lin Yu, terlibat pertempuran setelah sekelompok bandit menghadang perjalanannya.
Saat itu, mereka berada di tepi jurang yang curam untuk melewati tebing Suangye untuk sampai di desa selanjutnya. Akan tetapi, sekelompok bandit datang menghadang untuk merampok barang-barangnya.
Terjadilah pertempuran di sana yang akhirnya malah menewaskan Lin Yu. Rombongannya pun dibantai habis-habisan ditempat itu dan harta mereka dirampas. Salah seorang bandit menghampiri jasad Lin Yu dan lalu membuangnya ke jurang.
Kejadian itu diketahui oleh seorang pemburu yang akhirnya melaporkannya ke pengawal. Dilakukannya pemeriksaan ke tempat kejadian.
Di sana, mereka menemukan beberapa rombongan Lin Yu tewas serta batu giok milik Lin Yu di tepi jurang. Kesaksian pemburu itu pun dibenarkan.
Sebelum Kaisar memberitahukannya kepala semua orang di Istana, dia memerintahkan unit khusus untuk turun ke jurang dan menemukan jasad Lin Yu. Sayang sekali, upaya mereka tak membuahkan hasil.
Yunza mengikuti dibawanya Mei An oleh beberapa orang sambil menggendong Lin He. Di sana dia baru teringat, bahwa ada satu orang yang tidak hadir di aula.
"Yu Qin! Dia pasti ada hubungannya dengan ini! Aku akan menemuinya dan menanyakannya!" batinnya.
"Ayahanda berbohong! Bukankah kau mengatakan akan mengajarkanku berpedang saat kakimu sembuh nanti?" Lin He berkata disela-sela tangisnya.
Yunza tidak tahu harus menenangkan Lin He seperti apa. Dia hanya bisa memberikan pelukan hangat dengan tangan terus mengelus punggungnya.
Beberapa saat kemudian, di kamar Yu Qin.
"Sudah, Yang Mulia," jawab orang di hadapannya.
Kemudian Yu Qin mengisyaratkan dengan tangannya, menyuruh orang itu pergi dari hadapannya. Secepat kilat, orang itu pun pergi. Lalu, disusul oleh ketukan pintu yang beruntun di depan sana.
Yu Qin meletakkan gelas di atas meja kemudian beranjak untuk membukakan pintu. Saat pintu dibuka, nampak sosok Yunza berdiri di sana.
"Oh, apa yang membuatmu datang menemuiku seperti ini?" tanya Yu Qin.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," balas Yunza.
Yu Qin tak membalas ucapan Yunza kemudian membalikkan tubuhnya dan berjalan masuk, seolah meminta Yunza mengikutinya. Yunza pun membuntutinya masuk.
"Yu Qin, apa kau tahu mengenai kematian putera mahkota?" tanya Yunza langsung pada intinya.
"Aku tahu," jawab Yu Qin.
Yunza menghentikan langkah kakinya. Dengan tatapan tajam, dia kembali bertanya, "apa kau ada hubungannya dengan kematiannya? Aku lihat kau tidak hadir di aula tadi."
Yu Qin turut menghentikan langkah kakinya. Kemudian dia menjawab, "kau yang lebih tahu dari pada aku."
__ADS_1
"Jawab aku! Apa kau yang ... membunuh Lin Yu?" tuduh Yunza.
Yu Qin membalikkan tubuhnya kemudian berjalan mendekati Yunza. Ia yang sedang dalam keadaan mabuk langsung mencengkram dagu Yunza dan mencium bibirnya secara paksa.
Mendapati perlakuan seperti itu, Yunza meronta sambil mendorong tubuh Yu Qin sekuat tenaga. Namun hal itu sia-sia. Kemudian Yunza mengangkat kakinya dan langsung menghentakkannya dengan sangat keras menginjak kaki Yu Qin.
Hal itu memberinya celah, lalu mendorong tubuh Yu Qin sampai menabrak meja. Minuman yang ada di atas meja berjatuhan ke lantai.
"Yunza," ucap Yu Qin.
Meski tahu hal itu tidaklah benar, namun saat menyakiti Yu Qin, Yunza sendiri yang malah merasa sakit hati. Dia akhirnya membantu Yu Qin bangun dan memapahnya ke ranjang tidur. Setelah menidurkannya, Yunza pun pergi dari kamarnya.
Dia berjalan tergesa-gesa meninggalkan kediaman Yu Qin sembari menyeka bibirnya yang basah. Setelah keluar dari wilayah kediaman Yu Qin, tak sengaja dia berpapasan dengan Lin Jian.
"Yunza!" seru Lin Jian dengan nada lembut.
Yunza terkejut dengan kehadirannya lalu memalingkan wajah sambil menutupi bibirnya. Melihat gelagat mencurigakan istrinya, Lin Jian bertanya sambil menarik tangan Yunza.
"Ada apa, Yunza?" Ketika tangannya berhasil disingkirkan. Lin Jian melihat adanya bekas luka di bibir Yunza. "Apa ini?" tanyanya sambil menyentuh bibirnya.
"T-tidak apa-apa. Tadi tidak sengaja tergigit olehku," jawab Yunza beralasan.
Tentu saja Lin Jian tak mempercayainya begitu saja, terlebih saat mencium aroma anggur di sekitar Yunza. Dia pun melihat ke arah dari mana Yunza datang. "Yu Qin?"
Lin Jian kemudian mencekal pergelangan tangan Yunza lalu menariknya pergi. "Sepertinya aku harus menandai sesuatu yang sudah menjadi milikku, agar orang lain tak berniat merebutnya dariku!" ucapnya.
"Apa?" Yunza terperajat kaget.
"Aku tidak akan membiarkan Yu Qin menjadi orang ketiga di antara kami!"
Sekitar dua jam kemudian.
Yunza membuka matanya dengan keadaan tubuh yang sangat kelelahan. Di sampingnya tertidur Lin Jian sambil memeluknya erat, seperti seekor anjing yang takut tukangnya dicuri.
"Dia, apa dia binatang?" umpatnya dalam hati.
Tak berapa lama, dia melepaskan tangan Lin Jian dari tubuhnya, kemudian bangun terduduk sambil memegang selimut yang membalut tubuhnya. Tetiba rasa nyeri di pinggang dirasakan olehnya, membuatnya meringis kesakitan.
"Sakit sekali! Aku tidak akan memberinya jatah kalau tahu begini," gerutunya sambil memegang pinggang.
Kemudian sebuah kehangatan menyentuh lembut pinggangnya, diiringi sebuah bisikkan di telinga. "Apa masih terasa sakit?" tanyanya.
"Tidak!"
__ADS_1